Myspace Backgrounds

Monday, October 8, 2007

Memanfaatkan Otak Orang Lain


Menjadi orang nomor satu di perusahaan kita sendiri, itu sangat bisa. Tapi tidak bisa semua kegiatan bisnis, kita jalankan sendiri.


Mensyukuri apa yang kita peroleh dari hasil bisnis, walau tak sebesar seperti yang kita harapkan semula, saya kira, itu penting. Setidaknya, ini merupakan langkah kita pertama menjadi entrepreneur yang bijak. Namun, tentunya kita tetap memiliki kemauan untuk mengembangkan bisnis kita seoptimal mungkin. Sehingga, hasil yang kita peroleh juga akan bisa lebih maksimal, meskipun persaingan di dunia bisnis makin kompleks.

Untuk mewujudkannya, kita mungkin tak hanya cukup memanfaatkan otak kita sendiri, tapi ada baiknya juga memanfaatkan otak orang lain. Sebab, kita harus menyadari benar, bahwa setelah bisnis yang kita rasakan berkembang cukup pesat, dan kita menjadi orang nomor satu di perusahaan yang kita dirikan, tentu saja tak bisa semua kegiatan bisnis bisa kita jalankan dengan otak kita sendiri.


Maka, sudah sewajarnya kalau kita memanfaatkan otak orang lain, yang oleh Williams E. Heinecke, penulis buku "The Entrepreneur 21 Golden dan Rules for the Global Business Manager", disebut "Work with other people's brain", Menurut, entrepreneur terkemuka yang sukses mengembangkan bisnis Pizza Hut, seorang entrepreneur yang bersedia bekerja dengan memanfaatkan otak orang lain, sesungguhnya adalah entrepreneur sejati.


Saya sendiri juga merasakan, bahwa memanfaatkan otak orang lain dalam bisnis. Khususnya di era milenium ketiga ini, merupakan yang sangat penting. Acapkali itu lebih baik ketimbang harus semuanya kita jalankan sendiri. Katakanlah, kita akan mudah menangkap peluang bisnis deengan bantuan otak orang lain. Karena itu, jangan apa-apa dikerjakan sendiri. Akibatnya, kita bisa jadi pemurung, kebanyakan kerja, dan sulit bagi kita bisa menikmati penghidupan yang layak sebagai seorang entrepreneur.


Saya yakin, jika kita berhasil memanfaatkan otak orang lain dengan baik, sebenarnya juga sebagai upaya positif kita menghindarkan sikap keras kepala kita sendiri. Dan, itu akan lebih mudah membuat kita mau mendengarkan dengan hati terbuka apa yang dikatakan orang lain. Pada akhirnya, sikap ini pulalah yang akan menciptakan hubungan kerja harmonis. Maka, kita sebagai entrepreneur yang memiliki perusahaan, alangkah bijaknya kalau kita juga jangan mudah "alergi" dengan apa yang dikatakan orang lain.


Selain itu, jika kita bisa memanfaatkan otak orang lain dengan baik, sesungguhnya juga kemajuan yang positif bagi bisnis kita sendiri. Bahwa, kita pun ternyata mampu mengangkat diri kita sebagai pemimpin perusahaan yang benar-benar memiliki kemampuan profesional dan kecerdasan emosional. Niscaya, bisnis kita akan tetap eksis dan lebih berkembang pesat disaat ini maupun di masa mendatang.


Dan, perlu diingat bahwa memanfaatkan otak orang lain, itu bukan merupakan kelemahan kita sebagai entrepreneur. Tapi sebaliknya, hal itu justru menunjukan, bahwwa kita benar-benar telah memiliki intelektualitas, kecerdasan emosional, kecintaan pada diri kita sendiri, maupun perusahaan.



www.purdiechandra.com

Saturday, October 6, 2007

Saatnya menghadirkan kemuliaan di tempat kerja


Jika perusahaan Anda sedang berkembang dan mampu membuat sistem kompensasi yang adil dan menarik, serta didukung oleh kesempatan karir yang jelas, maka tidak sulit bagi Anda untuk menghidupkan motivasi para karyawan. Namun bagaimana jika kenyataannya adalah sebaliknya?


Bagi banyak perusahaan, kondisi ekonomi saat ini tidak memberikan keleluasaan yang cukup untuk menempatkan kesejahteraan dan aktivitas pengembangan SDM sebagai prioritas utama. Selain itu, tidak semua perusahaan mampu (atau peduli) untuk membuat sistem pengembangan SDM yang baik. Di sisi lain, karyawan terus dibayang-bayangi rasa cemas akan pemutusan hubungan kerja atau ketidakpastian kompensasi yang layak. Apalagi dengan semakin beratnya beban hidup yang harus mereka pikul, makin membuat karyawan semakin jauh dari unjuk prestasi.


Pada saat ini kita bertanya, kenapa semuanya menjadi loyo ketika semangat berjuang justru sedang sangat kita butuhkan? Bagaimana kita bisa membuat karyawan kita menampilkan prestasi terbaiknya disaat segala sesuatunya serba memprihatinkan? Kini saatnya kita meluangkan waktu sejenak untuk refleksi. Mungkin ada yang salah dengan cara kita mengelola karyawan selama ini.


Apa yang salah dengan pendekatan kita?

Setidaknya ada tiga hal yang bisa kita jadikan bahan renungan. Pertama, ada yang salah dengan pendekatan kita dalam mengembangkan potensi karyawan. Sistem pengembangan SDM beserta model penilaian kinerja yang kita kembangkan di perusahaan hanya mengukur dan mendorong pada pencapaian vertikal saja. Vertikal artinya mendorong karyawan untuk meraih prestasi yang lebih tinggi tingkatannya - biasanya berbentuk 4-TA, yaitu harta (gaji atau insentif finansial yang lebih banyak), tahta (jabatan yang lebih tinggi), kata (ilmu atau keterampilan yang lebih baik), dan cinta (popularitas).


Prestasi yang lebih tinggi itu bagus, tetapi tidak cukup. Selain dimensi vertikal, manusia secara kodrati juga memiliki dimensi horisontal berupa dorongan untuk membantu dan memberi manfaat untuk orang lain dan lingkungan sekitarnya. Sementara dimensi vertikal cenderung egosentris (self-centered), dimensi horisontal bersifat filantropis (public-spirited). Itu sebabnya dalam konsep Kubik, pencapaian terbaik manusia selalu terkait dengan dua kata, yaitu ?sukses? dan ?mulia?. Sukses berdimensi vertikal, sedangkan mulia berdimensi horisontal. Kesuksesan telihat dari seberapa tinggi 4-TA yang berhasil diraih, sedangkan kemuliaan terlihat dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan untuk orang lain dan lingkungan sekitarnya.


Sayangnya, budaya dan sistem kerja yang terlanjur kita kembangkan di perusahaan merupakan hasil impor dari budaya dan sistem kerja barat yang cenderung hanya berorientasi vertikal. Semua orang didorong untuk meraih prestasi setinggi-tingginya tetapi tidak untuk menunjukkan nilai kebermanfaatannya untuk orang lain dan lingkungannya. Dalam budaya seperti ini, kata ?kemuliaan? adalah sesuatu yang asing. Ia bahkan tidak pantas disebut dalam bilik-bilik ruang perkantoran.


Akibatnya karyawan cenderung untuk mendahulukan kepentingannya sendiri. Mereka fokus pada apa yang bisa mereka raih, bukan apa yang bisa mereka berikan. Manusia menjadi terisolasi, sibuk dengan pencapaian vertikalnya sendiri. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa membuahkan persaingan yang destruktif. Atasan menzalimi bawahannya, karyawan mengkhianati teman kerjanya. Pimpinan memperkaya diri, sementara anak buah berlaku anarkis.


Jadi jangan heran bila masa sulit datang di perusaaan Anda, maka yang pertama kali terpikirkan oleh karyawan Anda adalah, ?bagaimana saya bisa menyelamatkan diri??, ?Bagaimana supaya semua kepentingan saya tidak terganggu??. Mereka tidak berpikir, ?apa yang bisa saya lakukan untuk membantu perusahaan saya?? Jika saat ini Anda berpikir bahwa keinginan karyawan untuk membantu perusahaan di masa sulit adalah sesuatu yang terlalu idealis, saya bisa memahaminya. Mungkin Anda sudah terlalu lama berada dalam lingkungan kerja dimana kemuliaan merupakan sesuatu yang asing.


Kedua, ada yang salah dengan cara kita memotivasi karyawan. Kita sudah terlanjur menciptakan hubungan erat antara prestasi dengan kompensasi. Antara sukses dan pencapaian materi. Seorang karyawan yang berhasil menyelesaikan sebuah proyek besar yang dipercayakan padanya belum dianggap sukses apabila tidak disertai dengan kenaikan jabatan atau bayaran yang tinggi. Setiap prestasi harus ada kompensasi finansialnya. Dan inilah cara kita memberikan motivasi pada karyawan kita.


Akibatnya, karyawan menjadi transaksional dalam bekerja. Semuanya jadi serba hitung-hitungan. Segala sesuatu yang tidak memiliki dampak finansial tidak layak untuk dikerjakan. Ketika mereka bekerja, mereka akan membatasi upaya mereka sesuai dengan bayaran yang mereka terima. Tidak lebih. Dalam kondisi ini, karyawan telah direduksi menjadi binatang ekonomi. Segala sesuatu selalu dipandang dari nilai rupiahnya. Jadi ketika perusahaan tidak mampu memberikan kompensasi finansial yang memadai, untuk apa mereka bekerja mati-matian?


Ketiga, ada yang salah dengan fokus kita dalam menyelesaikan masalah. Bayangkan diri Anda berada diatas sebuah sampan rapuh yang terbawa arus sungai menuju sebuah jurang yang curam. Saat itu Anda berpikir, ?ada sesuatu yang salah dengan sampan ini?. Kemudian Anda berupaya keras untuk memperbaiki sampan itu. Anda menambal semua sudut-sudut sampan yang berpeluang bocor. Membuang semua hal yang bisa membuat sampan tidak stabil. Bahkan Anda memodifikasinya sedemikian rupa supaya sampan itu menjadi lebih nyaman. Setelah semua selesai, Anda berkata, ?saya telah melakukan semua yang diperlukan untuk menjamin keselamatan saya. Apa lagi yang mungkin salah??.


Arus sungai dan jurang. Itu masalahnya! Terkadang kita gagal melihat inti permasalahan yang sesungguhnya karena kita terlalu sibuk mengotak-ngatik isu-isu teknis sepanjang jalan. Sebagai orang yang diberi tanggung jawab untuk mengelola karyawan, kita seharusnya lebih banyak meluangkan waktu untuk memikirkan kemana SDM ini akan kita bawa. Apakah pengembangan SDM kita sudah memiliki arah yang tepat? Kalau sudah, apakah jalur yang digunakan sudah benar? Kegagalan kita untuk menemukan solusi esensial untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa berakibat fatal untuk perusahaan.


Lalu bagaimana kita menjadikan tempat kerja kita sebagai wadah yang baik untuk menumbuhsuburkan sukses dan kemuliaan hidup? Bagaimana cara kita membuat karyawan menampilkan prestasi terbaiknya dan pada saat yang sama juga nilai kebermanfaatannya pada orang lain dan lingkungan sekitar?


Jawabannya adalah kita harus mengembalikan karyawan kita pada kodratnya sebagai manusia. Dimensi vertikal dan horisontal mereka harus kita dorong dan kembangkan secara bersamaan. Ingat bahwa sukses dan mulia bukanlah pilihan. Sukses dan mulia adalah dua sisi dari satu mata uang. Keduanya tidak berkompromi. Keduanya harus sama-sama 100%. Dengan menggabungkan keduanya berarti kita telah menciptakan perpaduan yang sempurna dari akal dan kalbu kita. Ketika seseorang telah berada pada tingkatan ini, maka dia akan menemukan kekuatan dirinya yang sesungguhnya.


Dia tidak akan mudah goyah ketika diterpa berbagai masalah dalam hidup dan pekerjaan. Dia tidak bekerja hanya untuk uang, tetapi sebagai wujud dari kemuliaan yang ada pada dirinya. Dia selalu terdorong untuk meraih prestasi yang lebih tinggi, karena dengan begitu dia bisa memberi manfaat yang lebih banyak.

Kinilah saatnya kita hadirkan kemuliaan di tempat kerja kita.

Kura - Kura dan Kelinci


Untuk menggambarkan hebatnya team work, salah satu rekan saya mendongengkan kisah kehidupan dua binatang yakni kura-kura dan kelinci. Suatu ketika, kelinci mengajak balap lari dengan kura-kura. Pertandingan pun dimulai. Kelinci langsung memimpin jauh di depan kura-kura. Tiba-tiba kelinci menoleh ke belakang, dilihatnya kura-kura masih tertinggal jauh di belakang. Karena sudah merasa menang, kelinci berhenti berlari. Sang pemakan wortel ini malah duduk-duduk santai, tidur-tiduran dan akhirnya tertidur.


Pelan namun pasti kura-kura tetap berlari. Bahkan kura-kura mampu melewati sang kelinci yang sedang tertidur. Kura-kura pun menang dan mampu mengalahkan sang kelinci.


Merasa malu dirinya dikalahkan oleh kura-kura yang kemampuan larinya jauh lebih lambat, kelinci menangis. Kura-kura pun datang menghibur kelinci sambil berkata ?lain kali kamu harus hati-hati dengan falsafah kehidupan kami, alon-alon asal klakon (pelan namun pasti)?


Kelinci menantang diadakannya pertandingan ulang. Kura-kura pun setuju. Begitu aba-aba start dimulai, kelinci langsung berlari sekencang-kencangnya. Kali ini, binatang bertelinga panjang itu mengerahkan semua kemampuannya dan fokus pada garis finis. Dia tidak lagi menoleh ke belakang dan duduk-duduk santai.Pertandingan ulang itupun dimenangkan kelinci. Kura-kura mengucapkan selamat kepada kelinci sambil mengatakan ?falsafah alon-alon asal klakon bisa dikalahkan dengan kesungguhan, semangat dan fokus pada tujuan akhir yang hendak dicapai.?


Wah kedudukan satu-satu ya? seru kura-kura. Untuk menentukan pemenangnya pertandingan di gelar kembali. Kali ini kura-kura meminta kepada kelinci agar kura-kura yang menentukan rute pertandingan. Merasa bahwa kemampuan larinya jauh lebih cepat dibandingkan kura-kura iapun menyetujui tawaran kura-kura itu.


Pertandingan dimulai. Sang kelinci langsung memimpin pertandingan. Namun di tengah perjalanan kelinci berhenti karena ternyata rute yang harus dilewati adalah sungai yang sangat lebar. Maka sampailah kura-kura di tepian sungai itu dan menyapa sang kelinci yang sedang gelisah ?maaf ya saya nyeberang duluan.? Dipertandingan ke tiga ini kura-kuralah yang menjadi pemenang. Untuk yang kedua kalinya kelinci menangis.


Kura-kura mendatangi kelinci. Sambil terisak kelinci berkata kepada kura-kura ?ternyata kalau kita ingin memenangkan pertandingan kita harus bersaing sesuai dengan core competence kita ya.?


Untuk menghibur kelinci kura-kura kemudian memberikan tawaran kepada kelinci. ?Bagaimana kalau kita berlomba lagi. Kali ini, tidak ada yang kalah, semuanya menang. Caranya, ketika di darat kamu gendong saya. Ketika di sungai saya gendong kamu? kata kura-kura. Kelinci menyetujui tawaran kura-kura.


Ternyata di pertandingan ke empat ini, waktu tempuhnya jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertandingan sebelumnya. Akhirnya, kedua binatang itu sepakat bahwa kerja sama antar core competence yang berbeda akan menghasilkan prestasi yang jauh lebih baik. Dan yang lebih penting lagi, tidak ada yang merasa dikalahkan.


Bila kehidupan berbangsa kita dihiasai dengan kerjasama antar satu dengan yang lain, sungguh banyak prestasi yang bisa kita ukir. Keinginan untuk hanya populer, menonjolkan kelompok atau partainya saja sudah saatnya ditinggalkan.

Karya-karya besar. Membangun negeri menjadi lebih bermartabat. Menjadikan negeri ini gemah ripah loh jinawi. Menjadikan kita sejajar dengan negara-negara besar lain. Semua itu, hanya bisa kita raih bila kerjasama anak negeri bisa kita wujudkan. Terima kasih kura-kura. Terima kasih kelinci.


Friday, October 5, 2007

Harga Sebuah Gergaji


Suatu saat di suatu hutan, ada seorang pemuda yang sedang menggergaji pohon. Sewajarnya, dalam waktu 30 menit dia bisa menyelesaikan 1 pohon. Tapi sudah berlangsung 1 jam, setengah diameternya pun belum terpotong juga.

Kemudian lewatlah seorang tua bijak, sembari melihat si pemuda yang berkeringat dan ‘ngos-ngosan’ alias terengah-engah. Kakek bijak menanyakan,

Sudah berapa lama kau menggergaji nak?”.
“1 jam lebih”, jawab si pemuda.
“Sudah 1 jam, kok separo pun belum kelar? Apa nggak sebaiknya kamu berhenti sejenak dan mengasah gergajimu? Sepertinya ada yang nggak beres dengan gergajimu!” kakek bijak memberi saran.

Kemudian si pemuda menjawab, ”BERHENTI ?! (sambil mengenyutkan dahi),
Nggak mungkin dong, emang kakek nggak lihat kalo aku lagi sibuk!”.

2 jam berlalu, batang kayu itu belum terpotong juga.

Hal ini sangat sering terjadi di bisnis dan kehidupan kita. Usaha tidak sesimple yang kita pikirkan. Banyak jebakannya! Itu sebabnya nggak banyak yang sukses. Jikapun kaya, tidak banyak yang bahagia. Karena semua ada keilmuannya.


Setelah bangkrut dari usaha yang pertama yang berumur hanya 3 bulan, teman saya melanjutkan usaha yang kedua. Dua tahun pertama yang terlihat hanya kegelapan (baca:kerugian). Tak tahu kapan usaha saya akan membuat keuntungan.

Hutang semakin menumpuk. Mungkin jika tak tahan, bisa stress dan frustasi. Tahun-tahun berikutnya berjalan cukup lancar, tapi tidak terbilang spesial. Teman saya tahu ada yang tidak beres, tapi tak tahu dimana letaknya! Sampai suatu saat, kira-kira tiga tahun yang lalu, teman saya mengikuti sebuah training tentang mindset.

Awalnya cukup shock, karena tidak seperti biasanya. Rata-rata, orang mendengar kata training, berarti duduk manis, mendengarkan si pembicara, sambil ngantuk-ngantuk dan berguman,


”kapan yaa selesainya, boring banget!”.

Tapi yang kali itu berbeda, seperti naik roller coaster, itulah kesannya. Suatu pengalaman yang tak mungkin terlupakan. Sejak saat itu, dia mulai rajin mengikuti training-training serupa.

Masalah harga? Jangan tanya deh, rata-rata diatas 10 juta. Dan anehnya setiap kali mendapat tawaran training, selalu pas “tong pes” alias kantong kempes. Tapi tanpa ragu teman saya mengambilnya dan selalu ada jalannya, jika ada kemauan keras. Apa yang dia dapat?

Perubahan hidup!!!
Tidak hanya celah-celah dalam bisnis yang terbuka, benang kusut kehidupanpun jadi terurai.

Jika ada jalan tol, kenapa harus trial error membuat jalan di hutan yang kita tidak kenal?


Berapa kali setahun kita check up otak kita, me-recharge battery kita yang sudah melemah. Waktu adalah alasan yang sering kita gunakan. Padahal orang sukses dan tidak sukses punya waktu yang sama, 24jam sehari.

Uang adalah alasan kedua, padahal sadar atau tidak, biaya trial error akan jauh lebih mahal. Pelatihan/training adalah daya ungkit dalam bisnis kita.

Pertama adalah keilmuan, jelas!
Kedua, jaringan, siapa tahu kita bertemu jodoh bisnis disitu.
Ketiga, refreshing! Kalo bisa sukses sekarang, kenapa harus besok?

Tidak hanya perut yang perlu makan, otakpun juga!


Djodi Ismanto

Thursday, October 4, 2007

Genetika


George Bernard Shaw adalah penulis besar kelahiran Irlandia. Kecerdasannya sangat luar biasa, sehingga Shaw pernah memperoleh hadiah Nobel untuk karya sastra, sekaligus penerima Piala Oscar untuk karyanya yang diangkat ke layar perak. Demikian mengagumkannya kecerdasan seorang George Bernard Shaw, sehingga konon dia pernah dilamar oleh seorang aktris cantik. Dengan maksud, supaya kelak menghasilkan keturunan yang rupawan seperti ibunya, dan cerdas seperti ayahnya. Namun, Shaw kemudian menjawab, "Lalu bagaimana kalau kita memiliki anak dengan otak seperti Anda, dan wajah seperti saya?".


Ya demikianlah menurut ilmu genetika. Bahwa banyak hal kita warisi secara turun temurun dari orang tua kita. Kulit kita yang sawo matang, rambut kita yang hitam, hidung kita yang tidak mancung. Hingga ke hal-hal yang sifatnya non fisik seperti misalnya sifat atau bakat tertentu. Maka banyak anak penyanyi yang kemudian menjadi penyanyi, anak jenderal jadi tentara, dan anak pedagang jadi pedagang. Maklum, bakat dari orang tua nya mengalir deras di darah mereka.


Ini yang kadang membuat saya sedikit iri dengan rekan-rekan saya yang berasal dari keluarga pebisnis. Sangat wajar jika mereka kemudian juga menekuni bisnis. Bahkan tidak jarang mereka bisa langsung mulai belajar berbisnis dengan meneruskan usaha yang telah dirintis orang tuanya. Ini jauh berbeda dengan saya, karena keluarga saya sama sekali bukan keluarga pebisnis.


Karena tidak memiliki "darah pedagang" ini, sewaktu mulai berbisnis terus terang saya sempat ragu. Benarkah jalan yang saya ambil? Bukankah saya sama sekali tidak memiliki bakat? Saya sudah cek silisilah keluarga saya dari Ayah ataupun Ibu, kalau dirunut ke atas semua adalah pegawai pemerintah. Jadi sudah yakin, pasti, 100%, positif, tidak ada gen pedagang di tubuh saya. Kalau bakat seni, mungkin sedikit-sedikit masih ada karena kedua orang tua saya menyukai seni musik. Bakat menjadi pembicara, mungkin saja ada menetes sedikit, karena Kakek saya pemimpin kampung dan pembicara yang baik sekali. Tapi berbisnis? berdagang? jual beli? Tidak ada sama sekali.


Maka ketika usaha pertama saya tidak berjalan lancar, saya kemudian mengingatkan diri saya. "Tuh kan gagal, wong tidak ada bakat dagang …"


Saya bahkan sempat percaya bahwa bakat berdagang memang diwariskan. Dan mencoba menerima kenyataan bahwa saya bukan salah seorang yang mewarisi bakat tadi. Namun, kemudian pelan-pelan saya mengamati, ternyata banyak teman-teman saya yang meskipun orang tuanya pengusaha sukses, toh juga bisa mengalami kegagalan dalam bisnisnya. Ini sedikit membuka wawasan saya. Wah, ternyata sama saja, yang punya "bakat" dagang toh juga bisa gagal. Bukan bermaksud "nyukurin", tapi ini sedikit membuka harapan saya, bahwa jangan-jangan bakat bukan faktor penentu untuk menjadi pengusaha sukses.

Atau, mungkinkah bakat seseorang memang bisa berubah?


Adalah Prof. Kazuo Murakami, seorang ahli genetika, dalam bukunya The Divine Message of The DNA yang kemudian membuka wawasan saya lebih luas. Ternyata menurut ilmu genetika memang betul, segala sesuatu yang merupakan "bakat" ditentukan oleh kode genetis yang ada dalam DNA kita. Sebagai gambaran, setiap kilogram tubuh kita terdiri dari sekiar 1 trilyun sel. Jadi seorang bayi yang baru lahir sudah memiliki sekitar 3 trilyun sel. Padahal awalnya kita hanyalah satu buah sel yang sudah dibuahi. Yang kemudian membelah menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8 dan seterusnya hingga trilyunan tadi. Setiap sel memiliki inti sel (nucleus) yang mengandung DeoxyriboNucleic Acid (DNA). DNA inilah yang menyimpan kode genetis yang menjadi cetak biru tubuh kita. Jadi akan menjadi seperti apa kita, seolah sepertinya sudah terprogram dalam DNA tadi.


Lalu jika dalam setiap sel tubuh kita terdapat DNA yang sama, bagaimana sebuah sel tahu bahwa ia adalah bagian dari rambut, misalnya, dan kapan rambut mulai tumbuh, dsb. Menurut pakar genetika, ternyata terdapat mekanisme "nyala/padam" pada DNA tadi. Sebagai contoh, gen yang menentukan sifat kelamin laki-laki (berkumis, bersuara berat, dsb) yang semula "padam" akan "menyala" pada saat pubertas.


Bahkan, lebih jauh lagi. Proses nyala/padam tadi ternyata dapat terjadi sebagai respon lingkungan yang berubah. Dua ilmuwan dari Institut Pasteur mengamati hal ini. Bakteri E.Coli yang hanya mengkonsumsi glukosa, ternyata ketika ditempatkan pada lingkungan yang hanya ada laktosa, mampu merubah diri menjadi pemakan laktosa. Mekanisme internalnya sangat ajaib, karena bakteri adalah makhluk satu sel. Sehingga perubahan menjadi pemakan laktosa seolah-olah seperti menyalakan sebuah kemampuan yang semula tidak nampak.


Dan ini membawa konsekuensi luar biasa. Karena jika benar gen pembawa sifat tadi memiliki mekanisme nyala-padam seperti itu. Kita tidak pernah tahu potensi apa dalam diri kita yang saat ini belum kita nyalakan. Jangan-jangan saya juga memiliki bakat bermain saksofon sebagus Dave Koz, hanya saat ini belum dinyalakan saja. Atau jangan-jangan ada bakat bisnis sehebat Donald Trump yang masih terpendam dalam diri saya, dan menunggu dinyalakan?


Dan memang demikianlah menurut Prof. Murakami. Bahwa bakat seseorang dapat muncul pada umur berapapun. Banyak sekali contoh pemusik atau olahragawan yang semula hanya memperlihatkan "bakat" yang biasa-biasa, namun kemudian tumbuh secara luar biasa seiring dengan disiplin dan latihan yang dilakukan. Atau seorang yang hari ini dikenal sebagai ilmuwan genius, padahal teman SD nya mengenal dirinya dulu sebagai anak yang kurang pandai. Atau seseorang yang hari ini dikenal sebagai politisi dan orator hebat, sementara dulunya anak yang kuper. Jadi kalau anak Anda hari ini kurang pandai matematika, sumbang kalau bernyanyi, atau kurang berprestasi dalam orahraga. Anda tidak perlu buru-buru frustrasi sambil berteriak "Ah, dasar gak bakat". Siapa tahu, gen positif pembawa bakatnya saja yang belum menyala.


Faktor penting yang akan dapat mengaktifkan gen positif Anda adalah lingkungan. Jadi yang membuat seorang Ananda Mikola pandai mengemudi mobil balap bukan semata karena ayahnya adalah pembalap. Namun karena lingkungan yang sangat mengkondisikan dia menjadi pembalap. Kalau hanya mengandalkan bakat keturunan saja, maka pembalap Formula 1 paling fenomenal hari ini, Lewis Hamilton, akan menjadi pekerja di jawatan Kereta Api seperti kakeknya, atau jadi konsultan IT seperti ayahnya. Namun, bakat membalap Lewis ternyata menyala ketika ayahnya memberikan Go Kart sebagai hadiah natal. Dan semakin berkobar ketika diasuh Ron Dennis, bos tim McLaren.


Jadi, Anda yang tidak memiliki "bakat pedagang" seperti saya tidak perlu khawatir. Gen pembawa bakat dagang Anda dapat menyala belakangan. Dan Anda yang merasa memiliki "bakat dagang", selamat … Anda sudah punya modal awal. Namun tetap hati-hati, tanpa dukungan lingkungan dan sikap yang benar, gen pembawa bakat Anda dapat saja padam.


Fauzi Rachmanto
www.fauzirachmanto.blogspot.com

Wednesday, October 3, 2007

Tanpa Kemerdekaan, Tidak Ada Keberanian


Joseph "MR. JOGER" Theodorus Wulianadi dengan Joger-nya memproduksi sebuah jam yang berjalan mundur, yang dibuat justru untuk orang-orang yang berpikir maju.

Sekarang joger juga telah memiliki sebuah VCD yang isinya mengajak siapa saja berpikir merdeka. Karena dasar dari terbentuknya jiwa yang inovatif dan kreatif itu adalah kemerdekaan, tanpa kemerdekaan tak akan ada keberanian.

Buat teman - teman yang sering ke Bali , pasti tidak lupa ke JOGER untuk membeli souvenir di tokonya yang unik di Kuta.
Buat saya , tokoh yang satu ini bukan saja pebisnis yang unik tetapi juga teman bicara yang enak untuk masalah Customer Satisfaction.
Beliau pernah menjadi tamu istimewa saya saat memandu acara " Customer Fokus " di Auto 2000 Denpasar saat saya masih aktif di Astra International Kantor Pusat.


Ketika Joger didirikan, banyak entrepreneur yang dilibatkan. Jadi bukan Joseph saja yang menjadi entrepreneur, namun semua karyawannya juga entrepreneur. Di saat yang sama ia juga membuat mereka sebagai pemilik Joger juga. Di Joger tidak ada sentralisasi, cuma memang kebetulan untuk masalah desain tim kreatifnya terdiri dari lima orang, dan untungnya kelimanya ada dalam diri saya, sehingga tidak pernah terjadi keributan. Hal ini ia lakukan karena pernah ia memiliki banyak ahli, namun belakangan mereka jauh lebih banyak berdebat ketimbang bekerja.


Lalu menyikapi kata dispromotion, dalam sebuah forum Joseph mengutarakan kata ini,banyak yang tidak setuju dengan kata itu, apalagi kemudian banyak juga yang menanyakan atas kapasitas apa bisa mengatakan kata itu. Oleh karena itu saya membuat sendiri gelar saya yaitu BAA dan BASS kepanjangan dari Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa. Lalu ia balik bertanya kepada mereka, apakah tidak boleh bagi, "orang baru" seperti saya ini untuk menyatakan sebuah kebenaran.


Di Joger ternyata ia lebih berani membuat istilah-istilah baru, yang akhirnya diterima. Seperti kata dispromotion yang pada awalnya ditolak akhirnya diterima. Dispromotion itu adalah konsep berpromosi yang tidak bermaksud untuk menaikkan jumlah omzet, karena saat ini jika ada orang yang ingin membeli kaos Joger dalam jumlah banyak selalu ditolak. Ternyata hal ini melahirkan nilai baru, dan sayangnya kembali dicurigai sebagai taktik mereka dalam menaikkan jumlah omzet, ia membantahnya dengan mengatakan, dispromotion sama sekali tidak ditujukan untuk memoertinggi keuntungan yang ia terima.


Akar persoalan itu bisa saja menjadi masalah yang perlu dipecahkan atau menjadi menghancurkan. Contoh belumlama ini ia membaca 7000 karyawan pabrik sandal di PHK kemudian ada salah seorang di anatara mereka yang menemui dan meminta Joger menolong mereka dalam memasarkan sandal itu. Joger mau saja membantu namun Joger tidak akan menjual sandal yang "biasa-biasa saja", sandal itu harus lain dari yang lain. Kemudian mereka melihat ada peluang untuk menjual sandal dalam jumlah yang besar. Strategi penjualan yang kami terapkan adalah kami hanya menjual sandal sebelah kiri saja, dan jika membeli sebelah kiri akan mendapatkan bonus sebalah kanan. Harganya pun kami bagi dua, jadi masing-masing seharga Rp 16.500. Ternyata menjual sandal yang biasa dengan cara yang berbeda ini sudah menimbulkan sebuah permintaan baru, saat ini pabrik sudah kewalahan. Sekarang ada kekosongan di Bali karena orang merasa wajib membeli yang begini karena hal ini telah menjadi cerita. Kini orang kalau ke Bali khusus ke Joger karena orang tahu kita adalah tempat yang selalu hadir dengan ide-ide baru.


Kalau gini Joger menjadi besar bukan karena keinginan mereka, namun lebih banyak karena keinginan masyarakat. Dan semenjak 1987, Joger tidak lagi Profit Oriented (berorientasi pada keuntungan),tetapi Happiness Oriented (berorintasi pada kebahagiaan). Di Joger juga ada kebebasan untuk melanggar aturan asalkan demi konsumen. Sehingga kalau Anda bikin susah bos itu bahaya besar, tapi kalau bikin susah konsumen itu bahayanya jauh lebih besar.


Sebetulnya dalam bisnis yang berbasis kreativitas dan inovasi tidak mengenal persaingan, karena jika kita melukis dan ada yang hanya menyukai lukisan kita, maka berapa pun harganya, dan betapapun lebih bagusnya lukisan yang lain,orang akan tetap mencari dan membeli lukisan tersebut. Joger memang memilih untuk lebih leluasa menciptakan konsep dan tidak mau memproduksi sendiri. Inilah salah satu cara yang dicurigai sebagai taktik mereka,padahal tidak. Suatu kali Joger pernah ditanya di Universitas Airlangga apakah punya taktik atau strategi. Sebetulnya mereka tidak punya taktik dan strategi, mereka hanya punya sikap dan komitmen yang mereka jalankan secara konsisten dan konsekuen.



Source : Purdi E. Chandra

Otak Kanan Itu Semakin Penting


Sudah saatnya kita mengandalkan otak kanan, meski sebelumnya guru kita lebih banyak mengajarkan otak kiri.


Otak kanan memang makin menjadi penting saat ini. Bukan karena kita "sirik" dengan otak kiri, tetapi karena betul-betul dirasakan kebutuhannya, khususnya oleh entrepreneur. Terlebih lagi, karena dalam ilmu manajemen yang selama ini ada, yang lebih didasarkan logika dan rasional, ternyata tidak selamanya mampu mengatasi setiap persoalan binis.


Dan, mengapa harus otak kanan ? Oleh karena, di otak kanan itulah sarat dengan hal-hal yang sifatnya eksperimental, divergen, bukan penilaian, metaforilal, subyektif, non verbal, intuitif, diffuse, holistik, dan reseptif. Sementara kita sadar, bahwa otak kiri cenderung bersikap obyektif , presisi, aktif, logikal , verbal, penilaian, linier, konvergen, dan numerikal. Padahal, jika kita mampu memberdayakan otak kanan, maka ada kecendrungan akan mampu menyelesaikan setiap masalah dalam bisnis, bila dibandingkan kalau kita dengan hanya mengandalkan otak kiri.


Dengan kita mampu memberdayakan otak kanan, maka setiap memecahkan persoalan dalam bisnis, kita pun akan dapat melihat secara keseluruhan, dan kemudian memecahkan berdasarkan firasat, dugaan, atau intuisi. Intuisi ini adalah kemampuan untuk menerima atau menyadari informasi yang tidak dapat diterima oleh kelima indera kita.


Tampaknya ada yang khawatir dengan intuisi, karena mereka pikir intuisi bisa menghalangi pemikiran rasional. Sebenarnya intuisi justru berdasarkan pada pemikiran yang rasional dan tidak dapat berfungsi tanpanya. Saya sependapat dengan Robert Bernstrin, yang mengatakan, bahwa hanya intuisi yang dapat melindungi kita dari orang-orang paling berbahaya, orang-orang yang tidak mampu bekerja dan cuma pinter ngomong.


Lalu? Seorang entrepreneur yang mampu memberdayakan otak kanannya, biasanya juga cenderung memilih manajemen yang berstruktur luwes dan spontan, serta pada struktur yang sifatnya sama.


Lain halnya bila dia lebih mengandalkan otak kirinya. Maka ia akan lebih cenderung pada struktur hirarki dan pada kondisi manajemen yang berstruktur. Mengandalkan otak kiri juga cenderung membuat penyelesaian masalah dipecahkan satu per satu berdasarkan logika.


Kenyataan ini pernah kita alami saat studi dulu. Kita lebih banyak diajarkan atau dilatih oleh guru kita untuk selalu berpikir dengan otak kiri. Misalnya kita selalu dituntut berpikiran logis, analistik, dan berdasarkan pemikiran edukatif. Padahal hal tersebut ada kelemahannya. Kita tak dapat menggunakannya, bila data tak tersedia, data tak lengkap, atau sukar diperoleh data.


Maka, jika kita termasuk kategori otak kiri dan tidak melakukan upaya tertentu untuk memasukkan beberapa aktivitas otak kanan, maka akan menimbulkan ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan tersebut dapat mengakibatkan kesehatan mental dan fisik yang buruk, seperti mudah stres, mudah putus asa atau patah semangat.


Tapi dengan kita mampu memberdayakan otak kanan kita, maka kita juga akan lebih intuitif dalam menghadapi setiap masalah yang muncul. Tentu saja hal tersebut berbeda dengan mereka yang hanya mengandalkan otak kiri, yang cenderung bersifat analistis. Yang jelas, kedua belahan otak tersebut sama pentingnya. Jika kita mampu memanfaatkan kedua otak ini, maka kita akan cenderung "seimbang" dalam setiap aspek kehidupan, termasuk urusan bisnis.


Bagaimana kalau kenyataannya dalam bisnis kita sehari-hari, kerap kali masih diharuskan untuk memutuskan, memilih, dan mengambil keputusan, dari beberapa alternatif yang faktor-faktornya tidak diketahui? Tentu saja, jika proses berpikir kita masih dominan ke otak kiri cenderung bersifat logis, linier, dan rasional, tentu kita menyodorkan berpuluh-puluh pilihan.


Sebaliknya jika proses berpikir kita dominan ke otak kanan yang cenderung acak, tidak teratur, dan intuitif, saya yakin kita dengan antusias yang kuat akan memilih satu pilihan dan berhasil. Maka, tak ada salahnya jika kita mau memberdayakan otak kanan.


Source : Purdi E. Chandra


Jadi Pemimpin atau Bawahan ?



Hanya dua pilihan bagi kita: menyerah saja jadi bawahan, atau mau terus berusaha menjadi pemimpin.


Jika setiap saat kita selalu menanyakan "Apa hak-hak saya?", itu artinya kita termasuk golongan bawahan. sedangkan, jika kita lebih suka bertanya "Apa tanggung jawab saya?", itu berarti termasuk golongan pemimpin. Wajar saja, mestinya memang demikian. Selain itu, seorang bawahan biasanya orang yang bekerja lebih terdorong oleh emosinya. Sementara, seorang pemimpin, bekerja atau berbisnis lebih karena terdorong oleh karakternya.


Saya juga melihat, bahwa seorang bawahan itu akan merasakan senang, baru kemudian dia melakukan pekerjaan atau tugasnya dengan benar. Itu lain dengan pemimpin. Dia akan selalu berusaha melakukan segala pekerjaannya dengan benar, kemudian dia kan merasa senang dengan prestasi kerjanya itu. Pendeknya, bawahan itu bekerja atau melaksanakan tugas karena terdorong oleh kesenangan, dan bukan terdorong oleh komitmen seperti biasa dilakukan oleh seorang pemimpin.


Perbedaan lain yang cukup menonjol antar keduanya, menurut pakar leadership, Jhon C. Maxwell, yaitu seorang bawahan itu sukanya selalu menunggu momentum, barulah dia mau bergerak. Sikapnya lebih mengendalikan tindakan, dan berhenti ketika masalah timbul. Sementara, kalau kita sebagai pemimpin, maka kita akan lebih cenderung menciptakan momentum. Sedang, tindakannya lebih mengendalikan sikapnya, dan seorang pemimpin justru akan meneruskan usahanya ketika masalah timbul.


Saya juga melihat, memang benar seorang bawahan itu jika membuat keputusan selalu berdasarkan popularitas. Berbeda dengan pemimpin yang setiap membuat keputusan apapun, termasuk dalam bisnisnya, adalah lebih berdasarkan pada prinsip dan bukan pada popularitas. Sehingga, tidak mengherankan kalau seorang pemimpin itu tidak suka bersikap murung dalam menggeluti bisnisnya. Sebaliknya, dia akan selalu mantap menekuni bisnisnya.


Karena itu, saya berpendapat, di saat sekarang ini kita lebih baik menjadi ikan besar di kolam kecil daripada harus menjadi ikan kecil di kolam besar. Artinya, kita lebih baik menjadi pemimpin, walaupun bisnis kita kecil dan anak buah kita sedikit, daripada kita harus ikut orang lain sekalipun bisnisnya sudah besar. Memang, menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Tapi yakin saja, sebab kita masing-masing memiliki kapasitas kepemimpinan.


Saya yakin, jika kita bekerja pada perusahaan besar sebagai bawahan, tentu kita tidak bisa berbuat banyak, atau tidak bisa mempengaruhi kebijakan perusahaan. Naiknya karier kita pun jelas membutuhkan waktu yang lama. Tapi lain halnya, kalau kita bekerja pada perusahaan yang masih kecil, maka peluang untuk mengembangkan bisnis lebih besar. Sehingga, karier kita pun akan cepat berkembang pula. Kita jadi punya andil untuk mengembangkan usaha menjadi besar, dan akhirnya kita akan lebih cepat jadi pemimpin perusahaan.


Kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak akan membuat kita berhenti bekerja, kalau kita punya jiwa kepemimpinan. Tapi sebaliknya, kalau kita terus menerus menjadi bawahan, akibatnya kita tidak punya keberanian jadi pemimpin. Kita juga tidak akan memiliki keberanian untuk mencoba punya bisnis sendiri. Akhirnya sekarang, kita hanya mempunyai dua pilihan: kita menyerah saja menjadi bawahan atau kita tetap berusaha untuk menjadi seorang pemimpin.



Source : Purdi E. Chandra

Tuesday, October 2, 2007

10 Karakter Unik Konsumen Indonesia


Menarik sekali ulasan Handy Irawan di Majalah Marketing terbaru. Karenanya, penting sekali intisari tulisan itu saya save as di blog ini, biar sekalian bisa kita pahami dan praktekkan bersama.

Menurutnya, karakter konsumen Indonesia adalah:

1. Cenderung memiliki memori yang pendek. Mereka cenderung mengingat manfaat produk jangka pendek. Cepat bosan dan mudah lupa. Nah, ini peluang bagi produk-produk baru yang meraih market yang pelupa seperti ini :-)

2. Tidak memiliki perencanaan. Impulse buying masih merajai pengambilan keputusan sebagian besar orang Indonesia. Tapi, ke depannya akan semakin banyak yang melakukan perencanaan, kata Handy. Lihatlah, begitu antrinya pre booking tiket untuk Air Asia dan sebagainya.

3. Cenderung berkelompok dan suka berkumpul. Istilah lainnya adalah guyub. Saya setuju dengan pendapat ini. Saya sendiri sering mengambil keputusan berdasarkan referensi kelompok. Ibu Jetty baru beli mobil persis dengan yang dibeli oleh Ibu Meity Kania. Makanya, mereka semakin terlihat seperti kembaran saja.

4. Tidak adaptif terhadap teknologi baru. Ya, saya juga setuju dengan pendapat ini. Saya termasuk di dalamnya. Saya bukan early adopter. Kalau teknologinya sudah mentok, atau murah, baru saya beli :-). Untuk sebagian besar masyarakat, hal ini juga terkait dengan tingkat pendidikannya.

5. Cenderung fokus kepada konteks, bukan konten. Nah, pendapat ini semakin membenarkan pendapatnya Hermawan Kartajaya yang sudah lama digulirkannya. Lihat saja, di mana-mana yang dipromosikan, yang diblow-up adalah konteksnya, bukan kontennya. Tapi, it works untuk konsumen di Indonesia. Kalau anda baca majalah Reader's Digest versi bahasa Inggris, setiap iklan produk obat, selalu dibuat 2 halaman, 1 halaman untuk iklan, 1 halaman untuk penjelasannya.

6. Menyukai produk luar negeri. Betul juga. Bahkan menurut saya orang Indonesia lebih early adopter soal ini dibandingkan penduduk Malaysia atau Philipina. Para pengunjung mal KLCC masih kalah keren dibandingkan pengunjung mal Plaza Senayan. Makanya merek-merek lokal banyak yang mencitrakan dirinya seolah-olah adalah merek import.

7. Semakin memperhatikan masalah religius. Pangsa pasar dari produk-produk yang mempunyai nilai agama akan semakin besar. Nah, soal ini saya setuju sekali dan menjadi semakin bersemangat. Kenyataan di lapangan memang demikian. Maka, saya pun setuju dengan pendapat ini.

8. Suka pamer dan gengsi. Yup, ini pun betul. Seorang teman yang disainer senior mengatakan, orang Indonesia suka berpakaian yang "look at me!".

9. Banyak dipengaruhi oleh subculture. Maksudnya konsumen Indonesia akan semakin cair dan tidak lagi ada perbedaan antara suku dan geografis. Kalau anda jalan-jalan ke Bukittinggi, di sana anak-anak mudanya sudah persis seperti anak metropolitan. Gayanya, dandanannya, musiknya, bahasanya. Tidak ada bedanya dengan yang di Palembang, Sukabumi atau Bandung.

10. Tidak peduli lingkungan. Nah, untuk poin yang ini saya kurang paham apa alasannya. Maka saya kurang setuju. Tapi, kalau itu adalah akibat dari himpitan beban ekonomi yang memaksa mereka mengejar kepentingan perut yang membuat kepedulian terhadap lingkungan, mungkin bisa saya terima.

Kesepuluh karakter di atas bisa jadi panduan kita, para pebisnis untuk menjadikannya sebagai panduan sekaligus peluang untuk memanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengembangkan pasar produk kita. Kecenderungan itu tentu saja akan berubah terus ke arah yang lebih baik, sejalan dengan meningkatnya pendidikan, kesadaran dan tingkat ekonomi.

Semoga bermanfaat.



Source :
Roni,
Owner, Manet Busana Muslim

Samurai Dalam Hening


Seorang murid junior sedang berjalan pulang setelah selesai berceramah di sebuah kuil di desa. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang murid senior, murid senior itu bertanya padanya, " Mengapa kamu berani memberikan ceramah kepada begitu banyak orang di kuil? Apa kamu yakin perkataanmu sudah benar? Kamu kan masih junior. Apa ilmu kamu sudah cukup? "


Sepanjang perjalanannya ke kuil, murid junior memikirkan teguran seniornya. Di kuil, ia menemui gurunya dan menanyakan apakah ia telah melakukan hal yang kurang baik dengan berceramah di kuil di desa. "Guru, apakah saya telah melakukan hal yang salah? " Gurunya menjawab, " Selama kau melakukannya dengan mindfulness maka hal itu benar adanya… asalkan mindfulness…" Murid junior bingung dan tidak mengerti akan jawaban gurunya. Kebingungan terpancar dari wajahnya. Melihat wajah bingung murid juniornya itu, guru berkata, “Berjalanlah ke utara maka kau akan tahu apa itu mindfulness.” Lalu gurunya kembali duduk bermeditasi.


Murid junior pun menuruti nasehat gurunya. Ia berjalan ke utara, itu artinya ia harus berjalan menuju kota. Di tengah jalan ia melihat sebuah dojo yang pintunya terbuka setengah. Di dalamnya ada dua orang samurai yang sedang duduk berhadapan. Wajah mereka sangat serius dan tanpa kata-kata. Suasananya sangat hening. Yang terdengar cuma suara kayu terbakar dari tungku masak poci teh yang berada di tengah-tengah kedua samurai itu.

Murid junior mengintip dari balik pintu. Lalu salah seorang samurai berkata dalam kemarahan pada samurai hening dihadapannya, ia menunjuk-nunjukkan tangannya, “Kau telah membunuh kakakku! Kau telah membunuh kakakku!” Ternyata kakaknya tewas dalam pertempuran melawan pasukan samurai hening itu. “Kau telah membunuh kakakku! Aku akan membalaskan dendamnya! Kau telah membunuh kakakku!”, samurai dalam kemarahan itu terus-menerus meneriaki samurai hening. Sangat mengesankan, samurai hening itu tetap diam tanpa bereaksi. Hanya sesekali wajahnya berkerut menunjukkan emosi yang ingin keluar tapi tidak beberapa lama wajahnya menjadi hening kembali.

Setelah beberapa saat, samurai hening itu berdiri, ia berkata dengan sangat tenang, “Sudah selesai?” Lalu ia berjalan ke dalam. “Kau telah membunuh kakakku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan terhadap rasa kehilangan ini. Aku tahu ia telah kalah dalam pertempuran. Ia telah kalah dalam pertempuran”, samurai dalam kemarahan itu menangis sambil memukul-mukulkan tangannya ke lantai. Kesedihan sangat terpancar dari dirinya. Setelah tenang, samurai dalam kemarahan itu berjalan keluar dojo dengan sebelumnya membungkuk hormat dan ia berkata kepada dirinya sendiri, “Kak, kau dikalahkan oleh orang yang hebat. Ia dikalahkan oleh orang yang hebat.”


Melihat semua itu, murid junior mengerti tentang mindfulness. Samurai dalam hening mengajarkannya tentang mindfulness. Samurai hening itu tetap diam dan hanya mengamati semua emosi yang muncul dari dalam dirinya dan membiarkannya musnah tanpa perlu mengeluarkan reaksi. Tujuan dari samurai dalam hening itu adalah hanya mendengarkan luapan emosi kemarahan samurai dalam kemarahan. Ia tahu luapan emosi samurai dalam kemarahan hanya perlu diungkapkan dan ia mendengarkannya tanpa perlu memberikan reaksi dan dengan demikian emosi itu pun akan musnah dengan sendirinya.

Samurai dalam hening telah menetapkan tujuan dan ia tidak membiarkan emosi mengeluarkannya dari tujuan itu. Ia duduk mendengarkan luapan emosi samurai dalam kemarahan itu dengan penuh kesadaran. Mindfulness adalah menentukan tujuan, tetap berada di dalam tujuan itu, menyadari semua fenomena yang muncul dan membiarkannya musnah kembali tanpa harus larut didalamnya. Mindfulness membuat kita tetap berada dalam tujuan dengan menyadari semua emosi yang muncul dan membiarkannya musnah supaya kita tetap berada dalam tujuan.

Lalu murid junior langsung berlari pulang dan menemui gurunya. “Guru, saya telah mengerti! Saya telah mengerti!” Ternyata gurunya sedang di dalam toilet, dan di pintu toilet tergantung tulisan, “Sedang dalam mindfulness.” Murid junior mengerti, bahwa apapun yang dilakukan dalam mindfulness hasilnya akan lebih baik karena dilakukan dengan berkesadaran penuh.

Mindfulness seperti radar yang mengamati semua fenomena yang muncul dalam perjalanan kita mencapai tujuan. Dengan mindfulness menjaga kita untuk selalu berada di right track dan dia akan memberikan sinyal bila kesombongan, kebencian, keserakahan, kemalasan, dll mulai muncul supaya kita tidak meneruskannya menjadi reaksi dan supaya kita tetap ingat akan tujuan kita.


Oleh : Nathalia Sunaidi - Penulis buku, Hipnoterapis, Therapist
http://www.nathaliainstitute.com

Akhlak


Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya" .


Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.



Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?".


Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja".
"Apakah Itu?", tanya Abubakar RA.
"Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana ", kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu?".
Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa (mendatangi engkau)."
"Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku" , bantah si pengemis buta itu.

"Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.


Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW".


Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... "

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau? Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.

Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya.

Sadaqah Jariah salah satu dari nya mudah dilakukan, pahalanya?
MasyaAllah.. ..macam meter taxi...jalan terus.


Sadaqah Jariah - Kebajikan yang tak berakhir.

1. Berikan al-Quran pada seseorang, dan setiap dibaca, Anda mendapatkan hasanah.

2. Sumbangkan kursi roda ke RS dan setiap orang sakit menggunakannya, Anda dapat hasanah.

4. Bantu pendidikan seorang anak.

5. Ajarkan seseorang sebuah do'a. Pada setiap bacaan do'a itu, Anda dapat hasanah.

6. Bagi CD Quran atau Do'a.

7. Terlibat dalam pembangunan sebuah mesjid.

8. Tempatkan pendingin air di tempat umum.

9. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau binatang berlindung dibawahnya, Anda dapat hasanah.

10. Bagikan email ini dengan orang lain. Jika seseorang menjalankan salah satu dari hal diatas, Anda dapat hasanah sampai hari Qiamat.

Aminnnnnn...

KirimandariLina R. ..............................................................................

Air Putih


Ada satu pertanyaan yang masuk ke mailbox saya, yaitu "Mengapa harus minum air putih banyak-banyak. .?"

Well, sebenarnya jawabannya cukup "mengerikan" tetapi karena sebuah pertanyaan jujur harus dijawab dengan jujur, maka topik tersebut bisa dijelaskan sbb:

Kira-kira 80% tubuh manusia terdiri dari air.

Malah ada beberapa bagian tubuh kita yang memiliki kadar air di atas 80%. Dua organ paling penting dengan kadar air di atas 80% adalah :

Otak dan Darah. !!

Otak memiliki komponen air sebanyak 90%,
Sementara darah memiliki Komponen air 95%.

Jatah minum manusia normal sedikitnya adalah 2 liter sehari atau 8 gelas sehari.

Jumlah di atas harus ditambah bila anda seorang perokok .

Air sebanyak itu diperlukan untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh kita lewat air seni, keringat, pernapasan, dan sekresi.

Apa yang terjadi bila kita mengkonsumsi kurang dari 2 liter sehari...?

Tentu tubuh akan menyeimbangkan diri. Caranya...?
Dengan jalan "menyedot" air dari komponen tubuh sendiri. Dari otak...?

Belum sampai segitunya (wihh...bayangkan otak kering gimana jadinya...),
melainkan dari sumber terdekat : Darah. !!

Darah yang disedot airnya akan menjadi kental.
Akibat pengentalan darah ini, maka perjalanannya akan kurang lancar ketimbang yang encer.

Saat melewati ginjal (tempat menyaring racun dari darah)
Ginjal akan bekerja extra keras menyaring darah.
Dan karena saringan dalam ginjal halus, tidak jarang darah yang kental bisa
menyebabkan perobekan pada glomerulus ginjal.

Akibatnya, air seni anda berwarna kemerahan, tanda mulai bocornya saringan ginjal. Bila dibiarkan terus menerus, anda mungkin suatu saat harus menghabiskan 400.000 rupiah seminggu untuk cuci darah
Eh, tadi saya sudah bicara tentang otak ' kan...?

Nah saat darah kental mengalir lewat otak, perjalanannya agak terhambat. Otak tidak lagi "encer", dan karena sel-sel otak adalah yang paling boros mengkonsumsi makanan dan oksigen, Lambatnya aliran darah ini bisa menyebabkan sel-sel otak cepat mati atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya..(ya wajarlah namanya juga kurang makan...)

Bila ini ditambah dengan penyakit jantung (yang juga kerjanya tambah berat bila darah mengental... ),maka serangan stroke bisa lebih lekas datang

Sekarang tinggal anda pilih: melakukan "investasi " dengan minum sedikitnya 8 gelas sehari- atau- "membayar bunga" lewat sakit ginjal atau stroke.

Anda yang pilih...!


Kiriman dari Evi Monika

Monday, October 1, 2007

Sibuk dan Sibuk


Sibuk Bekerja atau Berbisnis.
Mungkin Anda pernah melihat (atau termasuk Anda?) orang yang begitu sibuk bekerja. Pergi pagi-pagi sekali, pulang sampai malam, dan hari Sabtu dan Minggu masuk lembur. Saat ditanya, alasan yang sering muncul ialah pekerjaan sangat banyak, ini sudah tugas kantor, dan alasan lain yang sejenisnya. Tetapi ibadahnya ketetaran apa lagi berdakwah.


Sibuk Berdakwah.

Di lain pihak, ada orang yang begitu getol berdakwah. Hampir setiap hari keluar rumah untuk berdakwah. Mulai dari ceramah, mengisi pengajian, mengurus organisasi dakwah, mengurus yayasan, mengisi khutbah Juma’at, menulis artikel, menulis buku, dan berbagai kegiatan dakwah lainnya. Namun, kehidupan ekonominya morat marit, untuk ongkos berdakwah saja masih tergantung kepada orang lain.


Sibuk Beribadah.

Ada juga orang yang siang malam selalu di Masjid. Shalat berjamaah selalu hadir, membaca al Quran hampir setiap waktu, mengkaji kitab berjam-jam setiap harinya. Jika tidak maka mulutnya tidak lepas dari dzikir. Tetapi kehidupan anak istrinya bergantung kepada saudaranya.


Manakah yang Anda pilih?

Saya mengenal seseorang yang ternyata bisa sibuk di ketiga pekerjaan tadi. Dia seorang profesional sekaligus seorang pebisnis. Dia juga begitu aktif berdakwah, mengajar ngaji, menjadi khotib, menjadi penceramah, mengurus yayasan dakwah, adalah pekerjaan sehari-harinya. Tentu saja ibadah-ibadah hariannya juga tidak ketinggalan. Kehidupan keluarganya pun tetap harmonis.


Inginkah Anda seperti orang ini?


Source : Rachmat ST
www.motivasi-islami.com

Bayaran dari Stress


Anthony Robbins dalam salah satu bukunya mengatakan bahwa salah satu cara kita agar berhasil dalam keuangan ialah bersedia dan bisa menghadapi stress. Dari pengamatan dan pengalaman saya, ternyata apa yang dikatakan oleh Robbins tidak salah. Kita ketahui bahwa setiap kenaikan jenjang karir ternyata seiring dengan naiknya tingkat stress yang kita alami. Yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana cara menghadapi stress tersebut?


Stress yang saya alami saat menjadi seorang engineer ternyata lebih ringan dibanding saat saya menjadi manager. Saat menjadi engineer saya hanya stress saat menghadapi tugas atau pekerjaan yang sulit sementara sudah mendekati batas waktu. Tetapi saat menjadi manager, bukan hanya mempertanggung jawabkan pekerjaan sendiri tetapi juga harus mempertanggung jawabkan pekerjaan bawahan serta apa yang terjadi pada bawahan.


Begitu juga, dalam bisnis. Semakin besar bisnis Anda akan semakin besar stress Anda. Mungkin jika kita bisnis dengan modal kecil, stress kita tidak akan terlalu besar, tetapi penghasilannya pun tidak besar. Sebaliknya jika kita sudah mengeluarkan modal (apa lagi modal dari orang lain) dalam jumlah besar, maka stress yang kita alami akan lebih besar lagi. Ini adalah pengalaman nyata. Dari kenyataan ini, bisa kita simpulkan bahwa suatu keberhasilan seringkali adalah bayaran dari stress yang kita alami. Jika Anda ingin berhasil maka bersiaplah untuk stress.


Stress memang hanya muncul saat ada masalah, saat tidak ada masalah kita mungkin akan tenang-tenang saja. Begitu ada masalah yang mengancam bisnis kita atau kita mengalami kerugian besar atau terkena musibah maka stress akan mulai muncul. Stress akan bertambah saat investor mulai mempertanyakan uang yang mereka tanamkan kepada kita.


Inilah dinamika hidup. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa ada orang yang tidak memiliki cita-cita atau meraih pancapaian yang lebih tinggi. Mereka mungkin tidak mau menghadapi stress dan menghabiskan energi. Namun seperti quantum, selalu memerlukan energi untuk pindah ke orbit yang lebih tinggi. Jika tidak, kita akan tetap seperti kita sekarang ini.


Jika stress adalah bagian dari hidup kita, maka yang harus kita lakukan ialah bukanlah menghindari dari stress, tetapi bagaimana kita bisa menghadapi stress. Stress muncul jika ada masalah, maka masalah bukan untuk dihindari tetapi untuk kita hadapi sehingga jika masalah bisa kita atasi maka stress kita bisa hilang. Namun jika stress sudah mendahului menguasai diri kita maka bukannya kita akan menyelesaikan masalah, malah akan memperburuk masalah.


Oleh karena kita, kita perlu memiliki suatu ketangguhan dalam menghadapi stress. Jangan sampai stress bisa menguasai diri kita dan bahkan menghancurkan diri kita. Ketangguhan itu hanya bisa muncul jika keimanan kita kuat. Setiap masalah dan konsekuensinya adalah dari Allah dan kita serahkan semuanya kepada Allah sambil kita tetap berusaha. Kita akan memiliki ketangguhan jika kita memegang prinsip:

" Bagi kami cukup Allah saja pelindung yang baik, bagi kami berserah diri yang baik, dan penolong yang baik bagi kami."

Saya telah menulis artikel lain tentang bagaimana mengurangi bahkan menghilangkan stress. Ways to Reduce Stres


Rachmat ST
www.motivasi-islami.com


Persiapkan Mobil Sebelum Mudik


Sudah menjadi kebiasaan setiap hari raya, mayoritas penduduk Indonesia melakukan mudik ke kampung halaman. Pemudik yang ingin berlebaran di kampung memakai kendaraan khususnya mobil harus mempersiapkan kendaraannya dengan baik. Itu penting, karena mobil harus layak dan siap untuk jarak jauh..


Khusus di bagian mesin pemeriksaan biasanya dibagi menjadi dua, yaitu sistem pendingin dan sistem bahan bakar. Untuk sistem pendingin yang perlu dicek adalah kondisi air radiator. Pastikan jumlah air pada radiator selalu penuh. Kemudian cek pula jumlah air pada tangki cadangan. Ideal harus berada di antara garis Max dan Min. Tambahkan air bila ternyata kurang. Selanjutnya periksa kondisi tutup radiator. Bila mengalami kebocoran karena karetnya rusak, sebaiknya diganti.


Selain itu, perhatikan kondisi tali kipas atau fanbelt. Tali kipas yang sudah lama atau kendor setelannya sering mengeluarkan bunyi mencicit. Ganti dengan yang baru bila sudah retak, karena putusnya tali kipas dapat mengakibatkan kerusakan mesin.


Mengenai sistem bahan bakar, pemilik kendaraan harus memerhatikan saringan bahan bakar dan saringan udara. Kedua saringan ini bertugas mencegah partikel-partikel yang tidak diperlukan masuk ke ruang bakar.


Untuk itu, saringan udara harus dibersihkan karena elemen-elemennya secara berangsur akan tersumbat debu. Bila itu terjadi, udara yang masuk ke ruang bakar tidak optimal. Imbasnya tenaga mesin menurun, dan bahan bakar boros.


Setelah memeriksa kedua saringan tersebut, cek pula kondisi oli mesin. Caranya dengan melihat tongkat pengukur oli atau dipstik yang berada di ruang mesin. Tarik dipstik, kemudian lap permukaannya dengan kain bersih lalu masukkan kembali. Setelah itu dicabut lagi untuk mengetahui kondisi oli di dalam mesin. Bila berada di bawah tanda Full, itu bertanda oli berkurang. Untuk itu segera tambahkan oli sesuai dengan spesifikasinya.

Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu warna oli. Bila warnanya sudah hitam pekat dan tidak licin, gantilah dengan oli yang baru.


Pada sistem rem dan ban, pemeriksaan yang dilakukan meliputi minyak rem, fungsi rem, kondisi ban, dan tekanan ban. Jumlah minyak rem yang baik yaitu berada pada batas max. Apabila minyak rem kurang, sebaiknya jangan langsung ditambah, namun periksa terlebih dahulu apakah ada kebocoran atau rembesan. Setelah yakin sistem rem aman dari kebocoran, baru lakukan penambahan.


Untuk mengetahui kondisi ban masih bagus atau tidak, yang pertama perhatikan permukaan kembangnya. Apabila sudah tipis gantilah dengan yang baru, karena ban tipis memiliki risiko pecah saat kendaraan dipacu pada kecepatan tinggi. Kemudian saat hujan daya cengkeram menjadi kurang, sehingga kendaraan mudah selip. Kembang yang bagus memiliki ketebalan min 3 mm.

Mengenai tekanan angin yang baik adalah tidak terlalu keras ataupun terlalu lembek. Setiap tipe mobil memiliki ukuran tersendiri sesuai dengan spesifikasi kendaraan.

Di bagian kopling yang harus diperhatikan adalah pelatnya apakah masih cukup tebal atau tidak. Ini penting untuk mencegah kejadian kopling selip saat melakukan mudik. Gejalanya dapat dikenali dengan cara masukan gigi 1 kemudian injak gas hingga putaran mesin meninggi. Bila kendaraan tidak bisa melaju lebih cepat, atau putaran mesin tinggi namun kendaraan berjalan pelan, itu pertanda kopling sudah rusak dan harus diganti.


Sedia wiper sebelum hujan

Untuk persiapan saat datang hujan, pemilik kendaraan harus memeriksa sistem kelistrikan dan wiper. Pada sistem kelistrikan cek fungsi lampu-lampu, indikator, air aki dan sambungan kabel. Khusus air aki, lakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada enam selnya. Permukaan fluida (air elektrolit) harus berada pada posisi dekat dengan batas permukaan tertinggi (upper L).


Peranti wiper atau penghapus air hujan pada kaca sangat penting dan erat hubungannya dengan segi keselamatan. . Wiper berfungsi untuk menjamin pandangan pengendara agar tetap jernih dan tidak terhalang butiran air hujan yang menempel di kaca depan. Karena itu, sebelum pergi mudik periksalah apakah wiper berfungsi atau tidak. Kemudian cek juga karet wiper -nya yang berwarna hitam. Karet yang sudah getas dan robek membuat proses pembersihan kaca depan tidak optimal. Malahan karet seperti itu bila dibiarkan akan merusak permukaan kaca mobil. Gantilah karet wiper dengan yang baru bila menemui kondisi seperti itu.


www.djodiismanto.blogspot.com

9 Kepribadian Entrepreneur


Baca saja, tipe-tipe kepribadian seorang pebisnis di bawah ini.

1. The Improver

Anda memiliki kepribadian ini jika Anda menjalankan bisnis dengan menonjolkan gaya improver alias ingin selalu memperbaiki. Anda menggunakan perusahaan Anda untuk ‘memperbaiki dunia’. Improver memiliki kemampuan yang kokoh dalam menjalankan bisnis. Mereka juga memiliki intergritas dan etika yang tinggi.

Personality Alert: Waspadai sifat Anda yang cenderung menjadi perfeksionis dan terlalu kritis terhadap karyawan dan pelanggan Anda. Contoh Entrepreneur: AnitaRoddick, pendiri The Body Shop.

2. The Advisor

Tipe kepribadian pebisnis seperti ini bersedia memberikan bantuan dan saran tingkat tinggi bagi para pelanggannya. Motto dari advisor ini yaitu pelanggan adalah benar dan kita harus melakukan apa saja untuk menyenangkan mereka.

Personality Alert: Seorang advisor bisa jadi terlalu fokus pada kebutuhan bisnis mereka dan pelanggan, sehingga cenderung mengabaikan kebutuhan mereka sendiri dan bisa-bisa malah cape hati sendiri. Contoh Entrepreneur: John W. Nordstrom, pendiri Nordstorm.

3. The Superstar

Inilah bisnis yang pusatnya dikelilingi oleh karisma dan energi tinggi dari Sang CEO Superstar. Pebisnis dengan kepribadian seperti ini biasanya membangun bisnis mereka dengan personal brand mereka sendiri.

Personality Alert: Pebisnis dengan tipe ini bisa menjadi terlalu kompetitif dancworkaholics.

Contoh Entrepreneur: Donald Trump, CEO Trump Hotels & Casino Resorts.

4. The Artist

Kepribadian pebisnis seperti ini biasanya senang menyendiri tapi memiliki kreativitas yang tinggi. Mereka biasanya sering kali ditemukan di bisnis yang membutuhkan kreativitas seperti pada perusahaan agen periklanan, web design, dll.

Personality Alert: Pebisnis tipe ini bisa jadi terlalu sensitif terhadap respon pelanggan Anda, walaupun kritik dari mereka bersifat membangun.

Contoh Entrepreneur: Scott Adams, pendiri dan penggagas Dilbert.

5. The Visionary

Sebuah bisnis yang dibangun oleh seorang visioner biasanya berdasarkan visi masa depan dan pemikiran pendirinya. Anda memiliki keingintahuan yang tinggi untuk mengerti dunia di sekeliling Anda dan akan membuat rencana untuk menghindari segala macam rintangan.

Personality Alert: Seorang visioner bisa jadi terlalu fokus pada mimpi mereka dan kurang berpijak pada realitas. Dan jangan lupa, menyertai visi Anda dengan melakukan tindakan nyata.

Contoh Entrepreneur: Bill Gates, pendiri MicroSoft Inc.

6. The Analysist

Jika Anda menjalankan bisnis sebagai seorang analis, perusahaan Anda biasanya memfokuskan pada penyelesaian masalah dalam suatu cara sistematis. Seringkali berbasis pada ilmu pengetahuan, keahlian teknis atau komputer, seorang analis perusahaan biasanya hebat dalam memecahkan masalah.

Personality Alert: Hati-hati dengan kelumpuhan analisa.Bekerjalah dengan mempercayai orang lain.

Contoh Entrepreneur: Gordon Moore, pendiri Intel.

7. The Fireball

Sebuah bisnis yang dimiliki oleh si ‘Bola Api’ ini biasanya dioperasikan dengan penuh hidup, energi dan optimisme. Pelanggan merasa perusahaan Anda dijalankan dengan tingkah laku yang fun.

Personality Alert: Anda bisa jadi berkomitmen yang berlebihan terhadap tim Anda dan bertingkah laku terlalu impulsif. Seimbangkan keimpulsivan Anda dengan rencana bisnis.

Contoh Entrepreneur: Malcolm Forbes, penerbit dan pendiri Forbes Magazine.

8. The Hero

Anda memiliki kemauan dan kemampuan yang luar biasa dalam memimpin dunia dan bisnis Anda melalui segala macam tantangan. Anda adalah inti dari kewirausahaaan dan bisa mengumpulkan banyak perusahaan besar.

Personality Alert: Terlalu mengumbar janji dan menggunakan taktik kekuatan penuh untuk mendapatkan sesuatu dengan cara Anda tidak akan berhasil dalam jangka waktu panjang. Untuk menjadi sukses, percayailah keterampilan kepemimpinan Anda untuk menolong orang lain menemukan jalan mereka.

Contoh Entrepreneur: Jack Welch, CEO GE.

9. The Healer

Jika Anda adalah seorang ‘penyembuh’, Anda bersifat pengasuh dan penjaga keharmonisan dalam bisnis Anda. Anda memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa dan keteguhan disertai dengan ketenangan dari dalam.

Personality Alert: Karena sifat perhatian Anda dan ‘kepenyembuhan’ Anda dalam menjalankan bisnis, Anda bisa jadi menghindari realitas di luar sana dan selalu terlalu berharap. Gunakan skenario perencanaan untuk persiapan datangnya masalah.

Contoh Entrepreneur: Ben Cohen, salah satu pendiri Ben & Jerry’s Ice Cream.

Dengan mengetahui tipe kepribadian Anda dalam menjalankan sebuah bisnis, Anda bisa lebih terarah dalam membangun bisnis Anda . Tapi yang tak kalah pentingnya adalah pengetahuan mengenai seluk beluk bisnis itu sendiri, termasuk bagaimana cara memasarkannya melalui internet ataupun secara offline.


Si Bapak Tua


Siang hari, suasana pelabuhan Tanjung Priok ini sungguh sangat menyengat. Panas dan gersang sudah merupakan cuaca yang akrab ditemui di sini. Dengan langkah malas aku menuju ke warung nasi terdekat untuk mengisi perut ini. Terlihat di sekitarku kegiatan bongkar muat di pelabuhan.


Kontainer yang naik dan turun dari kapal laut, para pekerja yang sibuk mengangkut barang yang akan dikirimkan, dan para mandor yang sibuk berteriak mengatur para pekerjanya. Truk besar kecil, truk kontainer, forklift dan kendaraan lainnya yang tak hentinya berlalu lalang. Kegiatan di sini tak pernah ada kata diam.


Selesai makan, aku langsung menuju kantorku. "Lebih baik aku di kantor yang sejuk daripada di luar yang sudah pasti panas dan membuat berkeringat ini." Ah, sejenak kulihat pekerja-pekerja yang tanpa komando berjalan teratur menuju sebuah kontainer. Rupanya ada perusahaan yang
sedang melakukan bongkar muat gula pasir. "Pasti ini impor deh, dan yang sudah pasti ketahuan ruginya dalah para petani gula lokal kita," batin ini menyelisik.


Angkat karung, turunkan, angkat lagi, turunkan. Kuperhatikan dari jauh apa yang dilakukan pekerja itu. Tunggu dulu, aku lihat seraut wajah bapak tua yang masih menjadi pekerja. Dari garis mukanya kutaksir dia sudah tidak pantas untuk bekerja sekeras ini. Duh, hati ini sepert teriris. Esok lusa aku sempat berpapasan dengan bapak tua itu yang sedang menikmati sarapannya di sebuah gudang tua. Dari perawakannya dia masih tampak bugar walaupun guratan-guratan ketuaan sudah jelas tampak di sana sini. Segera kusapa dia, "Sedang sarapan, Pak?" tanyaku.


"Ya, Dik. Buat isi perut. Adik yang kerja di kantor itu?" dengan logat sunda kulon kental dia balas bertanya sambil menunjuk ke arah kantorku.

"Ya, Pak. Bapak sudah lama kerja di sini?" aku mulai mencari tahu.

"Yah, begitulah. Bapak sudah puluhan tahun di sini. Maklum, pendidikan minim, daripada menganggur. Saya harus menghidupi keluarga," jawab si Bapak dengan raut sedikit muram.

Sambil membungkus sisa nasi yang tadi dimakan, lalu diselipkan di sela dinding ruangan tempat dia istirahat. Di tempat itu banyak juga pekerja lain yang istirahat di sini.

"Nasinya buat nanti siang lagi, lumayan buat ngirit," jelas si Bapak tanpa menunggu aku bertanya.

"Saya mengerti, Pak. Semoga Allah memberikan barakah atas setiap rezeki yang Bapak peroleh," aku menjawab dengan senyum getir dan juga sayatan pilu kembali di hati ini. Sungguh aku terhenyak melihat enyataan di hadapanku ini.

Si Bapak juga menjelaskan bahwa ia dibayar perkarung yang dia angkat sebesar seratus rupiah. Ya Allah, berapa karung yang harus ia angkat supaya bisa mencukupi kebutuhan keluarganya di kampung sana. Aku langsung terdiam dan merasa malu pada diri ini yang kadang tidak puas akan rezeki yang Allah berikan. "Alhamdulilllah, kalo bisa bawa pulang dua ratus ribu buat keluarga di rumah," lanjutnya.

"Makasih, Pak. Nanti kita sambung lagi," sambil tersenyum aku pamit, karena jam kerja sudah dimulai pagi ini.

Dengan langkah gontai aku kembali ke kantor dan meneruskan pekerjaanku sebagai teknisi. Terekam jelas perdebatan beberapa kawan kerjaku beberapa hari yang lalu yang ingin segera menuntut naik gaji. Pembicaraan yang alot yang kulihat rona wajah penuh ambisi tak berujung
di wajah mereka. Sungguh, aku sudah tak bersemangat lagi mengikuti pembicaraan kawan-kawan mengenai hal itu setelah mengobrol dengan si Bapak Tua.

Pesan bapak mertua di rumah juga masih kuingat baik-baik, "Nak, bekerjalah bersungguh-sungguh, jika kau tidak suka atau kurang puas, silahkan keluar. Itu lebih jantan daripada kamu membuat hal yang tidak baik di tempat kerja. Banyak bersyukur karena tidak banyak orang yang bisa bekerja saat ini." Sangat kontras apa yang Allah perlihatkan kepadaku kali ini. Semoga setiap diri ini bisa bersyukur dan istiqomah dalam syukurnya kepada Dzat Yang Maha Pemberi.

"Dan (ingatlah juga), tatkala Allah mengatakan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim: 7)

Kiriman dari Evi Monika