Myspace Backgrounds

Friday, October 19, 2007

SOICHIRO HONDA: Lihat Kegagalan Saya...



Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki "raja jalanan".


Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri "kerajaan" Honda - Soichiro Honda - diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang.
Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. "Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda," tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever.


Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia terus bermimpi dan bermimpi...
Kecintaannya kepada mesin, mungkin 'warisan' dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya.

Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang.
Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.


Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.

Setelah menciptakan jeruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.

Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah - pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.

"Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya," ujar Honda, yang gandrung balap mobil.
Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.
Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.


Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.
Akhirnya, tahun 1947,setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, "sepeda motor" - cikal bakal lahirnya mobil Honda - itu diminati oleh para tetangga.

Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi "raja" jalanan dunia, termasuk Indonesia.

Soichiro Honda mengatakan, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. "Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", tuturnya.

Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru dan berusahalah untuk merubah mimpi itu menjadi kenyataan.
Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin. Jadi buat apa kita putus asa bersusah hati merenungi nasib dan kegagalan. Tetaplah tegar dan teruslah berusaha, lihatlah Honda sang “Raja” jalanan.

5 Resep keberhasilan Honda:

Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi.
Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda senyaman mungkin.
Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama.


Thursday, October 18, 2007

Kisah Dua Pedagang Permen


Kisah ini pernah cukup populer tetapi saya sendiri tidak ingat lagi di mana untuk pertama kalinya kisah itu saya baca.
Konon, di
suatu jalan di depan sekolahan terdapat dua toko permen.
Keduanya menjual jenis-jenis permen yang persis sama. Tetapi toko yang satu selalu pernuh dengan anak-anak yang berebutan membeli permen. Toko lainnya hampir tidak ada pembelinya.
Para calon salesmen atau SPG disuruh mengamati
mengalami sampai terjadi gejala aneh seperti itu.
Sebagai hasil pengamatan ternyata pemilik toko yang ramai itu sangat pintar aritmatika dalam hal tambah menambah. Sedangkan pemilik toko yang lainnya juga sangat pintar aritmatika tetapi dalam hal kurang mengurang. Pemilik toko permen yang ramai itu selalu mulai menimbang dalam dengan jumputan kecil. Kemudian ia terus menambahkan permennya sehingga dacingnya seimbang. Setelah seimbangpun ia masih menambahkan pula satu dua permen sehingga dacingnya berat ke sebelah permen daripada ke sebelah batu timbangan.
Sebaliknya pemilik toko yang lain selalu mulai dengan sejumputan besar permen. Kemudian ia mengurangi permen itu sedikit demi sedikit sampai akhirnya dacingnya seimbang. Selain daripada itu penjual permen yang murah hati itu juga murah senyum, senang bercanda, sehingga langsung disukai anak-anak. Lawannya seorang yang kikir senyum, bermata curiga dan bermulut kerang.
Ternyata pemilik toko yang satu memahami benar psikologi
anak kecil. Anak-anak itu gembira setiap kali menyaksikan permennya ditambah dan ditambah. Bahkan sudah setimbangpun masih diberi kelebihan pula. Sedangkan lawannya kurang memahami psikologi anak kecil.
Mereka
melihat permen pada awalnya begitu banyak. Tetapi setiap kali dikurangi hati mereka menjadi ciut dan semakin ciut. Walaupun akhirnya dacinnya setimbang tetapi kesan setiap kali permennya dikurangi itu terus membekas di hati anak-anak. Sama sekali tidak ada kegembiraan berbelanja di sana.
Sebaliknya di toko yang lain itu selain sudah seimbang masih diberi tambahan bonus lagi beberapa butir permen.
Bagi saya filosofi pedagang permen yang laris itu bukan sekedar masalah memahami psikologi anak saja. Ia mengajarkan kepada saya bahwa nilai kemurahan hati lebih baik dan sekaligus lebih menguntungkan dibandingkan dengan nilai keadilan yang normatif.
Kapanpun dan di manapun orang lebih menyukai dan menghargai kemurahan
hati dibandingkan dengan keadilan. Hal ini juga berlaku dalam manajemen. Perusahaan yang murah hati dalam ' social benefits ' ternyata lebih dicintai oleh para karyawannya. Mereka mengalami turn over karyawan yang lebih rendah dibandingkan perusahaan yang membayar pas menurut syarat-syarat UMR.
Bahkan seandainya upah nominal resmi mungkin lebih kecil sedikit dengan perusahaan perusahaan lainnya mereka memilih untuk tidak pindah kerja. Ada kelompok perusahaan besar yang memberikan tunjangan kendaraan kepada para karyawannya selepas mereka bekerja sekian (misalnya tiga) tahun. Entah itu berupa mobil, sepeda motor atau sekalipun hanya sekedar sebuah sepeda bagi para karyawannya (tukang sapu, janitor, OB dsb) tetapi ada suatu kepastian.

Kepastian ini yang sangat dihargai oleh para
karyawannya. Kemudian setelah mereka bekerja sekian (misalnya lima atau enam) tahun pasti diberikan tunjangan perumahan. Sekalipun itu merupakan kredit KPR atau RSS atau hanya dalam bentuk kaveling tanah 15 M2 sekalipun.

Yang menarik karyawan
adalah kepastian mendapat tunjangan fisik perumahan itu sendiri. Demikian pula tentunya dengan kepastian fisik lainnya seperti saham kosong, kepemimpinan pada anak perusahaan, dana pensiun, dana ziarah dsb.
Kisah sederhana dua pedagang permen itu juga memberikan inspirasi tentang perang gerilya dalam pemasaran produk. Dalam kasus seperti yang pernah saya alami di mana kami harus bersaing dengan produk impor juga demikian.
Kita mengalami "absolut disadvantages" atau bahasa
sederhananya situasi kalah total. Situasi mentimun lawan durian di pasar. Sama seperti gerilyawan melawan pasukan konvensional, jadi harus pintar-pintar mencari akal bulus dan harus menang cerdik.
Dalam hal ini analogi dengan pedagang permen tadi diibaratkan posisi kuat pesaing itu sebagai batu timbangan. Sedangkan kemampuan kreativitas sendiri sebagai jumputan permen. Kemenangan hanya ditentukan oleh butir permen terakhir yang membuat sisi permen lebih berat dibandingkan dengan sisi batu timbangan.

Karena perusahaan kecil tidak mampu memberikan
service ' serba wah ' (batu besar) kepada para pelanggan maka strateginya harus memperbanyak batu kerikil (atau permen) sehingga piring dacinnya /njomplang.
Dalam "corporate social responsibility" kemenangan ditentukan oleh service kecil terakhir yang diberikan kepada para pelanggan. Entah cuma berupa perbaikan atap sekolah SD di dekat pabrik, memperbaiki jembatan, mengaspal jalan, menambah lampu jalan, mensupply air bersih gratis kepada surau terdekat, dsb.
Intinya sebenarnya sederhana saja. Berikan kepada konsumen service berupa apa yang mereka dambakan dan bukannya apapun yang kita ingin berikan kepada mereka. Dalam pergaulan sosial juga demikian.
Madu yang kita tawarkan bila tidak diinginkan akan dianggap tidak berbeda dengan racun. Sebaliknya bila yang diinginkan hanya sekedar tempe bacem dan sayur asem, maka steak yang kita tawarkan dengan gratis juga akan kurang diapresiasi. God Bless,

Berhenti Mencoba


Suatu saat, seorang peneliti melakukan percobaan dengan ikan untuk mengetahui apakah hewan berdarah dingin tersebut bisa kehilangan kepercayaan.


Sebuah kotak yang tidak terlalu besar diisi air. Kemudian, ditengah kotak tersebut diberi pembatas sebuah kaca bening. Di salah satu sisi dimasukan ikan yang relatif besar dan sangat kelaparan. Sedangkan di sisi lainnya, dimasukan beberapa ekor ikan kecil yang cukup untuk dimakan oleh si ikan besar.


Melihat hadirnya ikan-ikan kecil yang biasa menjadi mangsanya itu, ikan besar langsung menjadi beringas. Dengan penuh semangat ia berenang ke arah ikan-ikan kecil berada. Apa yang terjadi? kita semua sudah dapat menduganya. Setiap kali Ikan besar berenang menghampiri mangsanya, setiap kali itu pula dia menabrak dinding kaca pembatas.

Rasa lapar yang amat sangat memaksanya untuk terus mencoba, sampai akhirnya dia menghentikan usahanya yang sia-sia tersebut. Dan... menyerahlah si Ikan besar.

Percobaan dilanjutkan, kali ini kaca pembatas yang ada di tengah-tengah kotak air tersebut diambil. Sekarang apa yang yang terjadi?

Ajaib! Dengan leluasa ikan-ikan kecil dapat berenang, bahkan sampai mendekati dan menyentuh sirip atau insang ikan besar yang tetap diam dan tak bergerak sedikitpun. Bisa saja sebenarnya si Ikan besar melahap Ikan-ikan kecil, tapi ia diam saja.

Ikan besar telah menyerah, pasrah dengan asumsi bahwa sekarang bukan saatnya untuk menyantap mangsa walaupun sebenarnya dia mempunyai kesempatan.


Kisah ini ada persamaannya dengan kita saat menjalankan pekerjaan sehari-hari. Banyak orang yang mempunyai kesempatan, namun selalu berpikir bahwa rintangannya terlalu banyak dan tidak mungkin dapat teratasi.

Di sisi lain dia juga tidak berbuat apapun untuk mengatasinya sehingga menghasilkan sikap peduli amat (I don't care), sama seperti Ikan besar dalam cerita di atas yang akhirnya akhirnya menyerah, pasrah.


Manusia pesimistis, seperti si ikan besar, sering membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Banyak hal sebenarnya yang dapat anda lakukan agar pekerjaan menjadi lebih menarik, menantang dan memuaskan. Anda juga dapat menganalisa metode-metode atau teknik-teknik apa yang cocok untuk meningkatkan hasil kerja anda. Sejuta cara dapat kita coba dan lakukan terus untuk mencapai target kita. Jauh lebih memuaskan daripada sekedar mengkritik tanpa sedikitpun melakukan tindakan positif.



Sumber : Anonymous

Saturday, October 13, 2007

Chung Ju-Hyung Part I



Apabila anda belum mengenal sosok ini rasanya cukup beralasan, tapi kalo saya sebut perusahaannya yang merupakan perusahaan otomotif terbesar di Korea tentu anda akan sedikit meraba-raba kira2 perusahaan otomotif tersebut apa?, apakah KIA, atau Hyundai ?, sebenarnya kalaupun anda menjawab KIA ataupun Hyundai sama-sama benar karena memang kedua perusahaan otomitif tersebut dimiliki oleh Chung Ju-Hyung, tapi bukan perusahaan tersebut yang coba saya ceritakan tapi perjalanan seorang Chung Ju-Hyung sebagai pendiri perusahaan tersebut.


Chung Ju-Hyung adalah anak pertama dari 8 bersaudara dari seorang petani miskin pada November 1915 di Asan-Ri, Songjun-Myung daerah pegunungan terletak di sebelah utara korea, walaupun orang tuanya masih keturunan Chung Mong-Ju penyebar ajaran Konfusius terkemuka menjelag akhir era kerajaan korea tapi keadaan ekonomi keluarganya cukup memperihatinkan.Ia pernah belajar selama tiga tahun di sekolah kampung tempat kakeknya menjadi kepala sekolah. Di sini ia harus menghapal ajaran konfusius yang ternyata sangat mempengaruhi hidupnya di kemudian hari dan menjadi falsafah perusahaannya.



Untuk menghidupi keluarganya, orang tua Ju-Hyung bekerja dengan tekun sejak pagi buta hingga larut malam, Ju-Hyung sebagai sulung seperti ayahnya di harapkan mengasuh ke 7 adiknya kelak. Sejak umur 10 th Ju-Hyung kecil harus bangun pukul 4 pagi dan dalam udara dingin haris berjalan 8 Km menuju ladang dan bekerja disana. Ayahnya bertekad menggemblengnya menjadi petani yang tangguh.
Ju-Hyung juga bersekolah hingga tamat SD th 1931, walaupun menurut pengakuannya ia hampir tidak belajar apa-apa di sekolah karena kesibukannya membantu keluarga. Saat bekerja di ladang ia sering bertanya-tanya dalam hati, “Apakah ia mau bertahan setiap hari membanting tulang dengan hasil yang tidak memadai seperti ini ?”, ia harus keluar dari pola kehidupan keluarganya saat ini, begitu tekad yang terpendam di hati Ju-hyung yang memasuki masa remaja ini.Karena tekadnya yang membara inilah ia pernah kabur 4 kali dari rumah untuk merubah nasib keluarganya, Ia terinspirasi oleh kisah bersambung yang di tulis pada hariang dong-a, satu-satunya koran yang bisa di temukan didesanya, karena terpengaruh oleh cerita ini ia bertekad ke Seol untuk belajar ilmu hukum dan menjadi pengacara terkenal, sejak itu ia sering melahap buku-buku tentang hukum yang kelak membantunya dalam meniti karir.


Melalui kegemaran membaca koran inilah impian imajinasi Ju-Hyung semakin liar tentang masa depannya.
Pertama dia kabur dari rumah setelah membaca informasi pada korang Dong-a bahwa pelabuhan sedang di bangun di Chugjhin yang letaknya ratusan kilometer dari tempat tinggalnya, pada satu kesempatan bersama temannya ia kabur dari rumah dan sempat bekerja menjadi kuli pembuat jalan kereta api, tapi baru 2 bulan ayahnya menemukannya dan membawanya pulang, tidak lama sesudah pulang Ju-hyung kabur lagi dari rumahnya tapi terkejar ayahnya di perjalanan.


Dan pada 10 April 1932, di koran ia melihat iklan sekolah akunting. Ia mencuri uang ayahnya 70 Won hasil penjualan sapi dan melarikan diri pada malam hari, sekali ini ia menumpang kereta ke Seoul. Sisa uang yang dibawanya Cuma cukup untuk membayar sekolah, makan, dan podokan.Disekolah akunting ini ia sangat giat belajar, usai belajar di sekolah ia mengurung diri diasarama membaca habis beberapabuku di antaranya riwayat Napoleon, biografi Abraham Lincoln, dan Sam Koh (tiga kerajaan). Tokoh-tokoh dalam buku ini mengilhaminya untuk mencapai kebesaran jiwa. Sialnya potongan iklan sekolah tersebut tercecer di rumah sehingga orang tuanya dapat menemukannya kembali, untuk meluluhkan hati Ju-Hyung yang tidak mau kembali ayahnya menceritakan bahwa keadaan keluarganya di ambang kemiskinan karena ulah Ju-Hyung yang selalu kabur sehingga menghabiskan biaya untuk mencarinya.


Puncak pelarian Ju-hyung terjadi ketika desanya mengalami bencana alam, ia pun pergi ke Seoul bersama temannya yang meskipun temannya berubah pikiran di jalan, Ia tetap pada pendiriannya. Impian untuk sukses menggerakkan jiwanya untuk tidak menyerah dan berani mengadu nasib di pelabuhan Inchon, disana ia menjadi pekerja serabutan, mulai menjadi kuli pelabuhan sampai membawa barang penumpang, karena setelah sekian lama tidak mengalami perubahan nasib ia pindah ke soul dan bekerja sebagai kuli dalam pembangunan Untiversitas Korea, dalam masa ini ia terus berusaha mencari pekerjaan tetap, pernah bekerja di pabrik gula kemudian keluar, hingga akhirnya menjadi pegawai toko pertanian, di toko ini lah dia mulai mendapatkan imbalan yang layak dan ditopang oleh etos kerjanya sehingga banyak memikat pelanggan, sampai kepada kepercayaan yang di berikan Bosnya untuk mengelola toko, dari hasil kerja keras inilah ia mampu membelikan tanah untuk keluarganya di Tongchon, sampai satu saat dia diminta pulang yang teryata orang tuanya menjodohkannya dengan perempuan di kampungnya.


Karena Impian yang begitu kuat untuk sukseslah ia kembali ke Seoul dan mengontrak rumah di lokasi strategis yang menghadap jalan, kemudian ia membuka toko pertanian dengan nama Firma Kyongil, namum baru 2 tahun merintis tokonya jepang meyerbu tiongkok dan untuk keperluan perang, jepang menyita semua hasil pertanian dan menutup tokonya dan iapun kembali ke kampung halamannya.


Sampai disini Ju-Hyung Tidak menyerah, ia kembali ke Seoul dengan membuka bengkel perbaikan kendaraan bermotor. Pada tahun 1940 ia mengambil alih manajemen bengkel “A-do Service”. Untuk keperluan ini ia menghabiskan 5000 won namun baru 5 hari membeli bengkel ini api melahap bengkelnya dan menghabiskan isinya. Tapi baginya api hanya bisa menghabiskan bengkelnya bukan impiannya, tanpa uang sepeserpun akhirnya ia berhtang pada pelanggan lamanya sebesar 3000 won dan kembali membuka bengkel tersebut dengan jumlah pegawai 50 orang, bengkel ini pun tidak berjalan mulus, polisi jepang sering mendatangi bengkelnya karena tidak berizin, namun karena kecerdiaknnya ia dapat bernegosiasi dan memindahkan bengkelnya ke tempat tersembunyi sehingga seolah2 polisi jepang tidak melihantnya.


Sejak saat itu bengkelnya berkembang pesat.Ketika persaingan bengkel semakin ketat Ju-hyung menerapkan strategi pelayanan cepat walaupun hal itu di barengi dengan kenaikan tarif namun pelanggannya malah bertambah karena pelayanan servis yang cepat tersebut. Pada tahun 1941 pukulan kembali datang, imperialis jepang memulai perang pasifik dan mewajibkan semua usaha di rampingkan agar cocok menghadapi perang dan banyak perusahaan korea harus merger dengan perusahaan jepang termasuk “A-do Service”.


Setelah bisnis ini runtuh, dengan uang tabungannya Ju-Hyung membeli 30 Truck dan memulai bisnis transportasi untuk mengangkut hasil pertambangan, namun partner usahanya selalu merongrongnya sehingga terpaksa menjual usahanya seharga 50.000 won, harga tersebut sebenarnya tidak sebanding dengan nilai usahanya pada saat itu.

Ju-hyung kembali ke Seoul dan bersama seorang temannya membeli tanah persis di tengan kota. Ju-Hyung memancangkan papan nama dengan nama Hyundai motor Industri Co dan Hyundai Auto repair works. Pada tahun 1946 pasukan amerika serikat ditempatkan di korea dengan armada kendaraan dalam jumlah besar dan karena hyundai berpengalaman dalam memperbaiki kendaraan, ia pun mendapat kepercayaan dari pelanggan ternasuk kendaraan perang AS.


Untuk membesarkan usahanya ia meminjam kebalai kota dan mendapatkan pinjaman 1 juta won, namun ia penasaran karena ada yang mendapatkan pinjaman 10 juta won, dan ia memperoleh jawaban bahwa perusahaan konstruksi jauh lebih menarik bagi para investor. Merasa tertantang diapun mendirikan Hyundai Civil engineering Co pada tahun 1947.Pada tahun 1950 Ju-Hyung menggabungkan Hyundai Civil Engineering dan Hyundai Motor company menjadi Hyundai Engineering & Construction Co. Ltd yang di kemudian hari menjadi cikal bakal Hyundai Enterprises Group.


Saat Ju-Hyung akan melakukan ekspansi pada bulan juni pecahlah perang korea sehingga Hyundaipun berantakan. Ia dan keluarganya mengungsi dan harus mulai lagi dari bawah. Pada september 1950 Amerika mendarat di Inchon dan seorang adik Ju-Hyung menjadi penterjemah. Pada saat itu amerika menggelar banyak proyek pembangunan dan membutuhkan perusahaan konstruksi yang dapat di percaya, tanpa pikir panjang adik Ju-Hyung merekomendasikan kakaknya kepada amerika sehingga Hyundai Construction mendapatkan proyek pembangunan dok perkapalan inchon yang menjadikan pengalaman dasar untuk memperoleh proyek internasional.Pada tahun 1953 gencatan senjata ditandatangani antara korea utara dan korea selatan. Menghindari masuknya penjajah baru korea bertekad membangun ekonomi berdasarkan kekuatan sendiri sehingga Hyundai mulai menerima tawaran dari dalam negri, namun saat itu inflasi menggila sehingga Ju-hyung mengalami kerugian yang hebat dalam proyek pembanguan Golyong di atas suangai Nakdong.


Menghadapi kerugian ini Ju-Hyung hanya berkata “ Ini bukan kerugian tapi cobaan baru.” Prinsipnya, saat itu yang penting ia berhasil mempertahankan reputasi bisnisnya walaupun untuk membayar hutangnya di butuhkan 20 tahun.
Pada tahun 1957 Hyundai kembali memperoleh kepercayaan untuk memperbaiki pelabuhan Inchon, untuk memenuhi kekurangan peralatan yang cukup besar ia menugaskan teknisinya untuk mencuri pandang ke markas AS dan membuat tiruannya, setelah itu banyak proyek di korea di tangani Hyundai sehingga menjadikan Hyundai satu dari 5 perusahaan konstruksi terkemuka korea.


Pada tahun 1962 pembangunan pabrik semen danyang dimulai dan Ju-Hyung setiap minggu malam selama 2 tahun pasti datang ke pabrik tersebut untuk melakukan supervisi, dan karena ketekunananya pabrik tersebut rampung 6 bulan lebih cepat dari rencana semulai januari 1970, pabrik tersebut berubah menjadi Hyundai Cement Co. Ltd. Karena kemajuan industri di korea dan devisa di batasi sehingga satu-satunya jalan adalah ikut berkompetisi di persaingan internasional, dan parah bagi Ju-Hyung kemenangan tender pertamanya di luar negri tepatnya pembangunan jalan di thailand berakhir dengan kegagalan dan kerugian besar.


Belajar dari kerugian besar saat menggarap perbaikan jembatan Golyong dan pembangunan jalan di thailand, Hyundai berhasil meraup untung dari proyek jalan lain di thailand, proyek markas militer, perumahan di Guam, dan masih banyak lagi, sehingga pada tahun 1968 Hyundai membangun jalan bebas hambatan sepanjang 428 Km dari Seoul ke Pusan, dua tahun sebelumnya tepatnya desember 1966 Hyundai motor Company didirikan, perusahaan dengan produksi 1 juta unit pertahun ini pernah menjadi perusahaan otomitif terbesar di korea namun krisis tahun 1997-1998 membuatnya merosot hebat tp di penhujung 1998 untuk pengembangan industrinya Hyundai membeli KIA Motor Corporation


Regards,
Djodi Ismanto
http://www.djodiismanto.blogspot.com/

William Soeryadjaya: Peletak Dasar Profesionalisme Bisnis


William Soeryadjaya adalah legenda dan ikon bisnis di Indonesia. PT Astra International (Astra Group) adalah warisannya yang terus bertumbuh dan merupakan rintisan beliau dari tahun 1960-an.
Orang yang pernah menempati posisi sebagai orang terkaya nomor dua di Indonesia ini adalah sosok yang disegani dan menjadi panutan para kolega maupun pesaingnya.

Makanya, artikel mengenai profil beliau yang ditulis di Majalah SWA Edisi terakhir ini begitu bernilai sehingga saya harus menyimpan inti sarinya di blog ini agar tidak tercecer.
Ia adalah figur yang besar dan berani. Pemikirannya sangat luas. Misinya ingin menumbuhkan ekonomi bangsa dengan mengurangi jumlah pengangguran.


Menurut Teddy P. Rachmat, keponakannnya, William adalah seorang yang punya idealisme, generous, positive thinking, memberi kepercayaan penuh kepada anak buah, berani mengambil orang-orang pintar, courageous dan memiliki visi ke depan yang kuat.
Ia berani menanggung seluruh kerugian Bank Summa dengan menjual Astra. Padahal yang mengelola Bank Summa adalah anaknya, bukan dia.


Soal pendelegasian, ia memberikan secara penuh kepada anak buahnya. Ia benar-benar lepas tangan. Ia hanya menanyakan hasil, tak pernah ikut soal operasional.
Ia hanya bilang supaya perusahaan terus grow, grow, grow.
Ia selalu mencari orang yang terbaik.
Ia termasuk orang yang progresif. Baginya, tumbuh tidak ada batasan. Ia suka sekali mem-push orang agar berusaha semaksimal mungkin.
Ia memperlakukan karyawan dari atasan hingga level bawahan dengan sangat manusiawi. Tak heran, banyak karyawannya yang loyal.


Karakternya yang paling menonjol adalah pandai bergaul dengan siapa saja. Ia memperlakukan people as human.
William melakukan approach ke manusia lebih dari harta. Dari approach itulah timbul loyalitas.

Dalam pengembangan perusahaan, William sengaja merekrut tenaga profesional muda yang pintar. Syarat pertamanya adalah karakter. Setelah itu mereka dididik dengan pendidikan yang berkesinambungan.
Para profesional itu diminta tidak hanya menguasai bahasa Inggris, tapi juga pintar membaca pasar dan pintar berdagang.


Ia tidak suka KKN, termasuk dalam mengajukan pinjaman bank. Setiap tahun kesejahteraan dan gaji karyawan selalu naik.
"Saya belajar problem solving dari dia", kata Teddy. "Dia mengajarkan supaya hasil tidak disimpan sendiri. Harus dibagi".

Kelemahan William, menurut Teddy adalah lemahnya kontrol dan tidak suka mengurusi sampai detail.
Sebenarnya nilai-nilai Astra merupakan cerminan dai tiga bersaudara pendirinya: William, Benjamin Soeyadjaya dan Tjia Kian Tie. William bertipe progresif. Benjamin yang konservatif berperan sebagai rem di perusahaan.

"William adalah sosok yang sangat menjaga trustibility (kepercayaan). "Apa yang telah ia sepakati dan janjikan, semua ia tuntaskan", kata dr. Rudy, dokter pribadinya.

"Tidak sombong, meski menjadi pengusaha sukses, beliau masih tetap ramah", kata Tutty Hayati Anwar, Bupati Majalengka, daerah asal William.

Di usianya yang menginjak 85 tahun, William tetap aktif membaca sedikitnya 7 koran setiap hari dan selalu menonton saluran TV CNBC.
"Kita harus bisa memberikan contoh yang sebaik-baiknya!", kata William dengan singkat sebagai pesannya kepada pebisnis lain di Indonesia.

Semoga bermanfaat dan bisa kita teladani.
Salam FUUUNtastic!
Wassalam


source : Ronny Y

Thursday, October 11, 2007

Membakar Dosa Korupsi



Kemajuan teknologi multimedia memberikan kemudahan
kepada kita untuk menyimpan data dalam bentuk cakram
padat (compact disc) dan juga mengganti simpanan
data itu dengan data baru yang kita inginkan. Data
lama itu pun lalu terbuang sama sekali dan
digantikan dengan data baru. Proses itu sangat biasa
dikenal dengan istilah burning (membakar).
Ramadan, dalam bahasa Arabnya, terambil dari kata
ramidla・ Kata ini memiliki makna leksikal
membakar・ yang dalam bahasa teknis multimedia
kontemporer disebut dengan istilah burning.


Sesuai dengan kandungan makna di atas,
Ramadan
menyediakan fasilitas kepada kita untuk membakar
buramnya data-data spiritual-keagamaan kita yang
selama ini telah terekam dalam jejak kehidupan kita.


Penyediaan fasilitas itu digambarkan oleh hadits

seperti ini. Bahwa Ramadan itu bagian awalnya
menyediakan fasilitas rahmat, tengahnya adalah
ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api
neraka. Dengan demikian, melalui fasilitas rahmat,
ampunan dan pembebasan, Ramadan menyediakan medium
yang seluas-luasnya kepada kita untuk membakar rekam
jejak spiritual-keagamaan yang masih buram.


Ramadan dan Korupsi
------------ --------- --
Dengan fasilitas pembakaran (burning) data model
Ramadan di atas, pertanyaannya kemudian, masihkah
ada yang tersisa dari data buram kita yang tidak
terbakar dan kemudian tidak merubah kita untuk
menjadi saleh di hadapan ilahi? Jawabannya, jelas
ada. Kesalahan dan dosa sosial tidak bisa dibakar
oleh fasilitas burning model Ramadan. Puasa Ramadan
tidak serta merta membuat buramnya rekam jejak
sosial kita terhapus atau terbakar dengan
sendirinya.

Kesalahan ataupun dosa yang terkait dengan aspek dan
hak-hak kemanusiaan (yang dalam bahasa teknis agama
disebut dengan huququl adami) tidak bisa
diselesaikan melalui mekanisme spiritual yang
berdimensi vertikal dengan Tuhan, seperti puasa
Ramadan. Rekam jejak sosial kita yang buruk tidak
terjangkau oleh mekanisme pembakaran seperti ini
kecuali diselesaikan pula dengan mekanisme sosial
yang sama.

Apa yang dinamakan kesalahan itu berdimensi
pelanggaran atas norma dan hak-hak kemanusiaan.
Contohnya adalah pelanggaran pidana dan perdata.
Bentuk konretnya di antaranya termasuk kriminal.
Sedangkan dosa merupakan akibat spiritual yang
ditimbulkan oleh pelanggaran atas norma dan hak-hak
kemanusiaan tersebut.


Salah satu contoh riil, yang kini banyak

memporakporandakan bangunan peradaban, kebangsaan,
dan kenegaraan Indonesia, adalah korupsi. Praktik
korupsi sangat erat berkaitan dengan pelanggaran
norma dan hak-hak kemanusiaan. Uang rakyat yang
sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk kepentingan
pengelolaan negara dan kebajikan publik diembat
untuk kepentingan pribadi maupun golongan. Sebagai
dampaknya, pengelolaan politik kebijakan publik
diselenggarakan melalui mekanisme transaksi
personal, bukan publik. Ujungnya, rakyat yang
dirugikan oleh praktik semacam ini.


Bangunan peradaban, kebangsaan dan kenegaraan

Indonesia pun goyah dan bahkan runtuh oleh
mengguritanya praktik korupsi. Gurita korupsi ini
membesar dan meluas karena modus operandinya sangat
licin dan berubah-ubah. Karena itu, perang melawan
korupsi, meskipun didengungkan di sana-sini, tidak
serta merta dapat menghentikan praktik culas itu.


Perang melawan korupsi dimunculkan, namun strategi

untuk melakukan korupsi model baru diciptakan oleh
oknum pejabat publik. Hasilnya, perang melawannya
bergerak seiring dengan munculnya praktik korupsi
model baru. Inilah yang dalam perspektif hukum
positif kemudian menjadikan praktik korupsi sebagai
kejahatan luar biasa (extraordinary crime).

Rekam jejak korupsi tidak bisa dihapus dan dibakar
oleh mekanisme spiritual seperti puasa Ramadan.
Mengapa begitu? Karena, korupsi tidak saja melanggar
ketentuan dan hak-hak ilahi (huquq Allah) menyangkut
prinsip kejujuran dan integritas pribadi. Namun,
juga menerabas ketentuan publik dan hak-hak
kemanusiaan (huququl adami). Karena itu, praktik
culas korupsi tidak saja berdimensi dosa tapi juga
kejahatan.

Dalam kaitan ini, sungguh naif kalau upaya dan
teriakan untuk menegakkan aturan atas jabatan publik
dianggap sebagai mengumbar dosa seseorang ke publik.
Penolakan Ketua MA, Bagir Manan, untuk
menginformasikan sanksi atas hakim-hakim nakal
dengan alasan dosa ngomongin kesalahan orang
(seperti yang dilansir sebuah media cetak nasional
26/08/2007) adalah sebuah kepandiran spiritual dan
sekaligus politik.


Dalam urusan penyelenggaraan jabatan publik,

kesalahan dan penyalahgunaan kewenangan bukan
menjadi wilayah pribadi. Tapi, sudah menjadi wilayah
publik. Dan, karena itu, salah besar penyalahgunaan
kewenangan jabatan publik disamakan dengan privasi
yang tidak boleh diketahui publik. Pun, sungguh
sebuah kepandiran yang telanjang bulat jika teriakan
atas penegakan aturan dan sanksi hukum atas praktik
penyalahgunaan kewenangan (baca: korupsi) dinilai
dosa karena dianggap membicarakan kesalahan orang.

Paradoks Keberagamaan
------------ --------- -----
Ramadan tiap tahun kita alami, tetapi tidak
memberikan efek yang kuat bagi penciptaan kehidupan
publik kita. Buktinya, kecenderungan praktik
keagamaan dan praktik publik kita masyarakat
Indonesia memunculkan paradoks yang besar. Tiap kali
datang Ramadan, tiap kali pula diikuti dengan
peningkatan amal spiritual. Bahkan, ekspresi
spiritualitas itu tampak lebih tinggi dibanding pada
bulan-bulan yang lain. Tapi toh ironis sekali,
praktik penyelenggaraan jabatan publik kita masih
berputar-putar pada kepentingan yang koruptif.
Identitas simbolik keislaman kita juga makin menguat
dalam manifestasi Islam publik. Lihat saja,
menguatnya kecenderungan orang untuk mengenakan
jilbab bisa kita temui hampir di setiap sudut
kehidupan. Konsumsi orang terhadap produk-produk
yang menjual simbol-simbol Islam semakin laku di
pasaran.


Sementara itu, praktik korupsi masih saja menempati

rangking pertama dalam skala kejahatan besar dalam
penyelenggaraan jabatan publik kita.
Jangan pernah beranggapan bahwa kita akan terlepas
dari kesalahan dan dosa jika uang yang kita peroleh
dari hasil culas, semisal korupsi, kita gunakan
untuk beribadah. Sesuai dengan esensi Ramadan
seperti dijelaskan di atas, berpuasa dengan uang
hasil korupsi tidak bisa menghapus rekam jejak
sosial kita yang negatif. Pun, sebagai contoh lain,
berhaji dengan uang hasil korupsi tidak akan merubah
apa-apa atas rekam jejak sosial kita yang buram.


Ramadan
tidak diciptakan untuk memiliki kapasitas
membakar rekam jejak sosial kita yang buruk. Ramadan
hanya menyediakan fasilitas untuk membakar rekam
jejak spiritual kita dalam kaitannya dengan Tuhan.
Sesuai dengan penjelasan profetik tentang
penghapusan kesalahan dan dosa yang terkait dengan
haqqul adami, mekanisme yang harus dilakukan untuk
menghapus buramnya rekam jejak sosial korupsi itu
adalah melalui pertobatan sosial, yang bentuknya
sudah barang tentu mengikuti ketentuan publik yang
diselenggarakan oleh negara.


Sungguh menawan untuk direnungkan pernyataan Anwar

Ibrahim, tokoh Muslim Malaysia (Tempo, 27 Agustus -
02 September 2007): Bagaimana kita menyebut Islam
jika korupsi merajalela.Semangat Islam telah
dikotori oleh praktik culas korupsi oleh pemeluknya.
Dan, Ramadan tidak memiliki kapasitas untuk bisa
membakar rekam jejak korupsi.


Oleh: Akh. Muzakki
Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya,
Kandidat PhD di University of Queensland, Australia

Pohon Tua


Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya.

Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu.


Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang.Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. "Pohon yang sangat berguna," begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi.



Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya. Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?" begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan. "Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini?" Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.



Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga pada saat pagi menjelang.


"Cittt...cericirit...cittt" Ah suara apa itu? Ternyata, ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.

"Cittt...cericirit...cittt," suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu... dua... tiga... dan empat anak burung lahir ke dunia. "Ah, doaku di jawab-Nya," begitu seru sang pohon.Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka,akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana.


Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. "Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini", gumam sang pohon dengan berbinar.Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.



Dear , teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Allah memang selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita. Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah ditebak, namun, yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati. Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.




Sumber : Anonymous
www.beranigagal.com

Wednesday, October 10, 2007

Menjadi Diri Sendiri


Alkisah, di puncak sebuah mercusuar, tampak lampu mercusuar yang gagah dengan sinarnya menerangi kegelapan malam. Lampu itu menjadi tumpuan perahu para nelayan mencari arah dan petunjuk menuju pulang.


Dari kejauhan, pada sebuah jendela kecil di rumah penjaga mercusuar, sebuah lampu minyak setiap malam melihat dengan perasaan iri ke arah mercusuar. Dia mengeluhkan kondisinya, “Aku hanyalah sebuah lampu minyak yang berada di dalam rumah yang kecil, gelap dan pengap. Sungguh menyedihkan, memalukan, dan tidak terhormat. Sedangkan lampu mercusuar di atas sana, tampak begitu hebat, terang dan perkasa. Ah….Seandainya aku berada di dekat mercusuar itu, pasti hidupku akan lebih berarti, karena akan banyak orang yang melihat kepadaku dan aku pun bisa membantu kapal para nelayan menemukan arah untuk membawanya pulang ke rumah mereka dan keluarganya.”



Suatu ketika, di suatu malam yang pekat, petugas mercusuar membawa lampu minyak untuk menerangi jalan menuju mercusuar. Setibanya di sana, penjaga itu meletakkan lampu minyak di dekat mercusuar dan meninggalkannya di samping lampu mercusuar. Si lampu minyak senang sekali. Impiannya menjadi kenyataan. Akhirnya ia bisa bersanding dengan mercusuar yang gagah. Tetapi, kegembiraannya hanya sesaat. Karena perbandingan cahaya yang tidak seimbang, maka tidak seorang pun yang melihat atau memperhatikan lampu minyak. Bahkan, dari kejauhan si lampu minyak hampir tidak tampak sama sekali karena begitu lemah dan kecil.



Saat itulah , lampu itu menyadari satu hal. Ia tahu bahwa untuk menjadikan dirinya berarti, dia harus berada di tempat yang tepat, yakni di dalam sebuah kamar. Entah seberapa kotor, kecil dan pengapnya kamar itu, tetapi di sanalah lebih bermanfaab. Sebab, meski nyalanya tak sebesar mercusuar, lampu kecil itu juga bisa memancarkan sinarnya menerangi kegelapan untuk orang lain. Lampu kini tahu, sifat iri hati karena selalu membandingkan diri dengan yang lain, justru membuat dirinya tidak bahagia dan memiliki arti.



Dear friends,
Hidup kita tentu akan menderita jika merasa diri sendiri selalu lebih rendah dan kecil. Maka, tidak akan tenang hidup jika kita selalu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain dan menganggap orang lain lebih hebat. Apalagi, jika kita kemudian secara membuta mencoba menjadi orang lain.
Meniru orang memang sah dan boleh saja. Namun, belajarlah dari orang lain dari sisi yang baik saja, tentu dengan tanpa mengecilkan dan meremehkan diri sendiri.
Karena itu, apapun keadaan diri, kita harus senantiasa belajar bersyukur dan tetap bangga menjadi diri sendiri. Selain itu, kita juga butuh melatih dan memelihara keyakinan serta kepercayaaan diri. Dengan menyadari kekuatan dan kelebihan yang kita miliki, dan mau berjuang selangkah demi selangkah menuju sasaran hidup yang telah kita tentukan, ditambah bekal kekayaan mental yang kita miliki, pastilah kemajuan dan kesuksesan yang lebih baik akan kita peroleh.


Jadilah diri sendiri! Be your self!

Salam sukses luar biasa!!!
source : Andrie Wongso

PUASA, LEBARAN DAN KEMENANGAN



Tidak terasa bulan puasa yang satu bulan penuh telah kita liwati. Hari Raya Idul Fitri tinggal hitung mundur beberapa saat lagi kita rayakan dan nikmati bersama, dengan anggota keluarga, handai taulan, sanak famili, para sahabat dan orang-orang tercinta.


Kalau kita mau berfikir, bukankah bulan puasa serta Hari Raya semacam ini entah sudah berapa kali kita mengalaminya? Bukankah tiap tahun hari-hari yang sakral itu datang lagi dan lagi, sejak kita masih kecil, tumbuh remaja, dewasa dan beranjak tua?



Lalu apa sebenarnya maksud yang terkandung dalam peristiwa itu, adakah hikmah di dalamnya? Dan sudahkah kita bisa mengambil manfaatnya?


Siapa pun kita, pegawai negeri, profesional atau pun wirausahawan, sudah pasti bisa mengambil banyak hikmah dari prosesi bulan puasa sampai kepada Hari Raya yang kita sebut dengan Hari Kemenangan itu. Apa sajakah?


KESADARAN AKAN “JER BASUKI MOWO BEO”


Kenikmatan berhari raya, hanya dapat dirasakan secara maksimal oleh mereka yang benar-benar menunaikan ibadah puasa secara penuh. Artinya, cuma oleh mereka yang menahan lapar, haus serta hawa nafsu selama satu bulan penuh, dengan sepenuh-penuh kesadaran akan makna ibadah yang dijalankannya.


Mereka akan menginsyafi, bahwa kenikmatan tersebut baru mampu diperoleh, setelah melalui perjuangan berat, dalam bentuk kosongnya perut, keringnya tenggorokan, lemas dan tak berdayanya tubuh yang sebelumnya begitu perkasa, ditambah dengan kelelahan mental melawan gejolak emosi.


Makna yang terkandung dari proses ini memberikan kita pencerahan tentang hal bahwa setiap keberhasilan, setiap kesuksesan dan setiap kemenangan yang memilik nilai, hanyalah yang diperoleh melalui perjuangan. Semakin berat dan keras perjuangan yang dilalui, semakin manis pula madu kemenangan yang bisa direguk.


Dengan demikian, benarlah apa yang dikatakan oleh pepatah Jawa: “Jer basuki mowo beo”, setiap keberhasilan memerlukan biaya. Ini juga yang mengingatkan kita semua kepada peribahasa yang sejak kecil kita telah diajarkan: “Bersakit-sakit lebih dahulu, bersenang-senang kemudian..”



V I S I


Salah satu tujuan dari berpuasa di bulan Ramadhan adalah untuk memberikan kesempatan pada kita, guna melakukan instrospeksi alias mawas diri, atas apa-apa yang telah kita lakukan selama ini. Adakah semua sepak terjang kita telah sesuai dengan yang seharusnya, dan apakah perjalanan yang telah kita lalui masih tetap berada pada jalur yang benar.


Tak dapat dipungkiri bahwa selama bulan puasa, terutama pada minggu-minggu terakhir, kegiatan bisnis serta pemerintahan, mengalami penurunan. Bukannya tanpa maksud, karena biasanya para pimpinan perusahaan dan organisasi memanfaatkan situasi itu untuk mengadakan konsolidasi ke dalam. Mereka sedikit mengurangi kegiatan ke luar, sebaliknya, pengamatan ke dalam, evaluasi serta penataan kembali ditingkatkan.


Hal seperti itu memang sejalan dengan tujuan ibadah puasa, di mana kita mendapatkan kesempatan untuk melakukan konsolidasi untuk menata kembali perjalanan hidup kita ke depan, agar lebih baik dan mantap melanjutkan perjuangan sehabis Hari Raya.



LEAN AND MEAN


Pada umumnya, meski ada beberapa kekecualian, seorang pelaku puasa akan mengalami penurunan badan yang cukup drastis. Saya sendiri termasuk orang yang “sensitif”, sehingga setiap habis berpuasa sebulan lamanya, paling sedikit saya akan kehilangan 4 kilogram berat badan. Tubuh dan wajah saya akan terlihat kurus.

Namun demikian, di balik ramping itu, saya merasakan sesuatu yang mengenakkan. Tubuh saya terasa ringan, gerakan saya lebih bebas dan gesit, serta merasa suasana tubuh bagaikan kembali ke masa kuliah dulu (waktu kuliah bobot saya 70 kg).


Ada istilah dalam bisnis, yang disebut “Lean And Mean”. Istilah ini artinya “kurus tanpa lemak, tapi sehat dan gesit”. Sebuah badan usaha, secara berkala perlu diterapi untuk selalu “lean and mean”. Artinya, perusahaan seyogyanya selalu diawasi dan dikendalikan untuk tidak terlalu “gemuk dan tambun”, sehingga bebannya berat, dan manuvernya melamban.



Perusahaan yang “gemuk dan tambun” akan selalu kalah dalam persaingan, sehingga perlu memangkas semua unsur yang berlebihan, seperti kelebihan SDM yang tidak efektif, biaya-biaya ekstra yang tidak terlalu diperlukan, birokrasi yang terlalu panjang dan lain sebagainya.



KEPEDULIAN SOSIAL


Sebuah perusahaan yang didukung oleh masyarakat, pasti akan memperoleh kemajuan yang signifikan. Oleh sebab itu, perlu sekali diperhatikan kegiatan-kegiatan yang menunjukkan kepedulian sosial.

Dalam menyelesaikan ibadah puasa, sebelum fajar menyingsing di Hari Raya, seluruh umat diminta untuk menunaikan kewajiban membayar zakat fitrah dan juga zakat maal (zakat kekayaan). Besarnya zakat maal ini bagi umat Islam adalah 2,5 persen dari nilai kekayaannya.

Artinya, kalau kita memiliki harta sebesar Rp. 100 juta, maka kita wajib menyisihkan Rp. 2,5 juta untuk diberikan kepada fakir miskin. Saya tidak tahu apakah ada di antara kita yang masih merasakan jumlah 2,5 persen ini terlalu berat atau terlalu besar?

Tapi tahukah Anda, bahwa di antara teman-teman kita umat Nasrani, zakat maal itu adalah sebesar 10 persen? Jika mereka mempunyai uang Rp. 100 juta, maka yang akan dialokasikan untuk charity adalah Rp. 10 juta!?


Saya menghimbau, bagaimana kalau kita semua mencoba belajar menyisihkan 10 persen untuk dizakatkan, dan lihatlah bagaimana alam semesta akan memberikan tanggapannya terhadap kasih sayang pada sesama yang Anda tunjukkan itu.


Bahkan ada suatu pemikiran lain yang akan saya ajukan, yaitu sebuah konsep tanggung jawab sosial yang mungkin akan Anda anggap terlalu revolusioner, atau akan Anda beri label “gila”, jika Anda belum mendengar penjelasannya secara tuntas. Apakah itu?

Bagaimana kalau kita mulai saat ini berikrar untuk menyisihkan zakat maal kita itu 100 persen?

Eit, please.. jangan buru-buru mencap saya mengada-ada atau sinting. Dan jangan cepat-cepat berfikir bahwa Anda akan diajak untuk bekerja bhakti sepanjang hidup. Dengarkan dulu ya?


Saya juga tidak setuju kalau Anda dan saya meraup 100 persen dari seluruh pendapatan untuk dibagikan begitu saja kepada fakir miskin. Kenapa? Karena itu tidak mendidik. Kita bukan memberi pancing, tapi sekadar memberi ikan. Itu sebuah bentuk pemanjaan, dan hampir semua bentuk pemanjaan, umumnya tidak mendidik.


Yang saya maksud dengan zakat maal 100 persen adalah, sebuah paradigma bahwa kita menjalankan usaha dengan niat dan anggapan bahwa seluruh aset, seluruh sumber daya dan seluruh keuntungan yang diperoleh dari usaha kita adalah untuk didedikasikan kepada masyarakat banyak.

Bagaimana implementasinya?

Hitunglah semua biaya yang diperlukan, seperti biaya operasional, biaya overhead, biaya gaji karyawan dan biaya-biaya lainnya seperti biasanya. Lalu tentukan besar gaji Anda sendiri, menurut yang Anda anggap pantas dan lebih dari cukup untuk membiayai hidup Anda, keluarga dan seluruh tanggungan Anda. Tentukan juga Retained Earning (RE), besaran laba yang perlu ditahan guna mengembangkan usaha selanjutnya.

Nah setelah itu, Anda harus konsekwen. Jangan mengambil lebih banyak dari jatah Anda, mulai saat itu semua keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan, adalah hak milik masyarakat banyak. Perusahaan harus mendirikan sedikitnya sebuah yayasan, atau bekerja sama dengan yayasan-yayasan di luar perusahaan, untuk mengelola 100 persen net profit Anda itu untuk kepentingan sosial.
Dengan demikian, dapatlah kita meyakinkan diri bahwa manfaat kehidupan kita, berikut semua badan usaha yang kita dirikan adalah benar-benar mencapai manfaat yang maksimal. Pikirkanlah dan putuskan. Anda berani?


SPIRITUAL ECO SYSTEM

Dunia ini bergerak berdasarkan siklus-siklus. Segala sesuatu bergerak menurut aturan baku yang bersifat alamiah. Ada yang masuk, ada yang keluar. Ada yang menaik, ada yang menurun. Semua membentuk sebuah lingkaran yang berulang, yang kita sebut siklus. Siklus itu adalah apa yang kita sebut dengan ekosistem.

Secara fisik, ekosistem dapat terlihat dari fenomena alam bagaimana air menguap karena sinar matahari, naik ke atas, mengkondensasi membentuk awan, menjadi berat lalu jatuh ke bumi dalam bentuk hujan dan kembali menjadi air. Lalu siklus pun berulang.

Kita lihat juga bagaiman petani menebar bibit, bertumbuh, menjadi ranum dan matang, untuk kemudian dituai dan dipanen. Lalu siklus pun berulang.

Kita pun tidak terbebas dari lingkaran yang serupa. Kita makan dan minum sebagai masukan, tapi kita pun harus mengeluarkan dan membuang sesuatu agar kesehatan terjaga.

Secara spiritual, sistem melingkar juga berlaku, kita sebut sebagai “Spiritual Eco System”. Bila kita menarik sesuatu, kita perlu juga mengeluarkan sesuatu. Kalau kita ingin memperoleh rejeki dalam jumlah besar, maka kita pun harus berderma dalam jumlah yang juga besar.

Barang siapa bekerja keras, alam akan mencatatnya, dan pada waktunya alam pun akan memberikan ganjaran berkah lengkap dengan bonus yang terkadang tidak tersangka-sangka besarnya.

Kunci dari semua itu adalah keyakinan. Keyakinan adalah iman, dan itulah pula sebenarnya yang terkandung dalam peribadatan kita dalam prosesi berpuasa sampai dengan Hari Raya.

Selamat Idul Fitri 1428H, mohon maaf lahir bathin.





Source :Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahan

Selamat Hari Raya Idul Fitri


Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1428 H
Minal Aidin Wal Faizin
Mohon Maaf Lahir Batin

Tuesday, October 9, 2007

Nomor Penting ! 24434


Bayangkan bila pada saat kita berdoa kita mendengar ini:

"Terima kasih, Anda telah menghubungi Rumah Allah ". Pilihlah salah satu:

* Tekan 1 untuk 'meminta'.
* Tekan 2 untuk 'mengucap syukur'.
* Tekan 3 untuk 'mengeluh'.
* Tekan 4 untuk 'permintaan lainnya'."

Atau, bagaimana jika Malaikat memohon maaf seperti ini:

"Saat ini semua malaikat sedang membantu pelanggan lain. Tetaplah menunggu. Panggilan Anda akan dijawab berdasarkan urutannya."

Bisakah Anda bayangkan bila pada saat berdoa, Anda mendapat respons seperti ini:

"Jika Anda mau bicara dengan Malaikat Jibril, tekan 1.
Dengan Malaikat Mikail, tekan 2.
Dengan malaikat lainnya, tekan 3.
Jika Anda ingin mendengar sari tilawah saat Anda menunggu, tekan 4.
"Untuk jawaban pertanyaan tentang hakekat surga & neraka, silahkan tunggu sampai Anda tiba disini!!"

Atau bisa juga Anda mendengar ini :

"Komputer kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelpon hari ini, Silakan mencoba kembali esok hari."

"Kantor ini ditutup pada akhir minggu. Silakan menelpon kembali hari Senin setelah pukul 9
pagi."


Alhamdulillah, Allah SWT mengasihi kita, Anda dapat menelponNya setiap saat!!!
Anda hanya perlu untuk memanggilnya kapan saja dan Dia mendengar Anda.
Karena bila memanggil Allah, Anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk.
Allah menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi.

Ketika Anda memanggil, gunakan nomor utama ini: 24434

2 : shalat Subuh

4 : shalat Dzuhur

4 : shalat Ashar

3 : shalat Maghrib

4 : shalat Isya

Atau untuk lebih lengkapnya dan lebih banyak kemashlahatannya, gunakanlah nomor ini :
28443483

2 : shalat Subuh

8 : Shalat Dhuha

4 : shalat Dzuhur

4 : shalat Ashar

3 : shalat Maghrib

4 : shalat Isya

8 : Shalat Lail ( Tahajjud )

3 : Shalat Witir

Info selengkapnya ada di Buku Telepon berjudul "Al Qur'anul Karim & Hadits Rasul"
Langsung kontak, tanpa Operator tanpa Perantara, dan tanpa biaya.

Nomor 24434 dan 28443483 ini memiliki jumlah saluran hunting yang tak terbatas dan seluruhnya buka 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari setahun !! Berapa milyarpun manusia di bumi termasuk kita yang pada saat bersamaan membutuhkan menghubungi-Nya!! ;)

Sebarkan informasi ini kepada orang-orang di sekeliling kita.Mana tahu mungkin mereka sedang membutuhkannya.

7 Kalimah ALLAH

Sabda Rasulullah S.A.W : "Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang mulia
di sisi Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau sebanyak buih lautan"

1. Mengucap Bismillah pada tiap-tiap hendakmelakukan sesuatu.

2. Mengucap Alhamdulillah pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.

3. Mengucap Astaghfirullah jika lidah terselip perkataan yang tidak patut.

4. Mengucap Insya-Allah jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.

5. Mengucap "La haula wala quwwata illa billah" jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diingini.

6. Mengucap "inna lillahi wa inna ilaihi raji'uun" jika menghadapi dan menerima musibah.

7. Mengucap "Laa ilaaha illa Allah Muhammad Rasulullah" sepanjang siang dan malam sehingga tak terpisah dari lidahnya

Dari tafsir Hanafi, mudah-mudahan ingat, walau lambat-lambat mudah-mudahan selalu, walau sambil lalu mudah-mudahan jadi boleh, karena sudah biasa.



Kiriman dari Lina R.

BAGAIMANA HARUS BISA ? !


Suatu hari, di suatu kafe di kota kecil di Austria, seorang wartawan bernama Jim Collins, mewancarai seorang juara binaraga dunia (Mr. Universe). Wawancara tersebut bukanlah hal yang istimewa bagi seorang juara dunia binaraga, tapi impiannya untuk menjadi "bintang filmbox office", yang membuat Jim tergelitik untuk bertanya. Kenapa? Bukanlah hal yang mudah untuk menjadi bintang film Hollywood apalagi untuk orang luar Amerika.


Kemudian diapun bertanya,"Bagaimana caranya kamu masuk ke Hollywood dan menjadi bintang film box office?"


Mr. Universe menjawab, sambil menunjukkan otot bisepnya,"Dengan cara yang serupa, bagaimana aku melatih otot - ototku!" tegasnya. Apa yang dia impikan menjadi kenyataan. Di tahun 1970 dia memerankan filmnya yang pertama,"Hercules in New York" dan 14 tahun kemudian, melalui filmnya "Terminator", dia berhasil merebut box office. Siapakah orang itu? Arnold Swazeneger, Gubernur California ke-38.


Otak kita bekerja seperti layaknya otot. Jika otot dilatih dengan beban, begitu juga otak dilatih dengan "Beban Pikiran" atau masalah. Agar otot kita membesar, kita harus melatihnya tiap hari dan makan makanan yang bergizi serta menyantap suplemen.


Harusnya saat kita mendapat masalah, kita bersyukur karena bisa latihan. Tentu saja tidak boleh over dosis. Nah, disaat masalah tidak ada, kita juga bisa melatihnya dengan menciptakan masalah,atau lebih tepatnya menerima "tantangan". Setelah tantangan diterima, yang harus kita lakukan adalah makan makanan yang bergizi, untuk mengolah tantangan tersebut. Makanan bergizinya adalah training, seminar, buku. Untuk menjaga agar semangat berlatih tetap konsisten, sering-seringlah kumpul dengan orang - orang yang berotot(baca:sukses). Begitulah otak dilatih agar "kuat". Sehingga saat kita membutuhkannya atau terjadi masalah, seolah makanan sehari-hari saja.


Analoginya otak kreativitas kita seperti katup yang dikendalikan oleh sebuah saklar dengan pilihan: "bisa" atau "tidak bisa". Jika kita mengatakan "TIDAK BISA", maka katup akan tertutup, sehingga tak akan ada aliran "solusi". Sebaliknya jika kita mengatakan "BISA", maka katup tersebut akan terbuka dan "solusi"pun akan mengalir mencari jalan "Bagaimana harus bisa?!". Enaknya kita bebas memilih arah saklar tersebut. Tapi kenyataannya banyak orang takut memilih saklar "bisa". Alasannya macam-macam, bisa karena pengalaman masa lalu, ketakutan yang tidak beralasan atau malas berfikir.

Sedikit-sedikit udah cepat menyerah. Bukannya mencari solusi, mereka lebih 'lihai' mencari DALIH atau ALASAN untuk pembenaran diam di tempat. Nah, dalam masyarakat, tukang dalih sering disebut The Loser(pecundang). Sebaliknya orang yang selalu optimis dan menanyakan "Bagaimana harus bisa?!", kemudian dia berupaya untuk mewujudkannya, disebut The Winner (pemenang). Ada juga tipe ketiga, yang kerjaannya hanya mengamati, tanpa ada action untuk mewujudkannya, dialah The Lover (pecinta).


Sekarang, tinggal mana yang Anda pilih? Jika ingin menjadi The Winner, hadapi masalah dengan senyuman, katakan pada diri sendiri,"Asyik, latihan lagi". Jika tidak ada masalah, ciptakan tantangan-tantangan baru. Dan jangan lupa, selalu katakan,"BAGAIMANA HARUS BISA?!".


Source : www.purdiechandra.com

Tegas , Bukan Sadis


You are fired ! ( Anda dipecat ! )

Bagi penggemar tayangan The Apprentice, kata-kata "Anda dipecat!" tidak mengagetkan. Itulah style Donald Trump, billionaire yang pernah bangkrut sampai minus 90 trilyun. Mengamati perilaku para orang sukses, mereka memiliki banyak kesamaan, antara lain sikap tegas dalam memutuskan sesuatu. Mereka memilih 'hanya orang-orang terbaik' dalam timnya. Mereka sangat selektif dalam merekrut karyawan. Jika mereka tidak menemukan alasan 'kenapa' seseorang harus tinggal dalam organisasinya, maka mereka akan memberhentikannya. Apalagi jelas-jelas orang tersebut memiliki attitude yang tidak baik, seperti tidak jujur, malas, lambat atau tak bisa diandalkan.

Lain ceritanya dengan fenomena usaha kecil kita, yang banyak menerapkan sistim 'kekeluargaan', haruskah bertindak tegas? Harus! Ketegasan tak pandang bulu.

First Who Then What

Dalam buku Good to Great, Jim Collins mengungkap melalui penelitiannya, bagaimana perusahaan Fortune 500 (terbaik didunia). Mereka menerapkan prinsip "Pertama Siapa, baru kemudian Apa yang akan dikerjakan". Artinya mereka sangat selektif dalam merekrut karyawan/tim.


Tapi bukannya karyawan adalah aset perusahaan? Betul, jika karyawannya tepat. Jika membawa virus, namanya Liability(kewajiban). Seperti mempekerjakan seorang yang malas, harus dicambuk, baru mau kerja, mendingan dikeluarin saja. Semudah itukah? Kebayakan bos tidak tega, sama seperti saya (dulu)! Seharusnya kita berfikir tidak tega jika melihat masa depan seseorang yang tidak jelas, jika di tempat kita. Jika kita memberhentikan tanpa alasan atau untuk melampiaskan kebencian, maka namanya sadis. Jika kita memberhentikan untuk kebaikan(memberi pelajaran) orang tersebut dimasa mendatang, itu namanya tegas, bahkan menjadi amal.


Dalam merekrut karyawan, jika ragu-ragu, lebih baik tidak diterima, teruslah mencari. Karena, saat kita mendapatkan tim yang tepat, maka fungsi kontrol dan manajemen akan lebih ringan. Orang yang terbaik, tidak perlu diawasi, cukup diarahkan. Mencari tim seperti bermain Puzzle, mencari potongan-potongan yang tepat untuk menghasilkan gambar yang cantik. Kesuksesan usaha kita sangat dipengaruhi oleh kesuksesan kita merekrut tim. Seperti hukum mata rantai mengatakan,"Kekuatan suatu tim, dipengaruhi oleh mata rantai yang paling lemah". Jika mau kasihan, kasihanlah pada anggota tim yang lain yang bagus, jangan kasihan sama yang busuk.


Jadi, apa yang anda tunggu? Bersihkan organisasi anda dari ‘virus’. Rekrut hanya orang-orang yang terbaik. Jangan takut, orang-orang yang terbaik tidak selalu identik dengan gaji tinggi. Mereka bekerja bukan karena bos atau uang semata, tapi bekerja untuk kemajuan dirinya sendiri. So, tunggu apa lagi? Bertindaklah TEGAS, sebelum ketidak-enakan anda memakan korban!


From: Jaya Setiabudi