Myspace Backgrounds

Thursday, January 17, 2008

CONTOH ORANG YANG TAK BAHAGIA


"Ceritakan pada kami tentang orang yang tidak bahagia," tanya murid pada seorang Guru kebijakan.

"Baiklah," jawab sang Guru sambil tersenyum.

Lalu sang Guru bercerita bagaimana ketika suatu malam ia berada dalam perjalanan dengan kereta api. Ia tidak bisa tidur, karena di depannya duduk seorang wanita yang terus-menerus mengeluh,

"Oh, betapa hausnya saya... Oh,betapa hausnya saya..."
Keluhan memelas itu terdengar terus-menerus.

Akhirnya, Sang Guru bangkit,berjalan melalui gang sepanjang kereta api menuju bagian dapur, mengisi dua cangkir besar dengan air, membawanya dan memberikannya kepada wanita malangitu.

"Bu, ini ada air. Minumlah," kata sang Guru
"Oh, anda baik sekali. Terima kasih." Jawab si wanita itu dengan mata berbinar-binar.

Sang Guru kembali ke bangkunya. Ia menyamankan badannya berusaha untuk tertidur. Ketika hampir pulas tiba-tiba dari depannya terdengar lagi suara keluhan memelas wanita itu,

"Oh, betapa hausnya saya tadi... Oh, betapa hausnya saya tadi..."

Pojok Renungan :

Bagaimana mungkin kita mengaku "berbahagia" di saat ini namun tetap mengingat-ngingat hal yang kita anggap tidak membahagiakandi masa lampau. Jika begitu maka "kebahagiaan" tersebut hanyalah kepuasan janggal dari penderitaan kita. Hapuskanlah keluhan anda akan masa lalu, maka kebahagiaan akan menghampiri anda.

Wednesday, January 16, 2008

Penderitaan Orang Pelit


Dikisahkan tentang seorang lelaki berusia 60-an tahun yang menjadi buah bibir di kampungnya. Pasalnya, lelaki paruh baya tersebut terkenal sangat pelit, bahkan untuk makan sehari-hari dan kesehatannya sendiri.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dia jarang sekali makan lebih dari sepotong roti setiap hari.Suatu ketika ia marah habis-habisan kepada istrinya, lantaran istrinya itu membeli seekor ikan untuk lauk mereka makan.

"Kamu ini perempuan boros. Aku saja tidak pernah membeli ikan, kok kamu berani-beraninya beli ikan," bentak lelaki itu uring-uringan.

Si istri yang sabar dan sangat hapal tabiat suaminya itu berusaha membela diri. "Bukan saya yang beli, tetapi tetangga sebelah yang memberikan ikan ini untuk kita," dalihnya.

Kalau begitu, potong-potong ikan itu menjadi 7 bagian untuk jatah lauk makan kita selama 7 hari. Kalau mau menggoreng beri garam, tapi sedikit saja nanti garamnya cepat habis," sahut lelaki itu memberi solusi sekaligus instruksi.

Beberapa hari kemudian, lelaki itu jatuh sakit, badannya demam dan tak mampu beraktifitas seperti biasa. Si istri kasihan melihat kondisi suaminya. Ia bergegas pergi ke sebuah toko obat untuk membeli obat penurun panas.Ketika si istri menyodorkan obat tersebut, suaminya justru menutup mulut rapat-rapat karena menilai bahwa membeli obat adalah pemborosan besar.

"Jangan khawatir, obat ini adalah obat paling murah. Lagipula, di dalam kotak obat ini ada kupon yang bisa ditukar dengan hadiah," bujuk istrinya sembari memberikan obat. Tetapi suaminya itu tetap mengunci mulutnya.Tak kurang akal, si istri langsung membisikkan sesuatu di telinga suaminya.

"Ehmm, sebenarnya saya tadi bohong. Obat ini sudah kedaluarsa. Jadi toko obat itu memberikannya gratis kepada saya," bisik istrinya.

Barulah setelah itu si lelaki pelit tadi bersedia meminum obat. Setelah minum obat diapun tersenyum, kemudian memuji istrinya pintar.

Renungan :
Harta kekayaan dapat berfungsi sebagai sumber kebahagiaan apabila kita mempunyai kemampuan untuk mendapatkannya sekaligus menggunakannya dengan benar dan tepat.

Bila kita kesulitan mencari sumber penghasilan jelas akan mengurangi kualitas kehidupan. Begitupun bila kita tak dapat mengelola keuangan dengan baik maka hal itu akan menjadi sumber petaka dalam kehidupan kita.Hidup sederhana bukan berarti harus mengurangi kualitas kehidupan, melainkan hidup tidak berlebih-lebihan dan sedapat mungkin memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sedangkan kisah di atas adalah sebuah fenomena tentang seseorang yang tidak dapat menggunakan kekayaannya dengan baik. Sikapnya tergolong terlalu pelit, sehingga merampas kenikmatan hidup yang seharusnya ia dapatkan.

Charles Spurgeon mengatakan,
"Yang penting bukanlah berapa banyak yang kita miliki tetapi berapa banyak yang kita nikmati."

Sebab kekayaan akan mempunyai arti bila kita dapat menikmatinya. Sehingga kalaupun kita ingin mengumpulkan lebih banyak harta kekayaan seharusnya tidak dengan cara bersikap pelit, karena langkah tersebut hanya akan mengurangi kualitas hidupnya. Langkah yang seharusnya ia tempuh adalah menambah sumber penghasilan.

Selain menambah sumber penghasilan, langkah selanjutnya adalah hidup sederhana. Karena di dalam kesederhanaan ada kemuliaan dan ketentraman hati. Berbeda dengan hidup pelit, dimana di dalamnya hanya ada kesusahan karena kekhawatiran berlebih hartanya akan berkurang.

Oleh : Andrew Ho - Managing Director PT. KK. Indonesia, motivator, pengusaha, dan penulis buku-buku bestseller

Tuesday, January 15, 2008

Mengapa Berjalan Harus di Sebelah Kiri


Di jaman Inggris kuno, para ksatria suka naik kuda. Berhubung para ksatria tidak kidal, maka pedang selalu dipegang tangan kanan dan perisai ditangan kiri. Nah, karena perisai dipegang tangan kiri, untuk melindungi dada ketika hendak naik kuda, mereka selalu dari naik-turun dari sisi kiri kuda. Selain itu, kalau lagi asyik kuda-kudaan lalu si ksatria diserang,berduel di sisi kiri jalan jauh lebih enak. Kebiasaan ini lama-lama diundangkan dan menjadi aturan formal. Adat ini juga diadopsi oleh negara-negara Eropa lain.

Di Jepang ada sejarahnya sendiri. Di jaman Edo, samurai Jepang punya adat untuk berkuda di kiri jalan untuk mencegah dua samurai yang saling berpapasan brantem gara-gara kedua pedang mereka bersenggolan. Akan tetapi, pada masa itu penduduk non-samurai tetap saja berkuda di sembarang sisi jalan. Pembakuan aturan berkendaraan di sebelah kiri baru muncul setelah kereta api dari Inggris mulai masuk ke negeri mungil seribu gempa nan-kaya itu.

Amerika lain lagi. Karena semula koloni Inggris, orang Amerika berkuda dikiri jalan. Akan tetapi, saking sakit-hatinya sama Inggris, pendudukAmerika berusaha menanggalkan citra koloni Inggris. Antara lain, mereka memutuskan untuk berkuda di kanan jalan. Pindah ke kanan konon juga untuk menghormati Perancis yang telah membacking perang melawan Inggris.

Jadiii... bangsawan Perancis itu aslinya juga berkuda di kiri jalan.Tetapi setelah revolusi Perancis, untuk melawan kemapanan, orang Perancis banting haluan ke kanan jalan. Napolen yang pada masa pemerintahannya mengekspansi Perancis ke negara-negara Eropa turut menyebarkan kebiasaanini. Walhasil, negara yang disatroni Perancis seperti Belanda juga ketularan berkendaraan di kanan jalan.

Kalau orang Belanda berkanan-jalan, kenapa kita berkiri jalan? Ternyata,walaupun Belanda memang dikuasai Perancis pada tahun 1795, sejak tahun1602 Belanda (yang waktu itu masih di sebelah kiri) sudah menjajah Indonesia dan terlanjur menularkan kebiasaan berkiri jalan. Rupanya benar juga kalau old habit die hard.


Monday, January 14, 2008

Nilai Emas


Seorang pemuda mendatangi Zen-sei dan bertanya, "Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain?"


Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya dan berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukanlah satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana . Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?"Melihat cincin Zen-sei yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu." "Cobalah dulu, sobat muda.Siapa tahu kamu berhasil."


Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak.Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak.


Ia kembali ke padepokan Zen-sei dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak."Zen-sei, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana . Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud.


Ia kembali kepada Zen-sei dengan raut wajah yang lain dan berkata, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai cincin ini sesungguhnya. . Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."Zen-sei tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas"."


Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk melihatnya, dan itu membutuhkan proses. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas "


Saturday, January 12, 2008

Tantangan


Alkisah, sebuah desa di atas bukit dilanda musim kering enam tahun beturut-turut. Suasana desa terasa sedih, putus asa, dan merana. Di tepi desa, tinggal seorang lelaki setengah baya yang punya tiga anak pria dewasa. Namun semuanya pemalas, tak pernah mau mencari pekerjaan. Alasannya, di mana-mana susah, karena musim kering itu. Semua nasihat sang ayah hilang begitu saja. Mereka lebih suka melamun dan tidur.


Di belakang bukit yang mengelilingi desa itu, ada sebuah desa sangat subur. Di tengahnya mengalir sungai yang tak pernah kering. Andai kata ada yang mampu memindahkan gunung, dan mengubah aliran sungai, desa itu bakal memiliki air cukup, dan tak akan lagi kekeringan. Namun di desa itu tak ada seorang pun yang berani berpikir untuk memindahkan sang gunung.


Sesuatu yang tak mungkin. Uniknya, lelaki setengah baya yang tinggal di tepi desa tadi akhirnya terpanggil untuk menyelesaikan tantangan yang tidak mungkin itu. Suatu hari, setelah fajar, sang lelaki membulatkan tekadnya. Ia mengambil pacul dan mulai berjalan ke gunung. Ia bekerja dari subuh hingga matahari tenggelam, tak kenal lelah. Mencangkul dan mencangkul. Setelah seminggu ia bekerja, akhirnya anak-anaknya pun mulai memperhatikan ulah sang ayah.


Ketika diceritakan bahwa sang ayah ingin memindahkan gunung, ketiga anaknya terbahak-bahak. Mereka menganggap ayahnya gila, dan mau melakukan hal yang tak mungkin. Sang ayah terdiam saja. Ia terus melanjutkan pekerjaannya dari hari ke hari. Sebulan kemudian, cerita ini menyebar ke seluruh desa. Sang lelaki itu kini malah dijuluki gila oleh semua warga desa. Ketiga anak lelaki itu lama-lama malu dengan olokan warga desa.


Hingga suatu hari mereka memutuskan membantu ayahnya. Sejak itu, keempat lelaki itu selalu berangkat subuh, dan mencangkul gunung hingga matahari tenggelam. Setelah beberapa bulan mereka bekerja, warga desa mulai melihat sebuah lubang besar di gunung. Tak lama kemudian, seluruh desa ikut bergabung. Setahun lebih, gunung itu bolong. Air mengalir lewat terowongan. Desa itu tak pernah lagi kering.


Renungan :

Semuanya mungkin. Jangan pernah menganggap remeh sebuah cita-cita atau angan-angan. Rahasianya, bagaimana mengubah cita-cita itu menjadi tantangan nyata. Kalau sudah menjadi tantangan, pasti bisa dikerjakan. Pasti memberikan hasil.

Cita-cita dan angan-angan hanya akan menjadi lamunan kosong kalau tidak kita wujudkan menjadi tantangan. Tantangan adalah sebuah "road map", peta yang melukiskan hal-hal yang harus kita kerjakan untuk mencapai sebuah prestasi. Cita-cita dan angan-angan adalah roh.


Tantangan adalah tubuh tempat roh bersemayam. Tanpa tantangan, roh itu hanya akan melayang-layang dan kehilangan wujudnya. Kalau Anda punya visi, cita-cita, dan angan-angan, jangan lupa menerjemahkannya menjadi tantangan yang bisa memotivasi keikutsertaan orang di sekitar kita.


Friday, January 11, 2008

Keberanian


Seorang perwira muda diserahi tugas untuk menjaga jalan masuk ke markas tentara dan diberi perintah untuk tidak membiarkan mobil masuk, kalau mobil itu tidak membawa tanda khusus.

Ia menghentikan mobil yang ditumpangi oleh seorang jendral yang mengatakan kepada sopirnya untuk tidak mempedulikan penjaga dan terus melarikan mobilnya.

Karena itu sang perwira itu itu maju dengan senjata siap ditembakkan dan dengan tenang berkata, "Maaf bapak, ini baru bagi saya. Siapa yang saya tembak ? Bapak atau sopir ?"

Renungan :
Anda akan mencapai kebesaran kalau anda tidak dirisaukan oleh kedudukan orang-orang yang ada diatas anda dan kalau anda membuat orang-orang yang berada dibawah anda tidak merisaukan kedudukan anda.

Ditambah lagi bila kalau anda tidak sombong terhadap orang-orang yang rendah dan tidak rendah dengan orang-orang yang sombong.

Adakah ilustrasi ini terjadi di perusahaan anda ?
Andalah yang bisa menjawabnya . . . . .


Djodi

Bunyi yang Punya Arti


Suatu hari, Kabayan dari desa mengunjungi temannya di kota. Bunyi ribut mobil-mobil dan derap orang yang lalu-lalang sangat menganggunya. Kedua orang itu bertemu dan kemudian berjalan-jalan dan tiba-tiba Kabayan berhenti, menepuk pundak temannya dan berbisik, "Berhentilah sebentar. Apakah kamu mendengar suara yang kudengar?"


Teman kotanya itu menoleh ke arahnya sambil tersenyum, dan kemudian berkata, "Yang saya dengar hanyalah suara klakson mobil serta suara orang lalu-lalang. Apa yang kau dengar?" "Ada seekor jangkrik di dekat sini dan saya bisa mendengar suara nyanyiannya." Kabayan.

Teman dari kota itu mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Saya pikir kamu hanya bergurau. Tidak ada jangkrik di sini. Dan seandainya ada, bagaimana orang bisa mendengar suaranya di tengah kebisingan jalan ini? Jadi kamu pikir kamu bisa mendengarkan suara seekor jangkrik?" Kata Kabayan, "Ya! Ada satu ekor yang bernyanyi di sekitar sini sekarang."

Kabayan berjalan ke depan beberapa langkah, lalu berdiri di samping tembok suatu rumah. Di situ ada tanaman yang tumbuh merambat. Kabayan memetik beberapa daun, dan di atas daun itulah terdapat seekor jangkrik yang bernyanyi keras sekali. Teman dari kota itu kini bisa melihat jangkrik itu, dan dia pun mulai bisa mendengarkan suara nyanyiannya.

Ketika mereka kembali berjalan-jalan, orang kota itu berkata kepada teman desanya, "Kamu secara alami bisa mendengar lebih baik dari kami." Kabayan tersenyum dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, "Saya tidak setuju dengan pendapatmu. Orang desa tidak bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Sekarang lihat, saya akan memperlihatkannya kepadamu!"

Lalu, Kabayan mengambil uang logam dan menjatuhkannya di trotoar. Bunyi uang logam itu membuat banyak orang menoleh ke arahnya. Kemudian Kabayan memungut uang logam itu dan menyimpannya kembali di kantungnya, dan kedua orang itu kembali berjalan-jalan.

Kata Kabayan, "Tahukah kamu sobat, suara uang logam itu tidak lebih keras daripada nyanyian jangkrik tadi. Meski demikian, banyak orang kota mendengarnya dan menoleh ke arahnya. Di lain pihak, saya adalah satu-satunya orang yang mendengar suara jangkrik itu.

Alasannya tentu bahwa bukan orang desa bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Tidak. Alasannya adalah bahwa kita selalu mendengar dengan lebih baik hal-hal yang biasanya kita perhatikan."

Renungan :

Seringkali ketika kita dalam masalah, kita berteriak memohon pertolongan pada Allah, dan kita merasa Dia diam saja. Ketika membaca cerita ini kita jadi sadar, sebabnya bukan karena Allah tidak menjawab, tapi karena kita lebih fokus pada diri kita sendiri dan permasalahannya daripada fokus pada Allah dan pertolonganNya.

Kita memasang telinga agar Allah menjawab sesuai dengan keinginan dan cara kita dan menolak suara Allah yang mengatakan bahwa Dia menyediakan jalan lain yang lebih baik !


Wednesday, January 9, 2008

Bibit Tanaman


Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur.
Bibit yang pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi dipucuk-pucuk daunku."
Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.

Bibit yang kedua bergumam. "Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah.
Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman."
Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.

Renungan :
Dear friend ! , memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada peran - peran yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri.

Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah.
Dan karena hidup adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak.

Djodi

TEMUKAN CINTA ANDA


Bila anda tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja disana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu.
Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan.
Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda.
Ini akan mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas tugas dengan lebih baik lagi.

Bila toh anda juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda.
Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga.

Namun, bila anda tak menemukan kesenangan disana, maka cintai apapun yang bisa anda cintai dari kerja anda: tanaman penghias meja, cicak diatas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela.Apa saja.

Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, mengapa anda disitu?
Tak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan.
Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah disana.

Hidup hanya sekali.
Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta.


Kiriman Erny Muis
Promotion Officer Group SBM


Tuesday, January 8, 2008

API dan ASAP


Suatu ketika, ada sebuah kapal yang tenggelam diterjang badai. Semuanya porak poranda. Tak ada awak yang tersisa, kecuali satu orang yang berhasil mendapatkan pelampung. Namun, nasib baik belum berpihak pada pria ini. Dia terdampar pada sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sendiri, dan tak punya bekal makanan.

Dia terus berdoa pada Tuhan untuk menyelamatkan jiwanya. Setiap saat,dipandangnya ke penjuru cakrawala, mengharap ada kapal yang datang merapat.
Sayang, pulau ini terlalu terpencil. Hampir tak ada kapal yang mau melewatinya.Lama kemudian, pria ini pun lelah untuk berharap. Lalu, untuk menghangatkan badan, ia membuat perapian, sambil mencari kayu dan pelepah nyiur untuk tempatnya beristirahat. Dibuatnya rumah-rumahan, sekedar tempat untuk melepas lelah. Disusunnya semua daun nyiur dengan cermat, agar bangunan itu kokoh dan dapat bertahan lama.

Keesokan harinya, pria malang ini mencari makanan. Dicarinya buah-buahan untuk penganjal perutnya yang lapar. Semua pelosok dijelajahi, hingga kemudian, ia kembali ke gubuknya. Namun, ia terkejut. Semuanya telah hangus terbakar,rata dengan tanah, hampir tak bersisa.


Gubuk itu terbakar, karena perapian yang lupa dipadamkannya. Asap membubung tinggi, dan hilanglah semua kerja kerasnya semalam.
Pria ini berteriak marah, "Ya Tuhan, mengapa Kau lakukan ini padaku.Mengapa?... Mengapa?". Teriaknya melengking menyesali nasib.

Tiba-tiba...terdengar peluit yang ditiup. Tuittt.....tuuitttt. Ternyata ada sebuah kapal yang datang. Kapal itu mendekati pantai, dan turunlah beberapa orang menghampiri pria yang sedang menangisi gubuknya ini.
Pria ini kembali terkejut, ia lalu bertanya, "Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku ada disini?Mereka menjawab, "Kami melihat simbol asapmu!!"

Renungan :
Teman, sangat mudah memang bagi kita, untuk marah saat musibah itu tiba.Nestapa yang kita terima, tampak akan begitu berat, saat terjadi dan berulang-ulang. Kita memang bisa memilih untuk marah, mengumpat, dan terus mengeluh. Namun, teman, agaknya kita tak boleh kehilangan hati kita. Sebab,Tuhan selalu ada pada hati kita, walau dalam keadaan yang paling berat sekalipun.

Dan ingatlah, saat ada " asap dan api " yang membubung dan terbakar dalam hati anda, jangan kecil hati. Jangan sesali semua itu. Jangan hilangkan perasaan sabar dalam kalbu. Sebab, bisa jadi, itu semua adalah sebagai tanda dan simbol bagi orang lain untuk datang pada anda, dan mau menolong.

Sebab, untuk semua hal buruk yang kita pikirkan, akan selalu ada jawaban yang menyejukkan dari-Nya. Tuhan Maha Tahu yang terbaik buat kita. Jangan hilangkan harapan itu.

Djodi

Monday, January 7, 2008

ANTARA BURUNG, CACING DAN MANUSIA


Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing. Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayangs ebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan.Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus "puasa". Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus"berpuasa".


Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya "kantor" yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas.
Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai.
Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya.
Kita lihat burung tetap optimis akan rejeki yang dijanjikan Allah.

Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya. Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup , suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah.

Suatu waktu kelebihan dan dilain waktu kekurangan.
Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.

Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyaikaki,tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga.Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati.Tapi kita lihat , dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari rejeki . Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.


Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih.Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini sering kali kalah dari burung atau cacing ?

Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi ? padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa.


Djodi


Optimisme Siput


Di suatu hari di awal musim semi, seekor siput memulai perjalanannya memanjat sebuah pohon ceri.

Beberapa ekor burung di sekitar pohon itu melihat sang siput dengan pandangan aneh.

"Hei, siput tolol," salah seekor dari mereka mencibir,

"pikirmu kemana kamu akan pergi?".

"Mengapa kamu memanjat pohon itu?" berkata yang lain,

"Diatas sana tidak ada buah ceri."


"Pada saat saya tiba di atas," kata si siput, "Pohon cerinya akan berbuah."

Bola Golf


Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik?


Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya?

Banyak pemain mengalami hal serupa. Hampir seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi. Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar. Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu.

Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan jatuh persis di dekat lobang di lapangan hijau.
Bravo!
Dia tidak terkena hukuman dan tetap bisa mempertahankan posisinya.

Renungan :
Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu. Ada yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Namun, sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk menghilangkan kesulitan itu dan menggapai kemenangan

Djodi


Saturday, January 5, 2008

Menyelamatkan ''Nyawa''


Alkisah seorang raja memerintahkan pasukannya untuk memangkas pepohonan yang menjadi sumber kehidupan sebuah desa.

Warga desa protes karena pepohonan tersebut merupakan mata pencarian utama mereka. Pasukan tentara kerajaan yang mendapat titah paduka baginda raja tidak mendengarkan protes warga desa, mereka terus memotong dan menumbangkan pepohonan rimbun di desa tersebut.

Tiba di sebuah pohon yang besar seorang nenek tua memeluk erat batang pohon besar itu sehingga para pasukan kerajaan tidak bisa mengergaji dan merobohkannya. Dilaporkan kejadian itu kepada baginda raja, sang raja memerintahkan untuk menebang pohon yang lain.

Warga desa belajar dari kejadian tersebut, melihat pohon yang dipeluk erat sang nenek tidak jadi dirobohkan dan dicabut oleh pasukan tentara kerajaan, mereka pun berhamburan ikut memeluk setiap pohon di desa tersebut.

Akhirnya pohon-pohon yang merupakan "nyawa" desa tersebut bisa diselamatkan.

Renungan :
Begitu pun juga dengan anak-anak kita, peluk erat mereka dari serbuan budaya hedonis, narkoba, pergaulan bebas, pornografi, dan lain sebagainya.

Selamatkan 'nyawa' anak-anak kita, peluk erat mereka, jangan sampai tercerabut oleh hempasan badai kehidupan karena mereka penerus masa depan dan peradaban negeri ini.

Friday, January 4, 2008

BATU KECIL


Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi.
Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.

Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya.

Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.

Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas?
Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

Renungan :
Allah SWT kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya.

Seringkali Allah SWT melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya.
Karena itu, agar kita selalu mengingat kepadaNya, Allah SWT sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita, seperti gempa bumi , penyakit dsb.

Djodi Ismanto

Demi Bumi , Demi Kita



Anggapan sebagai orang gila begitu lekat dalam diri H.Chaerudin alias Bang Idin. Betapa tidak. Untuk mewujudkan mimpinya menghijaukan bantaran Kali Pesanggrahan, ia berani bersitegang dengan orang gedongan yang notabene para pejabat, yang tinggal dikawasan Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Bang Idin pun nekat menyusuri kali pesanggrahan hanya dengan rakit pelepah pisang selama lima hari enam malam, demi melihat kondisi sungai yang saat itu penuh dengan sampah dan airnya berwarna kelam.

Bagi Bang Idin yang putra Betawi ini , upaya penyelamatan Kali Pesanggrahan ini harus didasari dengan pemahaman. "Orang yang pahamlah yang akan mengerti betapa pentingnya sebuah upaya konservasi lingkungan," kata Bang Idin ketika tampil di Kick Andy tadi malam 04 Januari 2008.

Lima belas tahun berlalu, julukan orang gila telah lekang dari diri Bang Idin. Orang-orang disekelilingnya kian paham dengan apa yang dilakukan Bang Idin. Kondisi bantaran Kali Pesanggrahan pun tak lagi tandus dan penuh sampah.

Sebaliknya bantaran sungai yang membelah kawasan Selatan Jakarta itu terlihat hijau oleh rimbunnya pepohonan yang jumlahnya sekitar enam puluh ribu spesies tanaman. Tentu saja itu semua tidak terlepas dari upaya Bang idin bersama teman-temannya dari Kelompok Tani Sangga Buana yang pantang menyerah melakukan upaya penghijauan dan konservasi dengan manajemen kearifan alam.


Source : http://www.kickandy.com/

MENGGENDONG GADIS KE SEBERANG SUNGAI


Seorang guru Zen dan muridnya bermaksud menyeberangi sebuah sungai deras.

Satu-satunya jembatan yang biasa digunakan rusak akibat banjir. Terpaksa mereka harus berjalan di sungai deras itu.


Ketika mereka akan melangkah ke dalam sungai, datanglah seorang gadis cantik yang juga bermaksud menyeberangi sungai. Raut wajahnya tampak cemas. Merasa kasihan pada gadis itu, sang guru bertanya,

"Ada apa nona?"

Jawab gadis cantik itu sambil terisak-isak, "Guru, aku harus segera pulang.Tapi aku takut melintasi sungai yang deras ini. Aku tak bisa berenang. Akutakut tenggelam."

Guru tersenyum pada gadis itu. Ia menawarkan jasa baik, "Kebetulan kami juga akan menyeberangi sungai ini. Kalau begitu, mari saya antar nona ke seberang sana."

Gadis itu mengangguk setuju. Kemudian guru menggendong gadis itu menyeberangi sungai deras.

Perjalanan itu sungguh tidak mudah. Ketinggian air hampir mencapai dada. Saking takutnya, si gadis memeluk erat-erat guru.Sedangkan sang murid berjalan di belakang sambil mengamati gurunya dengan penuh tanda tanya.

Akhirnya mereka sampai juga di seberang sungai. Gadis itu tersenyum senang.Ia memberi hormat pada guru dan murid itu sambil mengucapkan beribu-ribu terima kasih. Kemudian mereka berpisah. Guru dan murid melanjutkan perjalanannya.Sepanjang perjalanan berbagai pertanyaan bergolak di benak sang murid,hingga akhirnya, setelah sekian lama berjalan, ia sudah tak tahan lagi untukbertanya,

"Guru, kita adalah sufi. Bukankah kita tidak boleh dekat-dekat dengan wanita? Namun mengapa tadi guru melakukan hal itu?
Guru balik bertanya, " Wanita apa maksudmu, wahai kawan?"

Murid menjawab, "Wanita yang kau gendong saat menyeberangi sungai."

Lalu sang guru tersenyum, katanya, "Kawan, saya sudah tidak menggendongnya sejak dari tadi, tapi mengapa kamu masih menggendongnya dalam pikiranmu."

Renungan...!

"Yang menggendong si gadis ke seberang sungai tidak menggendong disertai nafsu.
Ia berlaku spontan dan masa bodoh. Justru si muridlah satunya yang membawa serta nafsu sepanjang jalan." demikian ujaran Zen.
("The Book of ZEN - Freedom of The Mind")

Thursday, January 3, 2008

Kekuatan Ibu


Alkisah, hiduplah dua suku di pegunungan Andes. Satu suku tinggal dilembah-lembah, sedangkan suku yang lain tinggal di atas gunung. Suatu hari, suku gunung menyerang suku lembah dan menjarah seluruh isi desa. Mereka menculik seorang bayi dari salah satu keluarga suku lembah dan membawanya keatas gunung.


Orang-orang suku lembah tidak tahu bagaimana mendaki gunung. Mereka tidak tahu jalan mana yang digunakan oleh suku gunung. Mereka tidak tahu dimana letak desa suku gunung.

Juga, tidak tahu bagaimana mengikuti jejak-jejak suku gunung di tebing-tebing gunung itu.Tapi, meski pun begitu, mereka mengirim para prajurit terbaik mereka untuk memanjat gunung dan membawa pulang bayi mereka.


Prajurit pertama mencoba memanjat tebing diikuti yang lain. Ketika prajurit pertama gagal, mereka semua pun gagal. Mereka mencoba lagi dengan cara lain.Namun, gagal. Setelah berhari-hari mereka mendaki, mereka hanya bisa memanjat beberapa ratus kaki saja.Suku lembah kehilangan harapan dan putus asa.


Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke desa saja. Semua upaya dilakukan namun gagal.Ketika mereka sedang bersiap-siap untuk kembali ke desa, tiba-tiba mereka melihat ibu dari bayi yang diculik itu sedang menuruni tebing gunung melewati mereka, sambil menggendong bayinya.


Mereka terkejut sekali,bagaimana si ibu itu bisa menuruni tebing yang justru mereka sendiri gagal untuk mendakinya? Bagaimana si ibu itu bisa memanjat tebing-tebing itu mengalahkan mereka? Terlebih lagi, mereka melihat si bayi itu .

Bagaimana mungkin?

Seorang prajurit menyambut ibu itu dan bertanya, "Wahai ibu, kami gagal mendaki tebing ini. Bagaimana kau melakukan semua ini, mengalahkan seluruh prajurit terkuat?

Bagaimana bisa?"

Ibu itu mengangkat bahu dan berkata, "Sebab bayi yang diculik itu bukanlah bayimu."

Renungan :
Cinta memberikan kekuatan. Sebab, cinta adalah kekuatan. Dan, cinta seorang ibu adalah kekuatan yang mengalahkan segala kekuatan.

Perjuangan tanpa cinta memberikan kegagalan.

Wednesday, January 2, 2008

Kucing Berhaji


Alkisah, ada seekor kucing dewasa yang sudah berkecukupan. Ia hendak menunaikan ibadah haji karena merasa ada sebuah kewajiban dan tentu untuk menyambut seruan Tuhan. Berangkatlah ia dengan semangat ketertundukan.

Setelah menunaikan segala macam rukunnya, pulanglahlah ke tempat tinggal semula. Setelahnya, lebih banyak berdzikir, tak lupa "mengenakan" aksesoris layaknya para pelaku haji. Dan di luaran, tampilan mendadak shaleh.
Berhajinya seekor kucing itu terdengar sampai berbagai penjuru. Termasuk sampai terdengar pada sarang segerombolan tikus.

Pemimpin tikus, sebagai yang dituakan, berinisiatif untuk berekonsiliasi dengan sang kucing.
"Wahai rakyat tikus semuanya, dengarlah, sang kucing telah berhaji, sudah saatnya kita berdamai dengannya."
Salah satu rakyat tikus menjawab, "Tuanku, jangan, kucing tetap kucing, dia tetap akan memburu kita."
"Apa salahnya kita mencoba menjalin komunikasi, siapa tahu ada peta jalan damai antara warga tikus dan kucing."

Walaupun rakyat tikus amat gelisah dengan pendapat pemimpin tikus, tapi tetap memutuskan untuk berangkat menemui sang kucing.Berangkatlah ia dengan hati-berdebar- debar. Sesampainya di sarang kucing, pemimpin tikus mencoba tersenyum dan menyampaikan niat baiknya untuk berdamai. Awalnya, sang kucing diam saja. Semakin lama didiamkan, pemimpin tikus mulai gelisah.

Lalu, sang kucing memandangi sang tikus dengan tatapan beringas, lantas melompat, mencoba menerkam dan memangsa tikus. Untung sang tikus sudah siap sedia dan berhasil meloloskan diri dari terkaman sang kucing. Berlari dan terus berlari meninggalkannya. Sampai di sarang tikus, rakyat yang sejak awal khwatir bertanya,
"Bagaimana, tuanku, apakah perdamaian berhasil?
"Celaka, benar katamu, sang kucing tetap kucing, dia tetap akan memangsa kita."

Renungan :
Kisah ini adalah sindiran bagi kita semuanya. Haji bagi umat Islam memang sebuah kewajiban untuk yang mampu. Kita pasti mempunyai niat untuk menunaikannya, alangkah bahagianya kita bisa pergi ke tanah suci.

Tapi, ada dimensi lain yang patut kita ingat. Haji bukanlah sebuah trend atau bahkan sebuah gaya hidup agar dipandang "wah". Juga bukan melulu berdimensi ketuhanan semata.
Ada dimensi lain yang perlu kita amalkan, yaitu dimensi sosial dengan menterjemahkan simbol-simbol haji yang telah dilaksanakan.

Salah satunya seperti dituturkan Ustadz Quraish Shihab,
"pakaian biasa" ditanggalkan dan "pakaian ihram" dikenakan.

Artinya, menanggalkan segala macam perbedaan dan menghapus keangkuhan.Dengan berhaji, kita belajar menghargai sesama manusia, tidak melakukan lagi penghisapan atau penindasan terhadap manusia lain. Kita semua hakikatnya sama, miskin kaya, pejabat tinggi atau rakyat biasa.

Dan, kita juga perlu meninggalkan karakter-karakter jahat yang barangkali sudah melekat erat dalam diri sekian lamanya. Kalau setelah berhaji tetap punya karakter dan perilaku sama, maka sia-sialah semuanya.


Source : Yon's Revolta
KotaSantri.com

Antara KRITIK dan PENGHARGAAN


Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan buruk yang dialaminya di apotek setempat.


Ia meminta pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu.
Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek itu.

Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota mereka.
Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka bisa menetap di kota itu dengan nyaman.


Lalu, iapun mengirimkan apa yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik.Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan oleh pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada tetangganya.


Katanya,"Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya mengenai betapa buruk pelayanannya waktu itu."

"Oh, tidak," jawab tetangganya. "Sebenarnya saya tidak menyampaikan kritik anda pada mereka.

Saya harap anda tidak keberatan. Saya katakan pada pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat caranya mendirikan apotek dikota kecil ini. Dan, anda merasa apoteknya adalah salah satu apotek dengan pelayanan terbaik yang pernah anda temui.""

???"

Renungan...!
Semua orang akan melakukan apa pun bagi anda, bila anda memperlakukan mereka dengan penuh hormat, penting, dan berharga. Kritik seringkali hanya menghancurkan harapan perbaikan.

Sedangkan sebuah apresiasi (penghargaan) selalu mendorong orang lain untuk melakukan lebih baik lagi.
Adakah kritik yang membangun?
Yang pasti ada adalah penghargaan yang membangun.
Renungan kali ini menggugah kita agar lebih pandai menyuarakan penghormatan, bukan hanya kritik belaka.


Djodi Ismanto