Myspace Backgrounds

Thursday, April 10, 2008

Indahnya Berprasangka Baik


Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik kecap dan sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengakiannya. Jaraknya sekitar 10 km dari rumah peninggalan orangtua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo'a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaan tempatnya bekerja.

Lalu sang kakak berdo'a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.
Kemudian berturut-turut sang kakak berdo'a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do'anya itu.

Sementara itu, sang adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orangtuanya yang dulu dia tempati bersama dengan kakaknya.


Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji ke rumah guru mereka.

Suatu saat sang kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo'a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo'a.

Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo'a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do'a-do'anya tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.

Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya sang adik itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do'anya tak pernah terkabul.

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orangtuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid.
Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do'a, diantaranya Al-Fatihah, shalawat, do'a untuk guru mereka, do'a selamat, dan ada kalimah di akhir do'anya :

"Ya, Allah. Tiada sesuatu pun yang luput dari pengetahuanMu. Ampunilah aku dan kakakku. Kabulkanlah segala do'a kakakku. Bersihkanlah hatiku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku di dunia dan akhirat."

Sang kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo'a untuk memenuhi nafsu duniawinya.

JANJI


Ketika kita lahir dan seluruh bayi diseluruh dunia ini ketika lahir tangannya masih menggenggam erat jarinya.

Itulah tanda kita memegang janji perjalananan hidup kita nanti didunia kepada Allah SWT. ketika ruh akan ditiupkan ke dalam janin.

Semakin besar usia bayi maka jarinya pun akan terbuka lebar dimana sejak saat itu kita siap menerima dan menjalankan perjanjian yang telah kita buat bersama Allah tanpa kita ketahui isinya.

Yang kita tau pasti adalah sub judulnya yaitu : Rezeki, Jodoh dan Kematian , tapi kita tidak tahu kapan itu akan terjadi namun semua telah tertulis pasti didalam perjanjian antara Allah dan ruh yang akan ditiupkan ke janin.

Ketika anda merasa sukses atau gagal, Optimis atau Pesimis , ingatlah akan perjanjian kita dengan Allah SWT , kita hanya menjalankan apa yang telah kita setujui dalam perjanjian tersebut.

Wednesday, April 9, 2008

Cincin Pak Tani


Seorang petani kaya mati meninggalkan kedua putranya.
Sepeninggal ayahnya, kedua putra ini hidup bersama dalam satu rumah. Sampai suatu hari mereka bertengkar dan memutuskan untuk berpisah dan membagi dua harta warisan ayahnya.

Setelah harta terbagi, masih tertingal satu kotak yang selama ini disembunyikan oleh ayah mereka. Mereka membuka kotak itu dan menemukan dua buah cincin di dalamnya, yang satu terbuat dari emas bertahtakan berlian dan yang satu terbuat dari perunggu murah.

Melihat cincin berlian itu, timbullah keserakahan sang kakak, dia menjelaskan, "Kurasa cincin ini bukan milik ayah, namun warisan turun-temurun dari nenek moyang kita. Oleh karena itu, kita harus menjaganya untuk anak-cucu kita. Sebagai saudara tua, aku akan menyimpan yang emas dan kamu simpan yang perunggu."

Sang adik tersenyum dan berkata, "Baiklah, ambil saja yang emas, aku ambil yang perunggu." Keduanya mengenakan cincin tersebut di jari masing-masing dan berpisah.

Sang adik merenung, "Tidak aneh kalau ayah menyimpan cincin berlian yang mahal itu, tetapi kenapa ayah menyimpan cincin perunggu murahan ini?"

Dia mencermati cincinnya dan menemukan sebuah kalimat terukir di cincin itu: INI PUN AKAN BERLALU.

"Oh, rupanya ini mantra ayah?," gumamnya sembari kembali mengenakan cincin tersebut.

Kakak-beradik tersebut mengalami jatuh-bangunnya kehidupan. Ketika panen berhasil, sang kakak berpesta-pora, bermabuk-mabukan, lupa daratan. Ketika panen gagal, dia menderita tekanan batin, tekanan darah tinggi, hutang sana-sini.


Demikian terjadi dari waktu ke waktu, sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan batinnya, sulit tidur, dan mulai memakai obat-obatan penenang. Akhirnya dia terpaksa menjual cincin berliannya untuk membeli obat-obatan yang membuatnya ketagihan.

Sementara itu, ketika panen berhasil sang adik mensyukurinya, tetapi dia teringatkan oleh cincinnya: INI PUN AKAN BERLALU. Jadi dia pun tidak menjadi sombong dan lupa daratan. Ketika panen gagal, dia juga ingat bahwa: INI PUN AKAN BERLALU, jadi ia pun tidak larut dalam kesedihan.

Hidupnya tetap saja naik-turun, kadang berhasil, kadang gagal dalam segala hal, namun dia tahu bahwa tiada yang kekal adanya.

Semua yang datang, hanya akan berlalu.
Dia tidak pernah kehilangan keseimbangan batinnya,
dia hidup tenteram, hidup seimbang, hidup bahagia.

Antara Mencari dan Kehilangan


Suatu malam, Kabayan kehilangan sebuah benda. Benda yang menurutnya sangat berharga itu tak lain adalah jarum tangan.

Tanpa jarum tangan, Kabayan tidak bisa melakukan pekerjaan favoritnya, menyulam. Hal itu membuatnya manyun sepanjang malam.

Pagi buta, dirinya memutuskan untuk mencari si jarum tangan. Dia mencari dengan penuh harap di depan pekarangan rumah mungilnya. Menjelang siang, jarum itu belum juga ditemukan. Sampai akhirnya, seorang tetangga bersimpati kepadanya. Tetangga yang baik hati itu menghampiri Kabayan dan bertanya, "Kabayan, apa yang sedang kau cari ?"

Kabayan menjawab, "Aku sedang mencari jarum tanganku, jarum satu-satunya yang aku punya itu hilang, dan sampai sekarang aku belum bisa menemukannya."

Mendengar jawaban Kabayan, sang tetangga menjadi iba, "Baiklah, aku akan membantumu mencari jarum tangan itu," katanya.

Akhirnya, mereka berdua mencari si jarum. Tetapi hingga menjelang sore, benda mungil itu belum juga ditemukan. Dengan peluh di sekujur ubun-ubun, sang tetangga bertanya kepada Kabayan, "Sebenarnya di mana kau kehilangan jarummu itu ? Sudah seharian kita mencari, tapi belum juga menemukannya."

Tanpa berdosa, Kabayan menjawab, "Aku kehilangan jarumku di dalam rumah."
Dengan muka memerah, sang tetangga menimpali, "Lalu kita mencarinya di pekarangan?"
Kabayan menyahut dengan polosnya, "
Ya, karena di dalam rumah gelap, jadi aku mencarinya di luar."

Itulah Kabayan , dia kehilangan sesuatu di dalam rumah, namun malah mencarinya di pekarangan. Konyol bukan?

Bisa jadi, kita juga pernah bahkan sedang melakukan kekonyolan yang sama dengan Kabayan. Kita sering kehilangan sesuatu dari dalam diri kita sendiri, namun justru mencari "ganti" dari luar. Kehilangan motivasi, percaya diri, dan kebahagiaan dari dalam diri sendiri, tetapi justru meminta lingkungan "menyelamatkan" kita.

Tuesday, April 8, 2008

Hidup Ini Pilihan


Ada banyak WARNA di luar, tapi mengapa kita lebih menyukai salah satu di antaranya.
Berjenis-jenis makanan tersaji di restoran, tapi mengapa kita hanya memesan yang kita sukai. Banyak jalur alternatif akses menuju kantor, tapi mengapa kita selalu memilih jalan yang sama setiap harinya.

Sahabat, kadang kita berpikir, apa yang membuat kita seperti kita saat ini.
Dengan selera makanan, warna favorit, model rambut, bahkan sikap dan gaya bicara seperti apa yang ada pada kita sekarang. Termasuk cara berpikir, motivasi hidup, kecakapan, dan intuisi.
Jika kita mau merunut ke belakang saat awal-awal kemunculan kita di dunia, ada banyak hal yang membuat kita menjadi seperti sekarang.
Ibarat, mengapa tempe yang saya goreng rasanya seperti ini?

Coba kita tengok awal mula terbentuknya tempe yang telah kita goreng tersebut.
Berasal dari jenis kedelai apa, bagaimana cara menanamnya, siapa yang membuat, dengan cara apa ia membuat, siapa yang menjual, berapa lama disimpan, sampai bagaimana tempe tersebut digoreng hingga disajikan.

Beragam pertanyaan yang masing-masing mempunyai alternatif jawaban yang beragam pula. Tapi mengapa akhirnya kita memilih salah satu dari alternatif yang ada, sehingga out put yang dihasilkan seperti yang kita rasakan sekarang.

Sepotong tempe yang renyah di luar, namun lembut di dalam.
Begitu juga dengan apa yang terjadi pada kita sekarang.

Kita telah memilih salah satu di antara berbagai alternatif yang selalu ditawarkan di sepanjang kehidupan kita.
Meski ada fase di mana pilihan itu bukan kita yang menentukan.

Mungkin orang tua, atau orang lain yang mempunyai pengaruh besar terhadap kita.
Tapi tetap saja kita sendiri lah yang akan merasakan hasilnya.
Pilihan-pilihan yang ditentukan oleh orang lain itu di antaranya.

1. Bagaimana cara orang tua kita menyambut momen kelahiran kita? (mengiringi dengan tilawah, mengiringi dengan musik klasik, atau cuek)

2. Bagaimana orang tua kita membesarkan kita? (disiplin, moderat, masa bodoh)

3. Kemana kita disekolahkan? (apa pun asal mahal, apa pun asal favorit, apa pun asal islami )

4. Dengan siapa kita dinikahkan? (terserah kita, mereka yang mencarikan)
5. dll

Sedangkan pilihan-pilihan yang kita tentukan sendiri di antaranya.
1. Dengan siapa kita bergaul?(siapapun, hanya yang cocok dengan kita, seaqidah, atau..)

2. Model pergaulan seperti apa yang kita pilih (bebas tapi sopan, bebas tapi islami, bebas sebebasnya)

3. Makanan seperti apa yang kita makan? (asal enak, asal gratis, asal bikin kenyang, atau asal halal)

4. Bagaimana kita mengelola keuangan? (pelit, konservatif, suka foya-foya, moderat, atau...)

5. Bagaimana respon kita terhadap masalah? (menghindar, penuh emosi, berani menghadapi, atau..)
6. dll

Pilihan-pilihan itulah yang ikut membentuk kita seperti kita sekarang ini.
Sekecil apapun, sesepele apapun, secara langsung maupun tidak langsung, pilihan yang kita ambil ikut andil dalam pembentukan karakter, perspektif, dan sikap yang dilahirkan.

Maka berhati-hatilah dalam setiap keputusan yang kita ambil. Meski sepele, hasilnya akan sangat terasa di kemudian hari.

Ibarat sebatang anak panah yang kita arahkan menuju sasaran yang jauh di depan kita. Sedikit saja kita melenceng (meski hanya 5 derajat). Pergerakan panah akan meleset jauh berpuluh-puluh derajat dari sasaran.

Engkau Itu Siapa ?


Wanita dalam sakratul maut menghadapi ajalnya.

Ia tiba-tiba merasa, bahwa ia dibawa ke surga dan berdiri di muka Takhta Pengadilan Akhirat.

"Siapa engkau itu ?" kata suara kepadanya.
"Aku ini istri lurah ," jawabnya.
"Aku tidak bertanya kepadamu, engkau istri siapa, tetapi engkau itu siapa?"

"Aku ini ibu empat orang anak."
"Aku tidak bertanya, engkau ibunya siapa, tetapi siapa engkau itu ?"
"Aku ini guru di sekolah."
"Aku tidak menanyakan pekerjaanmu, tetapi siapa engkau itu."

Dan demikianlah seterusnya.
Tidak peduli apa yang menjadi jawabannya, rupanya itu bukan jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaan:

"Engkau itu siapa?"
"Aku ini seorang Moslem."
"Aku tidak menanyakan agamamu, tetapi engkau itu siapa."
"Aku ini seseorang, yang tiap hari pergi ke mesjid dan selalu membantu orang miskin dan orang dalam kesulitan."
"Aku tidak menanyakan perbuatanmu, tetapi siapa engkau itu."

Ia jelas gagal dalam ujian, oleh karena itu ia dikirim kembali ke dunia.
Ketika sembuh dari sakitnya ia berniat menemukan siapa dia.
Dan itulah yang membuat segalanya berbeda sama sekali.

Tugasmu itu BERADA.
Tidak menjadi seseorang atau bukan apa-apa - sebab disitu ada keserakahan dan ambisi - tidak menjadi ini dan itu; - dengan demikian menjadi bersyarat - tetapi hanya ADA saja.

Monday, April 7, 2008

BERHENTILAH MENGKRITIK, MULAILAH MENOLONG

Anda akan memiliki lebih banyak "waktu" dengan tidak mengkritik.
Setiap orang memahami sesuai dengan prasangkanya.
Dan mereka berhak mempertahankan pendiriannya.

Jadi untuk apa membebani diri anda dengan mengkritik apa yang terjadi pada diri orang lain. Anda tak selalu memahami segala sesuatu.Mungkin saja anda tidak melihat sesuatu yang dilihat orang lain.

Namun, keterbatasan pikiran anda mengaburkannya sehingga seolah anda yang melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain.

Bersikaplah jujur.
Sungguh jauh berbeda antara mengecam dengan menolong.
Kecaman melemahkan.
Sedangkan pertolongan memperkokoh.
Dan itu berlaku bagi yang memberi maupun yang menerima.

Bila perahu anda bocor di tengah lautan.
Kritik anda pada si pembuat perahu tidak akan menolong anda dari ketenggelaman.
Anda harus menambal lubang itu atau terjun ke air untuk berenang.

Ini akan menolong anda sendiri.
Semua tindakan anda merupakan tabungan bagi diri anda sendiri, yang akan anda tarik kelak. Dan seburuk-buruknya simpanan adalah kecaman.
Sedangkan pertolongan selalu memberikan bunga yang terbaik.

Menyingkirkan " DURI " dari Jalan


Kita berbuat baik tentunya bukan untuk mengharapkan apa-apa.
Karena kita sadar itulah peran yang harus kita mainkan.

Adalah kewajiban kita untuk menyingkirkan duri di jalan yang sedang kita lalui, bukan saja agar takmelukai diri kita, namun untuk menjaga para pejalan lain.

Dan sebagai orang beragama , perbuatan tersebut merupakan salah satu bentuk ibadah kita.

Jadi, meski tak seorang pun mengucapkan terima kasih atas perbuatan baik anda, itu tak perlu mengecilkan arti kerja anda.

Mungkin saja orang lain tak memahami kebaikan itu, karena mereka menganggap memang seharusnya anda lakukan itu.
Maka, apatah artinya sebuah ucapan terima kasih.

Biarkan saja kebaikan mengalir dari tangan anda.
Dan biarkan benak anda terbebas dari perasaan berjasa.

Temukan arti pesan sang bijak, berikan derma dari tangan kanan seakan-akan tangan kirimu tak mengetahuinya.

Saturday, April 5, 2008

Alam Yang Humoris


Pernahkah kita alami hal-hal ini:
Ketika hujan deras mengguyur, kita lupa membawa payung.
Lalu kita pun berbasah kuyup kedinginan.
Namun, ketika kita siapkan jas hujan, justru panas terik datang membakar hari.

Sebalkah anda?

Atau mungkin kita pernah begitu terburu-buru mengejar waktu, tetapi lalu lintas tersendat-sendat seolah membiarkan kita terlambat.

Namun, ketika kita ingin melaju tenang, pengendara belakang malah membunyikan klakson agar kita mempercepat langkah.

Sebalkah anda?

Uh! Mengapa keadaan seringkali tak bersahabat ?
Mereka seakan meledek, mengecoh, bahkan tertawa terbahak-bahak.Inikah yang disebut dengan "ketidakmujuran"?

Sadari saja, itu adalah cara alam menghibur kita. Itulah cara alam mengajak kita tersenyum, menertawakan diri sendiri, dan bergurau secara nyata.

Kejengkelan itu muncul dari kerena kita tak mencoba bersahabat dengan keadaan.
Kita hanya mementingkan diri sendiri.
Kita lupa bahwa jika toh . keinginan tak tercapai, tak ada salahnya kita sambut dengan senyum - meski kecut, tak apa.

Friday, April 4, 2008

PEMIMPIN SEJATI


Tak ada pemimpin yang tiba-tiba turun dari langit.
Mereka semua harus melalui perjalanan hidup yang panjang dan berat.
Mungkin anda tak bisa melihat betapa deras keringat mereka bercucuran, atau betapa tegang otot mereka meregang.
Karena mereka mampu mengubah semua itu menjadi kekuatan yang gilang gemilang.

Anda tak perlu harus menjadi seorang pemimpin.
Bukan anda yang memutuskannya.
Namun, anda dapat bersikap, bertarung dan berjuang sebagaimana pemimpin sejati lakukan.

Dan, memang itulah yang senantiasa mereka lakukan.

Singa yang tak pernah merasakan perihnya luka cakar dan patah kuku bukanlah raja rimba terhebat.
Elang yang tak pernah menerjang topan badai dan menembus awan gelap bukanlah kaisar langit terkuat.
Kayu terbaik didapat dari pohon yang tumbuh dalam tempaan hujan lebat dan panas terik.

Pemimpin sejati ditemukan dalam situasi sulit dan kritis.
Pertempuran hanya diperuntukkan bagi mereka yang berani.
Pecundang yang lari dan bersembunyi tak pantas merayakan kemenangan.

DUA PEMBURU DAN SEEKOR BERUANG


Dua orang pemburu sedang berburu bersama.
Tiba-tiba muncul seekor beruang besar menghadang.
Mereka tak sempat mempersiapkan diri.

Salah seorang pemburu segera lagi memanjat pohon dan berdiam mendekam di dahan erat-erat.

Melihat dirinya yang akan diserang beruang itu, pemburu yang lain segera menjatuhkan diri ke tanah.

Ketika beruang mendatangi dan mendengus-denguss eluruh tubuhnya, pemburu itu menahan nafas selama mungkin. Ia pura-pura mati.

Tak lama beruang itu meninggalkannya.
Pikir si beruang, "Aku tak mau memangsa orang yang sudah mati."

Ketika situasi sudah tenang, pemburu pertama turun dari pohon dan mengolok-olok pemburu yang berpura-pura mati,
"Kawan, apa yang dikatakan oleh tuan beruang tadi padamu."

"Oh tuan beruang itu memberikan nasehat padaku," jawab pemburu kedua.
"Jangan pernah berburu dengan orang yang membiarkan kau terancam dan tak menolongmu dari bahaya".

Renungan...!
Kata orang bijak, "Musibah adalah batu ujian bagi persahabatan"

Thursday, April 3, 2008

SIAPA YANG SEHARUSNYA MENGALAH ?


Dua kendaraan, truk besar Mitsubishi Fuso dan becak ringkih, bertemu di sebuah puncak jembatan sempit.

Harus ada yang mau mundur ke ujung jembatan.
Bila tidak, jangan harap mereka bisa melintas.

Supir truk minta pengayuh becak mau mengalah.
Lebih mudah bagi becak kecil untuk mundur.

"Tapi, aku harus kepayahan mendaki jembatan ini lagi !" tolak pengayuh becak.

Sebaliknya, ia malah menyuruh supir mau memundurkan truknya. Bukankah, tak ada kesulitan bagi tenaga mesin untuk bergerak?.
"Tentu saja, tetapi sulit bagiku untuk memundurkan kendaraan sebesar ini !" Supir truk bersikeras.

Menurut anda,siapakah yang harus mengalah?
Yang kuat?
Atau, yang lemah?

Bicara soal mengalah, bukan bicara siapa yang kuat atau lemah.
Namun,
siapa yang berkenan memenangkan hati dan pikirannya dari keinginan untuk mengalahkan orang lain.
Mengalah tak selalu lemah dan kalah.
Lebih sering mengalah membutuhkan ketegaran dan kekuatan jiwa.

PETUALANGAN SEHARI-HARI


Seorang pendaki sejati tak bosan-bosannya mendaki gunung yang sama berkali-kali.
Mengapa?

Karena ia tahu bagaimana menikmati setiap titian pendakian.
Baginya, tak pernah ada halimun dan kabut yang sama.
Semak dan pepohonan selalu berganti warna.
Awan senantiasa menampakkan lekuk-lekuk baru.

Dan,puncak gunung pun memberikan reguk kebahagiaan yang belum pernah dirasakan.

Kita mungkin telah melalui jalan yang sama antara rumah dan kantor selama bertahun-tahun.

Maukah anda, dalam satu minggu ke depan, menjadikannya sebagai petualangan pribadi?
Bila ya, . . . . .amati setiap jarak yang anda tempuh.

Lihatlah wajah-wajah yang anda temui di jalan.
Pepohonan dan daun-daun ditaman kota.
Kios, warung dan toko.
Sinar matahari yang terpantul di kaca gedung tinggi.
Gumpalan asap mobil. Coretan di tembok-tembok kota.
Apa saja!, semua yang anda jumpai.

Berikan perhatian.
Namun, jangan masukkan kedalam hati demi sebuah penilaian.
Nikmati saja petualangan ini tanpa perlu mengukur baik-buruknya semua itu.
Terima saja ia adanya.

Dan, saat memasuki ruang kerja, bolehlah anda anggap tiba di puncak gunung pendakian.

Maka, kata bosanpun bisa kita lupakan dalam rutinitas sehari-hari.

Wednesday, April 2, 2008

Membuang Anak Anjing


Sepasang suami-istri sedang berpikir-pikir mencari jalan untuk membuang lima anak anjing yang sangat menarik yang baru saja mereka peroleh.

Mereka berkeliling kota berusaha untuk menghadiahkan anak-anak anjing itu, akan tetapi tidak ada orang yang mau menerimanya.

Lalu mereka membuat pengumuman melalui radio setempat bahwa mereka mempunyai anak-anak anjing yang menarik yang hendak dibuang.

Tidak ada seorang pun yang tertarik.

Akhirnya seorang tetangga memberi nasihat kepadanya untuk memasang iklan.
Mereka kembali ke pemancar radio dan mengumumkan bahwa akan menjual anak-anak anjing itu dengan harga dua puluh ribu rupiah seekor.

Belum satu hari, semua anak anjing itu sudah terjuavl!

Renungan :
Yah, itulah bila segala sesuatunya dihargai dengan uang.
Kebaikan yang tak ternilai pun tak ada yang mau menerimanya.
Namun, keburukan dengan sedikit uang , masih banyak yang mencari.

SEJARAH RINGKAS TENTANG PENGOBATAN


Seorang pasien mengunjungi dokter, "Dokter, saya sakit perut."

2000 SM: "Mari, makanlah akar-akaran ini."
1000 SM: "Makan akar? Itu tradisi penyembah berhala! Ucapkan doa ini."
1850 M: "Berdoa itu tahayul. Minumlah ramu-ramuan ini."
1940 M: "Ramu-ramuan itu cuma minyak ular, telan saja pil ini.
1985 M: "Pil itu tak cepat menyembuhkan, ambillah antibiotik ini."
2009 M: "Antibiotik itu tidak alami, mari makanlah akar-akaran ini."

Renungan!
Siapa yang tak percaya kalau bumi itu berputar?
Dan sejarah pun berputar.

Pemecahan masalah pun berputar juga.

YANG TERSISA DARI PERAYAAN KEBERHASILAN


Orang bijak banyak mengingatkan bahwa, kebanggaan atas keberhasilan yang kita raih kemarin tidak banyak berguna hari ini.

Dan, itu sebenarnya sama saja dengan mengatakan bahwa keberhasilan hari ini tak perlu dibangga-banggakan esok hari. Bahkan, setiap keberhasilan tak perlulah repot-repot dibanggakan.

Cukuplah ia dirayakan dan dicatat di suatu waktu yang sangat sesaat. Keberhasilan yang akan datang sama sekali bukan karena kebanggaan yang kita besar-besarkan, namun usaha keras yang kita lakukan.

Kebanggaan dan penyesalan nyaris seperti dua sisi yang berlainan dari sekeping mata uang. Dua-duanya bergantung pada bagaimana kita mengukur nilai sebuah pencapaian. Karena penyesalan tak akan mengubah apa yang telah terjadi, tak salah bila orang bijak banyak mengingatkan agar segera menyisihkan penyesalan, lantas menyingsingkan lengan baju untuk kembal ibekerja.

Bukankah ini sama dengan pengingat bahwa perayaan akan segera usai, tugas baru sudah menghadang. Sebaiknya kita letakkan kebanggaan bersama dengan piring kotor sisa pesta keberhasilan.

Pepatah Bijak :
Tidak Ada Pesta Yang Tidak Berakhir . . . . .

Kabayan dan Profesor


Kabayan dan profesor duduk berhadapan di kereta api yang membawa mereka dari Bandung ke Jakarta. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya, itulah sebabnya sepanjang perjalanan mereka tidak saling bercakap-cakap.


Untuk mengusir kebosanan, profesor menawarkan sesuatu pada Kabayan, "Hai Kabayan, bagaimana kalau kita main tebak-tebakan?"

Kabayan diam saja sambil menatap pemandangan di luar jendela kereta. Hal ini membuat Profesor menjadi gusar.

Katanya, "Kabayan, ayo kita main tebak-tebakan! Aku akan mengajukan pertanyaan untuk kau tebak. Kalau kau tak bisa menjawabnya, kau harus membayarku Rp. 5.000,- Tetapi kalau kau bisa menjawabnya, aku bayar kau Rp. 50.000,-"

Kabayan mulai tertarik dengan tawaran itu.

Profesor melanjutkan, "Kemudian, kau ajukan pertanyaan padaku. Kalau aku bisa menjawabnya, cukup kau bayar aku Rp. 5.000,-. Tapi kalau aku tak bisa menjawabnya, aku bayar kau Rp. 50.000,-. Bagaimana?"

Mata Kabayan berbinar-binar. Katanya, "Baik kalau begitu. Sekarang ajukan pertanyaanmu." "Ok,"sahut profesor dengan cepat. "Pertanyaanku, berapa jarak yang tepat antara bumi dan bulan?"

Kabayan tersenyum karena tak tahu apa jawabannya. Ia langsung merogoh sakunya dan menyerahkan Rp. 5.000,- pada profesor. Dengan gembira Profesor menerima uang itu, "Nah, sekarang giliranmu."

Kabayan berpikir sejenak, lalu bertanya, "Binatang apa yang sewaktu mendaki gunung berkaki dua. Tapi sewaktu turun gunung berkaki empat?"

Profesor lalu berpikir keras mencari jawabannya. Ia melakukan coret-coretan perhitungan dengan kalkulatornya. Kemudian ia mengeluarkan laptop, menghubungkannya dengan internet dan melakukan pencarian di berbagai situs ensiklopedi. Beberapa lama, profesor itu mencoba.

Akhirnya ia menyerah. Sambil bersungut-sungut ia memberi uang Rp. 50.000,- pada Kabayan yang menerimanya dengan hati senang.

"Hai, tunggu dulu!" profesor itu berteriak. "Aku tidak terima. Apa jawaban atas pertanyaanmu tadi?"

Si Kabayan tersenyum pada profesor. Dengan santai ia merogoh saku celananya dan menyerahkan Rp.5.000,- pada profesor.

Renungan :
Jangan menganggap orang lain tidak tahu apa yang kita ketahui, karena seringkali di balik ketidaktahuannya mereka mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Surat Wasiat


Seorang direktur yang baru diangkat memasuki ruang kerjanya dan menemukan empat buah ampop tertumpuk di atas meja.

Pada amplop pertama tertulis,"Bukalah aku terlebih dahulu". Kemudian di amplop berikutnya berturut-turuttertulis nomor 1, 2, 3.
Ia membuka amplop pertama dan menemukan sepucuk surat dari direktur terdahulu yang digantikannya.

Di surat tersebut tertulis, "Berikut ini, aku tinggalkan padamu tiga buah surat yang akan menyelamatkanmu dari masa-masa krisis. Setiap kau mengalami keadaan darurat dimana kau tidak tahu harus berbuat apa, bukalah amplop-amplop berikut ini secara berurutan. Mulai dari nomor satu, nomor dua lalu nomor tiga."

Direktur itu lalu menyimpan amplop-amplop tersebut dan segera melupakannya.Enam bulan kemudian, para buruh di perusahaannya mogok kerja. Pabrik pun ditutup dan mengalami kerugian besar. Berhari-hari ia melakukan negosiasi dengan serikat pekerja, tetapi hasilnya nol besar.

Tiba-tiba ia teringat pada amplop-amplop peninggalan direktur pendahulunya. Kemudian ia membuka amplop nomor satu. Dan ia membaca, "Untuk memecahkan persoalanmu ini,salahkan saja aku. Lemparkan semua kekeliruan yang terjadi pada aku;direktur pendahulumu."

Wow, ini ide yang bagus, katanya dalam hati. Kemudiania mengikuti apa yang tertulis di surat itu dan persoalannya pun selesai.Semua orang senang.

Beberapa bulan kemudian, para buruh melakukan mogok kerja lagi. Kali ini ial angsung membongkar laci mejanya dan membuka surat nomor dua. Di sana tertulis, "Kali ini, salahkan Pemerintah atas semua persoalan yang menimpamu."

Anjuran ini pun bekerja dengan baik. Ia bisa bernafas lega.Sekali lagi, pekerjaannya terselamatkan.Sebulan kemudian, buruh mogok lagi. Tanpa banyak pikir, direktur itu membuka amplop nomor tiga.

Di sana tertulis, "Cepat siapkan empat buah amplop sebagaimana yang aku wasiatkan padamu ini."

Tuesday, April 1, 2008

Perpisahan Bukanlah Duka


Hal yang paling menyakitkan dalam hidup, bagi kebanyakan orang, adalah berpisah selamanya dengan orang terkasih.

Dunia terasa runtuh. Namun, hanya dengan sedikit perubahan sudut pandang, keindahan dunia tetap dapat dinikmati. Ikutlah pengalaman seorang rekan …

Sejak kepergian sang buah hati, rekan saya sangat bersedih. Rasa sakit akibat kepergian orang terkasih, mendadak, terlalu menyesakan.

Kelabu membayangi segala sisi kehidupan, sepanjang hari, siang dan malam.Di puncak penderitaan, dia tercerahkan…

Dia seharusnya bersyukur …
Yah, bersyukur kepada Tuhan.
Bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk mengenal seorang sosok istimewa. Yang walaupun hanya sesaat singgah dalam kehidupan, mampu memberikan warna indah, lebih dari apapun didunia.

Dia bersyukur karena memiliki kenangan indah, yang membekas dalam, yang tidak seorangpun dapat merenggut dari pikirannya.

Kenangan tersebut, suatu saat akan menjadi bahan pembicaraan menarik, dikala mereka bertemu kembali …

Toh, perpisahan itu bukanlah duka, namun hanyalah masalah waktu…
Semoga pengalaman rekan saya ini dapat memberi bermanfaat.

Jangan Takut Melakukan Kesalahan


Kata orang, kegagalan adalah sukses yang tertunda…

Itu benar”,

. . . . . . .Orang Bijak bahkan menambahkan, “J i k a d i t e r u s k a n !”.

Jika Anda berhenti dan tidak meneruskan lagi, maka gagal itu tetap gagal. Manusia belajar dari kegagalan. Jadi, janganlah Anda takut melakukan kesalahan.

Apa yang dianggap salah di suatu waktu, mungkin saja berubah menjadi kebenaran atau keharusan di masa kini.Tuhan maha adil.

Pada setiap jalan kehidupan kita, benar ataupun salah, Tuhan selalu meletakan dua pintu keluar, pintu yang benar dan pintu yang salah.Jika Anda kini terlanjur memasuki pintu yang salah, janganlah bersedih hati.

Anda masih boleh memilih, tetap didalam, keluar melalui pintu yang benar atau, tetap lewat pintu yang salah.
Pilihan ada ditangan Anda!

Jika Anda masuknya benar, jangan sombong!
Bisa saja Anda keluar melalui pintu yang salah kalau tidak menjaga diri.

Contoh nyata dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang memulai kehidupannya dengan jujur, berubah menjadi serakah ketika menjabat.Namun, seberapapun salahnya kita, Tuhan selalu memberikan pintu keluar bagi kita, pintu benar dan pintu salah.

Memang, pilihan ada ditangan kita, tetapi, tindakan…
Benar tindakanlah yang membuat perubahan!
Bertindaklah!