Myspace Backgrounds

Friday, March 14, 2008

TEORI KEBUTUHAN


Kabayan berbincang-bincang dengan seorang jaksa kota.
Jaksa kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja.

Jaksa memulai pembicaraan,“Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, …”
Kabayan menukas, “Bukan cuma manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum pun yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan.”
Jaksa mencoba bertaktik, “Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda.
Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?”
Kabayan menjawab seketika, “Tentu, saya memilih kekayaan.”

Jaksa membalas sinis, “Memalukan.
Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat.
Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?”

Kabayan balik bertanya, “Kalau pilihan Anda sendiri?”
Jaksa menjawab tegas, “Tentu, saya memilih kebijaksanaan.”

Dan Kabayan menutup pembicaraan ,
“Nah terbukti khan , semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya.”

Terowongan


Zenkai, putera seorang samurai, melakukan perjalanan ke Edo dan di sana menjadi pelayan seorang pejabat tinggi. Ia jatuh cinta dengan isteri pejabat itu dan ketahuan.

Sebagai usaha perlindungan diri, ia membunuh pejabat itu. Kemudian, ia melarikan diri dengan isteri pejabat itu. Keduanya kemudian menjadi pencuri. Akan tetapi, wanita ini sedemikian rakusnya sehingga Zenkai menjadi jijik melihatnya.

Akhirnya, ia meninggalkan wanita itu, melakukan perjalanan jauh ke propinsi Buzen, di sanalah ia menjadi seorang pengemis yang berkelana. Untuk menghapuskan kesalahan masa lampaunya, Zenkai bertekad untuk melakukan beberapa kebajikan selama hidupnya.

Karena tahu bahwa ada sebuah jalan yang berbahaya di sebuah tebing yang telah mengakibatkan kematian dan kecelakaan bagi banyak orang, ia memutuskan untuk menggali sebuah terowongan menembusi gunung di sana.

Siang hari mengemis makanan, pada malam harinya Zenkai bekerja menggali terowongan. Setelah tiga puluh tahun berlalu, terowongan yang berhasil digalinya itu telah mencapai sepanjang 2280 kaki, dengan tinggi 20 kaki, dan lebamya 30 kaki.

Dua tahun sebelum tugas ini diselesaikan, putera dari pejabat yang telah dibunuhnya, yang merupakan seorang serdadu yang trampil, menemukan Zenkai dan datang untuk membunuhnya sebagai pembalasan dendam.

"Saya akan memberikan kepada anda nyawa saya secara rela,"kata Zenkai,
"Biarkanlah saya menyelesaikan pekerjaan ini terlebih dahulu. Pada saat terowongan ini telah selesai,kamu boleh membunuhku."

Dengan demikian, serdadu itu menunggu waktu. Beberapa bulan berlalu dan Zenkai masih saja tetap menggali. Anak muda tersebut menjadi bosan menunggu dan mulai membantu menggali.

Setelah membantu selama lebih dari satu tahun, ia menjadi kagum atas tekad kuat dan karakter Zenkai. Akhirnya terowongan itu pun jadi dan orang-orang bisa menggunakannya serta berjalan melaluinya dengan aman.

"Sekarang penggallah kepala saya," kata Zenkai, "Pekerjaansaya telah tuntas."
"Bagaimana bisa saya memenggal kepala guru saya sendiri?"tanya anak muda itu dengan tetes air mata di matanya.

Kebun Petani


Seorang guru dari tingkatan yang tertinggi hidup sebagai seorang petani.
Sang guru telah menulis berbagai kitab dan wejangan.

Pada suatu hari, seorang lelaki, yang telah membaca segala tulisan-tulisan sang guru dan menganggap dirinya sebagai pencari kebenaran, datang bertamu untuk membahas berbagai masalah yang pelik bersama sang guru.

"Aku telah membaca semua kitab-kitabmu," si tamu berkata,
"Aku sependapat dengan beberapa kitab dan tidak sependapat dengan yang lain-lainnya.

Kemudian dalam kitab-kitab tertentu, aku sependapat dengan bagian-bagian tertentu tapi tidak dapat memahami bagian-bagian yang lain.
Sebagian dari kitab-kitabmu lebih kusukai daripada (sebagian) yang lain-lainnya."

Si petani arif bijaksana membawa si tamu ke dalam kebun, di mana terdapat aneka rupa binatang-binatang beserta makanannya dan berkata:

"Aku adalah petani penghasil pangan.
Engkau lihatkah wortel dan apel-apel itu?
Ada orang yang menyukai wortel tetapi ada pula yang menyukai apel.
Engkau lihatkah binatang-binatang itu?

Beberapa orang telah menyaksikan semua binatang-binatang ini, namun mereka mempunyai pilihan mereka sendiri-sendiri, yaitu untuk dipacu, untuk dikembang-biakan dan untuk dimakan.

Ada orang-orang yang menyukai ayam dan ada pula yang menyukai domba.
Persamaan di antara binatang-binatang dan tanaman-tanaman ini bukanlah karena sama-sama disukai atau sama-sama tak disukai tetapi adalah bahwa semuanya adalah bahan pangan.
Semuanya dapat dimakan!"

Thursday, March 13, 2008

Memandangi Lubang


Seorang yang sangat kikir menyembunyikan emas di bawah pohon dalam tamannya.
Setiap minggu ia menggalinya dan memandanginya berjam-jam.

Pada suatu hari seorang pencuri menggalinya dan membawanya lari.
Ketika orang kikir itu datang lagi untuk memandangi harta kekayaannya, yang ia temukan hanyalah lubang yang kosong.

Ia mulai meraung-raung karena sedih, sehingga tetangga-tetangganya datang berlarian untuk melihat ada apa.

Ketika mereka tahu masalahnya, salah seorang dari antara mereka bertanya.
"Apakah engkau sudah pernah menggunakan emas itu?"
"Belum," kata si kikir. "Saya hanya memandanginya setiap minggu."
"Baiklah, kalau demikian," kata tetangga itu,
"Demi kepuasan yang sudah diberikan oleh emas itu, engkau dapat juga datang setiap minggu untuk memandangi lubang itu."

Renungan :
Kita menjadi kaya atau miskin tidak karena uang tetapi karena kemampuan kita untuk bergembira.
Berjuang keras untuk mencari kekayaan dan namun tidak mempunyai kemampuan untuk bergembira sama dengan orang botak yang berjuang untuk mengumpulkan sisir.

Guru dan Mutiara


Seorang guru sedang bermeditasi di tepi sungai ketika seorang murid membungkuk dan meletakkan dua butir mutiara indah di depan kakinya, sebagai tanda hormat dan bakti.

Guru itu membuka matanya, mengangkat salah satu butir mutiara itu dan memegangnya sembarangan sehingga mutiara itu jatuh dan menggelinding masuk ke dalam sungai.

Murid itu menjadi cemas dan segera meloncat masuk ke dalam sungai. Akan tetapi meskipun ia berkali-kali menyelam sampai malam, ia tidak berhasil.

Akhirnya dengan pakaian basah kuyup dan badan lelah, ia membangunkan guru dari meditasinya, "Guru tahu di mana mutiara itu jatuh.

Tunjukkanlah tempatnya supaya saya dapat mengambilnya lagi dan mengembalikannya kepada guru."

Guru itu mengangkat mutiara yang lain, melemparkannya kedalam sungai dan berkata, "Di situ!"

Janganlah mencoba " memiliki" benda karena benda tidak dapat sungguh-sungguh dimiliki. Hanya pastikanlah bahwa engkau tidak dimiliki oleh benda-benda itu, dan engkau akan menjadi penguasa ciptaan.

Paha Ayam


OBSESI itu berawal dari ucapan Nenek. ''Siapa mau kepala ayam?'' katanya. Kami,para cucu, tidak tertarik. Ngapain milih kepala ayam, mending mengambil paha,dada, atau sayap.

Apalagi, kepala ayam suka matok sembarangan. Kecoak disikat,bahkan yang lebih menjijikkan pun dilahap.Dagingnya sedikit. Kulitnya pun tak seenak kulit dada. Jenggernya juga tidak membuat ketagihan. Lebih sedap daging di dekat ekor. Lemaknya gurih dan sering ada gotro-nya.

''Hus, itu bagian bapakmu,'' kata Nenek. Bapak itu, sebagai pencari uang, harus diberi yang terbaik.

Lantaran tak ada yang berminat, Nenek menyugesti: ''Ayam itu otaknya lezat, lho.Dan, yang suka kepala akan jadi pemimpin.'' Hah, pemimpin?

Tanpa pikir panjang,saya mengambil kepala. Dan, akhirnya, jatah kepala selalu untuk saya. Di mata saya, pemimpin itu enak. Bisa main perintah, dilayani, dan berduit.

Nenek memang meyakinkan. Kendati otak ayam itu sedikit dan kecil , karena Nenek mengatakan lezat, ya, otomatis jadi enak. Saat melahap otak, misalnya, bibir saya berkecap panjang sembari mata merem-melek.
Obsesi sudah terbentuk. Persis obsesi perwira polisi dalam pendidikan. Kalian mau jadi apa?
Mereka serempak menjawab: ''Kapolri!'' Padahal, Kapolri itu cuma satu. Walhasil, para perwira itu punya semacam gentlemen agreement, kalau ada yang jadi Kapolri, harus tahu diri. Ingat rekan seiring.

Oke! Toast! Komitmen itu pun mentradisi. Team work itu mutlak. Jangan bersolo karier kayak sang jagoan di film. Tidak ada gunanya. Jadi, contohlah kekompakan anggota DPRD di banyak tempat. Satu masuk tahanan, semua terseret korupsi. Jelas?

Begitulah. Penyimpangan ada di mana-mana.

Jika ada yang usil nanya: ''Kok,asetnya meningkat puluhan milyar rupiah secara singkat dan tak masuk akal?'' Oh,dulu itu salah hitung.
Khilaf. Apa tidak boleh khilaf? Manusia itu kan gudangnya kekhilafan. Lupa itu manusiawi, tahu!

Masuk akal nggak, sih, oknum Jaksa bisa beli rumah senilai Rp 2 milyar? Kemudian, ''Masak ada aparat hukum ke kantornya membawa 'celeng-benz','' ujar seorang pemerhati aparat hukum . Maaf, yang benar Baby-Benz. Pengucapannya sengaja dipelesetkan ''babi'' alias celeng hutan biar seru.

Itu baru panggung sandiwara kecil. Yang membangun hotel atau menciptakan kerajaan bagi keluarga juga ada. Bahkan, ada yang ogah meninggalkan kantor,karena erek-erek tanda tangannya bernilai ratusan juta rupiah. Sayang, kan,kalau sehari saja tak kerja?

Satu hal lagi, jika sudah masuk jajaran pucuk pimpinan, mulutnya terdengar manis, walau nyatanya berbisa. Janjinya mampu membangkitkan harapan, menumbuhkan motivasi, faktanya gombal. '

Namun, sepandai-pandai tupai meloncat, pasti bakal jatuh. ''Saya yakin begitu,''kata sumber ini. Indikasi sudah tampak. Para "putor" alias pengumpul dan penyetor --yang ditugasi mengoleksi setoran dari berbagai sumber pemasukan--sudah mulai "bernyanyi". ''Rezeki'' itu mulai ketempelan setan.

Bayangkan, Rp 100 milyar lebih masuk rekening bos tiap bulan, sementara yang kekantong sendiri hanya menetes. Ketidakadilan , lantaran dikucuri rezeki sedikit,jika banyak pasti bungkam , nah ini harus dihentikan.

Permainan sumbang juga terkuak secara berturut-turut di beberapa DPRD. Begitulah hukum alam berjalan.Padahal, seharusnya elite itu membawa rakyat sejahtera. Bukan malah menyempitkan makna sebatas kepentingan pribadi dan kelompok.

Wednesday, March 12, 2008

Diam Pada Saat Yang Tepat


Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.

Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar.

Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan. Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia lalu berteriak, “Minggir… minggir! kayu bakar mau lewat!.” Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu.

Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya.

Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya.

Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu.

Hakim itu lalu berkata, “Mungkin ia tidak sengaja.”
Bangsawan itu membantah. Sementara si lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu.

Namun, setiap kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia tetap diam. Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang hakim akhirnya berkata pada bangsawan itu,

“Mungkin orang ini bisu, sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi.” Bangsawan itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata, “Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di pasar tadi.

Tidak mungkin sekarang ia bisu!” dengan nada sedikit emosi. “Pokoknya saya tetap minta ganti,” lanjutnya.

Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, “Kalau engkau mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?”
Jika ia sudah memperingatkan, berarti ia tidak bersalah.
Anda yang kurang memperdulikan peringatannya.”

Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa diam dan bingung. Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang baginya. Akhirnya ia pun pergi.

Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya diam.

Menuai Tanaman Dunia


Seorang yang dikenal amat kikir, suatu hari sedang duduk di pintu kedainya sambil menikmati secangkir kopi. Seorang gila menghampirinya dan meminta sedikit uang untuk membeli yoghurt.

Pedagang kikir itu berusaha mengacuhkannya tetapi si gila tetap tak mau pergi dan malah membuat keramaian.
Orang-orang yang lewat dan melihat hal itu lalu menawarinya uang. Tapi si gila bersikeras bahwa ia hanya menginginkan wang dari si kikir.

Akhirnya, si kikir memberinya sedikit uang receh untuk membeli yoghurt. Si gila kemudian meminta tambahan uang untuk membeli roti yang akan dimakannya bersama yoghurt itu. Pedagang kikir itu tentu saja sudah tak boleh membiarkan hal ini, dan ia tegas-tegas menolaknya.

Malamnya, orang kikir itu bermimpi. Dalam mimpinya, ia telah berjalan di dalam surga. Tempatnya sangatlah indah, penuh dengan sungai, pepohonan, dan bunga-bungaan. Setelah beberapa saat berjalan di sana, ia merasa lapar. Ia keheranan, di tengah semua keindahan surga, ia tak melihat sedikit pun makanan.

Ketika itu, muncullah seorang pemuda bewajah tampan bercahaya.
Si kikir bertanya kepadanya, “Apakah ini benar-benar surga?” Pemuda itu mengiyakan. “Lalu, di mana gerangan segala makanan dan hidangan surga yang telah sering aku dengar itu?” tanya orang kikir itu lagi.

Pemuda tampan itu permisi sebentar. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa semangkuk yoghurt. Pedagang kikir lalu meminta roti untuk dimakan bersama yoghurt tapi pemuda itu menjawab, “Yang engkau kirimkan kemari hanyalah yoghurt ini saja.

Seandainya engkau mengirimkan roti, tentu sekarang aku dapat menyuguhkanmu roti juga. Yang engkau tuai di sini adalah apa yang engkau tanam sewaktu di dunia.”

Si kikir terbangun dari mimpinya. Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Sejak saat itu ia menjadi salah seorang yang paling pemurah di kotanya.
Diberikannya makanan kepada setiap pengemis dan orang miskin yang dijumpainya.

Tertipu Berulang Kali


Di suatu hari, seorang lelaki sedang dalam perjalanan pulang ke kampung nya. Ia berjalan dengan menuntun seekor domba di belakangnya. Seorang pencuri melihat hal ini. Ia mengendap-endap dan memutuskan tali kekangnya dan mengambil domba itu.

Setelah beberapa saat, sang empunya domba menyadari bahwa miliknya telah hilang. Ia berlari ke sana kemari mencari dombanya dengan panik.
Sampailah ia pada sebuah sumur. Di tepi sumur itu ia melihat pencuri yang tadi mengambil dombanya tapi ia tak tahu bahwa orang itulah yang telah mencuri domba miliknya.

Ia bertanya kepada orang itu apakah ia melihat seekor domba di sekitar tempat itu.
Pencuri itu tidak menjawab, ia malah menangis, bersimpuh di tepian sumur. “Mengapa kau menangis?” tanya pemilik domba kehairanan.

“Dompetku jatuh ke dalam sumur ketika aku menimba air. Jika kau dapat membantuku mengambilnya, aku akan berikan kau seperlima dari uang yang ada dalam dompet itu. Kau akan mendapatkan seperlima dari seratus dinar emas !”

Pemilik domba berfikir, “Wah, uang itu cukup untuk membeli lebih dari sepuluh domba! Bila satu pintu tertutup, sepuluh pintu lain akan terbuka.”
Ia segera membuka pakaiannya dan turun ke dasar sumur. Tentu saja, di dalam sumur itu tak terdapat apa-apa. Dan si pencuri pun melarikan pakaian orang itu.

Renungan :
Apabila satu kerugian saja membuatmu amat gelisah, maka kerugian-kerugian lain akan datang kepadamu dengan mudah.
Setan menampakkan dirinya kepadamu dalam beragam penyamaran.
Selamatkan dirimu kepada Tuhan ( Allah ) dan Ia takkan menipumu.

Source :
Daris Rajih

Tuesday, March 11, 2008

Semut Di dalam Telinga


Ada seorang pekerja yang sedang bertugas di sebuah perusahaan.
Suatu ketika, tanpa disengaja dia menginjak sarang semut hingga lantai dipenuhi kawanan semut, semut-semut yang tak terkira jumlahnya sampai merayap ke seluruh tubuhnya.

Sebentar kemudian, dia merasakan telinganya amat gatal.
Disangkanya semut-semut sudah merayap masuk ke telinganya, hingga dia memutuskan untuk berobat ke dokter.

Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa telinganya tidak dimasuki semut, tapi anehnya dia tetap bersikeras mengatakan telinganya terdapat semut.
Banyak dokter telah dicari,tapi hasilnya tetap sama.

Seorang temannya menganggap dia terlalu dilanda prasangka dan perasaan yang berlebihan, hingga menjadi penyakit psikis.

Kalau betul demikian, tak ada gunanya mencari dolter, melainkan yang dibutuhkan adalah seorang psikiater.

Psikiater memeriksanya dengan teliti dan mengatakan positif,
“Ada,memang ada. Tapi sebelum semutnya dikeluarkan, harus terlebih dahulu disuntik.”

Lalu diapun merebahkan diri untuk disuntik dengan obat bius. Dia tertidur pulas, saat mulai siuman, psikiater membunyikan beberapa batang perkakas medis di samping telinganya hngga berdesing,lalu menunjukkan dua ekor semut yang ditangkapnya dari sisi meja seraya berkata:

” Kini anda telah sembuh, semut itu telah saya keluarkan.” Mendengar ini, si pasien amat bergembira dan mengucapkanterima kasih kepada psikiater.

Renungan :
Telah dapat dibuktikan, bahwa dari kecurigaan akan melahirkan sosok maya. kalau sudah dilanda prasangka bagaimana mungkin bisa melahirkan kepercayaan diri?

Terlebih lebih kalau sudah mencurigai kebenaran hukum Tuhan, bagaimana mungkin dapat membina diri lagi?

Saturday, March 8, 2008

Penderitaan Adalah Awal dari Pencerahan I


Suatu hari, seorang lelaki tengah memecah tanah dengan cangkul.

Seorang lelaki lain yang bodoh datang kepadanya dan berteriak,

“Hei, mengapa kau merusak tanah itu?”
“Tolol!” jawab si pencangkul, “Pergilah kau dan jangan ganggu aku! Mengertilah perbedaan antara penghancuran dan pertumbuhan.

Bagaimana mungkin tanah ini berubah menjadi kebun mawar atau ladang gandum, bila sebelumnya tak kau pecah-pecah dan kau rusak?
Bagaimana mungkin tanah ini menjadi pertamanan yang penuh dengan dedaunan dan buah-buahan, bila sebelumnya tak kau hancurkan dan kau remukkan?

“Sebelum kau pecahkan bisulmu dengan pisau, bagaimana mungkin penyakitmu itu dapat sembuh?
Sebelum tabib memulihkan kesehatanmu dengan obatnya yang pahit, bagaimana mungkin penyakitmu dapat hilang?

“Ketika seorang penjahit menggunting sepotong kain, sedikit demi sedikit, apakah ada orang yang mendatanginya dan berteriak: Mengapa kau rusak satin indah ini?
Apa gunanya serpihan-serpihan kain satin?

Ketika para tukang datang untuk memperbaiki bangunan tua, bukankah mereka memulai pekerjaan mereka dengan menghancurkan bangunan itu terlebih dahulu?
“Lihatlah para tukang kayu, pandai besi, atau tukang daging.
Kau akan temukan bahwa penghancuran adalah awal dari pembaharuan.

Penderitaan adalah awal dari pencerahan. Bila kau tak membiarkan biji-biji gandum itu untuk digiling, dari mana dapat kau peroleh roti untuk makananmu?”

Truck Yang Terjepit


Sebuah truk yang besar Mitsubishi Fuso Tronton bergerak melewati jalan di bawah rel kereta api.

Truk itu terjepit diantara jalan dan balok penyangga rel kereta api di atas.

Semua usaha para ahli untuk membebaskannya tidak berhasil sehingga lalu lintas sama sekali macet.

Seorang anak kecil berulang kali mencoba menarik perhatian mandor yang bekerja di situ, tetapi selalu dikesampingkan.

Akhirnya dengan sangat gusar, mandor itu berkata,
"Saya kira engkau datang untuk mengatakan kepada kami bagaimana caranya menyelesaikan pekerjaan ini?"

"Ya," kata anak itu.
"Coba kempeskan sedikit ban truk itu." lanjut sang anak . . . . .

Dalam pikiran orang awam terdapat banyak kemungkinan.
Dalam pikiran orang ahli hanya ada beberapa saja.

Pesawat Pemburu


Serombongan pemburu menyewa pesawat untuk menerbangkan mereka ke daerah hutan.

Dua minggu kemudian pilot datang untuk menjemput mereka. Ia mengamati binatang yang mereka tembak dan berkata: "Pesawat ini tidak akan membawa lebih dari satu kerbau liar. Kamu harus meninggalkan yang lain."

"Tetapi tahun lalu pilot mengizinkan kami membawa dua ekor hewan dalampesawat seperti ini," protes para pemburu.

Pilot meragukannya, tetapi akhirnya berkata: "Ya, kalau kamu melakukan itu tahun lalu, kami kira, kami bisa melakukannya lagi."

Maka pesawat lepas landas dengan tiga orang dan dua kerbau.Tetapi tidak dapat naik tinggi dan jatuh membentur pada bukit terdekat.

Seorang pemburu berkata kepada yang lain: "Di mana kiranya kami ini?"
Yang lain memeriksa tempat sekitar dan berkata:
"Kupikir, kami kira-kira dua mil sebelah kiri dari tempat kecelakaan kami tahun lalu."
Belajarlah dari kesalahan masa lalu.
Experience is our best teacher

Thursday, March 6, 2008

Pasangan dari Tuhan


Bertahun-tahun yang lalu, Aku berdoa kepada Tuhan untuk memberikanku pasangan hidup, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab.

Tidak hanya meminta kepada Tuhan, Aku juga menjelaskan kriteria pasangan yang kuinginkan. Aku menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian.

Aku bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini kuimpikan. Sejalan dengan berlalunya waktu, Aku menambahkan daftar kriteria yang kuinginkan dalam pasanganku.

Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hatiku,
" Hamba-Ku, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan. "
Aku bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab, " Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar." "

Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dari-Mu?" "

Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskannya kepada-Mu, Adalah suatu ketidak adilan dan ketidak benaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau.

Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar,

atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam,
atau seseorang yang mudah mengampuni tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."

Kemudian Ia berkata kepadaku, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu.

Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.

Pernikahan adalah seperti sekolah - suatu pendidikan jangka panjang.
Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid.

Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna.
Aku memberikanmu seseorang yang dapat tumbuh bersamamu.

"Artikel Ini untuk: yang sudah menikah, yang baru saja menikah, yang sedang mencari...
Source :
AYI

Burung India



Seorang pedagang memiliki seekor burung di dalam sangkar.

Dia pergi ke India, negeri dari mana burung tersebut berasal, dan bertanya kepada burung tersebut, apakah dia dapat membawakan sesuatu untuknya.

Si burung menjawab, agar dia dibebaskan, tetapi ditolak. Maka burung tersebut meminta sang pedagang untuk mengunjungi suatu hutan di India dan mengumumkan penangkapan dirinya kepada burung-burung yang bebas di sana.

Sang pedagang menyetujui, dan tidak lama setelah dia berbicara kepada seekor burung liar, persis seperti burung miliknya, burung tersebut jatuh, dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri. Jatuh dari atas pohon ke tanah.

Sang pedagang berpikir, bahwa burung ini pasti bersaudara dengan burung yang dimilikinya, dan merasa sedih bahwa dia akan menjadi sebab kematiannya.

Ketika dia pulang, si burung bertanya kepadanya, apakah dia telah membawa berita gembira dari India.

“Tidak,” jawab sang pedagang, “Aku khawatir bahwa beritaku merupakan berita buruk. Satu dari saudaramu pingsan dan jatuh di kakiku segera setelah aku menyebut penangkapan atas dirimu.”

Segera setelah kata-kata tersebut selesai diucapkan, burung milik pedagang tersebut pingsan dan jatuh ke dasar sangkar.
“Berita tentang kematian saudaranya telah membunuhnya pula,” pikir si pedagang.

Dengan sedih, ia mengambil burung tersebut dan meletakkannya di atas kusen jendela. Seketika burung tersebut hidup kembali dan terbang ke pohon yang terdekat.

“Sekarang Anda tahu,” katanya, “bahwa apa yang Anda pikir malapetaka sesungguhnya adalah kabar yang baik bagiku. Dan pesan tersebut merupakan saran bagaimana bertindak sehubungan dengan kebebasan diriku telah dikirim kepadaku melalui Anda, penangkapku.”

Dan burung tersebut terbang bebas.

Pohon Yang Kehilangan Roh nya


Cerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan.

Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon.
Untuk apa?

Kebiasaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak. Inilah yang mereka lalukan, dengan tujuan supaya pohon itu mati.

Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu.Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan apa yang terjadi sungguh menakjubkan.

Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai akan rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan dengan demikian, mudahlah ditumbangkan.

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.

Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati. Nah, sekarang apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk primitif di kepulauan Solomon ini?

O, sangat berharga sekali! Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah kita berteriak pada anak kita?
Ayo cepat!
Dasar leletan!
Bego banget sih..
Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan.. .
Ayo, jangan main-main disini.
Berisik!
Bising!

Atau, pernahkah kita berteriak kepada orang tua kita karena merasa mereka membuat kita jengkel?
Kenapa sih makan aja berceceran?
Kenapa sih sakit sedikit aja mengeluh begitu?
Kenapa sih jarak dekat aja minta diantar?
Mama, tolong nggak usah cerewet, boleh nggak?

Atau, mungkin kitapun berteriak balik kepada pasangan hidup kita karena kita merasa sakit hati?
Cuih! Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu, tahu nggak?!
Bodoh banget jadi laki nggak bisa apa-apa!
Aduh.. Perempuan kampungan banget sih?!

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya.
Eh tolol, soal mudah begitu aja nggak bisa.
Kapan kamu mulai akan jadi pinter?

Ingatlah, setiap kali kita berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai.
Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita.

Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.

Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan. Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan?!

Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter. Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begituuuu jauhnya.

Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak.Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh pada orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki.

Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas. Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan.

Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh pada orang lain ataupun roh pada hubungan Anda, selalulah berteriak.

Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima.
Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik sebagai balasannya.
Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita.
Djodi

Wednesday, March 5, 2008

Tips dalam Mengelola Layanan Unggul



“SERVICE R ART”

System & Standards
- Pastikan adanya sistem dan struktur yang jelas dan mendukung karyawan Anda untuk memberikan layanan yang unggul.

Environment
- Ciptakan lingkungan yang mendukung kesetiaan karyawan

Role Model
- Jadilah Panutan dan selalu melaksanakan prinsip Service Excellence

Vision
- Pastikan semua karyawan memahami visi, tujuan, rencana dan berbagai latihan yang berhubungan dengan layanan unggul.

Internal Customers
- Perlakukan karyawan sebagai pelanggan Anda.

Contribution
- Pastikan karyawan memahami peran dan ekspektasi mereka dalam memberikan layanan unggul.

Employment
- Rekrut karyawan yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk memberikan layanan unggul.
Berikan reward & recognition

Accountability
- Berikan rasa tanggung jawab kepada staf dalam memberikan layanan unggul.

Relationships
- Bentuk dan pelihara hubungan dengan karyawan melalui komunikasi yang efektif.

Tools
- Siapkan staf Anda dengan alat, sumber daya dan kewenangan yang dibutuhkan untuk memberikan layanan unggul.


Djodi Ismanto

Tidak Ada Manfaat Khawatir


Kata Robert T Kiyosaki, jika taruhan sudah dipasang, jangan lagi pernah khawatir. ( Walaupun taruhan itu sebenarnya juga dilarang oleh agama ).

Coba saya tanya, apa sih manfaat khawatir?
Apakah akan menyelesaikan masalah?

Tidak kan?

Mengapa harus khawatir?
Khawatir adalah hanya sebuah sinyal sebagai tanda ada kemungkinan bahaya. Ini sebagai umpan balik kepada kita supaya lebih berhati-hati. Namun hanya akan bermanfaat jika kita belum melakukan sesuatu atau masih ada yang bisa kita lakukan untuk mengurangi atau menghilangkan kekuatiran.

Tetapi jika semuanya sudah berjalan dan tidak ada yang bisa kita lakukan lagi, apa manfaatnya khawatir?

Tidak ada yang bisa dilakukan oleh kekuatiran terhadap apa yang sudah dilakukan. Yang bisa hanya berdo’a dan bertawakal kepada Allah. Itu saja. Jika masih ada yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya, maka bukan “khawatir” yang diperlukan tetapi “tindakan”.

Jika tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, maka yang diperlukan adalah do’a dan penyerahan kepada Allah.
Justru berpikir khawatir akan memperburuk masalah. Jika kita melihat hukum daya tarik, khawatir hanya akan menarik hal-hal yang negatif. Justru karena kita khawatir akan memperkecil kemungkinan keberhasilan apa yang sudah kita lakukan.

Khawatir tidak ada gunanya, oleh karena itu jangan khawatir lagi.
Gantilah dengan yakin, optimis, do’a, dan tawakal.


Wassalam
Rahmat

Sepatu Si Bapak Tua


Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota.Saat menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat.

Bus ini hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi.

Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada sibapak tua, ''Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah juga?'' Bapak tua itu menjawab dengan tenang,
''Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.''

Bapak tua dalam cerita di atas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka. Ia telah berhasil melepaskan keterikatannya pada benda. Ia berbeda dengan kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.

Sikap mempertahankan sesuatu , termasuk mempertahankan apa yang sudah tak bermanfaat lagi , adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan keterikatan. Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu, Anda akan mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu.

Anda bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda tersebut. Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang Anda miliki karena hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.

Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah.

Harta kita bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita bisa menjaga dan memanfaatkannya.

Peran kita dalam hidup ini hanyalah menjadi media dan perantara.Semuanya adalah milik Tuhan dan suatu ketika akan kembali kepadaNya.
Tuhan telah menitipkan banyak hal kepada kita: harta benda, kekayaan,pasangan hidup, anak-anak, dan sebagainya.
Tugas kita adalah menjaga amanah ini dengan baik, termasuk meneruskan pada siapa saja yang membutuhkannya.

Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah secara berbeda. Kalau biasanya Anda merasa terganggu begitu ada orang yang membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur.

Kenapa?
Karena Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menjadi ''perpanjangan tangan'' Tuhan. Anda tak merasa terganggukarena tahu bahwa tugas Anda hanyalah meneruskan ''titipan'' Tuhan untuk membantu orang yang sedang kesulitan.

Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang berkelimpahruahan dan penuh anugerah bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup yang senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang. Semua orang akan merasa menang, tak ada yang akan kalah.

Alam semesta sebenarnya bekerja dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan bagi semua pihak.Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dariseorang bijak:

''Engkau tidak pernah memiliki sesuatu
Engkau hanya memegangnya sebentar
Kalau engkau tak dapat melepaskannya,
engkau akan terbelenggu olehnya.
Apa saja hartamu,
harta itu harus kau pegang dengan tanganmu seperti engkau menggenggam air.
Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas.
Akulah itu sebagai milikmu dan engkau mencemarkannya.
Lepaskanlah, dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya''.

Tuesday, March 4, 2008

Hindari Diri Dari Dosa


Suatu hari, sebatang pohon alpukat menikmati sejuknya udara sore. Tiba-tiba keasyikannya terusik oleh sapaan dari sebutir biji benalu yang sedang diterbangkan angin kian kemari. "Selamat sore Kat", sapa benalu. "Oh, kamu Lu, selamat sore juga", balas alpukat. "Wah Kat, sekarang kamu sudah besar,ranting-rantingmu banyak, daunmu lebat, buahmu besar-besar", puji benalu. "Iya Lu, itu karena akar-akar saya banyak dan rajin menghisap sari-sari makanan dari dalam tanah", kata alpukat dengan bangga.

Kemudian benalu melanjutkan, "Hampir sepanjang hari saya diterbangkan angin, rasanya badan saya capek sekali, boleh tidak saya beristirahat di salah satu rantingmu, satu malam saja?". Tanpa berpikir panjang alpukat langsung mengabulkan permohonan sang benalu, "Jangankan satu benalu kecil, lima puluhpun saya masih tidak terasa,' pikir alpukat.

Maka sejak itu benalu tinggal di pohon alpukat dan tanpa disadari oleh alpukat, benalu makin hari makin besar dan beranak banyak. Suatu hari alpukat melihat tubuhnya sudah kurus kering, saat itulah alpukat sadar bahwa benalu sudah merugikan dirinya.
Lalu alpukat memutuskan untuk menyuruh benalu meninggalkan tubuhnya.
"Kat, semua akar-akar saya sudah tertancap dalam tubuhmu jadi jangan pernah bermimpi kalau saya akan memenuhi permintaanmu", kata benalu sambil tertawa. Semakin hari Alpukat makin kurus dan akhirnya mati karena benalu terus menghisap makanan dari tubuh alpukat tanpa belas kasihan.

Banyak orang yang bertindak seperti alpukat ini, waktu dosa-dosa kecil datang menggoda, dan hadir dengan segala daya tariknya, mereka tidak langsung menolaknya, mereka pikir, 'Ah itu hanya dosa kecil saja, tidak akan memengaruhi keimanan saya'. Saya akan tetap rajin berdoa.

Terbukti bahwa setiap orang yang meremehkan dosa, yang kecil sekalipun, akan terjerat oleh dosa yang lebih besar lagi. Satu hal yang harus kita ingat, kalau hari ini kita melakukan satu dosa kecil, dosa kecil tersebut makin lama akan menjadi besar dan melahirkan dosa-dosa lain karena salah satu sifat dosa adalah melahirkan dosa.

"Jauhilah nafsu orang muda. Jangan merasa diri kuat iman sehingga Anda bebas bermain-main dengan dosa. Setiap perbuatan dosa, harus kita jauhi dan hindari."