
1. Anger is a condition in which the tongue works
faster than the mind.
- Kemarahan adalah suatu kondisi dimana lidah bekerja
lebih cepat daripada pikiran.
2. You can't change the past, but you can ruin the
present by worrying over the future.
- Anda tidak dapat mengubah masa lampau, tapi anda
dapat merusakkan masa kini dengan merisaukan masa depan .
3. God always gives His best to those who leave the choice with Him.
- Allah selalu memberikan yang terbaik kepada mereka yang menyerahkan pilihan itu kepadaNya.
4. All people smile in the same language.
- Semua orang tersenyum didalam bahasa yang sama.
5. A hug is a great gift ..One size fits all. It can be given for any occasion and it's easy to exchange.
-Pelukan itu adalah pemberian yang besar. Satu ukuran saja tapi cocok untuk semua . Itu dapat diberikan pada setiap masa dan mudah untuk
dipertukarkan.
6. Everyone needs to be loved...especially when they do not deserve it.
- Setiap orang perlu untuk dikasihi...teristimewa
sekali apabila mereka tidak layak untuk menerimanya.
7. The real measure of a man's wealth is what he has invested in eternity.
- Ukuran yang sesungguhnya dari kekayaan seseorang
adalah kalau dia sudah mengadakan investasi bagi masa kekekalan diakhirat.
8. Laughter is God's sunshine.
- Tertawa itu adalah merupakan sinar suryanya Tuhan.
9. Everyone has beauty but not everyone sees it.
- Setiap orang mempunyai keindahan tapi tidak setiap orang melihatnya.
10. It's important for parents to live the same things they teach.
- Adalah penting bagi orang tua untuk menghidupkan hal-hal yang sama dengan apa yang mereka ajarkan.
11. Thank God for what you have, TRUST GOD for what you need.
- Berterima kasihlah kepada Allah untuk apa yang anda dapat .
PASRAHKANLAH KEPADA Allah untuk apa yang anda perlukan.
12. If you fill your heart with regrets of y ester day and the worries of tomorrow,
you have no today to be thankful for.
- Kalau anda memenuhi hati anda dengan penyesalan hari kemarin dan
kekuatiran hari esok, maka anda tidak mempunyai hari ini untuk disyukuri.
13. Happy memories never wear out....re-live them as often as you want.
- Kenangan bahagia tidak pernah lapuk..hidupkanlah itu kembali sesering yang anda kehendaki.
14. Home is the place where we grumble the most, but are often treated the best.
- Rumah itu adalah tempat dimana kita paling banyak mengomel, tapi
seringkali diperlakukan secara paling baik.
15. The choice you make today will usually affect tomorrow.
- Pilihan yang anda buat hari ini biasanya mempengaruhi hari esok anda.
16. Take time to laugh, for it is the music of the soul.
- Ambillah kesempatan untuk tertawa, karena itu adalah musik dari jiwa.
17. If anyone speaks badly of you, live so none will believe it.
- Kalau seseorang membicarakan keburukan anda, hiduplah demikian rupa
sehingga tidak ada seorang pun mempercayainya.
18. Patience is the ability to idle your motor when you feel like stripping your gears.
- Kesabaran adalah kesanggupan untuk menetralkan versneling mobil anda
pada saat anda merasa ingin untuk merombak versneling itu.
19. Love is strengthened by working through conflicts together.
- Cinta itu diteguhkan dengan jalan melalui pertikaian bersama-sama.
20. The best thing parents can do for their children is to love each other.
- Hal yang terbaik yang dapat dilakukan orang tua bagi anak-anak mereka
adalah saling mengasihi satu sama lain .
21. Harsh words break no bones but they do break hearts.
- Kata-kata yang kasar tidak dapat meremukkan tulang tapi itu dapat
meremukkan hati.
22. To get out of a difficulty, one usually must go through it.
- Untuk keluar dari kesulitan, seseorang biasanya harus berjalan
menembusnya.
23. We take for granted the things that we should be giving thanks for.
- Kita selalu menganggap sudah selayaknya hal-hal yang seharusnya kita
bersyukur untuk itu.
24. Love is the only thing that can be divided without being diminished..
- Cinta Kasih adalah satu-satunya hal yang dapat kita bagikan tanpa
menjadikannya berkurang.
25. Happiness is enhanced by others but does not depend upon others.
- Kebahagiaan itu ditingkat oleh orang-orang lain tapi tidak bergantung pada
orang-orang lain.
26. You are richer today if you have laughed, given or forgiven.
- Anda menjadi lebih kaya hari ini kalau anda sudah tertawa, sudah
memberikan sesuatu ataupun mengampuni seseorang.
27. For every minute you are angry with someone, you ose 60 seconds of happiness that you can never get
back.
- Untuk setiap menit yang anda marah kepada seseorang, anda kehilangan 60
detik kebahagiaan yang anda tidak dapat peroleh kembali.
28. Do what you can, for who you can, with what you have, and where you are.
- Perbuatlah apa yang anda dapat, kepada siapa pun yang anda boleh lakukan,
dengan apa yang ada pada anda ,dan dimanapun anda berada.
The best gifts to give: -- Pemberian yang terbaik yang dapat diberikan.
To your friend - loyalty - Kepada kawan anda - kesetiaan.,
To your enemy - forgiveness; -- Kepada lawan anda - pengampunan. ,
To your boss - service;-- Kepada boss anda - pelayanan ,
To a child - a good example; -- Kepada anak anda- teladan,
To your parents - gratitude and devotion; -- Kepada orang tua anda - perasaan bersyukur dan kasih sayang, To your mate - love and faithfulness; -- Kepada pasanganmu - cinta dan kasih setia
To all men and women - love; -- Kepada semua orang -- cinta kasih
To God - your life.-Kepada Tuhan - hidupmu.
Thursday, July 12, 2007
WISE WORDS
Posted by
DJODI ISMANTO
at
12.7.07
0
comments
Wednesday, July 11, 2007
Perjuangan Rakyat Kecil

Kepada siapa lagi rakyat kecil sekarang ini bisa mengeluh, walaupun mereka ngomong sampai berbuih sekalipun jangan harap ada yang mau mendengarkan suara mereka. Suara mereka terlalu kecil dan tidak berarti sehingga tidak akan pernah bisa mendapatkan perhatian. Sarana mereka satu-satunya ialah demo di depan kantor permerintah mis: di kantor PLN dan Gas Negara dengan risiko akan digebukin oleh aparat.
Mass media baru tertarik untuk memberitakannya, apabila pada saat demo tersebut terjadi huru-hara. Sudah bertahun-tahun lamanya kita mencanangkan Indonesia sebagai negara reformasi, tetapi kenyataannya budaya yang berlaku tetap saja budaya "Sungkem dan Bungkem" seperti ketika jaman VOC dulu.
Memang harus diakui bahwa di Indonesia sekarang ini sudah banyak sekali media, mulai dari media cetak sampai dengan media elektronik, Radio, TV maupun koran online, tetapi jawablah dengan jujur, apakah tulisan wong kecil disana bisa dijadikan sebuah berita yang spektakuler ?
Kalau bisa ditayangkan sebagai surat atau komentar pembaca saja
sudah bagus. Masalahnya berita yang ditayangkan di media utama
(mainstream) hanya ditulis oleh para wartawan profesional atau para tokoh politik. Disamping itu di media utama: Redaksi dan para
Editornya yang mendikte dan menentukan berita apa saja yang
sebaiknya diketahui atau tidak diketahui oleh kalangan publik.
Berita disana ditentukan oleh sang pemilik modal, politisi, pembisnis bahkan terkadang oleh penguasa. Di sana tidak ada tempat bagi orang-orang biasa ataupun untuk wong kecil.
Di koran mainstream manapun juga redaksi dan editor yang menentukan berita apa saja yang harus dimuat. Pemilihan berita pada umumnya bukan mencerminkan kepentingan publik, melainkan kepentingan bisnis, politik maupun pemodal, disamping itu juga karena adanya keterbatasan space.
Jurnalisme manstream (jurnalisme resmi) di mana-mana telah kehilangan landasan filosofis sehingga dengan mudah mereka mendiktekan apa saja yang sebaiknya diketahui atau tidak diketahui
oleh publik. Yang dicorongkan disana bukannya suara atau inspirasi murni dari rakyat melainkan suara hati dari sang pemilik modal. Hal-hal inilah yang mendorong lahirnya media persuasif yang merupakan sebagai media akar rumput, media alternatif atau yang lebih dikenal sebagai "Citizen Jurnalisme.
Media yang bisa menjadi corong suara orang biasa atau suaranya wong kecil. Semua berita yang ditayangkan berasal dari publik dan dibaca oleh publik. Jadi pembacalah yang akan memilih dan menentukan berita pilihannya bukan para redaksi.
Di koran online.com setiap warga bisa menjadi reporter dan penulis oleh sebab itulah reporter dari koran underground ini lebih dikenal dengan sebutan "Citizen Reporter" - pewarta warga. Mereka adalah orang biasa, mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa, buruh kecil sampai dengan dosen bisa jadi citizen reporter. Citizen jurnalism bisa disebut juga sebagai junarlisme advokasi, karena disini setiap penulis dapat memberitakan perjuangan mereka. Misalnya memberitakan tentang kinerja pejabat PLN & Gas Negara yang tidak becus, pencemaran lingkungan, mulai dari pembakaran hutan sampai dengan semburan lumpur panas lapindo. Dalam citizen jurnalism siapa pun dapat membuat, menyebarkan, bahkan menjadi narasumber sekaligus mengonsumsi berita.
Regards,
Eddy Miraddy ( Medan HRD Club )
Posted by
DJODI ISMANTO
at
11.7.07
0
comments
TONG SAMPAH

Seorang pria tua yang bijak memutuskan untuk pensiun dan membeli rumah mungil dekat sebuah sekolah SMP.
Selama beberapa minggu ia menikmati masa-masa pensiunnya dengan tenang dan damai.
Kebetulan saat itu sedang masa liburan sekolah.
Tak berapa lama kemudian, masa sekolah tiba. Dan, sekolah itu pun penuh dengan anak-anak. Suasana tenang dan nyaman menjadi sedikit berubah.
Namun yang paling menjengkelkan pak Tua adalah, setiap hari ada tiga anak laki-laki lewat di depan rumah yang suka memukuli tong sampah yang ada di pinggir jalan.
Mereka membikin keributan sepanjang hari dan berulah seolah-olah menjadi pemain perkusi hebat. Begitu terus dari hari ke hari.
Sampai akhirnya pak Tua merasa harus melakukan sesuatu pada mereka.
Keesokan harinya, pak Tua keluar rumah sambil tersenyum lebar menghampiri
tiga anak laki-laki yang sedang asyik memukuli tong sampah. Ia menghentikan
permainan mereka, dan berkata, "Hai, anak-anak! Kalian pasti suka
bersenang-senang. Saya suka sekali dengan cara kalian bersenang-senang
seperti ini. Sewaktu saya masih kecil, saya juga suka bermain-main seperti
kalian. Nah, apakah kalian mau saya beri uang?"
"Mau.. mau.." sahut ketiga anak itu serempak.
"Okay, begini," pak Tua itu tersenyum. Lalu ia mengeluarkan tiga lembar
uang ribuan dari sakunya. Katanya, "Masing-masing dari kalian saya beri
uang seribu. Tapi kalian harus berjanji mau bermain-main di sini dan
memukuli tong sampah ini setiap hari."
Anak-anak itu senangnya luar biasa. Sejak itu setiap hari mereka "bekerja"
memukuli tong sampah itu dengan penuh semangat.
Beberapa hari kemudian, pak Tua itu menghampiri dan menyambut "pekerjaan"
mereka dengan penuh senyum. Namun kali ini senyumnya tampak agak sedih.
Katanya, "Nak, kalian tahu khan situasi krisis akhir-akhir ini membuat uang
pensiun saya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari."
Ia menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak itu menunggu apa yang diucapkannya.
Lanjut pak Tua. "Mulai hari ini saya hanya bisa membayar kalian lima ratus
saja untuk tugas kalian memukuli tong sampah ini."
Anak-anak itu tampak kecewa dengan keputusan pak Tua, namun mereka masih
bisa menerimanya. Lalu mereka melanjutkan tugas mereka membuat keributan
sepanjang hari.
Beberapa hari kemudian, pak Tua itu dengan wajah memelas mendekati
anak-anak yang sedang memukuli tong sampah. Katanya, "Maaf, bulan ini saya
belum menerima kiriman uang pensiun. Saya hanya bisa memberi kalian bertiga
seribu Rupiah saja."
"Apa..? Seribu untuk bertiga?," protes pemimpin pemain tong sampah itu. "
Apa pak Tua kira kami ini mau menghabiskan waktu kami di sini hanya untuk
uang segitu? Ah, yang benar saja! Pak Tua ini tidak masuk akal.
Mulai hari ini kami tidak mau lagi melakukan tugas ini lagi. Kami keluar."
Ketiga anak lelaki itu pergi meninggalkan pak Tua itu dengan
bersungut-sungut.
Dan, sejak hari itu pak Tua menikmati ketenangan hingga akhir hayatnya.
Begitulah bila kita mencampur-adukkan kegembiraan hati dengan "uang gaji".
Seringkali kita kehilangan keceriaan hanya karena kita menganggap
"keceriaan" itu adalah sebuah pekerjaan yang dibayar, maka bila
"bayarannya" berkurang maka kesenangan pun jadi berkurang.
Jangan sampai kegembiraan anda menghilang di balik beberapa lembar uang
gajian belaka.
Regards,
DJODI ISMANTO
Mitsubishi Motors - Group Sumatra Berlian
From nice city of Medan
Posted by
DJODI ISMANTO
at
11.7.07
0
comments
KETEGARAN

Di California Selatan ada sebatang pohon yang terkenal di seluruh Amerika. Sepanjang tahun pohon itu dikunjungi ribuan wisatawan dari dalam dan luar negeri. Bentuk pohon itu sama sekali tidak sedap dipandang mata. Tingginya kurang dari 2 meter dengan batang agak pipih & melintir. Hanya sebagian cabang ditumbuhi daun, sedang bagian lainnya gundul.
Pohon itu menjadi terkenal karena tumbuh di atas batu granit yang keras. Tingginya sekitar 100 mtr di atas permukaan laut, menghadang langsung Samudera Pasifik yang anginnya keras mendera.
Tidak ada pohon lain yang tumbuh di sekitarnya, kecuali pohon itu.
Rupanya beberapa tahun lalu sebutir biji pohon terbawa angin, dan jatuh di celah batu granit yang ada tanahnya.
Benih itu kemudian tumbuh, tetapi setiap kali batang muncul keluar, langsung hancur diterpa angin Pacific yang kencang.
Terkadang pohon itu tumbuh agak besar tapi badai kembali memporakporandakannya. Sekalipun demikian, akarnya terus tumbuh menghunjam ke bawah mencapai tanah melewati poros-poros batu granit sambil menghisap mineral-mineral di sekitarnya.
Sementara itu batangnya tumbuh terus setelah berkali-kali dihancurkan
angin kencang, makin lama makin kokoh & liat sampai akhirnya cukup kuat menahan terpaan badai, sekalipun bentuknya tidak karuan.
Oleh orang Amerika, pohon tersebut dianggap sebagai simbol ketegaran karena seakan-akan memberi pelajaran kepada umat manusia untuk tetap tabah & gigih dalam menghadapi berbagai cobaan & gelombang kehidupan.
see other article on :http://djodiismanto.blogspot.com/
Regards,
Djodi Ismanto
Mitsubishi Motors - Group Sumatra Berlian
From nice city of Medan
adindagolid@yahoo.com
Posted by
DJODI ISMANTO
at
11.7.07
0
comments
Tuesday, July 10, 2007
Asal Mula Kata Pengemis
Eddy Miraddy ( Medan HRD Club )Akhir-akhir ini di banyak kota, baik kota kecil, besar bahkan kota metropolitan pun tak lepas dari semakin suburnya peminta-minta alias pengemis. Walau pun terkadang sering di razia keberadaan mereka sulit untuk diberantas, mungkin karena kemiskinan dan minimnya lapangan pekerjaan yang membuat mereka terpaksa berprofesi demikian atau memang sebagian dari mereka sudah diwariskan secara turun temurun. Ironis memang kalau Koes Plus bilang dalam lagunya Indonesia tanah air kita diibaratkan kolam susu (sangkin suburnya).
Tapi sayang oleh penguasa sendiri pun juga masih mewarisi sifat-sifat yang diturunkan dari sebagian nenek moyang dahulu yang punya hobby sebagai pengemis sehingga hutang negara kitapun semakin menggunung alhasil anak-cucu yang menanggungnya.
Betulkah sebagian orang-orang Indonesia ada yang mempunyai hobby sebagai pengemis..??, ternyata teka-teki ini ada benarnya kalau dirunut dari sejarahnya dulu, ceritanya begini :
Pada saat itu penguasa Kerajaan Surakarta Hadiningrat di pimpin oleh seorang Raja bernama Paku Buwono X, dimana para penguasa pada masa itu memang sangat dermawan serta gemar membagi-bagikan sedekah untuk kaum papa yang tak berpunya terutama menjelang hari Jum’at khususnya pada hari Kamis sore.
Pada hari Kamis tersebut Raja Paku Buwono keluar dari Istananya untuk melihat-lihat keadaan rakyatnya, dari istana menuju Masjid Agung, perjalanan dari gerbang Istana menuju Masjid Agung tersebut ditempuh dengan berjalan kaki yang tentunya melewati alun-alun lor (alun-alun utara), sambil berjalan kaki tentunya diiringi para pengawal sang raja, rupanya di sepanjang jalan sudah dielu-elukan oleh rakyatnya sambil berjejer rapi di kanan-kiri jalan dan sembari menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan kepada sang pemimpinnya.
Pada saat itulah sang raja tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bersedekah dan langsung diberikan kepada rakyatnya berupa uang tanpa ada satupun yang terlewatkan dengan kebiasaan berbagi-bagi berkah tersebut mungkin juga warisan para penguasa sebelumnya (sebelum Paku Buwono X), ternyata kebiasaan tersebut berlangsung setiap hari Kamis (dalam bahasa jawanya Kemis), maka lahirlah sebutan orang yang mengharapkan berkah dihari Kemis dan diistilahkan dengan sebutan NGEMIS (kata ganti untuk sebutan pengguna/pengharap berkah dihari Kemis) dan pelaku-pelakunyapun biasa disebut Pengemis (Pengharap berkah pada hari Kemis).
Namun kata pengemis rupanya telah masuk salah satu kosa kata bahasa Indonesia yang tentunya kata dasarnya bukan emis tapi Kemis (Kamis), ternyata sebutan peminta-minta kalah populer dengan istilah pengemis padahal kata pengemis kalau diurai dan diambil dari kata dasarnya yakni kemis atau emis mungkin tidak dikenal dalam kosa kata bahasa indonesia kecuali kalau ada tambahan awalan pe sehingga muncul istilah “Pengemis”. Lain halnya dengan kata peminta-minta kata dasarnya adalah minta yang artinya jelas bahkan bisa berdiri sendiri tanpa ada awalan pe.
Jadi kalau boleh disimpulkan asal muasal kata atau perkataan pengemis berasal dari Surakarta atau Solo.
Makanya kalau request naik gaji jangan sekali - kali pada hari Kamis , jika anda tidak ingin disebut PENGEMIS . . . . . . .
NB : Di ringkas dari Buku Khasanah Bahasa dalam Kata Per-Kata (Prof. Gorris Keeraf)
Regards,
Sent by :
Djodi Ismanto
From nice city of Medan
www.djodiismanto.blogspot.com
Posted by
DJODI ISMANTO
at
10.7.07
0
comments
Anjing Yang Setia
Suatu hari, si petani harus menjual hasil panennya ke kota. Karena beban berat yang harus di bawanya, dia meminta istrinya ikut serta untuk membantu, agar secepatnya menyelesaikan penjualan dan sesegera mungkin pulang ke rumah. Si bayi di tinggal tertidur lelap di ayunan dan dipercayakan di bawah penjagaan anjing mereka.
Menjelang malam setiba di dekat rumah, si anjing berlari menyongsong kedatangan majikannya dengan menyalak keras berulang-ulang, melompat-lompat dan berputar-putar, tidak seperti biasanya. Suami istri itu pun heran dan merasa tidak tenang menyaksikan ulah si anjing yang tidak biasa. Dan Betapa kagetnya mereka, setelah berhasil menenangkan anjingnya…astaga, ternyata moncong si anjing berlumuran darah segar.
“Lihat pak! Moncong anjing kita berlumuran darah! Pasti telah terjadi sesuatu pada anak kita!” teriak si ibu histeris, ketakutan, dan mulai terisak menangis.
“Ha…benar! Kurang ajar kau anjing! Kau apakan anakku? Pasti telah kau makan!” si petani ikut berteriak panik.
Dengan penuh kemarahan, si petani spontan meraih sebuah kayu dan secepat kilat memukuli si anjing itu dan mengenai bagian kepalanya. Anjing itu terdiam sejenak. Tak lama dia menggelepar kesakitan, memekik perlahan dan dari matanya tampak tetesan airmata, sebelum kemudian ia terdiam untuk selamanya.
Bergegas kedua suami istri itu pun berlari masuk ke dalam rumah. Begitu tiba di kamar, tampak anak mereka masih tertidur lelap di ayunan dengan damai. Sedangkan di bawah ayunan tergeletak bangkai seekor ular besar dengan darah berceceran bekas gigitan.
Mereka pun segera sadar bahwa darah yang menempel di moncong anjing tadi adalah darah ular yang hendak memangsa anak mereka. Perasaan sesal segera mendera. Kesalahan fatal telah mereka lakukan. Emosi kemarahan yang tidak terkendali telah membunuh anjing setia yg mereka sayangi. Tentu, penyesalan mereka tidak akan membuat anjing kesayangan itu hidup kembali.
Pembaca yang budiman,
Sungguh mengenaskan. Gara-gara emosi dan kemarahan yang membabi buta dari ulah manusia, seekor anjing setia yang telah membantu dan membela majikannya, harus mati secara tragis.
Saya rasa demikian pula di kehidupan ini. Begitu banyak permasalahan, pertikaian, perselisihan bahkan peperangan, muncul dari emosi yang tidak terkontrol. Karena itu, saya sangat setuju dengan kata-kata: ”Jangan mengambil keputusan apapun disaat emosi sedang melanda.” Sebab, bila itu yang dilakukan, bisa fatal akibatnya. Sungguh, kita butuh belajar dan melatih diri agar disaat emosi, kita mampu mengendalikan diri secara sabar dan bijak.
Source : Andrie Wongso
Posted by
DJODI ISMANTO
at
10.7.07
0
comments
Saturday, July 7, 2007
Semakin Tergesa-gesa, Semakin Lambat
Seorang pemuda ingin menguasai ilmu pedang. Ia mendengar ada guru ilmu pedang
Akhirnya ia menemukan guru ilmu pedang
Sang Guru mengangguk-angguk.
Tanya anak muda, "Jika hamba belajar dengan tekun, berapa lama waktu
Jawab guru, "Hemm, barangkali sepuluh tahun"
Tanya anak muda, "Guru, ayah hamba sudah tua dan hamba harus merawatnya.
Hamba tak bisa meninggalkannya lama-lama. Jika hamba berlatih lebih giat lagi, berapa lama saya bisa berhasil?"
Jawab guru, "Hemm, kalau begitu, bisa jadi dua puluh tahun."
Anak muda ini terkejut mendengar jawaban gurunya. Keringatnya mulai bercucuran. Ia bertanya penuh keheranan, "Tadi guru menyebut sepuluh tahun, lalu dua puluh tahun. Begini saja guru, hamba bersedia melakukan apa saja, menempuh jalan sesulit apa pun, asal saya dapat menguasainya dalam tempo
Jawab guru sambil terkekeh-kekeh, "Kalau
Pojok Renungan Editor: Sabarlah dalam mencapai tujuan. Jangan bebani langkah dengan hal-hal selain tujuan kita. Mereka
see other article on :http://djodiismanto.blogspot.com/
Regards,
Djodi Ismanto
From nice city of Medan
Posted by
DJODI ISMANTO
at
7.7.07
0
comments
Friday, July 6, 2007
Strive For Excellence

Diruang training , dirumah, dikantor, diclubbing , dijalanan, di pesawat , dihalte bus, dikereta api, diwarung , didesa saya telah bertemu dengan banyak orang. Kebahagiaan tersendiri buat saya bisa bertegur sapa, apalagi berbagi cerita.
Setelah sekian lama saya juga berbagi cerita dengan anda apa yang telah saya alami melalui blog ini, walaupun saya tidak mengenal anda tapi saya yakin anda bisa merasakan kebahagiaan itu.
Kebahagiaan itu begitu indah, menebarkan semangat hidup dengan keceriaan dan suka cita. Selagi sempat bangkitlah semangat hidup anda, raihlah kebahagiaan anda, raihlah mimpi-mimpi anda, raihlah harapan anda, raihlah bintang dilangit , berusahalah untuk mencapai yang terbaik.
Saya berharap anda juga bersedia berbagi cerita dengan saya tentang kebahagiaan, kesuksesaan, kesehatan, keceriaan yang telah anda alami. Jika suatu saat nanti ketemu dan bertatap muka, kabarkan keajaiban hidup yang telah anda alami, bagikan kebahagiaan, kegembiraan itu pada saya.
Have a nice week end
From nice city of Medan
Posted by
DJODI ISMANTO
at
6.7.07
0
comments
KATAK atau . . . . . . . . . ?
Katak ? . . . . . atau lainnya . . . ?
Coba perhatikan seksama dari berbagai sudut pandang . . . . . . .

Moral :
Pada saat kita membuat keputusan dari suatau masalah haruslah dengan seksama , lihat lah dari berbagai sudut dan situasi , dari situ barulah kita bisa membuat keputusan yang tepat.
Keputusan yang reaktif atau terlalu cepat cenderung menghasilkan keputusan yang kurang tepat
Regards,
DJODI ISMANTO
Mitsubishi Motors - Group Sumatra Berlian
From nice city of Medan
Posted by
DJODI ISMANTO
at
6.7.07
0
comments
3 Orang Cacat

Pada suatu hari Allah memerintahkan malaikat bertemu dengan tiga orang , ketiga-tiga mereka cacat; seorang botak, seorang kudis dan seorang lagi buta.
Malaikat yang menyamar seperti manusia itu bertanya si-kudis "Jika Allah hendak kurniakan sesuatu untuk kamu, apakah yang kamu mau?" Si-kudis menjawab, "Saya mau kulit saya sembuh seperti biasa dan diberi kekayaan yang banyak." Dengan takdir Allah, kulitnya kembali sembuh dan dikurniakan rezeki yang banyak.
Kemudian malaikat bertanya si-botak masalah yang sama. Si-botak menjawab, "Saya mau kepala saya berambut semula supaya kelihatan tampan dan diberikan harta yang banyak." Tiba-tiba, dengan kurnia Allah si-botak itu kembali berambut dan diberikan harta yang banyak.
Setelah itu malaikat bertanya si-buta pertanyaan yang sama. Si-buta menjawab, "Saya hendak mata saya disembuhkan semula dan diberikan harta yang banyak." Dengan takdir Allah, mata si-buta menjadi normal kembali dan dikurniakan kekayaan yang melimpah.
Selang beberapa bulan, Allah memerintahkan semula malaikat untuk berjumpa dengan ketiga-tiga orang cacat itu. Kali ini malaikat menyamar sebagai peminta sedekah. Dia berjumpa dengan orang pertama yang dulunya kudis dan meminta sedikit uang. 'Si-kudis' itu tidak mau memberikan bantuan malah menghardik malaikat. Malaikat berkata, "Saya rasa saya kenal kamu. Dulu kamu kudis..dan miskin. Allah telah menolong kamu." Si-kudis tidak mengaku. Dengan kuasa Allah, si-kudis yang sombong itu menjadi kudis semula dan bertukar menjadi miskin.
Kemudian malaikat berjumpa dengan si-botak yang telah menjadi kaya dan berambut lebat. Ternyata saat malaikat meminta bantuan, si-botak juga enggan membantu, malahan dia tidak mengaku bahawa dia dulu botak. Oleh karena kesombongannya , Allah menjadikan kepalanya botak semula dan bertukar menjadi miskin.
Malaikat berjumpa dengan orang buta yang telah diberikan penglihatan. Saat malaikat meminta bantuan, si-buta memberikan keseluruhan hartanya dan berkata, "Ini semua harta pemberiaan Allah. Ambillah kesemuanya. Mata saya yang kembali sehat ini adalah lebih berharga daripada kesemua harta ini." Malaikat tidak mengambil pemberian itu. Dia memberitahu bahawa dia adalah malaikat yang pernah datang dulu. Kedatangannya kali ini ialah untuk menguji siapa di antara mereka bertiga yang bersyukur.
Si-buta yang bersyukur itu terus dapat menikmati kekayaan dan penglihatannya. Manakala si-kudis dan si-botak kekal dengan keadaannya asalnya.
Moral & Hikmah
- Allah mengurniakan kesenangan dan kebahagian adalah sebagai ujian untuk melihat siapakah di antara mereka yang bersyukur.
- Manusia yang bersyukur Allah akan tambah kurnianya sebaliknya manusia yang kufur akan diazab oleh Allah.
- Manusia seringkali lupa daratan apabila diberikan kemewahan dan kesenangan.
- Sangat sedikit hamba Allah yang bersyukur.
- Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, dia tidak akan bersyukur kepada Allah.
- Allah memberi kurnia kepada siapa yang dikehendakiNya dan menarik nikmat dari siapa saja yang dikehendakiNya.
- Sifat syukur adalah satu sifat yang terpuji, sebaliknya kufur (kufur nikmat) adalah sifat yang dicela oleh Allah.
Posted by
DJODI ISMANTO
at
6.7.07
0
comments
Thursday, July 5, 2007
Jangan Abaikan Hal Sepele

Pada khutbah jumat yang lalu dimasjid raya Medan - Sumatra Utara, khatibnya bertutur dengan menarik tentang “Jangan Abaikan Hal Yang Sepele.” Pada suatu hari ada seekor tikus yang keluar dari sarangnya pergi kelumbung pagi, tikus itu melihat ada jebakan tikus. Si tikus berlari menemui ayam dan menceritakan bahwa dilumbung padi ada jebakan tikus yang berbahaya. Ayampun cuek mendengar cerita tikus.
Tikus berlari menemui kambing dan bercerita bahwa dilumbung padi ada jebakan tikus, kambingpun cuek. Tikus berlari lagi menemui sapi dan menceritakannya, sapi-pun cuek. Tikus berlari menemui ular dan menceritakannya, ularpun cuek. Sampai akhirnya pada pagi hari, pak tani pergi kelumbung padi untuk melihat jebakannya apakah mendapatkan tikus. Ternyata yang terjebak bukan tikus melainkan ular. Melihat pak tani datang, ular marah dan mematok kaki pak tani. Pak tani membalasnya dengan menebaskan goloknya dan ularpun mati.
Melihat kakinya kena bisa pak tani pergi kedokter. Kata dokter supaya cepat sembuh mesti makan yang bergizi, begitu pulang pak tani memotong ayamnya. Lukanya ternyata nggak sembuh-sembuh, dipanggillah pak kyai untuk mendoakan kesembuhannya maka dipotonglah kambing. Sakitnya pak tani makin parah dan akhirnya pak tani meninggal dunia, orang-orang sekampung pada datang untuk menyelawat maka dipotonglah sapinya.
Pesan cerita diatas, Awalnya musibah itu hanya menimpa ular namun toh akhirnya ayam, kambing dan sapi juga jadi korban. Jangan sampai karena bukan kita jadi korban kemudian kita tidak ambil pusing, toh..akhirnya kita juga kena getahnya.
Posted by
DJODI ISMANTO
at
5.7.07
0
comments
Wednesday, July 4, 2007
Penghalang di Jalan Kita
Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan.Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu.
Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu.
Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan. Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti. Bahwa pada dalam setiap rintangan, tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.
Mohamad Yunus
HR & Training Manager
PT Widatra Bhakti
Moderator I2
www.inspirasiindone sia.com
Posted by
DJODI ISMANTO
at
4.7.07
0
comments
Penumpang yang Kehujanan
Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat. Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini.
Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk menda patkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda.
7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk Seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an !) khusus dikirim kerumahnya.
Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah : " Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat...hingga wafatnya.
Tuhan memberkati anda,karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu" Tertanda Ny.Nat King Cole. Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn. 60-an di USA
Mohamad Yunus
HR & Training Manager
PT Widatra Bhakti
Moderator I2
www.inspirasiindone sia.com
Posted by
DJODI ISMANTO
at
4.7.07
0
comments
KEGELAPAN

Dinda putri kedua saya suka takut dengan kegelapan jika malam hari. Krisis nya pasokan listrik PLN - Medan sering membuat padamnya listrik dirumah kami.
Dinda pun ketakutan, mama nya memeluk Dinda dan saya mengambil lampu emergency.
Kemudian kami mengajak Dinda untuk menikmati indahnya lampu emergency ditengah kegelapan dengan bermain.
Seperti halnya Dinda, seringkali kita sebagai orang dewasa juga takut
pada kegelapan. Namun jika takut dengan gelapnya malam hari cukuplah
kita sedia lampu emergency. Semuanya menjadi terang menderang.
Demikian halnya jika yang gelap hidup kita, dipenuhi dengan
kegagalan, penderitaan, sakit hati, maka secara otomatis lampu
emergency didalam kita menyala, menerangi kegelapan disekitarnya.
Maka beruntunglah jika kita hidup penuh kegelapan sebab kita akan
menjadi penerang hidup bagi orang-orang disekeliling kita. Semakin
gelap semakin bagus, berarti sinarnya semakin terlihat terang
benderang. Disaat itulah anda terpilih sebagai pembimbing kehidupan
bagi orang lain.
Malam semakin larut. Ditengah sinar lampu emergency Mama nya
menyanyikan lagu buat Dinda, `ambilkan bulan bu, ambilkan bulan bu
untuk menyinari dimalam hari.. ` Tak lama kemudian dia tertidur
lelap dengan mimpi indahnya.
( source,agussyafii)
Posted by
DJODI ISMANTO
at
4.7.07
0
comments
PENCURI

Saat saya memberikan pelatihan atau briefieng dikantor , salahsatu cerita pengantar yang saya
paling suka adalah cerita Nasrudin Hoja yang berjudul Pencuri.
Konon ,
Nasrudin kedatangan seorang pencuri. Nasrudin ketakutan dan bersembunyi kedalam peti besar. Sang pencuri keheranan kenapa dia
bersembunyi. Kata Nasrudin, dirinya malu sebab didalam rumahnya tidak
ada yang bisa diambil oleh pencuri itu.
Begitu juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Seringkali kita
membiarkan pencuri dari luar untuk mengambil dari dalam diri kita
yang berharga yaitu rasanya malu. Bahkan kita juga malu ketika masih
memiliki rasa malu itu sendiri.
Ditengah lajunya bis kota, segerombolan anak muda berteriak-teriak
lapar, mau makan tidak punya uang. Berharap belas kasihan orang
dengan cara membentak-bentak orang, sudah menjadi tontonan tiap hari
dalam bis kota.
Juga tak mau kalah seorang tokoh ormas yang sibuk
mempertontonkan libido kekuasaannya padahal pemilu masih juga lama.
Sementara dirinya diam seribu bahasa ada masyarakat yang terendam
lumpur panas. Dan tak kalah dahsyatnya bagaimana televisi kita
mengajarkan anak-anak SD untuk tidak malu-malu lagi untuk berpacaran.
Seolah berkata, Ayo anak-anak buang jauh-jauh malu kalian.
Dalam kesendirian seringkali mendidik diri sendiri dengan mematikan
mesin keinginan agar tidak mengundang pencuri diluar diri merampas
sesuatu yang sangat berharga yaitu rasa malu, tentunya sangat sulit
dan tidak mudah. Namun juga harus dilakukan sebab dengan rasanya malu
itulah yang membentengi diri kita, untuk tidak terjerumus hidup
dilembah nestapa bagai hidup didalam neraka.
( source : agussyafii )
Posted by
DJODI ISMANTO
at
4.7.07
0
comments
3 Cara Menghadapi Kegagalan

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan,yaitu di saat apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Kita perlu belajar bagaimana menyiasati kegagalan tersebut,karena semua guru sukses mengatakan bahwa gagal dan berhasil itu sudah di kemas dalam satu paket.
Hanya sering kita tidak sabar dalam proses untuk mendapatkan keberhasilan, dan cepat mengeluh,menyalahkan orang lain dan mencari2 alasan untuk berhenti bertindak apabila menemukan kegagalan.
Ada beberapa type orang dalam merespon kegagalan :
1. Mencari kambing hitam,menyangkal dan mencari pembenaran.
Kebanyakan orang akan melakukan hal ini, ketika menemui kegagalan. Merasa frustasi dan akhirnya berhenti bertindak dan menyerah.Mereka akan berkata kepada orang lain : "wah, saya nggak berbakat", "pemerintah itu tidak adil ", "karyawan saya kurang ajar"
"benar kan kata saya, bisnis itu susah "
2. Mengulang tindakan yg sama tanpa merubah strategi.
Orang type seperti ini, masih lebih bagus, karena mereka yakin dan masih mencoba tetap bertindak untuk mencapai tujuannya. Akan tetapi mereka lupa bahwa tindakan yang mereka ambil masih sama dengan yg pernah mereka lakukan. Jadi mereka menggunakan pendekatan, cara2 yg sama dan terus mengulang-ulang tanpa pernah merubah strategi yg di gunakan.
3. Belajar dari kesalahan,merubah strategi dan terus bertindak.
Pola seperti ini yang orang2 sukses gunakan, mereka tidak pernah merasa gagal, mengeluh, menyalahkan orang lain. Mereka terus belajar , merubah strategi dan melakukan apapun yang di perlukan sampai mendapatkan tujuan
Untuk mendapatkan hasil yang berbeda,tindakan anda juga harus berbeda.
Hidup adalah pilihan, dan kita bertanggung jawab penuh atas kehidupan kita sendiri, bukan orang lain, bukan atasan kita dan juga bukan pula pemerintah.
Regards,
DJODI ISMANTO
From nice city of Medan
Posted by
DJODI ISMANTO
at
4.7.07
0
comments
Tuesday, July 3, 2007
Tukang Roti Kelaparan
Ada satu satu cerita yang sangat menarik dan inspiring. Cerita ini berasal dari buku Habitudes karangan Dr. Tim Elmore. Tentu anda semua mengenal tukang roti.
Bayangkanlah jika anda pergi ke sebuah toko roti. Anda tinggal memilih selera kesukaan anda. Dan juga ada bermacam-macam rasa. Baik rasa keju, coklat, vanila maupun rasa lainnya. Setiap pagi dengan hati yang gembira. Tukang roti selalu menyiapkanadonan pembuat roti. Dalam pikirannya dia harus memberikan yang terbaik bagi penikmat rotinya.
Bahannya dia pakai yang nomor satunya. Tak lama kemudian, rotinya sangat terkenal karena kenimatannya. Pelanggan pun selalu antri bila ingin membeli rotinya. Lewat berita dari mulut ke mulut. Kelezatan rotinya cepat menyebar tidak hanya di daerah tempat dia tinggal. Bahkan pelanggan pun rela datang jauh-jauh dari luar kota. Hanya untuk merasakan dan mencicipi sepotong rotinya. Ada juga membawa pulang untuk oleh-oleh bagi keluarga mereka.
Karena rotinya sangat terkenal. Tukang roti sangat hati-hati menjaga cita rasa. Dia rela turun tangan langsung untuk membuat rotinya. Tak seorang pun yang dia percayai untuk membantunya. Kurang pas, rasanya bila tidak dia turun tangan langsung. Memang pelanggan terus datang secara bertubi-tubi. Dari pagi sejak tokonya buka. Sampai tokonya tutup selalu saja pelanggan antri. Ia berjalan mondar-mandir melayani permintaan pelanggannya. Namun lihatlah apa yang terjadi dengan diri tukang roti ini. Dia sibuk memberikan yang terbaik bagi pelanggannya. Tapi dia lupa memberikan yang terbaik bagi dirinya sendiri.
Hampir setiap hari dia selalu terlambat makan. Kadang-kadang nasehat dari sang istri untuk istrirahat. Tak dihiraukannya. Dia semakin lupa tugasnya sebagai seorang ayah. Bagi putri semata wayangnya. Lama mereka tidak berjalan bersama. Makan bersama. Maupun bermain bersama. Baginya uang yang banyak sudah cukup. Lama kelamaan kondisinya semakin menurun. Dia menjadi seorang pria yang kurus dan mempunyai banyak keluhan penyakit.
Lewat cerita Tukang Roti Kelaparan ini, Tim Elmore ingin memberikan sebuah nasehat kepada kita. Bahwa uang bukanlah segala-segalanya. Kita ingin memberikan yang terbaik bagi orang lain. Tapi kita lupa memberikan yang terbaik bagi diri sendiri dan keluarga. Jauh lebih penting bila kita bisa membagi waktu dengan bijak. Ya, semuanya penting. Tapi jauh lebih bijak bila kita mampu mengurus diri sendiri dan keluarga.
Pertanyaan:
Sudahkah anda memberikan yang terbaik bagi diri sendiri dan keluarga?
Regards,
DJODI ISMANTO
From nice city of Medan
Posted by
DJODI ISMANTO
at
3.7.07
0
comments
Prinsip 80/20: Usaha Sedikit, Hasil Lebih Banyak
Ini suatu konsep yang powerful juga. Sebagai seorang yang cenderung lebih suka bekerja sedikit dan hasil lebih banyak, saya sangat tertarik dengan prinsip 80/20 atau Prinsip Pareto ini. Menurut prinsip ini, segala sesuatu di dunia ini yang berlaku bukanlah hukum keseimbangan atau 50/50, melainkan 80/20.
Pak Tung Desem Waringin, mentor saya, selalu bercerita mengenai 20% orang menguasai 80% uang yang beredar di dunia. Bila seluruh uang yang ada di dunia dibagi rata setiap orang, hasilnya dalam lima tahun kemudian akan kembali seperti semula, yang 20% menguasai 80%.
Contoh lain:
- 20% konsumen produk kita menghasilkan 80% penjualan
- 20% produk menghasilkan 80% penjualan
- 20% sebab menghasilkan 80% akibat
- 20% input menghasilkan 80% output
- 20% waktu kerja kita menghasilkan 80% hasil
- 20% uang yang kita investasikan menghasilkan 80% pengembalian
Menarik? Tentu saja.
Sebagai seorang eksekutif / pebisnis anda tentu sudah tahu sejak lama prinsip ini. Saya pun demikian. Tapi, belum tentu kita telah praktekkan dengan baik. Dalam mengelola bisnis, saya pun mencoba menggunakan prinsip ini. Awalnya saya coba-coba dengan menganalisis kecil-kecilan apakah benar prinsip ini juga berlaku dalam bisnis saya. Saya coba menganalisis pelanggan, produk, waktu kerja, dan lain-lain. Ternyata, hasilnya selalu mengikuti prinsip 80/20 ini.
Timbul pertanyaan, kalau begitu yang 80% nya adalah sia-sia alias mubazir. Tentu saja. Namun dengan kita mengenali yang 80% mubazir itu akan membuat kita bisa memfokuskan upaya ke yang 20% tersebut dan meminimalisir kerugian dari yang 80% tersebut. Pak Tung sering bilang ke saya bahwa 80% usaha kita itu sia-sia, 20% nya akan membawa hasil.
Bagaimana caranya kalau kita baru mulai usaha dan belum mengenali yang 20/80 tersebut? Seperti yang saya alami, jalan saja dulu dengan memperlakukan semuanya sama dan seimbang. “You have to kiss a lot of frogs to find a prince”. Setelah ketahuan hasilnya dan pola 80/20 nya terbentuk, baru kita fokus. Artinya 80% waktu, tenaga, sumber-sumber kita gunakan untuk mengembangkan 20% yang menghasilkan 80% ini. Sisanya yang 20% kita gunakan untuk yang 80% tapi menghasilkan 20%.
Regards,
DJODI ISMANTO
From nice city of Medan
Posted by
DJODI ISMANTO
at
3.7.07
0
comments
SIFAT KEPITING
Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting, tapi tidak banyak yang tahu sifat kepiting. Semoga Anda tidak memiliki sifat kepiting yang dengki. Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan kepiting sawah. Kepiting itu ukurannya kecil namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu dengan mudah ditangkap di malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom/wadah, tanpa diikat. Namun seorang penangkap kepiting yang handal selalu tenang meskipun hasil buruannya selalu berusaha meloloskan diri. Resepnya hanya satu, yaitu si pemburu tahu betul sifat si kepiting. Bila ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar. Keesokan harinya sang pemburu tinggal merebus mereka semua dan matilah sekawanan kepiting yang dengki itu. Begitu pula dalam kehidupan ini… tanpa sadar kita juga terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu. Apalagi di dalam bisnis atau hal lain yang mengandung unsur kompetisi, sifat iri, dengki, atau munafik akan semakin nyata dan kalau tidak segera kita sadari tanpa sadar kita sudah membunuh diri kita sendiri. Pertanda seseorang adalah ‘kepiting’: Betapa pun banyaknya kucing berkelahi, selalu saja banyak anak kucing lahir. (Abraham Lincoln) 
Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus dan lalu disantap untuk lauk selama beberapa hari. Yang paling menarik dari kebiasaan ini, kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom, sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat.
Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun… dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar.
Yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara kita mengalami kesuksesan kita malahan mencurigai, jangan-jangan kesuksesan itu diraih dengan jalan yang nggak bener.
Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa di dalam bisnis atau persaingan yang penting bukan siapa yang menang, namun terlebih penting dari itu seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya. Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau bisa juga kalah dalam suatu persaingan, namun yang pasti kita menang dalam kehidupan ini.
1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar (bisa orang lain atau situasi) yang sudah lampau dan menjadikannya suatu prinsip/pedoman dalam bertindak
2. Banyak mengkritik tapi tidak ada perubahan
3. Hobi membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak mengetahui kelemahan dirinya sendiri sehingga ia hanya sibuk menarik kepiting-kepiting yang akan keluar dari baskom dan melupakan usaha pelolosan dirinya sendiri. ..Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong keluar dari baskom, namun yah… dibutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya…
Coba renungkan berapa waktu yang Anda pakai untuk memikirkan cara-cara menjadi pemenang. Dalam kehidupan sosial, bisnis, sekolah, atau agama. Dan gantilah waktu itu untuk memikirkan cara-cara pengembangan diri Anda menjadi pribadi yang sehat dan sukses.
Posted by
DJODI ISMANTO
at
3.7.07
0
comments
Monday, July 2, 2007
Semut dan Lalat

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar” katanya.
Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.
Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.
Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.
Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua “Ada apa dengan lalat ini Pak?, mengapa dia sekarat?”.
“Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita” Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi ”Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? kenapa tidak berhasil?”.
Masih sambil berjalan dan memangggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab ”Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama”. Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius :
”Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini”.
salam bijaksana,
Haryo Ardito,
Ketua Harian Asosiasi Manajemen Indonesia – DKI Jakarta
Email: haryo.ardito@yahoo.com
Posted by
DJODI ISMANTO
at
2.7.07
0
comments







