Myspace Backgrounds

Thursday, November 8, 2007

Beda Cinta dan Cocok


Salah satu alasan paling umum mengapa kita menikah adalah karena cinta – cinta romantik, bukan cinta agape, yang biasa kita alami sebagai prelude ke pernikahan. Cintalah yang meyakinkan kita untuk melangkah bersama masuk ke jenjang pernikahan.

Masalahnya adalah, walaupun cinta merupakan suatu daya yang sangat kuat untuk menarik dua individu, namun ia tidak cukup kuat untuk merekatkan keduanya.
Makin hari makin bertambah keyakinan saya bahwa yang diperlukan untuk merekatkan kita dengan pasangan kita adalah kecocokan, bukan cinta.

Saya akan jelaskan apa yang saya maksud.

Biasanya cinta datang kepada kita ibarat seekor burung yang tiba- tiba hinggap di atas kepala kita. Saya menggunakan istilah "datang" karena sulit sekali (meskipun mungkin) untuk membuat atau mengkondisikan diri mencintai seseorang.

Setelah cinta menghinggapi kita, cinta pun mulai mengemudikan kita ke arah orang yang kita cintai itu. Sudah tentu kehendak rasional turut berperan dalam proses pengemudian ini. Misalnya, kita bisa menyangkal hasrat cinta karena alasan-alasan tertentu. Tetapi, jika tidak ada alasan-alasan itu, kita pun akan menuruti dorongan cinta dan berupaya mendekatkan diri dengan orang tersebut.

Cinta biasanya mengandung satu komponen yang umum yakni rasa suka.

Sebagai contoh, kita berkata bahwa pada awalnya kita tertarik dengan gadis atau pria itu karena sabarannya, kebaikannya menolong kita, perhatiannya yang besar terhadap kita, wajahnya yang cantik atau sikapnya yang simpatik, dan sejenisnya. Dengan kata lain, setelah menyaksikan kualitas tersebut di atas timbullah rasa suka terhadapnya sebab memang sebelum kita bertemu dengannya kita sudah menyukai kualitas tersebut.

Misalnya, memang kita mengagumi pria yang sabar, memang kita menghormati wanita yang lemah lembut, memang kita mengukai orang yang rela menolong orang lain dan seterusnya.

Jadi, rasa suka muncul karena kita menemukan yang kita sukai pada dirinya.

Saya yakin cinta lebih kompleks dari apa yang telah saya uraikan.

Namun khusus untuk pembahasan kali ini, saya membatasi lingkup cinta hanya pada unsur suka saja. Cocok dan suka tidak identik namun sering dianggap demikian. Saya berikan contoh.

Saya suka rumah yang besar dengan taman yang luas, tetapi belum tentu saya cocok tinggal di rumah yang besar seperti itu. Saya tahu saya tidak cocok tinggal di rumah sebesar itu sebab saya bukanlah tipe orang yang rajin membersihkan dan memelihara taman (yang dengan cepat akan bertumbuh kembang menjadi hutan). Itulah salah satu contoh di mana suka tidak sama dengan cocok. Contoh yang lain. Rumah saya kecil dan cocok dengan saya yang berjadwal lumayan sibuk dan kurang ada waktu mengurusnya.

Namun saya kurang suka dengan rumah ini karena bagi saya, kurang besar (tamannya). Pada contoh ini kita bisa melihat bahwa cocok berlainan dengan suka. Pada intinya, yang saya sukai belum tentu ocok buat saya; yang cocok dengan saya belum pasti saya sukai. Sekarang kita akan melihat kaitannya dengan pemilihan pasangan hidup.


Tatkala kita mencintai seseorang, sebenarnya kita terlebih dahulu menyukainya, dalam pengertian kita suka dengan ciri tertentu pada dirinya. Rasa suka yang besar (yang akhirnya berpuncak pada cinta) akan menutupi rasa tidak suka yang lebih kecil dan -- ini yang penting -- cenderung menghalau ketidakcocokan yang ada di antara kita. Di sinilah terletak awal masalah.

Ini yang acap kali terjadi dalam masa berpacaran.


Rasa suka meniup pergi ketidakcocokan di antara kita, bahkan pada akhirnya kita beranggapan atau berilusi bahwa rasa suka itu identik dengan kecocokan. Kita kadang berpikir atau berharap, "Saya menyukainya, berarti saya (akan) cocok dengannya." Salah besar!

Suka tidak sama dengan cocok; cinta tidak identik dengan cocok! Alias, kita mungkin mencintai seseorang yang sama sekali tidak cocok dengan kita.


Pada waktu Tuhan menciptakan Hawa untuk menjadi istri Adam, Ia menetapkan satu kriteria yang khusus dan ini hanya ada pada penciptaan istri manusia.


Tuhan tidak hanya menciptakan seorang wanita buat Adam yang dapat dicintainya, Ia sengaja menciptakan seorang wanita yang cocok untuk Adam.

Tuhan tahu bahwa untuk dua manusia bisa hidup bersama mereka harus cocok.


Menarik sekali bahwa Tuhan tidak mengagungkan cinta (romantik) sebagai prasyarat pernikahan. Tuhan sudah memberi kita petunjuk bahwa yang terpenting bagi suami dan istri adalah kecocokan. Ironisnya adalah, kita telah menggeser hal esensial yang Tuhan tunjukkan kepada kita dengan cara mengganti kata "cocok" dengan kata "cinta." Tuhan menginginkan yang terbaik bagi kita; itulah sebabnya Ia telah menyingkapkan hikmat-Nya kepada kita.


Sudah tentu cinta penting, namun yang terlebih penting ialah, apakah ia cocok denganku? Saya teringat ucapan Norman Wright, seorang pakar keluarga di Amerika Serikat, yang mengeluhkan bahwa dewasa ini orang lebih banyak mencurahkan waktu untuk menyiapkan diri memperoleh surat ijin mengemudi dibanding dengan mempersiapkan diri untuk memilih pasangan hidup. Saya kira kita telah termakan oleh motto, "Cinta adalah segalanya," dan melupakan fakta di lapangan bahwa cinta (romantik) bukan segalanya.

Jadi, kesimpulannya ialah, cintailah yang cocok dengan kita! [rlim]


Sumber: Dr. Paul Gunadi

Created by Rudy Lim
rudyhdlim@yahoo.com

Wednesday, November 7, 2007

Perjanjian Orang Tiong Hoa



Peter Seage adalah seorang pakar manajemen ternama di dunia, dan penulis buku laris berjudul The Fifth Discipline. Ia pernah bekerja sebagai seorang manajer di sebuah perusahaan minyak di Malaysia. Spesifikasi tugasnya waktu itu adalah merancang surat-surat perjanjian dengan para agen penjualan di Malaysia bagian selatan, yang mayoritas terdiri dari keturunan Tiong Hoa.


Pada suatu hari setelah menyelesaikan proses negosiasi dengan para agen penjualan, Peter menikmati minuman teh bersama mereka. Peter juga berbincang cukup akrab dengan mereka layaknya teman lama.
Setelah itu Peter Seage mengeluarkan sebuah surat perjanjian, mengisi kolom kosong dengan angka yang sudah disepakati bersama dalam negosiasi tadi. Kemudian ia menyodorkan kepada para agen agar mereka membubuhkan tanda tangan di atas surat perjanjian tersebut.



Salah seorang agen langsung memprotes sikap Peter. "Hai saudaraku! Apa yang kamu lakukan? Kamu salah jika berpikir kami akan menandatangani surat perjanjian itu," tegas salah seorang diantara mereka.

Seorang agen lainnya tak tinggal diam. Ia kemudian berkata, "Jika kita sudah sepakat, untuk apa mesti menggunakan surat perjanjian?"

"Perbuatan kamu ini (membuat surat perjanjian) justru menyebabkan saya curiga. Mungkin kamu akan menggunakan dalih hukum untuk mengambil keuntungan dan menekan kami. Dalam budaya kami di sini, sebuah perjanjian cukup disepakati kedua belah pihak tak perlu lagi menggunakan surat resmi. Kami berpendapat bahwa surat perjajian tak dapat memberikan jaminan apapun," sambung agen yang lain.


Peter Seage tertegun mendapat penolakan keras dari mayoritas agen tersebut. Pendapat mereka ada benarnya. Peter-pun menyetujui kemauan para agen tersebut, karena khawatir jika ia paksakan maka penandatangan surat perjanjian itu hanya menjadi simbol formalitas belaka tanpa memberikan efek kepatuhan terhadap kesepakatan seperti yang diharapkan.

Pesan:

Segala bentuk kesepakatan akan memberikan hasil akhir memuaskan bila masing-masing pihak mempunyai kesadaran yang tinggi untuk memenuhi tanggung jawab. Kalaupun ada peraturan hukum yang cukup rumit dan mengatur segalanya secara rinci, tetapi selama tidak ada kemauan dari masing-masing atau salah satunya untuk melaksanakan kesepakatan tersebut, maka akan timbul kekacauan.

Fenomena di atas menunjukkan sebuah budaya yang patut kita tiru, yaitu budaya untuk patuh terhadap aturan yang sudah disepakati bersama, apalagi jika ada hukum yang mengikat. "Sebenarnya kerja manajemen adalah berbincang bersama-sama sambil minum kopi. Disalah satu sisi, kita harus banyak belajar dari orang Tionghoa," pesan Peter Seage.

Namun akhir-akhir ini kesadaran untuk patuh terhadap perjanjian yang sudah disepakati bersama atau hukum yang sudah berlaku semakin menipis. Akibatnya peraturan atau bahkan undang-undang menjadi slogan belaka atau tidak dilaksanakan dengan baik, sehingga tidak memberikan cukup manfaat kepada masyarakat luas.

Oleh sebab itu dibutuhkan kesungguhan dan kejujuran dari masing-masing individu untuk melaksanakan peraturan maupun kesepakatan yang sudah ditetapkan.
"Kejujuran adalah bab pertama dalam buku kebijaksanaan," kata Thomas Jefferson.



Oleh : Andrew Ho - Managing Director PT. KK. Indonesia, motivator, pengusaha, dan penulis buku-buku bestseller

Tuesday, November 6, 2007

Kisah Ikan dan Air


Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Kata Ayah kepada anaknya, "Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati."

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air, ia mendadak menjadi gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, "Hai, tahukah kamu dimana air ? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati." Ternyata semua ikan tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil semakin gelisah, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal serupa, "Dimanakah air ?"

Jawab ikan sepuh, "Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita akan mati."

Apa arti cerita tersebut bagi kita ?

Manusia kadang-kadang mengalami situasi seperti si ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalanin ya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai dia tidak menyadarinya.....

Kehidupan dan kebahagiaan ada di sekeliling kita dan sedang kita jalani, sepanjang kita mau membuka diri dan pikiran kita, karena saat untuk berbahagia adalah saat ini, saat untuk berbahagia dapat kita tentukan.

"Being happy can be hard work sometimes, it is like maintaining a nice home, you've got to hang on to your treasures and throw out the garbage."

"Being happy requires looking for the good things. One person sees the beautiful view and the other sees the dirty window, choose what you see and what you think."

"Right here, right now, from here until tomorrow"


Source : Iyan , www.ceritakasih.blogspot.com

Saturday, November 3, 2007

PELATIH TERBAIK BUKAN TERPINTAR



Ada kalanya seorang trainer dihadapkan pada situasi di mana ada peserta pelatihan yang begitu antusias membombardir pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar yang bernuansa “menguji” kepiawaian dirinya sebagai pelatih.Dalam beberapa kasus, intensitas “pengujian” itu begitu tingginya, sehingga sang trainer merasa terteror. Setiap kali sesi tertentu dimulai, “teror” pun dimulai pula sehingga lama kelamaan, sang trainer menjadi merasa sangat tidak nyaman.


Bagi umumnya trainer yunior, sikap para peserta opposan diartikan sebagai tantangan frontal. Mereka merasa sangat terusik, posisinya sebagai trainer yang bertugas untuk melatih dan mengajar audiens, terasa terancam. Ada perasaan bahwa sebagian peserta meragukan kepiawaiannya sebagai pengajar.Menghadapi keadaaan demikian, trainer-trainer muda biasanya menjadi “groggy”, sehingga sebagai kompensasi, mereka cenderung mempertontonkan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya, termasuk dengan menyebut-nyebut berbagai istilah “keren” serta berusaha untuk selalu mematahkan argumentasi yang diajukan peserta.


Celakanya, kerap terjadi bahwa ada saja peserta yang memang benar-benar lebih piawai, lebih tinggi ilmu pengetahuannya serta lebih berpengalaman. Terhadap peserta jenis ini, trainer yang berusaha “pamer kehebatan” untuk mendapatkan pengakuan audiens, pasti ketemu batunya.Ketika argumentasi-argumentasi, referensi-referensi dan juga teori-teori yang mereka ajukan ternyata dimentahkan oleh peserta peneror, dengan serta-merta sang trainer menjadi frustrasi, salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa sehingga terlihat begitu “bodoh” di depan orang banyak. Itulah situasi yang paling dibenci dan ditakuti oleh para trainer, dan tidak terlalu berlebihan kalau disebut sebagai “neraka”nya para trainer muda.


Trainer senior yang sudah cukup makan asam garam pelatihan, berpegang pada basis pemikiran bahwa menjadi seorang trainer tidak perlu berpretensi sebagai figur yang harus selalu lebih pandai dari pesertanya. Mereka siap menghadapi keadaan, di mana pada sesi-sesi tertentu akan ada peserta yang lebih piawai dari mereka.Lalu, bagaimana caranya mengatasi situasi-situasi kritis seperti di atas?

Dalam dunia pelatihan, para pelatih unggulan mempunyai jurus pamungkas yang handal.

Pertama, kehadiran peserta tukang teror yang memang lebih pandai, tidak dipandang sebagai “duri dalam daging” yang akan mengacaukan unjuk kerjanya sebagai trainer di depan kelas. Mereka justru menerima keadaan ini sebagai keuntungan, yang akan memungkinkan kualitas pelatihan menjadi lebih baik lagi.


Kedua, pelatih unggul dapat membaca apa motivasi yang ada dibalik ulah seorang peneror. Yang paling umum, peserta tersebut biasanya hanya ingin mencari pengakuan bahwa dia orang pintar. Dia butuh perhatian dan pujian, oleh sebab itu perlu diakomodir. Kemungkinan lainnya adalah bahwa benar ada orang-orang pintar yang sangat idealis. Orang-orang ini menginginkan bahwa program pelatihan yang mereka peroleh benar-benar berkualitas serta bermanfaat, sehingga mereka merasa perlu mengetahui apakah sang pelatih memang cukup piawai.

Itulah alasan mengapa mereka melancarkan “teror pertanyaan” pada trainernya.Seorang trainer tidak perlu merasa khawatir bahwa dirinya akan dianggap tidak cakap, hanya karena kehadiran peserta yang lebih pintar pada sesi-sesi tertentu. Sebab apa?Sebab, sebelum sebuah program pelatihan digelar, ada sebuah tahapan yang disebut tahap “pre-assessment”. Pada tahap ini, lembaga penyelenggara pelatihan mengadakan penyaringan dan evaluasi tentang klasifikasi para peserta training.

Kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan pada para calon peserta di tahap pre-assessment seharusnya akan membentuk sebuah kelompok peserta yang memiliki klasifikasi seragam. Dengan demikian, lembaga pelatihan juga akan tahu klasifikasi trainer seperti apa yang diperlukan untuk menangani kelompok tersebut.
Oleh sebab itu, bila ternyata pada saat pelatihan digelar ada orang-orang yang memiliki klasifikasi lebih tinggi “terselip” dalam kelas, itu bukanlah kesalahan trainer bersangkutan.


Dengan alasan ini, seorang trainer seyogyanya tetap tenang dan tidak perlu merasa terganggu oleh kehadiran mereka.Bahkan sebaliknya, seorang “smart trainer” akan mendapatkan kesempatan untuk memanfaatkan peserta istimewa tersebut.


Yang biasa dilakukan oleh trainer berpengalaman adalah, pada saat “teror” mulai dilancarkan oleh sang peserta, dengan sangat bijak sang trainer akan mempersilahkan orang tersebut maju ke depan podium untuk berbicara menyampaikan argumentasinya.Bila argumentasi yang disampaikan ternyata benar, trainer akan mengajak semua hadirin untuk memberikan applause (tepuk tangan meriah) seraya ia sendiri juga melontarkan pujian-pujian tulus kepada peserta itu. Sejak saat itulah, setiap kali ada pertanyaan yang sedikit “canggih” dilontarkan peserta lain, sang trainer akan mempersilahkan peserta istimewa itu untuk terlebih dahulu menjawabnya.


Dengan jalan ini, pelatih yang bijak sudah mampu mengatasi beberapa persoalan yang dihadapinya secara sekaligus. Bila si peneror merupakan peserta yang hanya ingin diakui sebagai orang pintar, obsesinya segera terpenuhi saat pertama kali ia diberi kesempatan berbicara di depan audiens.Nafsu terornya biasanya akan segera berkurang banyak. Bahkan, ketika setiap kali ada pertanyaan ia diminta menjawab, orang ini akan sadar bahwa dirinya sedang “dikontra-teror” oleh sang pelatih, sehingga nafsu terornya pun hilang.

Di sisi lain, bila peneror adalah peserta idealis yang menginginkan kualitas, sejak pertama kali diberi kehormatan maju ke depan podium, biasanya orang tersebut akan bersedia bekerja sama dengan memberikan informasi serta masukan-masukan yang bermanfaat.

Tidak jarang bahwa peserta jenis ini akhirnya secara sukarela menempatkan diri bagaikan seorang asisten pelatih. Tanpa diminta, tanpa dibayar!Nah, bila saat ini Anda adalah seorang trainer yunior, ada baiknya melatih diri dengan trik seperti di atas, dan Anda segera menjadi seorang Smart Trainer !!



Rusman Hakim
LifeWisdom Presenter

Home Sweet Home


Banyak orang mengatakan bahwa seburuk apapun keadaan rumah kita, rumah kita tetaplah istana kita. Rumahlah satu-satunya tempat yang dapat memberikan kedamaian, ketenteraman serta kebahagiaan hakiki. Tidak ada tempat lain di dunia ini yang bisa memberikan kebebasan untuk melepaskan diri dari segala belenggu dan topeng-topeng kehidupan, selain di rumah sendiri.

Maka, sungguh indah dan sungguh tepatlah ungkapan: “Home Sweet Home..!”

Namun demikian, kebahagiaan di rumah belum tentu bisa dibawa ke tempat lain, kantor misalnya. Bahagia di rumah, belum tentu bahagia di kantor. Kenyataannya, banyak orang merasa sangat-sangat sulit untuk mengadaptasi kebahagiaan di rumah, ke tempat mereka bekerja. Terlalu banyak intrik dan provokasi yang muncul dan terjadi di lingkungan kerja.

Simaklah apa yang dirasakan oleh mereka yang berprofesi sebagai karyawan profesional. Mereka sering kali merasa “ada ancaman” bahwa sewaktu-waktu mereka bisa di PHK. Perasaan tidak nyaman juga datang dari “ulah” para atasan, para bos (atau bukan bos tapi sangat “bossy”) yang terasa semena-mena memerintah ini dan itu.

Belum lagi persaingan antar karyawan yang begitu ketat, sampai-sampai mencuatkan manuver-manuver tidak sehat mulai dari trik-trik “carmuk” alias “cari muka”, sampai pada pergunjingan dan fitnah terselubung.

Kejadian-kejadian semacam itu, sedikit banyak akan mendistorsi suasana kebahagiaan yang kita bawa dari rumah ke tempat di mana kita berkarir.

Sayangnya, buat kebanyakan orang, tekanan dan stres di tempat kerja sudah dianggap lumrah. Memang itulah budaya hidup di tempat kerja, mau apa lagi?

Hampir semua orang menghabiskan sebagian besar dari waktunya di tempat kerja. Katakanlah, rata-rata orang sekarang bekerja selama 10 – 12 jam sehari. Ini artinya mereka mendedikasikan 50% dari 24 jam waktu yang dimilikinya untuk fokus di sektor karir. Sedangkan 50% lagi dibagi-bagi untuk kegiatan-kegiatan lainnya, seperti bercengkerama dengan keluarga di rumah, bersosialisasi dengan masyarakat, beribadah, belajar, pergi ke gym untuk olahraga dan lain-lain.

Dari situ kita dapat menyimpulkan bahwa manusia masa kini rata-rata hidup tidak bahagia, karena waktunya dominan berada di tempat yang tidak bahagia, yaitu di kantor atau di lingkungan kerja yang penuh dengan tekanan dan stres.

Namun toh orang tidak bisa menghindar dari keharusan kerja, sebab, inilah satu-satunya aktivitas yang merupakan “earning center”, pusat penghasilan yang membiayai semua kegiatan orang yang bersangkutan. Aktivitas-aktivitas lainnya yang berhubungan dengan keluarga, kegiatan sosial, spiritual, kesehatan fisik-mental, semuanya merupakan “cost centers” alias pusat-pusat biaya.

Jadi wajarlah kalau mengingat kepentingannya, kita semua mengalokasikan waktu terbanyak untuk membina karir. Lantas bagaimana caranya agar dalam bekerja kita pun bisa tetap berbahagia? Kalau di rumah kita dapat membangun “home sweet home”, mengapa di kantor kita tidak bisa membangun “work sweet work”?

Berdasarkan observasi, kebanyakan orang bekerja semata-mata dilatarbelakangi motivasi untuk mencari nafkah (subsistence motivation). Mereka merasa harus bekerja karena harus memberi makan diri dan keluarganya. Harus menyekolahkan anak-anaknya. Dan harus membiaya semua kebutuhan operasional rumah tangganya. Harus dan harus..

Dengan motivasi yang “serba harus” ini, tidak heran kalau suasana kerja menjadi sangat tegang dan stres. Kuatir kalau gaji tak mencukupi, tentu tidak bisa lagi memberi makan dan menyekolahkan anak. Kuatir akan ancaman PHK, sama dahsyatnya dengan kuatir akan kiamat.

Bagaimana orang bisa bahagia kalau setiap hari dicekam ketakutan seperti itu?

Untuk membangun suasana “work sweet work”, perlu dilakukan perubahan total atas paradigma dan motivasi kita untuk bekerja. Jangan berfikir bahwa bekerja hanya semata-mata untuk mencari nafkah. Kita harus berfikir jauh lebih besar dari itu. “Think Big”, kata David J. Schwarz.

Bekerja juga harus “enjoyable”, bisa dinikmati semaksimal mungkin. Oleh sebab itu, ada 2 langkah sederhana untuk dapat menjadikan kita bahagia dalam pekerjaan. Yang pertama: cari atau pindah kerja yang bidangnya sesuai dengan kesenangan kita. Tinggalkan saja pekerjaan yang sekarang kalau kita merasa tidak bahagia di situ. Jangan takut, karena dengan bekerja di bidang yang kita senangi, peluang untuk maju akan lebih besar sekian kali lipat. Kalau perlu, bila kita sekarang berstatus karyawan, jadilah seorang usahawan!

Langkah kedua: jadilah raja di sana! Guna menjadi nomor satu di suatu bidang, tentu kita harus piawai. Nah, untuk belajar dan menjadi piawai di suatu bidang yang kita senangi, akan sangat mudah dibanding belajar dan menjadi piawai di bidang yang kita benci. Akan lebih ideal lagi kalau bidang yang disenangi itu adalah juga bidang hobi kita.

Kita akan menjadi seekor harimau yang tumbuh sayap! Dalam kondisi ini, tidak perlu lagi takut di PHK. Tidak perlu lagi stres karena diperintah-perintah orang lain. Dan tidak usah lagi “carmuk” atau sikut-sikutan bersaing dengan teman sejawat.

Selama ini, “Work Sweet Work” jarang menjadi perhatian orang, berbeda dengan “Home Sweet Home” yang selalu didamba dan dibicarakan di berbagai media. Namun demikian seyogyanya kita menyadari bahwa “Work Sweet Work” merupakan energi alamiah yang vital bagi kehidupan setiap orang.

Kadang kita merasa ganjil ketika menyaksikan seorang dokter gigi yang lebih suka main film daripada membuka praktek perawatan gigi. Atau melihat insinyur yang lebih senang bermain musik katimbang menggeluti profesi keteknikan. Aneh ketika tahu bahwa ada pengacara yang ahli hukum eh.. malah getol jadi bintang sinetron.

Saya menangkap bahwa itulah gejala bekerjanya fenomena “Work Sweet Work”, di mana secara disadari atau tidak, beberapa orang yang peka telah mengikuti suara hati nuraninya untuk mencari dan membangun dunia serta kerajaannya sendiri. Di dunia dan kerajaan yang di dalamnya mereka bisa menemukan kebahagiaan sejati.

Maka sebaliknya dari mencibir dengan perasaan aneh, saya justru ingin memberi acungan jempol. Mereka berani tampil beda, dan dengan itu mereka berbahagia.

“Work Sweet Work” adalah sebuah wahana earning center yang subur, kehadirannya akan mendukung “Home Sweet Home” yang indah. Sebaliknya, tanpa “Work Sweet Work”, rona keindahan “Home Sweet Home” akan meredup dan pudar tanpa bisa memberikan kebahagiaan yang berarti. (rh)



Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
LifeWisdom Presenter
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com

Friday, November 2, 2007

Bingkisan Dari Lubuk Hati


Ada ratusan toko berjajar di kota tempat kita hidup dan bekerja ini , didalamnya terpajang ribuan bahkan jutaan barang yang menarik untuk dibawa pulang.


Sedangkan anda hanya perlu sedikit kelapangan hati untuk “ membeli “ sebuah produk sederhana yang notabene gratis tersebut, mengemasnya secara hati – hati , menyisipkan "secarik ucapan ", dan memberinya sebagai bingkisan kepada rekan / mitra kerja sekantor yang telah menjalin kerjasama yang baik selama ini.


Bukan soal berapa uang yang harus anda belanjakan , namun berapa panjang hubungan yang akan anda rajut dengan mereka.


Tak perlu bonus yang besarlah jika memang tidak memungkinkan , berikanlah "gift " sebagai rasa penghargaan dan terima kasih pada rekan kerja anda.


Anda mungkin tak mampu menjadi rekan kerja yang baik , atau bukan teman bicara yang mengerti keluh kesah sahabat.

Atau . . . . anda mungkin bukan pemimpin yang baik , yang belum bisa menyediakan lingkungan kerja yang menyenangkan , atau memberikan upah dan fasilitas yang mencukupi kebutuhan hidup mereka. , namun anda bisa berikan “ sekotak bingkisan “ dari lubuk hati anda.


Bingkisan itu bisa berupa senyum , perhatian serta sapaan " Magic Words " dll, lupakan sudah " Management Jaim " , sekarang bukan jamannya lagi .


Percayalah , segala sesuatu yang berasal hari hati niscaya akan singgah ke hati pula.

Thursday, November 1, 2007

Jari dan Masalah


Di sebuah desa, hiduplah seorang pemuda. Usianya belumlah genap 20 tahun. Namun sayang, kehidupannya sangat merana. Selalu saja ada banyak kesulitan yang dihadapinya. Usahanya sering gagal.
Tak banyak yang bisa dilakukannya selain merenungi nasib. Ia bertanya dalam hati, mengapa ada beribu masalah yang selalu ada di sekitarnya.



Suatu ketika, ia mendengar ada seorang bijak yang dapat membantu mengatasi setiap persoalan. Kabarnya, orang tua ini selalu berhasil menolong setiap orang yang datang kepadanya. Sang pemuda pun tertarik untuk datang dan mencari jalan keluar bagi masalah yang di hadapinya. Segera saja di persiapkan bekal untuk melakukan perjalanan menuju ke tempat orang bijak itu berada.



Seharian penuh ia berjalan, hingga sampailah di pinggir hutan. Hari sudah malam, ketika akhirnya ia menemukan rumah yang dicarinya. Setelah mengucapkan salam, masuklah sang pemuda dan bertemu dengan orang yang di harapkan menjadi penolongnya. Mari masuk silahkan duduk, terdengar jawaban dari dalam.
Dengan penuh harap, pemuda itu pun mulai menceritakan masalah yang dihadapinya. Ia berkisah tentang pekerjaannya yang gagal, kawan-kawannya yang memusuhinya, juga semua masalah-masalah lainnya.



Sang orang tua, mendengarkan dengan seksama, bersungguh-sungguh untuk memahami pemuda itu. Setelah beberapa lama, usailah ia menyampaikan semuanya. Lalu, apa yang harus aku lakukan, tanya pemuda, apa yang sebenarnya aku hadapi, dan apa masalahku??

Anak muda, maaf, aku tak bisa sepenuhnya menolongmu. Aku hanya bisa menunjukkanmu suatu hal. Orangtua itu kemudian menuju jendela, dan membukanya lebar-lebat. Di luar sana, tampak langit yang gelap gulita. Lalu, diacungkannya jari telunjuk, seperti menunjuk ke atas, ke arah jendela itu. Nak, lihatlah jari telunjukku, ada berapa jari yang kau lihat?

Pemuda itu segera menjawab, tentu saja, hanya ada satu!?. Kemudian, orangtua itu
berpindah, sambil menutup jendela, dan mengacungkan telunjukknya ke arah dinding. Ia lalu bertanya, Sekarang, ada berapa jari yang kau lihat?? Sang pemuda, tampak memicingkan mata. Tampaklah tangan dan jari telunjuk yang teracung, dengan latar belakang dinding yang putih. Ada bayang-bayang yang tampak disana.

Lihatlah lebih jelas, jatuhkan pandanganmu ke belakang, ada berapa jari yang kau lihat.? Sebentar, aku melihat,? ada satu?.eh, dua jari yang ku lihat.? Bagaimana ini bisa terjadi? Ternyata, dinding yang putih, memberikan nuansa yang berbeda dalam pantulan benda.

Ada fenomena lain yang membuat jari itu tampak tak seperti aslinya.?
Anak muda, itu hanya nuansa bayangan dari jari ku saja. Setiap benda akan terlihat berbayang ganda jika diletakkan pada dasar yang putih. Engkau pun akan melihatnya ganda jika melayangkan pandanganmu jauh ke belakangnya, dan tidak terpaku pada benda itu saja. Dan sama halnya dengan semua masalahmu.

Sesungguhnya, dalam setiap masalah, kadang, bukan pemecahanlah yang harus kita cari. Tapi, kemampuan untuk melihat masalah itulah yang kita perlukan. Kadang kita sering terpaku hanya pada masalah itu-itu saja, tanpa pernah membiarkan kita melihat sisi lainnya.

Cobalah layangkan pandanganmu ke belakang, pada jarak yang berbeda pada setiap masalah, engkau akan menemukan bukan hanya satu, tapi dua atau tiga hal yang terlihat. Anggaplah jari telunjukku sebagai semua masalahmu. Dan dinding itu sebagai pikiranmu. Maka, engkau akan dapat melihat sosok suatu masalah, dengan jelas, pada dinding yang putih, pada pikiran yang jernih. Engkau akan mampu melihat dengan lebih jelas apa yang kau hadapi pada pikiran yang tenang, bukan pada latar yang gelap dan penuh amarah.

Tataplah semua masalahmu itu dalam pandangan jernih, tenang, dan bersih. Teliti setiap sisi persoalan hidupmu, dengan hati yang suci. Susuri dan pahami setiap aral di depanmu, tidak dengan pandangan yang gelap gulita.

Pahami dan maknai semuanya. Saat engkau memahami apa yang sedang kau hadapi, maka engkau akan mudah mengatasinya. Setiap persoalan, mungkin terlihat seperti satu hal saja, namun sesungguhnya hal itu mempunyai sisi lain yang tak terungkap, hingga kita mampu melihatnya dengan pandangan yang jernih.

***

Teman, bisa jadi kita mau mencoba hal ini. Acungkanlah jari kita ke dinding yang putih.
Pandanglah, dengan tatapan jauh ke belakang jari itu. Kita akan menemukan ada pantulan yang berbeda dari jari-jari kita. Kita akan melihat, tak hanya ada satu jari yang terlihat, tapi dua, atau bahkan lebih. Mungkin dalam teori optis, kita akan menemukan penjelasan yang ilmiah dan akademis.

Namun fenomena ini akan mengajarkan kita satu hal:

Suatu masalah, kadang akan tampak lebih jelas kita menatapnya dengan pandangan jernih dan jauh ke belakang.
Allah memang Maha Pencipta. Allah selalu memberikan hikmah dan pelajaran dari setiap apapun yang diciptakan-Nya. Tak terkecuali lewat jari dan pandangan tadi.


Kemampuan kita untuk melihat suatu masalah, akan sangat membantu kita dalam memecahkan masalah itu. Walau kadang, pemecahan masalah itu, adalah berupa kemampuan kita untuk melihat masalah dengan lebih jernih dan tenang. Serta dengan memahami, apa sebenarnya masalah yang kita hadapi itu


sumber : dudung.net

Takut Istri


Suatu ketika hiduplah seorang raja yang memerintah rakyatnya dengan adil. Banyak rakyat menyukai sang raja. Namun ada satu hal yang membuat setiap rakyatnya kecewa terhadap sang raja, yaitu sang raja terlalu takut terhadap istrinya.

Beberapa keputusan raja, terkadang dipengaruhi oleh sang istri. Dan sang raja memang sangat takut terhadap istrinya.

Kekecewaan rakyatnya akhirnya sampai juga ditelinga raja. Hal ini kemudian membuat raja untuk memanggil semua rakyatnya, untuk mengetahui apakah hanya ia seorang yang takut terhadap permasuri atau rakyatnya pun takut terhadap permasuri raja.

Raja kemudian memerintahkan untuk membuat dua buah pintu yang berdampingan. Kemudian sang raja pun memerintahkan semua rakyat, agar memilih salah satu pintu untuk dimasukinya. Jika masuk pintu sebelah kiri berarti takut kepada permasuri. Jika masuk pintu sebelah kanan berarti tidak takut kepada permasuri.


Satu per satu rakyatnya masuk pintu, dan ternyata mereka masuk melalui pintu sebelah kiri. Dalam hati raja pun berkata, "Ternyata yang takut terhadap permasuri bukan hanya saya seorang, rakyat saya pun takut terhadap permasuri."


Satu per satu rakyatnya masuk pintu, dan mereka masuk melalui pintu sebelah kiri. Akhirnya tersisa orang terakhir yang akan memasuki salah satu pintu. Ketika ia mulai berjalan memasuki salah satu pintu, semua orang yang ada di tempat itu terkejut bukan kepalang. Ternyata ia masuk melalui pintu sebelah kanan. Itu berarti bahwa ia tidak takut sama sekali terhadap istri raja.


Raja kemudian memanggilnya, dan bertanya kepadanya, "Apa alasan kamu sehingga membuat kamu tidak takut terhadap istri saya? Kenapa kamu masuk melalui pintu sebelah kanan?
Dengan lugu, orang itu pun menjawab, "Yang Mulia, saya masuk melalui pintu sebelah kanan bukan berarti bahwa saya tidak takut terhadap permasuri, tetapi karena istri saya yang menyuruh saya demikian."

Wednesday, October 31, 2007

Jendral dan Bebek


Seorang jenderal panglima perang beserta sisa pasukannya baru saja kembali dari medan pertempuran. Mereka terlihat sangat kelelahan dan nampak sebagian dari mereka terluka. Perjalanan mereka terhenti di sebuah sungai dan mereka pun beristirahat sejenak melepas lelah sambil mengobati prajurit yang terluka. Saat perjalanan akan dilanjutkan mereka harus menyeberangi sungai itu, air sungai nampak tenang dan membuat sang jenderal mencari-cari lokasi yang dianggapnya tepat untuk menyeberang.

Tak jauh dari tempat itu nampak seorang pengembala bebek, dan sang jenderal bertanya "Hey penggembala bebek, kami harus menyeberang sungai ini, tunjukkan disebelah mana tempat yang aman untuk kami menyeberangi sungai ini?" Si penggembala bebek tergopoh-gopoh berlari mendekati sang jenderal dan segera menunjukkan arah tak jauh dari tempatnya berdiri dimana bebek-bebeknya berada.

Sang jenderal segera menginstruksikan beberapa prajuritnya untuk menaiki kuda masing-masing dan masuk ke sungai ditempat yang ditunjukkan oleh si penggemabal bebek. Namun apa dinyana sesampai ditengah sungai, kuda yang berada di barisan paling depan terperosok dan penunggangnya terjatuh hingga nyaris hanyut terbawa arus sebelum akhirnya tertolong oleh rekan-rekan prajurit lainnya.

Sang jenderal sangat marah dan segera memerintahkan para prajuritnya menangkap si penggembala bebek dan bersiap untuk memenggal kepalanya. "Hey anak muda, sungguh berani sekali kamu menyesatkan kami, hampir saja prajuritku mati gara-gara kamu" si penggembala bebek menangis ketakutan seraya memohon ampun, katanya terbata-bata "Ampun.. ampun.. Tuan.. sungguh saya tidak bermaksud mencelakakan Tuan" Sang jenderal makin geram dan berteriak "Kamu lihat sendiri, arah yang kamu tunjukkan adalah salah, sungai disana sangat dalam dan seekor kuda telah mati gara-gara kamu!"

"Ampun.. Tuan, ampun.. bukankah tadi di tempat itu bebek-bebek saya berenang dengan aman?"

Kali ini sang jenderal tertegun, sejenak berpikir lalu tersadarkan bahwa dirinya telah salah bertanya kepada orang yang tidak tepat. Serta merta dia memerintahkan prajuritnya untuk membebaskan si penggembala bebek itu.

"Jalan yang ditempuh oleh orang lain menuju sukses, belum tentu cocok untuk
kita tempuh juga. Karena setiap orang mempunyai karakteristik yang berbeda
dari orang lain. Jadi tempuhlah jalan menuju kesuksesan anda, seperti yang
sudah Tuhan siapkan untuk anda. Jah blez y'all! "



Haryo Ardito,
Ketua Harian Asosiasi Manajemen Indonesia - DKI Jakarta
Website: www.haryoardito.com

Kualitas Hidup


Seorang profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, bernama Harry.

Harry yang dikirim untuk menjemput sang profesor di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan kopor. Ketika berjalan keluar, Harry sering menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh. Kemudian mengangkat seorang anak kecil agar dapat melihat pemandangan. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar.

Setiap kali, ia kembali ke sisi profesor itu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Dari mana Anda belajar melakukan hal-hal seperti itu?" tanya sang profesor.
"Oh," kata Harry, "selama perang, saya kira."

Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

"Saya belajar untuk hidup diantara pijakan setiap langkah, "katanya.
"Saya tak pernah tahu apakah langkah berikutnya merupakan pijakan yang terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini."


Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas. "Orang-orang yang sukses telah belajar membuat diri mereka melakukan hal yang harus dikerjakan ketika hal itu memang harus dikerjakan, entah mereka menyukainya atau tidak.


www.ceritakasih.blogspot.com

Kisah Unta Pada Jaman Dahulu


Alkisah pada jaman dahulu kala , sang unta bias berbicara pada manusia.

Pada suatu hari sang unta diajak mengembara oleh majikannya , melintasi gurun gersang yang sangat panas pada siang hari , dan dingin menusuk tulang pada malam hari.

Malam itu , sang unta tidur diluar tenda , sedangkan tidur nyenyak didalam.

Tengah malan , sang unta membangunkan majikannya , dia bilang , “ Tuan saya kedinginan , ijinkanlah saya menitipkan Ujung Kaki saya masuk kedalam tenda “.


Sang majikan tidak keberatan , Ujung Kaki tidak akan mengganggu dia sama sekali.

Satu jam kemudian , sang unta kembali berkata , “ Tuan , saya sangat kedinginan , ijinkanlah Kaki Depan saya berada dalam tenda , agar besok bias berjalan membawa tuan diatas punggung saya”.


“ Benar juga “ piker sang majikan , maka ia kembali memberikan ijinnya.


Satu jam kemudian , sang unta kembali berkata , “ Hidung saya mulai berair , besok saya akan sakit dan tidak bias membawa tuan diatas punggung saya , ijinkanlah Kepala saya berada dalam tenda , saya rasa besok akan kuat kembali”.


Begitulah jam demi jam , hingga akhirnya pada pagi harinya sang unta sedang tidur nyenyak didalam tenda , sedangkan sang majikan menggigil kedinginan diluar tenda.


Dear friends , kita mengenal beberapa “ type “ manusia.


Innovator ,

Hanya 2,5 % dari populasi manusia , cepat mengambil keputusan untuk sesuatu yang baru , termasuk gesit sekali untuk join sesuatu , membeli sesuatu dll.


Early Adopter ,

Populasi 13,5 % manusia , hamper mirip dengan jenis pertama , hanya agak lambat sedikit , pake mikir dulu beberapa saat sebelum memutuskan sesuatu.


Early Majority ,

34 % dari populasi , baru bertindak setelah mendapatkan “ pencerahan “ dua – tiga kali.


Late Majority ,

34 % dari populasi , baru akan bertindak untuk join , bangkit , bergerak , membeli kalau sudah diprospek beberapa kali , dan setelah tertanam kepercayaan dalam hatinya.


Laggard ,

Hanya 16 % dari manusia yang ada , sulit berubah , sangat sulit diajak bergabung , dalam kegiatan yang baru , mengganti barang yang biasa dipakai-nya setelah hamper semua teman / sanak keluarganya mengganti produk lama dengan type baru.


Selama televisinya masih berfungsi , dia mustahil menggantinya dengan televise yang teletext , surround atau layar datar atau digital . . . . . “ masih enak kok “. katanya.


Bukan mustahil jika saat ini masih ada yang memakai computer AT dan WS 6 untuk membantu pekerjaannya , walaupun dia punya uang yang cukup untuk untuk membeli computer 1 Gb dan semua mahluk di bumi ini sudah memakai Microsoft Words.


Kisah sang unta diatas selalu kita ingat , bahwa untuk menawarkan sesuatu kepada calon pelanggan memerlukan suatu perjuangan dan masa “ inkubasi “ , serta kecerdikan.


Banyak salesman , agen asuransi , countersales otomotif , broker rumah serta profesi pemasaran lainnya yang selalu lupa bahwa FOLLOW UP dan CUSTOMER SATISFACTION adalah kunci untuk mencapai keberhasilan.

Tuesday, October 30, 2007

Kartu Kredit

Ijinkan saya untuk bertanya. Apakah teman-teman punya kartu kredit? Saya yakin jawabannya iya. Trus punya berapa? 1, 2, 3, atau lebih?


Di zaman ini kartu kredit bukan barang langka lagi. Di mana-mana
kita bisa menemukan iklan-iklan yang menawarkannya dengan berbagai fasilitas dan keunggulannya masing-masing. Di mal-mal dengan mudah kita ketemu tim sales dengan seragam mentereng dan agresif menawarkan ke pengunjung produk mereka dengan embel-embel: pak, mudah kok prosesnya, cuma perlu KTP aja, he he ... Tak ketinggalan, entah dari mana ada telp yang tiba-tiba mencari kita, trus menawarkan kartu kredit :)


Bagi sebagian orang, salah satu simbol kesuksesan dan kebanggaan adalah memiliki sebanyak mungkin kartu kredit.
Jadi jangan heran kalau dengan mudah kita melihat orang berlomba-lomba memamerkan koleksinya. Makan di restoran: kartu kredit ini keluar. Belanja di supermarket: gesek yang itu. Beli peralatan eletronik: yang lain didayagunakan. Sampai di kalangan mereka ada pameo seperti bunyi sebuah iklan: "hari gini ... tidak punya kartu kredit?"


Namun percaya atau tidak, sindiran tersebut mengena di diri saya, he he. Sampai detik ini saya belum dan tidak pernah punya selembar kartu kredit pun. Ndak tahu kenapa yah, nggak pengen aja. Pikiran saya yang kolot dan ortodox selalu menganggap kalau saya memberanikan diri melangkah untuk memilikinya, itu sama saja menceburkan diri ke sebuah dunia yang selalu dihindari, yaitu dunia utang. Bagi saya lebih aman kalau aku pegang ATM saja. Selain karena sekarang di tempat-tempat belanja sudah menyediakan fasilitas debit, juga dengan ATM saya bisa mengerem diri dari sembarang gesek, yang ujungnya menghindari diri untuk terjerat dalam lingkaran yang istilahnya lingkaran setan he he he ...

Pengalaman teman-teman saya yang pernah terjerat di sana semakin menguatkan argumentasi. Sebut saja A, pernah mempunyai hampir 6 kartu kredit. Sebelum krisis melanda Indonesia, dia memanfaatkan kartunya untuk mengambil barang-barang elektronik, kemudian dijual lagi ke koleganya. Awalnya sih lancar, dalam artian masih untung. Namun memasuki krisis, distribusinya terjun bebas. Akibatnya bisa ditebak, kredit macet he he.


Alhasil mulai berdatanganlah yang namanya debt collector, dari semula menagih dengan lembut berubah menjadi teror mencekam. Mendengar dia menuturkan pengalamannya membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana setiap dia mendengar bunyi telp, jantungnya langsung berdetak kencang. Ketika diangkat, dampratan dengan koleksi kata-kata kebun binatang sampai ancaman harus dia terima. Hidupnya jadi kacau, berantakan, dan hidup dalam ketidakpastian.


Beruntung dia mempunyai saudara, yang menurut istilahnya menjadi juru selamatnya. Tunggakan-tunggakannya ditebus, kartu-kartunya dihancurin, dan diapun kembali ke jalan yang benar he he he ...

Pengalaman teman lain juga sama. Karena kurang cermat dan perhitungan gesek, terjerat juga dalam dunia utang. Dan, lagi-lagi datang sang penyelamat hingga membuatnya insyaf dan lebih berhati-hati lagi dalam menggunakannya.


Terlalu berat sebelah jika saya hanya melihat dari sisi negatif dari kartu kredit. Bagi sebagian orang justru kehadiran kartu kredit sangat membantu mereka. Misalnya temanku yang istrinya mau melahirkan. Awalnya dia berpikir akan lahir normal, jadi dana yang dia siapkan hanya sebatas itu. Namun ceritanya beda karena harus caesar. Alhasil, diapun menggunakan gesekan mautnya untuk menebus istri dan anaknya ha ha ha ...


Jadi intinya adalah sebuah pilihan. Kita memilikinya hanya untuk alasan gengsi, ataukah kita benar-benar membutuhkannya. Ibarat Madu atau Racun , tergantung anda menggunakannya.

* * *

"Hen ... udah apply belum rekomendasiku?"
"Belum. Tidak berminat ..."

"Gaul dong ... masa kartu kredit aja ndak punya. Kayak aku lho ..." kata temanku sambil mengeluarkan dompet.

Aku melirik, dan satu persatu kartunya dikeluarkan. Oh God ... 7 keping.
Hhhh ... aku hanya bisa geleng-geleng kepala ...

Monday, October 29, 2007

Selingkuh


Suatu malam sepulang kerja, seorang eksekutif muda iseng-iseng memeriksa laci tempat istrinya menyimpan pakaian dalam. Dibalik tumpukan bra dan celana dalam, ia menemukan sebuah kantong kain yang didalamnya terdapat 2 biji kacang ijo dan duit sejumlah 100 ribu rupiah. Penasaran, akhirnya sang eksekutif menghampiri istrinya dan bertanya, "Mam, ini bungkusan untuk apa? Kok di dalamnya ada uang sama kacang ijo 2 biji?"

Sang istri, tiba-tiba terisak menirukan tangis bintang sinetron di TV swasta , menjawab, "Pah, (ihik) jangan marah ya (ihik). Aku mau minta maaf dulu sama kamu, tapi kamu janji dulu jangan marah ya.. (ihik..ihik..)" Melihat sang istri menangis tersedu dan tak punya gambaran sama sekali mengenai fungsi bungkusan itu, akhirnya sang suami menjawab sambil pura-pura tegas, "Baik Mam, aku janji nggak akan marah, tapi kamu harus jujur ya!".

Sang istri, masih terisak, berkata, "Begini loh Pah (ihik), kira-kira 3 tahun lalu (ihik), aku mengkhianati perkawinan kita pak (ihik..ihik..), aku .. aku pernah berselingkuh sama laki-laki lain bekas teman sekolahku dulu (ihik..ihik..) .. sama teman kuliahku ... sama teman sekantorku ... juga sama teman kenalan di Cafe" .. (ihik .. ihik) .. Hampir saja si eksekutif muda itu berang mendengarnya, namun karena sudah berjanji untuk tidak marah, akhirnya ia berusaha menahan diri dan bertanya,
"Apa? berselingkuh?! lalu apa hubungannya dengan kacang ijo itu?"

Kepalang basah, si istri yang jalang itu menjawab, "Sebenarnya, (ihik) aku sangat merasa bersalah setiap kali melakukan perselingkuhan itu, Pah (ihik)
tapi aku terpaksa karena Papah selalu pulang larut malam. Jadi untuk setiap laki-laki yang tidur sama aku (ihik), aku simpan sebutir kacang ijo di dalam kantong itu. Maafkan aku, Pah ... (ihik..ihik..)"

Si eksekutif muda itu terdiam sejenak sambil berkata dalam hati, 'Hmm... sialan nih bini gue!, untung kacang ijonya cuma 2 biji... ya udah dimaafin aja deh. Lagian kalo marahan lama-lama, bisa gak kebagian jatah nih ntar malam ..' Akhirnya ia memutuskan untuk memaafkan istrinya dan berkata, "Baiklah Mam, aku maafkan. Oh ya, lalu itu duit 100 ribu dari mana?" "Ooh itu..., Kalau kacang ijonya sudah sampai berkilo-kilo, saya suruh si Inem bawa ke pasar untuk dijual. Nah duitnya hasil penjualan kacang ijo itu."

(Gubrak!) si suami jatuh pingsan.


Source : www.ceritakasih.blogspot.com

Saturday, October 27, 2007

Asyik ada Chatingan Baru bahkan Bisa SMS-an Gratis ke XL


Sekarang muncul fasilitas pengirim pesan selain YM adalagi IM (instant messenger). IM ini bisa mengirim sma/pesan singkat ke xl dari PC secara gratis dengan syarat terhubung ke internet. Seletah saya coba asyik juga. Nah bagi anda yang ingin mengirim sms kepada teman yang memiliki nomor xl sekarang coba deh pasti puas. Klik saja alamat ini http://www.xl.co.id/xl_imD

Thursday, October 25, 2007

Minum Coca Cola Membuat Tulang Membusuk ?


Tembok Besar Cina adalah satu-satunya benda buatan manusia yang bisa dilihat dari luar angkasa.

Anda hanya menggunakan 10 persen dari kemampuan otak anda.

Pernyataan di atas semuanya adalah mitos. Tapi kenapa banyak orang mempercayainya?Saya sedang terpesona dengan sebuah buku terlaris dalam daftar Amazon.com, yaitu Made to Stick: Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain, dari penulis Chip Heat & Dan Heat, terbitan Gramedia.


"Kami menulis buku ini untuk membantu anda membuat gagasan anda melekat. Dengan "melekat" maksud kami adalah bahwa gagasan anda dipahami dan diingat, dan memiliki dampak jangka panjang-gagasan tersebut mengubah opini dan perilaku orang yang menerimanya",
demikian jelas penulis.


Chip dan Dan telah melakukan lebih dari empat puluh eksperimen dengan lebih dari 1.700 peserta untuk menguji topik-topik seperti:

  • Mengapa ramalan Nostradamus masih dibaca orang setelah lebih dari 400 tahun?

  • Mengapa Chicken Soup for The Soul itu menginspirasi?

  • Mengapa pengobatan tradisional yang tidak efektif tetap bertahan?

Mereka juga menemukan bahwa banyak gagasan yang sebenarnya brilian dan penting tapi tidak dapat melekat di benak masyarakat.

Menurut penulis, kemampuan untuk mengenali, menciptakan dan menyebarkan gagasan itu penting bagi semua orang. Politikus memerlukannya, guru, pengambil kebijakan, presiden, pemimpin organisasi nirlaba dan tentu saja, pelaku bisnis yang ingin produknya dikenal dan melekat di hati konsumen.

Jared, seorang mahasiswa yang kelebihan berat badan turun berat badannya 90 kg setelah makan sandwich Subway setiap hari.

Cerita itu beredar di kalangan konsumen Subway yang kemudian dikenali dan disebarluaskan oleh manajemen Subway dalam kampanye promosinya.


Southwest Airlines, sebuah perusahaan penerbangan MURAH yang sukses di Amerika pernah menerima komplain dari pelanggannya agar menambahkan salad dalam menunya, ketimbang hanya kacang dan air putih saja.


Herb Kelleher, sang CEO serta merta menolak permintaan itu karena itu akan menambah biaya dan akan mengubah image MURAH bagi perusahaannya.


Apa dampak penolakan ini terhadap citra perusahaannya? Tidak ada sama sekali. Malahan perusahaan tersebut terus bertahan sebagai satu-satunya perusahan penerbangan yang paling menguntungkan di Amerika.


Setelah meneliti ratusan gagasan yang melekat, Chip dan Dan melihat dan menemukan berulang kali bahwa gagasan yang melekat itu memiliki 6 prinsip yang sama:


1. Prinsip Kesederhanaan. Gagasan itu harus sederhana dan mendalam. Fokus pada gagasan inti, buang yang tidak perlu. "Jika anda mengatakan tiga hal, berarti anda tidak mengatakan apa-apa".


2. Prinsip Tak Terduga
. Gagasan itu harus melawan perkiraan orang lain. Gagasan itu harus berlawanan dengan dengan intuisi orang lain. Ingat cerita tentang perampokan ginjal kemarin. " Satu kantong popcorn sama tidak sehatnya dengan makan makanan berlemak selama sehari penuh!" Kejutan emosi itu fungsinya adalah untuk meningkatkan kewaspadaan dan menyebabkan fokus.


3. Prinsip Konkret
. Berbicara secara konkret adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa gagasan kita memiliki makna yang sama bagi setiap orang di antara pendengar kita. Kita harus menjelaskan gagasan kita dalam bentuk tindakan. Dalam hal ini, banyak komunikasi bisnis yang dilakukan secara keliru. Pernyataan misi, strategi, visi - semuanya sering membingungkan dan menjadi tak bermakna.


4. Prinsip Kredibel.
Gagasan yang melekat harus punya kredibilitas. Orang akan percaya tentang perbaikan pelayanan kesehatan masyarakat jika disampaikan oleh menteri kesehatan. Bagi mereka yang belum punya kredibilitas itu, bisa menggunakan filosofi "coba sebelum membeli". "Sebelum anda memberikan suara, tanyakan pada diri anda sendiri apakah anda lebih makmur hari ini daripada empat tahun yang lalu", kata Ronald Reagan saat berdebat dengan Jimmy Carter tahun 1980. Karena saat itu Reagan berada dalam posisi yang belum kredibel.

5. Prinsip Emosional. Kita perlu membuat gagasan itu memiliki nilai emosional. Dalam kasus popcorn yang tidak sehat itu, masyarakat dibuat merasa jijik dengan popcorn itu dengan membandingkan bahwa lemak setangkup popcorn itu sama nilainya dengan lemak makanan yang dikumpulkan dalam satu meja!


6. Prinsip Cerita. Bagaimana kita membuat orang-orang bertindak sesuai dengan gagasan kita? Kita menceritakan cerita. Orang-orang suka cerita. Mendengarkan cerita berfungsi sebagai simulator secara mental. Cerita dapat membuat pendengar atau pembacanya menanggapi secara cepat dan efektif.


Semoga bermanfaat dan bisa dipraktekkan.

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim

Tuesday, October 23, 2007

Senin , “ Hari Baik “ Untuk Pecat Karyawan



Mau memecat atau mem-PHK karyawan ?
Jangan memecat sembarang waktu , sebagaimana aspek kehidupan lain , perkawinan misalnya.
Memecat karyawanpun harus dicari hari baiknya , dan . . . . . sebaiknya jangan hari Jum’at dan Sabtu.
Mengapa . . . . . ? Inilah pengalaman pribadi saya.


Salah satu tugas atasan yang tidak mengenakan adalah memecat karyawan , tetapi sebagai supervisor anda kadang – kadang harus melakukan tugas ini. Perlukah kiat dalam memecat karyawan ?


Pemutusan hubungan antara Pemilik dan Karyawan selayaknya ditangani secara adil dan mesti ditangani dengan sebaik – baiknya.
Jika tidak hati – hati malah bisa berbalik , menimbulkan masalah bagi perusahaan berupa tuntutan balik dari karyawan dan sebagainya. Apalagi pengalaman saya dari tanah Jawa berhadapan dengan " kultur " karyawan dan dinas plat merah di Sumatra Utara yang rada " aneh ".

Tips berikut berdasarkan “ praktek langsung “ saya , akan menolong teman – teman yang belum pernah memecat karyawannya.


1. Jangan tunjukkan wajah geram.
Pada saat menyampaikan keputusan PHK terhadap seseorang lakukanlah dengan baik – baik.. Jangan memperlihatkan wajah garang atau rasa benci. Walaupun karyawan ini termasuk bandel , kinerjanya rendah , tidak bias diubah , atau tergolong , membebani perusahaan , tetapi putusan PHK tetap harus dilakukan secara adil.

2. Jangan memecat langsung.
Jika seorang karyawan melanggar peraturan yang dampaknya pada PHK , jangan katakan “ pemecatan “ saat itu juga , Katakan saja ia dilarang masuk kantor ( skorsing ) selama 3 hari , sembari sedang diadakan penyelidikan terhadap pelanggarannya.
Jika memang terbukti , putusan PHK harus dilakukan , jika tidak , namanya harus dibersihkan.

3. Berkonsultansi dengan pimpinan.
Bicarakan masalah yang anda hadapi dengan pimpinan , sehingga ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah tahu permasalahannya , apapun keputusan yang harus diambil , pihak – pihak yang terkait dalam perusahaan telah tahu dan membahasnya.

4. Buka Kasus Lama.
Sebelum memutuskan PHK , lihat dulu pengalaman sebelumnya.
Apakah ada pelanggaran serupa yang tidak berlanjut kepada pemecatan.


5. Dokumentasikan setiap hal.
Sebutkan secara jelas , apa , siapa , dimana , mengapa , dst. ( 5 W 2 H questions ).
Beri tanggal dan tanda tngan fakta tersebut , suatu keputusan PHK merupakan akumulasi dari pelbagai pelanggaran yang dibuat sebelumnya. Jika memang sang karyawan sudah “ menabung “ pelbagai macam pelanggaran dan . . . tak termaafkan lagi . . . ya apa boleh buat.


6. Lakukan PHK dengan sikap positif , Jika anda terpaksa harus mem-PHK karyawan , sampaikan empati dan simpati anda , dan berikan motivasi kemungkinan ia bisa mencari kerja ditempat lain.

7. Jika anda memecat pada hari Jum’at atau Sabtu , maka hari Minggu kemungkinan besar sang karyawan akan berkumpul dengan keluarganya dan langsung menceritakan penderitaannya.
Bisa – bisa keluarganya ( anak , istri ) akan menjadi korban frustasinya.
Jika anda memecat pada hari Senin , Selasa sampai Rabu , dia bisa langusng keluar rumah. Syukur – syukur bisa langsung dapat kerja , nah keluarganya aman toh . . . . . .


See other article on :http://djodiismanto.blogspot.com/


Regards,
Djodi Ismanto
Mitsubishi Motors – Group Sumatra Berlian
From nice city of Medan
www.pwsmedan.blogspot.com

Tetap Semangat !


Seringkali situasi berjalan tidak sesuai dengan kehendak atau malah mungkin meninggalkan anda.
Mulai dari promosi terhambat , bonus yang tak kunjung keluar , usulan yang selalu ditolak atau di pending , sampai kepada hal – hal sepele seperti computer rusak , line telepon ngadat dll.

Semua itu bisa jadi mengecewakan anda , namun demikian anda dipersilahkan memilih sikap apapun yang anda mau., namun jangan sampai kehilangan semangat.
Saat anda memilih untuk tetap semangat dan positif , sesungguhnya pilihan itu tak banyak.
Pertahankan semangat anda , meski situasi sulit dan tidak memihak anda.

Percayalah , anda tidak akan sanggup kecewa selama 24 jam terus menerus.
Nanti pada saatnya semangat anda akan menemukan harapan baru.
Tetaplah optimis untuk mengerjakan sesuatu.
Kesulitan ini hanya sementara datang untuk akhirnya pergi , janganlah kehilangan antusiasme dan semangat , karena itulah pegangan yang paling kokoh.

Semangat adalah milik anda yang hakiki .
Bukankah semangat adalah kata lain dari “ Spirit ?”.
Sedangkan “ Spirit “ adalah Roh dan Jiwa Anda.

Ingatlah hukum alam dan kata-kata bijak ini :

Tidak ada “ situasi yang tidak tidak enak “ yang berkesinambungan , namun harus anda ingat juga tidak ada “ situasi enak “ yang abadi.


Djodi Ismanto
From nice city of Medan

Monday, October 22, 2007

Waktu


Betapa hebatnya waktu mengatur kita, mengatur kehidupan kita
Ketika lonceng jam usai kerja berdering, tanpa diperintah segera kita berkemas. Menyimpan kertas dan pensil dalam laci, lalu meninggalkannya jauh-jauh. Seolah semua persoalan telah terpecahkan untuk hari itu.


Padahal masalah tetap terjaga selagi kita pejamkan mata. Namun, esok hari, ketika lonceng jam mulai kerja berdentang, semua tumpukan masalah kita aduk, seolah ia terlampau banyak tidur semalam.


Perselisihan pun bolehlah dilanjutkan kembali. Ah, betapa hebatnya waktu menghibur kita. Betapa bergairahnya waktu membangunkan kita. Saat kita mengatur waktu, sesungguhnya kita pun mengatur pikiran, emosi, dan perasaan kita. Karena waktu adalah lingkaran dimana kehidupan kita berjalan, kita atur waktu untuk mengatur kehidupan.

Kita rayakan sesuatu karena kita ciptakan hari besar. Kita heningkan diri karena kita tegakkan kesyahduan.

Dan semua itu kita rangkai dalam jalinan waktu. Maka, hanya mereka yang tak kenal akan waktulah yang terjerat dalam persoalan tiada berujung.


Bagi mereka yang tidak menghargai waktu, maka meraka akan menyia-nyiakan waktu, walau terkdang ada orang yang sangat kekurangan waktu. Dan ketika orang sudah divonis oleh suatu penyakit maka kehidupan orang tersebut menunggu waktu.


Maka hargai lah setiap waktu yang kau miliki, manfaatkan untuk kebaikan etiap waktu yang termiliki.

Kegagalan dan keberhasilan kita juga kita dapat dari cara kita mengatur waktu yang kita miliki, maka manfaatkan lah waktu yang ada saat ini, karena waktu tidak akan pernah bergerak mundur, dari pada menyesal di kemudian,
lebih baik kita memanfaatkan dan menghargai waktu.

Misi Hidup Dalam Sebuah Kerja


Usai Pemilu 2009 , kegiatan kembali menggeliat , proyek pembangunan infrastruktur mulai bergerak seiring kembalinya kaum urban dari National Holyday Travel alias Mudik.


Di satu sudut pusat kota Medan, seorang wanita bertubuh kurus, dengan senyum jenaka disela – sela pipinya yang tirus , duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Sesegera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli yang telah menunggu sejak tadi segera mengerubungi dan membuatnya sibuk melayani.

Bagi mereka pilihan menu dan rasa bukan soal , yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murahnya.


Hampir – hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian rendah.

Lalu apa untungnya ?


Wanita itu terkekeh menjawabnya , “ Bisa numpang makan dan beli sedikit kopi dan sabun “.

Tapi bukankah dia bisa menaikkan harganya sedikit ?

Sekali lagi ia terkekeh , “ Lalu bagaimana kuli – kuli itu bisa membeli ?” , “ Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka ?”, jawabnya sambil menunjukkan para lelaki yang berlompatan keatas truck Mitsubishi Colt Diesel yang mengantar mereka ketempat bekerja.


Ah, betapa cantiknya , bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja. Orang – orang yang memahami benar kehadiran karyanya untuk orang lain , sebagaimana wanita tua diatas , yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia., adalah tiang penyangga yang menahan langit ini agar tidak runtuh.


Merekalah beludru halus yang membuat jalan hdup yang nampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan menjadi pengobat luka kehidupan.


Bukankah demikian juga tugas kita dalam bekerja dimanapun kita berkarya yang menghadirkan secercah harapan dan kesejahteraan bagi sesama.


lihat artikel lain di http://pwsmedan@blogspot.com


DJODI ISMANTO
Mitsubishi Motors - Group Sumatra Berlian

From nice city of Medan

www.djodiismanto.blogspot.com


Saturday, October 20, 2007

KACAMATA


Hal ini terjadi disuatu daerah yang banyak peternak domba

Disuatu Negara di Eropa.

Pada suatu musim panas yang cukup panjang, kalo di Indonesia

Sih dibilang kemarau kali….

Semua peternak mengeluh karena padang rumput kering sehingga makanan untuk domba-domba mereka sangat kurang, akibatnya domba-dombanya pada kurus kering.

Namun ada satu peternak yang tidak terkena imbas dari musim panas itu… heran donk….

Rombongan peternak itu lalu mendatangi peternak yang dombanya tetap gemuk dan bagus, sambil bertanya apa rahasianya sehingga ternaknya tetap sehat dan bagus dimusim kemarau yang panjang ini.

Tau gak jawaban peternak yang dombanya tetap subur dan gemuk tadi …..

Katanya "Tidak ada yang jadi rahasia hingga domba saya tetap gemuk, mereka tetap makan rumput yang ada Cuma mungkin perbedaannya semua domba saya semua saya kasih kacamata hijau, jadi walaupun sebenarnya rumputnya coklat kepanasan tapi mereka menganggap rumputnya tetap hijau….hehehe.

Moralnya…

Semua orang punya masalah masing-masing, tinggal bagaimana kita melihat dengan kacamata masalah, problem atau kacamata yang lain. Terserah kita mau pakai kacamata apa……This is Your Choice Man.


Sent by Lucas Costan ,
SBM Accounting Head - Medan