Myspace Backgrounds

Thursday, August 23, 2007

SURAT DARI SUAMI

Sepasang suami isteri setengah baya yang sama-sama dari kalangan profesional merasa penat dengan kesibukan di ibukota. Mereka memutuskan untuk berlibur di Bali dan menempati kembali kamar hotel yang sama saat mereka melalui masa honeymoon 30 tahun lalu.

Karena kesibukannya, sang suami harus terbang lebih dahulu dan isterinya baru menyusul keesokan harinya.
Setelah check in di hotel di Bali, sang suami mendapati sebuah komputer yang tersambung ke internet telah terpasang di kamarnya. Dengan gembira ia menulis e-mail mesra kepada isterinya di kantornya di Jalan Sudirman, Jakarta.

Celakanya, ia salah mengetik alamat e-mail isterinya dan tanpa menyadari kesalahannya ia tetap mengirimkan e-mail tersebut.

Di daerah Cinere, seorang wanita baru kembali dari pemakaman suaminya yang baru meninggal. Setiba di rumah, ia langsung check e-mail untuk membaca ucapan-ucapan belasungkawa.

Baru selesai membaca e-mail yang pertama, ia jatuh pingsan. Anak sulungnya yang terkejut kemudian membaca e-mail tersebut, yang bunyinya:

To: Isteriku tercinta
Subject: Aku udah sampai!!!
Date: 18 Mei 2006

Aku tahu pasti kamu kaget tapi seneng dapat kabar dariku. Ternyata disini mereka udah pasang internet juga, katanya biar bisa berkirim kabar buat orang-orang tercinta di rumah.

Aku baru sampai dan sudah check-in. Katanya mereka juga sudah mempersiapkan segalanya untuk kedatanganmu besok.
Nggak sabar juga deh rasanya nunggu kamu. Semoga perjalanan kamu ke sini juga mengasyikkan seperti perjalananku kemarin.

Love,

Papa

From nice island of Bali

Wednesday, August 22, 2007

Mengapa Berteriak


Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya;
"Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;
"Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."
"Tapi..." sang guru balik bertanya,
"lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?" Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka.

Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata; "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi." Sang guru masih melanjutkan; "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.


"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan." Sang guru masih melanjutkan; "Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu.

Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda."

Doa Penjual Tempe


Adalah seorang ibu setengah baya yang sehari-harinya berjualan tempe buatan sendiri di desanya. Suatu hari, seperti biasanya, pada saat ia akan pergi ke pasar untuk menjual tempenya, ternyata pagi itu, tempe yang terbuat dari kacang kedele masih belum jadi tempe alias masih setengah jadi.

Ibu ini sangat sedih hatinya, sebab jika tempe tersebut tidak jadi berarti ia tidak akan mendapatkan uang karena tempe yang belum jadi tentunya tidak laku dijual. Padahal mata pencaharian si ibu satu-satunya hanyalah dari menjual tempe saja agar ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Dalam suasana hatinya yang sedih, si ibu yang memang aktif beribadah teringat akan Tuhan yang menyatakan bahwa Tuhan dapat melakukan perkara-perkara ajaib, bahwa bagi Tuhan tiada yang mustahil.

Lalu ia pun menumpangkan tangannya di atas tumpukan beberapa batangan kedele yang masih dibungkus dengan daun pisang tersebut."Tuhan, aku mohon kepadaMu agar kedele ini menjadi tempe.
"Amin". Demikian doa singkat si Ibu yang dipanjatkannya dengan sepenuh hati. Ia yakin dan percaya pasti Tuhan menjawab doanya.

Lalu, dengan tenang ia menekan-nekan bungkusan bakal tempe tersebut dengan ujung jarinya.Dengan hati yang deg-deg-an, Ia mulai membuka sedikit bungkusannya untuk melihat mukjijat kedele jadi tempe terjadi. Namun apa yang terjadi? Dengan kaget dia mendapati bahwa kedele tersebut masih tetap kedele!Si Ibu tidak kecewa . Ia berpikir bahwa mungkin doanya kurang jelas didengar Tuhan. Lalu kembali ia menumpangkan tangan di atas batangan kedele tersebut. "Tuhan, aku tahu bahwa bagiMu tiada yang mustahil. Tolonglah aku supaya hari ini aku bisa berdagang tempe karena itulah mata pencaharianku. Aku mohon jadilah ini menjadi tempe.

"Amin."Dengan tenang, Iapun kembali membuka sedikit bungkusan tersebut. Lalu apa yang terjadi? Dengan kaget ia melihat bahwa kacang kedele tersebut???......... ........masih tetap begitu !
Sementara hari semakin siang dimana pasar tentuny aakan semakin ramai.Si ibu dengan tidak merasa kecewa atas doanya yang belum terkabul, merasa bahwa bagaimanapun sebagai langkah iman ia akan tetap pergi ke pasar membawa keranjang berisi barang dagangannya itu. Ia berpikir mungkin mujijat Tuhan akan terjadi ditengah perjalanan ia pergi ke pasar. Lalu ibu itu punbersiap-siap untuk berangkat ke pasar. Semua keperluannya untuk berjualan tempe seperti biasanya sudah disiapkannya.

Sebelum beranjak dari rumahnya, ia sempatkan untuk menumpangkan tangan sekali lagi.
"Tuhan, aku percaya Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju pasar, Engkau akan mengadakan mukjijat buatku.
"Amin." Lalu ia punberangkat. Di sepanjang perjalanan ia tidak henti-hentinya berdoa. Tidak lama kemudian sampailah ia di pasar. Dan seperti biasanya ia mengambil tempat untuk menggelar barang dagangannya. Ia yakin bahwa tempenya sekarang pastisudah jadi. Lalu iapun membuka keranjangnya dan pelan-pelan menekan-nekan dengan jarinya bungkusan tiap bungkusan yang ada. Perlahan ia membuka sedikitdaun pembungkusnya dan melihat isinya.Apa yang terjadi? Ternyata saudara-saudara..... ......... ...tempenya benar benar............ . ......... belum jadi !

Si Ibu menelan ludahnya. Ia tarik napas dalam-dalam. Ia mulai kecewapada Tuhan karena doanya tidak dikabulkan. Ia merasa Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan kepadanya. Ia hidup hanya mengandalkan hasil menjual tempe saja. Selanjutnya, ia hanya duduk saja tanpa menggelar dagangannya karena ia tahu bahwa mana ada orang mau membeli tempe yang masih setengah jadi. Sementara hari semakin siang dan pasar sudah mulaisepi dengan pembeli. Ia melihat dagangan teman-temannya sesama penjual tempe yang tempenya sudah hampir habis. Rata-rata tinggal sedikit lagi tersisa. Si ibu tertunduk lesu. Ia seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan hidupnya hari itu. Ia hanya bisa termenung dengan rasa kecewa yang dalam. Yang ia tahu bahwa hari itu ia tidak akan mengantongi uangs epeserpun.

Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sapaan seorang wanita."Bu?! Maaf ya, saya mau tanya. Apakah ibu menjual tempe yang belum jadi? Soalnya dari tadi saya sudah keliling pasar mencarinya."
Seketika si ibu tadi terperangah. Ia kaget. Sebelum ia menjawab sapaan wanita di depannya itu, dalam hati cepat-cepat ia berdoa "Tuhan? saat ini aku tidak butuh tempe lagi. Aku tidak butuh lagi. Biarlah daganganku ini tetap seperti semula, Amin."Tapi kemudian, ia tidak berani menjawab wanita itu. Ia berpikir jangan-jangan selagi ia duduk-duduk termenung tadi, tempenya sudah jadi. Jadi ia sendiri saat itu dalam posisi ragu-ragu untuk menjawab ya kepada wanita itu. "Bagaimana nih?" ia pikir. "Kalau aku katakan iya, jangan-jangan tempenya sudah jadi. Siapa tahu tadi sudah terjadi mukjijat Tuhan?"

Ia kembali berdoa dalam hatinya, "Ya Tuhan, biarlah tempeku ini tidak usah jadi tempe lagi. Sudah ada orang yang kelihatannya mau beli. Tuhan, tolonglah aku kali ini. Tuhan dengarkanlah doaku ini.." ujarnya berkali-kali.Lalu, sebelum ia menjawab wanita itu, ia pun membuka sedikit daun penutupnya. Lalu ? apa yang dilihatnyaSaudara-Saudara ???
Ternyata??ternyata? memang benar tempenya belum jadi! Ia bersorak senang dalam hatinya. Singkat cerita wanita tersebut memborong semua dagangan si Ibu itu.

Sebelum wanita itu pergi, ia penasaran kenapa ada orang yang mau beli tempe yang belum jadi. Ia bertanya kepada si wanita. Dan wanita itu mengatakan bahwa anaknya di Yogya mau tempe yang berasal dari desa itu. Berhubung tempenya akan dikirim ke Yogya jadi ia harus membeli tempe yang belum jadi, supaya agar setibanya di sana tempenya sudah jadi. Kalau tempe yang sudah jadi yang dikirim maka setibanya di sana nanti tempe tersebut sudah tidak bagus lagi dan rasanya sudah tidak enak. Apa yang bisa kita simpulkan dari kesaksian sederhana?

Pertama: Kita sering memaksakan kehendak kita kepada Tuhan pada waktu kita berdoa padahal sebenarnya Tuhan lebih mengetahui apa yang kita perlukan.

Kedua : Tuhan menolong kita dengan caraNya yang sama sekali di luar perkiraan kita sebelumnya.

Ketiga :
Tiada yang mustahil bagi Tuhan

Keempat :
Percayalah bahwa Tuhan akan menjawab doa kita sesuai dengan rancanganNya.

Bagikanlah kesaksian ini kepada sahabat 2x dan teman2x... kalau anda merasa terinspirasi dengan kesaksian ini.

see other article on :
http://djodiismanto.blogspot.com/


Regards,
Djodi Ismanto
Mitsubishi Motors - Group Sumatra Berlian
From nice city of Medan

Tuesday, August 21, 2007

Meningkatkan Loyalitas


"Banyak hal yang menyebabkan seorang karyawan tidak loyal pada perusahaan, di antaranya ketidaksanggupan perusahaan menjaga kenyamanan kerja dan tidak adanya transparansi.
Hal-hal seperti kurang diperhatikan perusahaan karena dianggap tidak penting. Perlu disadari bahwa loyalitas mempunyai peranan penting dalam kemajuan perusahaan. Menurut Mariko A. Yashihara, Managing Director, PT. JAC Indonesia, ada berapa hal yang menyebabkan karyawan tidak loyal pada perusahaan. "

Pertama
Ketidaksanggupan perusahaan menjaga kenyaman kerja. Ketidakmampuan perusahaan menjaga kenyamanan bekerja bisa berdampak buruk terhadap kinerja karyawan dan pada tahap lebih fatal karyawan akan pindah kerja ke perusahaan lain. Hal ini bisa terjadi bila perusahaan tidak mempunyai prospek yang bagus terhadap kelangsungan hidup karyawan, di mana karyawan jarang atau tidak mengalami peningkatan gaji, bonus dan tunjangan. Pada perusahaan tertentu, sangat sulit memperhatikan permasalan ini karena berhubungan dengan keuangan perusahaan, apa lagi era krisis sekarang banyak sekali perusahaan yang mengabaikan kesejahtraan karyawa. Kasus seperti ini tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di Jepang.

Kedua Senior sukses.

Kesuksesan seorang senior dalam meniti karier dan membangun perekonomian akan mempengaruhi semengat junior untuk tetap setia pada perusahaan. Secara umum setiap karyawan baru mempunyai harapan masa depan terhadap perusahaan. Bila harapan itu tidak terpenuhi maka mereka akan mereview harapan tersebut, termasuk kelangsungan berkeja. Tidak sedikit karyawan yang kecewa karena perusahaan kurang memperhatikan kesejahtraan karyawan.

Ketiga keluarga.

Faktor ketiga ini biasanya dialami oleh kaum perempuan. Tidak sedikit perempuan pindah dan berhenti kerja karena suami mendapat tugas kerja ke luar daerah atau luar negeri. "Bukan menentang gander, tapi kenyataanya memang seperti itu. Fenomena seperti ini tidak saja terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi di negara lain, termasuk negara maju. Dalam menata kelangsungan rumah tangga, kebanyakm istri mengikuti suami, bukan suami yang mengikuti istri, akibatnya karier perempuan terhalang karena terbentur pola kerja suami," tutur konsultan tenaga kerja asal negara Matahari Terbit ini. Mengacu pada kasus di atas. Tidak sedikit perusahaan yang enggan menerima karyawan perempuan sudah menikah. Mereka lebih suka menerima karyawan perempuan belum menikah karena ritme kerja mereka lebih tinggi dan tidak punya resiko untuk pindah kerja, termasuk hamil. Walau menerima karyawan perempuan sudah menikah tapi tidak akan ditempatkan di posisi penting.

Keempat kondisi negara.

Ketidak stabilan ekonomi dan politk satu negara membuat karyawan ingin pindah kerja ke nagara lain. Selain kestabilan ekonomi dan politik, kebijakan yang tidak berpihak pada karyawan juga bisa mempengaruhi loyalitas karyawan. Terbukti, tidak sedikit orang Indonesia yang menjadi TKI, itu karena gaji di luar negeri lebih besar dari Indonesia.

Kelima transparan.
Perusahaan yang tidak pernah mengsosialisasikan provit pada karyawan akan menimbulkan rasa cemas karyawan. Karyawan akan bertanya-tanya apakah perusahaan ini masih stabil atau sudah rapuh? Bila karyawan tahu bahwa ekonomi perusahaan dalam keadaan kuat, maka karyawan akan bertahan, menjaga pola kerja dan enggan pindah kerja. Selain itu, tidak ada salahnya memberikan bonus bila perusahaan memperoleh untung besar.

Cara Meningkat Loyalitas
Mariko menjelaskan, tidak sulit meningkat loyalitas karyawan pada perusahaan. Ada empat cara meningkatkan loyalitas:

Pertama
Perhatian khusus kepada karyawan khusus. Ini bisa diimplementasikan dengan cara menaikan jabatan dan meningkatkan gaji. Untuk mengetahui perkembangan karyawan, perusahaan harus memantau kerja karyawan. Karyawan berkualitas harus diberikan kompensasi positif, salah satunya bonus. Cara ini akan mengikat karyawan untuk enggan pindah kerja karena semua kebutuhan sudah dipenuhi perusahaan.

Kedua
Membangun nilai kekeluargaan. Nilai ini bisa dibangun dengan cara makan siang bersama karyawan terpilih. Tidak perlu setiap hari, makan siang bersama bisa dilakukan dalam satu bulan atau minggu sekali. Dari sini akan terbangun keakraban antara karyawan dengan pemimpin. Dalam kondisi akan terlontar pembicara-pembicara non formal yang membuat suasana menjadi santai dan akrab. "Cara seperti banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar, para CEO meluangkan waktu untuk makan siang bersama karyawan terpilih," kata Mariko.

Ketiga
Meningkatkan karier. Menaikan jabatan karyawan berprestasi sangat perlu dilakukan, karena itu merupakan satu kebanggan. Karyawan paling senang bila mereka menduduki jabatan yang lebih tinggi. Ini merupakan satu prestasi kerja, dengan imbalan ini mereka akan meningkatkan semangat kerja. Jangan biarkan karyawan berprestasi pindah kerja, karena mereka adalah aset perusahaan yang nilainya tidak kalah dengan keuntungan.

Keempat analisa
.
Dengan menganalisa keadaan karyawan pemimpin akan tahu kondisi dan tingkat kebutuhan karyawan. Setiap karyawan mempunyai tingkat kebutuhan berbeda-beda. Dalam memenuhi kebutuhan karyawan tidak bisa disama ratakan, setiap karyawan mempunyai tingkat kebutuhan berbeda-beda. Tingat kebutuhan karyawan berusia 22-25 tahun, di mana mereka baru lulus kuliah dan belum menikah berbeda dengan karyawan berusia 30-35 tahun. Karyawan berusia 22-25 tahun mempunyai sifat ingin belajar dan tingkat kebutuhan terhadap materi masih kecil. Karyawan pada level ini lebih cocok jika berikan learning center atau pendidikan tambahan. Pendidikan tambahan akan menjadi bekal pengembangan karier. Berbeda dengan karyawan berusia 30-35 tahun.

Diusia ini mereka sudah mempunyai rencana untuk menikah. Untuk kelangsungan pernikahan, mereka membutuhkan dana pernikahan. Karyawan seperti ini lebih senang bila gajinya dinaikan. Begitu juga dengan karyawan, berusia 40 tahun ke atas. Keryawan berusia diatas 40 tahun sudah mulai sakit-sakitan dan anak sudah mulai sekolah. Karyawan ini lebih senang, bila uang kesejahtraan keluarga dinaikan.

"Selain ditentukan oleh kepribadian, loyalitas karyawan juga ditentukan oleh keadaan perusahaan. Perusahaan yang tidak sehat akan mengurangi loyalitas karyawan, kondisi seperti ini tidak saja terjadi di Indonesia tapi juga di negara maju."

Anda Memiliki Kelebihan , Itu Pasti


Anda pernah menemukan orang-orang yang tidak percaya diri. Dan Anda juga pernah menemukan orang-orang yang sangat percaya diri. Tentu saja. Menurut pendapat anda, apakah orang yang memiliki rasa percaya diri tinggi itu mempunyai kemampuan atau keterampilan yang lebih tinggi dari orang pertama tadi? Dalam banyak hal iya. Tetapi, dalam banyak hal lainnya, tidak. Kita mengenal cukup banyak orang yang sebenarnya mempunyai keunggulan dibanding orang lain. Tetapi, mereka tidak memiliki cukup rasa percaya diri. Dengan kata lain, banyak orang yang meragukan diri mereka sendiri. Anda tidak demikian, bukan?


Para ahli pertambangan pasti mengetahui bahwa; dimanapun kita menggali, kita akan sampai pada penemuan mineral. Artinya, tidak peduli dibagian bumi mana kita menancapkan mata bor, pasti disitu ada mineral.

Manusia juga begitu. Prinsip ’dimanapun kita menggali, pasti ada mineralnya’ juga aplikabel. Namun, bunyinya agak berubah sedikit; ”siapapun anda, pastilah anda memiliki keunggulan”. Pertanyaannya adalah: mineral apa yang kita dapatkan? Itu yang pertama. Dan kedua, Seberapa banyak jumlah mineral itu tersedia? Di koordinat A, kita hanya akan bisa menemukan tembaga. Di koordinat B, hanya ada emas saja. Tetapi, ada koordinat tertentu, yang meskipun dilaporkan hanya mengandung tembaga, padahal sebenarnya merupakan percampuran emas dan tembaga dalam jumlah yang melimpah. Dia bukan titik A, bukan pula titik B.


Di beberapa koordinat yang lain, kita menemukan cadangan minyak. Pertanyaannya: Apakah anda akan menggali semua koordinat berisi minyak itu satu per satu? Menurut perkiraan awam saya, pasti tidak akan anda lakukan. Anda hanya akan menggali di titik yang kandungan minyaknya banyak saja. Bukan begitu? Anda akan menggali ditempat yang kandungan minyaknya cukup banyak untuk bisa menghasilkan keuntungan secara ekonomi.

Ingat, ”siapapun anda, pastilah anda memiliki keunggulan”. Jika kita bilang siapapun, maka itu artinya benar-benar siapapun manusianya. Selama kita masih bisa disebut manusia, maka kita mempunyai keunggulan itu. Dan untuk menikmati nilai ekonomi dari keunggulan itu; seperti beberapa titik ladang minyak tadi, cara terbaiknya adalah menggali pada titik minyak terbanyak. Dengan kata lain, mengoptimalkan potensi yang bisa memberikan hasil paling banyak.

Oleh karena itu, masuk akal jika seseorang menasihatkan begini; jika kekuatan anda ada pada bidang A, jangan fokus pada bidang B; karena bukan disitu letaknya anda punya kekuatan. Jika anda ungul pada bidang A & B sekaligus, bisa saja anda memilih; bidang A atau B. Jika anda bisa melakukannya secara bersamaan; mengapa tidak? Tetapi, jika anda tidak bisa melakukan keduanya sekaligus, mengapa tidak melakukan satu saja dulu, baru merambah hal lainnya kemudian. Itu jika anda unggul pada bidang A dan B. Tetapi, jika anda berada kelompok unggul A, atau unggul B, hal terbaik bagi anda adalah; menerima kenyataan itu, dan mengoptimalkan ke-A-an atau ke-B-an anda, tanpa perlu takut pada penilaian orang lain. Selama apa yang anda lakukan itu positif, dan sesuai dengan pusat kekuatan anda. Pasti anda akan baik-baik saja.

Catatan kaki:
Kita percaya bahwa setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan. Sangat mudah untuk menemukan kekurangan. Namun, kita sering kebingungan ketika harus menjawab pertanyaan ini;”apa sih kelebihan yang kita miliki?”


source : Dadang Kadarusman

Segelas Susu


Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar.
Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.

Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu. Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya,
"berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?"
Wanita itu menjawab: "Kamu tidak perlu membayar apapun".
"Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan" kata wanita itu menambahkan.
Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata :" Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda."

Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter dikota itu sudah tidak sanggup menganganinya.
Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.
Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan.. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly.
Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit, menuju kamar si wanita tersebut.
Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.
Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan... Wanita itu sembuh !!.

Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.
Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatuannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi..
"Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu.." tertanda, DR Howard Kelly.
Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa:
"Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia."

Positif Thinking


Bagaimana cara kita memandang kehidupan akan berpengaruh juga pada pandangan dan cara pikir kita terhadap segala hal. Untuk meraih sukses, kita harus bisa merubah cara berpikir kita dari negative thinking menjadi positive thinking.

Pembicaraan mengenai positive thinking akan diawali tentang sebuah konsep sederhana mengenai kacamata. Kalau Anda memakai kacamata yang berwarna merah, maka Anda akan melihat dunia ini dengan warna merah. Kalau memakai kacamata hijau, maka Anda akan melihat dunia ini dengan warna hijau.

Untuk membantu pemahaman,
ada sebuah cerita kuno dari negeri China yang bisa dijadikan ilustrasi. Cerita ini bermula dari seseorang (sebut saja namanya Ahmad) yang kehilangan kapaknya. Perlu diketahui bahwa di jaman itu, yaitu di jaman agrikultur sekitar 2000 tahun yang lalu, kapak adalah alat yang sangat penting karena mereka tidak bisa mencari nafkah tanpa alat tersebut. Hampir tiap hari kapak itu dibawa Ahmad ke hutan untuk menebang kayu yang akan dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


Pada suatu hari Ahmad kehilangan kapaknya. Dia bingung mengingat-ingat di mana dia meletakkan kapaknya dan mulai berpikir kalau ada seseorang yang membutuhkan kapak dan mengambil kapak miliknya. Ahmad kemudian mulai mencurigai tetangganya sendiri yang bernama Hadi. Kebetulan esok harinya Hadi berpamitan ke Ahmad kalau dia hendak pergi ke hutan. Tidak seperti biasanya, cara pamit Hadi terdengar tidak tegas. Ahmad berpikir, mungkin Hadi malu karena telah mengambil kapaknya sehingga dia tampak kebingungan.


Besoknya, Ahmad semakin menaruh curiga pada Hadi. Ada sebuah barang yang disembunyikan di pinggang Hadi. "Jangan-jangan itu kapak saya yang dicurinya," pikir Ahmad.


Besoknya lagi, Hadi pergi ke hutan tanpa berpamitan dengan Ahmad. Ahmad pun semakin curiga bahwa Hadi telah mencuri kapaknya. Hingga tiga hari lamanya Ahmad menaruh curiga pada Hadi. Pada hari keempat, Ahmad kaget karena menemukan kapaknya di bawah ranjangnya sendiri. Ternyata kapak itu disimpan istrinya tanpa sepengetahuannya. Akhirnya Ahmad berkesimpulan bahwa dia telah berpikir negatif terhadap Hadi.


Cerita di atas mengilustrasikan bahwa bilamana kita sudah mempunyai kecurigaan atau sebuah pandangan negatif terhadap sesuatu, maka kita akan terus melihatnya dengan kacamata negatif. Orang yang gagal selalu mengeluh dan mengeluh. Kenapa harus selalu berusaha lagi? Toh kalau berusaha akan tetap mengalami kegagalan.


Seseorang yang mempunyai pemikiran seperti ini akan menjadi pesimis untuk mencoba lagi. Tetapi orang yang sukses dengan berkesinambungan akan selalu berpikir untuk berhasil lalu akan mencoba terus dan lagi-lagi menuai keberhasilan. Keberhasilan yang dia dapatkan akan membuat semangat bagi dia untuk terus mencoba. Yang penting adalah; kita semua diharapkan untuk mempunyai kacamata yang cerah dalam memandang kehidupan ini, karena kacamata yang cerah akan memandang semua masalah dengan pandangan yang cerah pula. Bukan kacamata yang hitam yang membuat kita tidak bisa melihat apapun.


Source : cerita kasih

Monday, August 20, 2007

Keteladanan


’Teladan adalah sama antara yang dipikirkan, yang diucapkan dan yang dilakukan..’

’Jika membersihkan sesuatu, pakailah alat yang bersih’

Prinsip pertama dari perubahan adalah prinsip keteladanan. Mengapa keteladanan masuk jadi prinsip? Semua rantai bersambung satu sama lain. Kerja bersama dalam tim bagai sebuah rantai. ’Teamwork is like a chain’.

Anda bekerja dengan mahluk hidup yang melihat, mendengar, merasakan. Manusia dengan siapa kita bekerja adalah makhluk pembelajar dengan seluruh indranya. Anda dan anak buah anda adalah sebuah rantai yang bergetar, berbunyi, bergambar. Anda saling mempengaruhi satu sama lain. Anda berasal dari mereka. ’Anda sama dengan mereka. Anda berada ditengah-tengah mereka.’ [William Wallace].

Semua berhubungan. Semua terjalin dalam satu ikatan. Dari sinilah juga hukum ‘Pengaruh’ [’the law of influence’] berasal. Ini sama kramat dan sakralnya dengan hukum ’Sebab-Akibat’. Jika ada api di dapur, sebentar lagi ada asap dari dapur anda. Jika apinya lebih besar lagi, maka dapur anda akan terbakar. Ada asap karena ada api. Prinsip ini yang membidani lahirnya ’leading by example’, memimpin dengan teladan. ‘You are role model’.

Oleh karenanya pemimpin berhasil, biasanya pemimpin yang banyak memberikan keteladanan, tidak hanya omongan belaka. Pemimpin yang amburadul, cenderung kinerjanya juga amburadul. Cepatlah berubah, tak ada tempat lagi bagi pemimpin yang amburadul.

Contoh: budaya korporat dari Bank Danamon salah satunya adalah ‘professionalisme yang disiplin’, disiplin dimulai dari pikiran, dari orangnya dan dari tindakannya. Maka kita lihat rata-rata manajemen Danamon adalah pemimpin yang berdisiplin. Mereka jadi panutan yang baik. Kejujuran untuk diri sendiri dan untuk orang lain adalah juga nilai baik dalam budaya Danamon. Semoga itu dapat diwujudkan untuk kepuasan pelanggan Danamon.

Memang, kita sadari, orang tidak suka pemimpin ’omdo’ [omong doang] dalam merintis perubahan. Pengikut anda sangat suka jika anda bisa memberikan teladan pada mereka. Anda dinantikan oleh mereka. Anda belum terlambat sama sekali dalam memulai keteladanan yang terbaik. Apa yang langsung bisa anda lakukan ialah : berusahalah disiplin.

Disiplin adalah jembatan mudah, murah dalam menarik simpati dari anak buah anda. Jika anda disiplin, mereka akan disiplin. Jika anda pemalas, mereka lebih pemalas. Jika anda berkorban, mereka akan lebih berkorban. Jika anda berhasil, kemungkinan besar mereka akan berhasil juga. Jika anda gagal maka mereka juga akan gagal. ’Like father like son, like mother like daugter’. Makanya tak heran, bapak yang merokok tak bisa melarang anaknya untuk tidak merokok. Bapak yang tidak shalat, tidak mempan meminta anaknya rajin shalat, anaknya kemungkinan besar tidak akan shalat. Semua diturunkan, semua saling berpengaruh.


Pepatah bijak kuno: ’Jika membersihkan sesuatu, pakailah alat yang bersih.’ Alat yang bersih adalah pemimpin yang bersih. Di Indonesia, keteladanan sudah jadi barang mahal, tetapi masih bisa dibeli. Di Indonesia, kejujuran juga barang amat langka, tetapi masih bisa dicari. Di Indonesia, kebaikan harganya naik terus, tetapi masih bisa untung. Percayakah anda di Indonesia, masih ada pemimpin yang tangannya bersih? Yang berjuang bak Sumpah Palapa Gajah Mada dan bergerilya ala Panglima Soedirman dari Jawa Tengah. Teladan sudah ditinggalkan oleh ke dua tokoh ini, tinggal anda dan saya meneruskannya. Sanggupkah kita? Ya, sanggup.

Pak Hendrik, teman saya, selalu bilang: ’Jika pemimpin mati meninggalkan nilai-nilai hidupnya, bawahan mati meninggalkan hutang..’ Artinya, pemimpin sudah berubah, anak buah belum berubah juga, karena perubahan pemimpinnya belum terlalu kuat untuk mempengaruhi anak buahnya.

Source

Saturday, August 18, 2007

Makna Kemerdekaan Bagi Pekerja


Apakah anda ikut terlibat langsung dalam perang kemerdekaan? Jika ya, maka usia anda saat ini sekurang-kurangnya sudah berkepala tujuh. Dan diusia itu selayaknya anda menikmati hari tua dengan damai dan bahagia. Tetapi, jika anda tidak ikut perang itu, maka seperti orang-orang muda lainnya; anda adalah pemegang estafet kemerdekaan ini.


Jika tugas orang-orang tua kita adalah merebut kemerdekaan dari tangan penjajah; maka tugas kita adalah mengisi kemerdekaan yang mereka wariskan, dengan pertaruhan nyawa mereka sendiri. Lantas, bagaimana kita bisa ikut mengisi kemerdekaan ?

Mungkin kita jarang menyadari bahwa dengan berkarya, kita sudah berkontribusi untuk mengisi kemerdekaan. Mengapa? Karena begitu banyak masalah yang membebani bangsa ini. Jika kita menjadi karyawan yang sukses, maka berkuranglah satu beban negara untuk menyediakan lapangan kerja. Jika kita bisa memperoleh penghasilan yang layak, maka berkurang pula keratan roti yang harus disediakan negara untuk rakyatnya. Jika kita mampu membiayai sekolah anak-anak kita, maka beban negara atas pendidikan juga berkurang. Begitulah seterusnya.

Pendek kata, Anda bisa mengisi kemerdekaan ini dengan mengurangi beban negara atas diri Anda sendiri. Jika Anda hanya bisa melakukannya untuk diri Anda sendiri saja, maka itu sudah menjadi sumbangan bermakna. Karena di luar sana masih banyak sekali rakyat yang bahkan tidak sanggup untuk menghidupi dirinya sendiri, sehingga menambah berat beban negara ini. Anda tidak seperti mereka. Jika Anda bisa mensejahterakan keluarga Anda, maka sumbangan itu menjadi semakin bermakna. Apalagi jika kemudian Anda bisa berkontribusi kepada orang-orang lain dilingkungan Anda. Siapa bilang pejuang kemerdekaan itu hanyalah mereka yang ikut bertempur dimedan perang ? Anda juga bisa menjadi pejuang kemerdekaan dengan mengisi kemerdekaan itu sendiri.

Bagaimana seorang pekerja seperti kita bisa berkontribusi? Dengan menjadi pekerja yang sukses. Bukan sekedar pekerja asal-asalan. Jika semakin banyak pekerja sukses, maka negara ini berangsur-angsur menjadi makmur. Tetapi, kita hanya bisa menjadi pekerja sukses jika kita sungguh-sungguh menggunakan segenap potensi yang kita miliki. Jika tidak, maka kita akan tetap tersisihkan.

Tidak ada tempat kerja yang ideal. Jadi, dimanapun kita bekerja, pasti akan menghadapi beragam kesulitan. Karena itu, jangan pernah membiarkan kesulitan yang Anda hadapi mengubur potensi diri Anda. Sudah banyak orang cemerlang berubah menjadi pecundang, hanya karena kecewa kepada lingkungannya. Jika begitu, sesungguhnya dia tidak merugikan siapapun, selain dirinya sendiri.

Negara ini membutuhkan orang-orang seperti Anda. Maka, berkaryalah dengan segenap kemapuan yang Anda miliki. Karena hanya dengan cara itulah saja, Anda bisa turut mengisi kemerdekaan ini.

Catatan :
Adalah kewajiban penyelenggara negara untuk menyediakan lapangan kerja yang layak bagi setiap warganya. Sedangkan kewajiban kita yang sudah memiliki pekerjaan adalah; memanfaatkannya sebaik mungkin.


Source : Dadang Kadarusman

Ketika Segala Sesuatunya Tidak Berjalan Sesuai Rencana


Kita tentu pernah mendengar kalimat ini; Gagal merencanakan, berarti merencanakan kegagalan. Dalam banyak hal, kalimat ini mengandung kebenaran; terutama bagi kita yang percaya bahwa perencanaan yang baik memberikan arah kepada tindakan yang mesti kita lakukan sehingga boleh dikatakan; kita hanya melakukan sesuatu dengan guaranteed result. Besok anda mau kemana?

Jika ada orang yang bertanya begitu, maka jawaban anda kurang lebih merupakan sebuah perencanaan, kecuali anda menjawab; entahlah, aku tidak tahu.


Tetapi, apakah jawaban yang sama yang akan anda ucapkan jika pertanyaan itu tentang masa depan anda? Terlalu beresiko bukan? Baiklah, jadi sebaiknya anda benar-benar mempunyai rencana yang layak untuk masa depan. Namun, bagaimana jika ditengah jalan anda mendapati bahwa segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana?

Di arena pertunjukan satwa laut, atraksi di kolam lumba-lumba selalu menjadi favorit; tidak hanya bagi anak-anak, melainkan juga orang dewasa. Apalagi sejak kedatangan dua ekor paus putih yang berasal dari perairan laut Russia beberapa waktu lalu. Tidak lengkap pentas itu jika kita tidak menyaksikan atraksi kedua hewan mamalia cerdas itu. Atraksi lumba-lumba tampil lebih dahulu. Dan ketika pintu kolam kecilnya dibuka, secepat kilat empat ekor lumba-lumba melesat menuju kolam besar tempat mereka unjuk kebolehan.

Saya tahu, anda tidak asing lagi dengan petunjukkan lumba-lumba; tetapi, saya tidak yakin anda pernah mendapati kejadian seperti yang kami saksikan kemarin. Setelah pertunjukkan selesai, lumba-lumba itu segera digiring untuk kembali ke kolam kecil yang menjadi kandang mereka. Dan segera setelah itu, paus putih memasuki kolam besar untuk menghibur penonton.

Begitulah rencananya. Tetapi, keempat ekor lumba-lumba itu menolak untuk pulang. Para pelatihnya sudah berkali-kali memberikan perintah agar mereka masuk ke kolam kecil, tetapi tak satupun dari mereka yang bersedia melakukannya. Alih-alih pulang kandang, mereka memilih untuk memberikan atraksi tambahan kepada para penonton; tanpa perintah pelatihnya. Ada empat ekor lumba-lumba cerdik; dan ada empat orang pelatih yang berpengalaman. Kira-kira siapa yang menang?

Dalam urusan berenang, titel sebagai pelatih lumba-lumba tidak serta merta menjadikan empat orang teman kita itu sebagai perenang yang lebih hebat dari hewan yang dilatihnya. Tetapi, sebagai mahluk yang mengklaim paling cerdas, tentu manusia tidak bisa dengan mudah dikalahkan. Nah, sekarang empat lumba-lumba berhadapan dengan empat manusia. Masing-masing mewakili dua ras mahluk yang diduga cerdas itu. Dan mereka sudah siap untuk adu cerdas tangkas diatas pentas.

Jika kita menghitung berapa kali usaha yang dilakukan para pelatih untuk membujuk lumba-lumba itu masuk kandang sebagai seri play-off sebuah pertandingan; maka saya perkirakan, kita para manusia telah kalah telak dengan sekor sekitar 27 melawan 3. Duapuluh tujuh point untuk lumba-lumba, dan tiga untuk kita. Kita mendapatkan point tiga karena sejauh ini, para pelatih baru berhasil mengandangkan tiga ekor lumba-lumba; itupun dengan susah payah.

Dan hebatnya lagi, teman kita si lumba-lumba terakhir ini masih terlalu tangguh untuk keempat pelatihnya. Terutama ketika salah seorang pelatih terjun ke kolam untuk menggiringnya; dia semakin terlihat perkasa. Tentu saja; bahkan Deni si manusia ikan pun belum tentu mampu mengalahkan gaya berenang lumba-lumba bukan? Satu point tambahan untuk kontingen lumba-lumba. Dan ketika pertandingan itu berlangsung begitu panjaaaaaang dan laaaaaamaaa, sehingga menjadi lebih lama dari pertunjukkan utama tadi; maka regu manusia meminta time out.

Hey, saya tidak sedang bersenda gurau. Ini time out beneran. Keempat pemain manusia itu meminta waktu untuk briefing dibelakang pentas pertunjukan; sementara lumba-lumba hebat itu masih melompat-lompat dan bermain dikolam besar yang sekarang sudah berubah menjadi gelanggang pertandingan itu. Seperti penonton lainnya; saya menjadi penasaran, gerangan apakah strategy yang akan diterapkan oleh para manusia untuk memenangkan pertandingan itu. Ingat; ini bukan semata-mata soal adu tangkas dalam hal berenang; melainkan adu kecerdasan dua mahluk cerdas dimuka bumi. Bisakah anda bayangkan jika manusia kalah dipentas ini? Jadi, sebagai spesies manusia, kita semua berharap agar bangsa manusia pada akhirnya bisa keluar sebagai pemenang.

Dan tahukah anda; strategy apa yang dipakai oleh teman-teman kita itu rupanya? Saya yakin, anda tidak akan pernah menduganya. Teman-teman kita itu menggunakan jaring! Jujur saja, saya terkejut melihat keempat pelatih itu kembali dari balik panggung sambil membawa jaring. Namun, sekalipun saya merasa kasihan pada lumba-lumba itu jika harus ditangkap dengan jaring; namun, pada akhirnya, saya menyerahkan kepercayaan sepenuhnya kepada para wakil ras manusia itu untuk melakukannya jika perlu. Toh mereka adalah pelatih professional. Mereka tahu apa yang dilakukannya; sehingga tidak menyakiti mahluk lucu itu. Tetapi, mungkinkah beberapa tahun lagi para lumba-lumba bisa menciptakanan teknologi anti jarring?

Maaf. Tadi kita sedang bicara soal apa? Soal ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana.

Pertama-tama, marilah kita pastikan bahwa kita termasuk orang-orang yang percaya bahwa mempunyai rencana untuk masa depan kita itu adalah baik adanya. Sebab, jika tidak; sia-sia saja anda membaca semua yang saya ceritakan dalam tulisan ini.

Kedua, jika kita mempunyai rencana sudah; sebaiknya kita tetap sadar bahwa segala sesuatunya tidak selalu berjalan sesuai rencana. Adakalanya kita mesti berubah arah sedikit. Berbelok kekiri. Menikung kekanan. Bahkan sampai berputar arah sekalian. Itu menandakan bahwa kita butuh tetap fleksibel. Bukan plin-plan. Karena felksibel sama sekali bukan kata lain dari plin-plan. Dengan fleksibilitas, kita bisa dengan mudah melakukan adaptasi. Dengan sikap plin-plan; kita hanya akan terombang-ambing; seperti seekor kambing yang pasrah saja ketika dibikin berguling-guling diatas bara api untuk dijadikan kambing guling. Ketika kita fleksibel, maka kita bisa meliuk kekiri dan kekanan. Dan ketika kita fleksible, kita bisa mergerak sejalan dengan perubahan.

Ketiga, sekalipun kita sudah cukup fleksibel; tetaplah menyadari bahwa munculnya situasi sulit tidak menjadi nihil adanya. Dan disaat-saat seperti itu; mungkin kita perlu menggunakan jaring.


Catatan kaki:
Tahukah anda bahwa lumba-lumba jagoan kita itu tidak jadi ditangkap dengan jaring? Ya, begitulah yang terjadi di salah satu pusat atraksi satwa laut kemarin. Tahukah anda kenapa? Karena ketika para pelatih menurunkan jaring kedalam kolam, dan mereka siap untuk menggunakannya; lumba-lumba itu segera menuju pintu kolam kecil dan memasukinya dengan sukarela. Siapa yang lebih cerdas jika demikian?


Source : Dadang Kadarusman

Thursday, August 16, 2007

Law of Attraction - The Law of Vibration

PERINGATAN KERAS: TIPS INI SANGAT MUNGKIN AKAN MENGGUNCANG KEYAKINAN YANG
SELAMA INI ANDA PEGANG TEGUH TENTANG KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN!

*TENTANG KERJA KERAS*

Kami sekeluarga, pernah mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga, yang
kebetulan tetangga kami sendiri, sebagai tenaga pencuci pakaian. Selama
belasan tahun, ia bekerja pada keluarga kami dan beberapa keluarga lainnya
secara bergiliran, dengan penuh dedikasi dan kesetiaan.

Beberapa tahun yang lalu, ia pensiun karena kendala fisik yang dialaminya.
Tangan dan kakinya tak lagi mampu bersentuhan dengan dinginnya air untuk
lebih dari beberapa menit saja. Setiap kali tangan dan kakinya tersaput air,
ia akan merasakan ngilu yang sangat luar biasa, tak hanya di tangan dan
kakinya, tapi juga di seluruh tubuhnya.

Sebagai pekerja super keras, Saya melihatnya sebagai contoh yang sangat
nyata. Kendala fisik di atas sebagai muara dari kerasnya ia bekerja, adalah
sebuah ironi tentang fenomena kerja keras.

Apakah setelah semua itu kehidupan fisiknya juga berubah? Kecuali tentang
penyakit encok dan rematiknya itu, tidak ada. Penghasilannya selama ia
bekerja hanya cukup untuk hidup hari demi hari.

Saat ia memutuskan untuk pensiun, pakaiannya tetap sama seperti saat ia
memulai profesinya dahulu. Begitu pula rumahnya, tetap sebuah pondok
berdinding kayu dengan segala perabot yang sama. Begitu pula dengan warung
pecelnya, tetap seperti semula, bermeja reot berbangku reot, beratap terpal
plastik yang itu-itu juga.

Bagaimanakah fenomena ini bisa terjadi? Mengapakah seseorang yang telah
bekerja sedemikian keras di sepanjang hidupnya, tetap jua tak mengalami
berbagai kemajuan dan peningkatan dalam kesejahteraan?

Lihatlah sekeliling Anda, Anda juga pasti akan menemukan banyak fenomena
yang sama. Bagaimana dengan Anda sendiri? Mungkin Anda sudah membanting
tulang setengah mati sepanjang hidup Anda. Kemudian, Anda menyadari bahwa
keringat dan air mata yang bercucuran sekian lama, tak jua membuahkan
peningkatan dalam kesejahteraan. Ya, sangat mungkin Anda "bernasib" seperti
itu.

Bagaimana dengan ini?

Seorang Bill Gates drop out dari sekolah hukum ternama, tapi kini justru
menjadi orang paling kaya di muka bumi. Akankah ia tetap menjadi orang
paling kaya sedunia, jika ia tidak drop out? Saya yakin tidak. Sebab sebagai
sebagai pengacara, sepopuler dan setop apapun ranking bisnisnya, tetaplah
"pasarnya" lebih kecil dari dunia IT. Dan itu, tak akan membuatnya jadi
orang paling kaya sedunia.

Seorang Aa Gym, yang "tak pernah" mengenyam bersekolah di pesantren, kini
memiliki pesantren yang terhitung paling besar, sekaligus juga menjadi
konglomerat bisnis.

Atau bahkan ini?

Seorang Rasulullah SAW, adalah pebisnis tulen sebelum menjadi Rasul. Saat
menjadi Rasul, ia tidak lagi berbisnis. Apa yang terjadi? Setengah wilayah
bumi kemudian menjadi "miliknya", separuh kekuasaan di muka bumi "berada di
tangannya", dan setengah dari kekayaan dunia "berada di dalam genggamannya" .

Pernahkah Anda melihat orang yang santai bekerja, tapi kemudian kaya raya?
Pernahkah Anda melihat seseorang, yang hanya bekerja empat jam sehari dan
dua hari dalam seminggu, tapi berpenghasilan jauh lebih besar dari orang
lain yang pontang-panting dan babak-belur lebih dari empatpuluh jam
seminggu? Hoki? Nasib? Atau bisnis ideal?

Perhatikanlah bagaimana seorang konglomerat di dalam kesehariannya. Sangat
mungkin, Anda akan melihat mereka begitu santai dan rileks. Waktu kerjanya
mungkin akan sama seperti Anda. Begitu pula dengan jam tidurnya. Jika Anda
bekerja pada mereka, sangat mungkin Anda justru bekerja lebih keras dari
pada mereka.

Saat mereka memiliki satu perusahaan, jatah waktunya untuk berbisnis pada
perusahaan itu mungkin delapan sampai enambelas jam. Saat punya dua
perusahaan, waktunya untuk satu perusahaan mungkin akan berkurang menjadi
setengahnya.

Saat punya empat perusahaan, mungkin waktunya untuk satu perusahaan hanya
tinggal dua sampai empat jam saja. Dan saat perusahaannya sudah mencapai
ratusan, maka bisa jadi mereka hanya punya waktu lima sampai sepuluh menit
untuk setiap perusahaan.

Pada intinya, peningkatan di dalam kesuksesan dan kemajuan di dalam bisnis,
justru berasosiasi dengan makin sedikitnya waktu mereka untuk semua upaya.
Mereka makin sedikit bekerja, tapi justru makin sukses dan makin kaya.

Bagaimana ini?

Bagaimanakah Anda bisa memahami fenomena paradoksial seperti itu? Mengapakah
ada orang yang bekerja keras dan makin keras, tapi nasib baik justru makin
jauh berlari? Sebaliknya, mengapakah ada orang yang lebih santai, malah
makin sukses dan makin sukses lagi?

Bapak dan Ibu sekalian yang budiman, apa yang akan Anda baca berikut ini,
adalah ringkasan dari sebuah buku yang berjudul *"The (Shocking!) Truth
About Action"*. Di dalam judulnya ada kata "shocking". Itu bukan gertak
sambal. Sebab, apa yang diulas di dalamnya, memang benar-benar akan
mengguncang apapun yang Anda yakini selama ini tentang kesuksesan.

Pada sub judulnya, bahkan dikatakan kurang lebih begini,

*"Ini semua adalah tentang bagaimana dan mengapa, nyaris segala yang Anda
terima sebagai bahan pelajaran, di sepanjang hidup Anda, di sekolah, di
rumah, dan di manapun, dari guru manapun, justru membangun tembok besar yang
makin tinggi dan tebal, yang menjadi penghalang utama Anda mencapai
kesuksesan." *

Bapak dan Ibu sekalian yang budiman, ulasan berikut ini bisa memperjelas
berbagai fenomena di atas. Dan seperti yang sudah Saya ingatkan, semua ini
sangat mungkin bisa membuat Anda mengalami shock berat.

*KESALAHAN MENDASAR TENTANG ACTION*

Kesalahan itu adalah, Anda sudah terlanjur meyakini - di sepanjang hidup
Anda - bahwa Anda akan mencapai apapun yang Anda inginkan dengan melakukan
tindakan. Alias, Anda meyakini bahwa untuk mencapai sukses, Anda harus
bertindak.

Inilah kenyataannya:

*Keyakinan Anda itu justru menciptakan yang sebaliknya.*

Dalam konteks ini, Anda telah menomorduakan kekuatan pikiran. 90% orang,
ternyata bertindak dalam rangka mengkompensasi berbagai bentuk pemikiran
yang tidak tepat.

Maksudnya, nyaris setiap tindakan yang Anda lakukan selama ini, adalah
didorong oleh motivasi untuk struggle. Untuk selamat dan untuk survive.

Artinya:

*Nyaris setiap tindakan yang Anda lakukan, sumbernya adalah ketakutan,
kekhawatiran, dan keragu-raguan. *

Dalam hal ini, Anda telah memaksa pikiran untuk terealisasikan dalam bentuk
nyata melalui berbagai tindakan. Jika keputusan Anda untuk bertindak lebih
dominan, maka apa yang akan menjadi fokus Anda adalah *doing*. Dan Anda
menjadi lupa akan satu hal, yaitu *being*.

Apa yang akan tercipta dari pemikiran seperti itu, adalah sesuatu yang
menyimpang dari tujuan awalnya. Anda merasa akan berbahagia dengan menjadi
kaya. Tapi yang tercipta adalah; Anda memang menjadi kaya, tapi tidak
berbahagia.

*Being*, adalah syarat pertama dan paling penting di dalam proses
penciptaan.

*Ketahuilah bahwa segala sesuatu diciptakan dua kali. Pertama dalam bentuk
blue print, dan kedua saat direalisasi menjadi nyata. *

Sebuah bangunan diciptakan dua kali, pertama saat di atas kertas dan kedua
saat pembangunan fisik. Di atas kertas, arsitek bangunan itu tidak akan
pernah menggambarkan proyeksi bangunan, dengan asumsi bahwa bangunan itu
akan segera roboh.

Saat Anda menggambar "blue print" di dalam kepala, Anda bisa menggambarkan
diri Anda sebagai orang yang super kaya misalnya. Tentunya, Anda tidak akan
pernah menggambarkan bahwa di samping kekayaan itu, diri Anda juga tidak
berbahagia.

Jadi, semuanya harus dimulai dengan *being* pada saat ini juga. Mulailah
dengan berbahagia. Peganglah itu dengan kuat. Setelah itu, barulah Anda
mulai melangkah untuk memanifestasikan bahagia dalam bentuk "menjadi orang
kaya". Bukan sebaliknya, "pokoknya Saya mau kaya!" dan menomorduakan
bahagia.

Bukankah urutannya adalah *being*, *doing*, baru kemudian *having*?

Ingatlah bahwa kaya tidak sama dengan bahagia. Untuk keduanya, Anda akan
mengejar "having". Kaya sekaligus bahagia. Kaya boleh nanti, tapi bahagia?
Rugi besar jika Anda menundanya. Dan jika Anda menundanya, maka ia akan
segera terlepas dari Anda seumur hidup. Anda akan kaya, tapi Anda tak akan
pernah berbahagia. Mengapa demikian?

*INILAH RAHASIANYA*

*Bukanlah tindakan Anda yang menciptakan sesuatu, tapi niat Anda.*

Anda akan bisa meminimalisir tindakan Anda (sehingga Anda lebih santai dan
rileks), dengan berfokus pada semangat dan cita-cita - yang dibentuk oleh
niat, sampai Anda merasa sudah waktunya untuk bertindak. Sehingga, tindakan
itu nantinya tidak dilakukan dengan drive rasa takut, kekhawatiran, dan
keragu-raguan. Saya pribadi menyebut ini dengan konsep "TUNGGULAH GONGNYA".

Bagaimana supaya kita bertindak setelah bunyi "gong" dan tidak
mendahuluinya?

*Fokuslah pada apa yang Anda inginkan, dan bukan pada apa yang tidak Anda
inginkan.*

Dengan fokus itu, Anda akan tahu kapan harus bertindak. Dan saat tindakan
itu dieksekusi, maka semuanya akan terasa ringan dan tidak menjadi beban.

Di titik itulah, Anda akan berangkat dari titik departure yang benar, yaitu
bertindak bukan dengan dasar rasa takut, khawatir, ragu, atau bahkan hanya
sekedar ingin cari selamat alias struggle, melainkan dengan dasar semangat,
cita-cita, dan enjoyment. Maka, seluruh alam semesta akan mulai mendukung
Anda, dan memberi jalan yang mulus di hadapan Anda.

*UJI KELAYAKAN SEBELUM BERTINDAK*

*Jika Anda sudah fokus pada semangat dan cita-cita, tapi Anda masih merasa
grogi dan tidak percaya diri, Anda belum siap bertindak.*

Jika Anda paksakan, semua tindakan Anda akan berubah menjadi beban. Padahal,
Anda bisa bertindak tanpa beban, tanpa penghalang, dan tanpa rasa sakit.
Sesungguhnyalah, Anda bisa bertindak nothing to lose. Alias Ikhlas. And
that's fun of course.

Mendasarkan diri semata-mata pada tindakan, adalah tidak tepat. Tindakan
Anda harus dibarengi dengan rasa tanpa beban. Menyenangkan dan nothing to
lose. Hanya itulah yang akan membuat lingkungan dan alam semesta mendukung
Anda.

Anda harus memperbaiki konsepsi tentang "no pain, no gain". Mengapa? Karena
"pain" Anda semestinya berproporsi benar. Memang harus ada "pain", tapi itu
tidak berarti bahwa semua bentuk "pain" harus Anda alami terlebih dahulu.
"Pain" Anda haruslah worthed dengan "gain" yang Anda cita-citakan.

Jika Anda salah memahami konsep "no pain, no gain" ini, maka tindakan Anda
hanya akan berbentuk struggle dan cari selamat saja.
Dan:

*Anytime You are struggling, You are miscreating. *

Jika Anda bertindak untuk struggle dan cari selamat saja, maka Anda akan
sangat fokus pada "menghindari sesuatu". Ketahuilah, "sesuatu" yang Anda
hindari itulah yang justru akan Anda dapatkan!

Ini menjelaskan fenomena masyarakat miskin di berbagai belahan dunia, yang
terus bekerja keras siang dan malam, tapi nasibnya tidak berubah. Mereka,
sebenarnya bisa merubah nasib dengan "hanya" merubah niatnya.

Bukankah Anda juga melihat, mereka yang tadinya di bawah, memang terbukti
berubah nasibnya dengan merubah niatnya? Lihatlah perubahan nasib pengrajin,
yang tercipta karena pergeseran niat dari "mencari sesuap nasi" menjadi
"berbagi keindahan". Lihatlah pemenang Kalpataru. Lihatlah penerima
penghargaan UKM. Lihatlah fenomena Grameen Bank. Mereka, telah merubah
nasibnya dengan merubah niatnya.

Apa berikutnya?

*Tindakan itu perlu, tapi ketahuilah bahwa tindakan adalah komponen terakhir
di dalam proses penciptaan.*

Tindakan tidak dapat dijadikan sebagai inisiator dari hasil. Inisiasi adalah
fungsi dari being, thought, baru kemudian action. Dengan kata lain,
inisiatif-lah yang menentukan hasil. Maka, di sini Anda mungkin perlu
memperbaiki konsep tentang inisiatif. Inisiatif bukan hanya ide. Inisiatif
adalah paket lengkap dari being, thought, dan action. Inisiatif akan
menciptakan vibrasi.

Alam semesta ini adalah vibrasi. Setiap atom dan molekul alam semesta
bervibrasi. Atom dan molekul di tubuh Anda juga. Pikiran Anda juga. Pikiran
Anda punya frekuensi listrik seperti juga gelombang radio. Dan teori modern
telah membuktikan bahwa gelombang itu termanifestasi secara fisik sebagai
atom, molekul, dan partikel. Alias, punya bentuk materi juga.

Di dalam alam semesta ini, segala sesuatu diciptakan untuk bisa saling
harmoni sehingga seimbang dan tidak hancur. Dengan harmonisasi vibrasi itu,
alam semesta bergerak dan berubah. Dengan harmonisasi itu berbagai proses
penciptaan lanjutan berlangsung. Termasuk, apapun yang menjadi cita-cita
Anda, baik fisik maupun non fisik.

Maka sebelum bertindak, bertanyalah terlebih dahulu pada diri Anda sendiri:

*"Bagaimana Saya bervibrasi, harmoniskah dengan vibrasi alam semesta?"

"Sesuaikah dengan tujuan dari penciptaan diri Saya?"

"Sesuaikah dengan tujuan dari penciptaan alam semesta?"*

Bagaimana Anda bisa mengetahui dan mengatakannya? Anda bisa mengetahui dan
mengatakannya dengan bertanya pada perasaan Anda. Lebih tinggi lagi,
bertanyalah kepada nurani dan kalbu Anda.

*Apa yang Anda rasakan, akan menentukan apa yang akan Anda tarik.*

Dengan hanya berfokus pada apa yang Anda inginkan sesuai perasaan, nurani,
dan kalbu Anda, maka alam semesta akan menciptakan satu set situasi dan
keadaan khusus, di mana Anda akan bisa bertindak dengan ringan dan tanpa
beban, dengan sebuah jaminan akan kesuksesan.

Setting situasi dan keadaan khusus itu, pasti tercipta bersama dengan apapun
yang menjadi niat Anda. Alias, setting itu netral sifatnya. Begitulah hukum
universalnya.

Dengan kata lain, semudah Anda jatuh, gagal, dan tidak sukses, semudah itu
pula sebenarnya, Anda bisa bangkit, berhasil, dan menuai sukses, tanpa perlu
terlalu ngoyo dan tergopoh-gopoh, apalagi kemaruk.

*KESIMPULAN*

Hasil Anda tidak ditentukan oleh tindakan Anda. Hasil Anda, ditentukan oleh
niat Anda.

Saya Ingin Anda Sukses,
Saya Harus Membuat Anda Sukses.
*(Ini niat Saya.)*

Ikhwan Sopa
Trainer E.D.A.N.

SEGITIGA BISNIS

Saya sering mendapat banyak pertanyaan tentang bagaimana caranya memulai berbisnis, termasuk saat saya menjadi pembicara seminar maupun fasilitator pelatihan untuk eksekutif Mitsubishi.

Tapi sebelum berbicara tentang bagaimana memulai berbisnis, ada baiknya kita coba memahami tentang konsep bisnis dengan cara yang paling sederhana dan mudah. Sehingga berbisnis tidak menjadi sesuatu yang menakutkan, tapi justru menjadi hal yang menyenangkan.

Berdasarkan berbagai teori dan pengalaman yang saya alami, saya akan mencoba menjelaskan tentang bisnis secara sederhana. Yaitu dengan apa yang saya namakan “Segitiga Bisnis”.

Ilustrasinya seperti berikut:


Rekan-rekan, sebenarnya kalau kita bicara bisnis, hanya ada 3 fungsi utama yang harus kita siapkan, sebagaimana terlihat dalam gambar di atas.

Pertama, MARKETING. Di sini kita akan banyak membahas tentang market segmentation, market size, market characteristic, competitor & competition, networking development, marketing strategy, negotiation, customer satisfaction.

Banyak referensi yang bisa kita pelajari tentang hal-hal tersebut, seperti Instant Series karya Brad J. Sugars (Instant Leads, Instant Promotions, Instant Sales, Instant Profit, Instant Cashflow, dll), Marketing in Venus karangan Hermawan Kartajaya, Lateral Marketing yang ditulis Kotler, dan masih banyak lagi. Cari aja di toko buku dech.

Kedua, PRODUKSI. Dalam hal ini kita akan membahas tentang produk unggulan, competitive advantage (product positioning, product differentiation, dll), quality control, product development, distribution channel.

Banyak juga referensi yang bisa dipakai untuk memperdalam tentang masalah produksi ini, seperti buku mengenai Manajemen Produksi, Manajemen Mutu, Manajemen Operasi, Manajemen Distribusi. Silakan cari aja di toko buku, atau pinjam aja ke teman.

Ketiga, OPERASI. Yang saya maksud dengan operasi di sini adalah segala hal yang terkait dengan back office, yaitu keuangan dan akuntansi, sumber daya manusia (SDM), legal, dan umum. Intinya adalah sistem manajemen perusahaan.

Cukup banyak juga referensi yang tersedia untuk ini, seperti Instant Series karya Brad J. Sugars (Instant System, Instant Team Building, dll), buku-buku tentang manajemen keuangan dan akuntansi perusahaan, human resources development, corporate & business law.

Dengan mengacu pada konsep ”Segitiga Bisnis” di atas, untuk memulai suatu bisnis, sebaiknya kita selalu mencoba mencari orang yang akan memainkan 3 fungsi tersebut. Sebaiknya sich sebagai partner, bukan pegawai. Jangan sampai dalam satu perusahaan, partner-partner yang ada punya kemampuan di satu fungsi saja. Kalau itu terjadi, biasanya jalannya akan terasa timpang.

Kesimpulannya, partner anda dan anda sendiri harus bisa berbagi peran untuk menjalankan ketiga fungsi di atas, yaitu fungsi Marketing, Produksi, dan Operasi.

Semoga bermanfaat !

Less Action, More Attraction

Dalam sebuah seminar, seorang pembicara bertanya kepada para peserta: "Apa yang membedakan antara orang kaya dan orang yang biasa-biasa saja?"

Hampir semua peserta menjawab: "Take action!"

"Betul. Tapi tidak tepat", jawab si pembicara.

"Yang tepat adalah, orang kaya tidak melakukan action, tapi mereka melakukan attraction (menarik)", jawabnya.

Lho, kok ada teori baru lagi nih, batin saya. Dan mungkin juga sebagian besar peserta merasa bingung dengan pernyataannya.

Selama ini kita selalu diminta untuk "take action" supaya sukses. Take action miracle happen, no action nothing happen.

"Ya, itu benar. Tapi buat orang kaya, tidak ada istilah take action lagi", tukas si pembicara.

"Mereka levelnya sudah beda. Cara mereka memperoleh kekayaan adalah dengan attraction".

Hmmm... Interesting idea...

Pikiran saya melayang. Membayangkan orang-orang sukses yang menerapkan attraction ini.

Saya bayangkan Pak Tung. Dalam sebuah seminar ia pernah menyatakan ingin membuat sebuah sekolah.

Setelah seminar, serta merta berdatangan banyak penawaran kerja sama dengannya.

Ada orang yang sudah punya sekolah menawarkan agar Pak Tung tidak usah membuat sekolah sendiri. Pak Tung tinggal masuk saja ke sekolahnya dan otomatis menjadi pemilik atau komisarisnya.

Pak Tung telah melakukan attraction dengan less action. Tanpa keluar uang, sekolah pun dapat.

Ada juga ceritanya Aa Gym.

Dalam sebuah ceramah, Aa bercerita mengenai rencananya membua komplek perumahan.
Luar biasa, seluruh rumah itu habis dipesan oleh jamaah selepas ceramah itu.

Aa Gym membuat rumah itu nyaris tanpa modal. Hanya berbekal attraction saja.

Ada orang yang punya tanah, tapi tidak punya modal untuk membangun. Ia meminta tolong Aa untuk membangunkannya.

Ada perusahaan kontraktor yang ingin membangun tapi tidak punya lahan.

Ada lembaga keuangan yang mencari peminjam yang amanah.

Ada calon pembeli yang ingin bertransaksi hanya dengan orang yang bisa dipercaya.

Kemudian Aa 'mengawinkan' saja semua kepentingan itu. Maka jadilah sebuah komplek perumahan yang laris manis.

Aa juga telah mempraktekkan attraction itu.

Pertanyaannya:

Apakah Pak Tung dan Aa Gym melakukan take action?

Ya, tapi sedikit. Yang lebih banyak adalah 'attraction'.

Less action, more attraction. Itulah permainannya orang kaya.

Tapi, dari mana mereka bisa melakukan attraction itu. Jelas, awalnya adalah dari action dulu. Sekian lama mereka 'take action' melakukan berbagai hal untuk membangun nama dan kredibilitas. Kemudian nama besar itu menjadi 'attraction' alias magnet bagi kekayaan.

Ide ini , pagi ini juga saya share kepada anda semua

Isn't that interesting?

Source _ from TDA milis

Wednesday, August 15, 2007

MANAGEMEN WAKTU


Suatu hari, seorang ahli 'Managemen Waktu' berbicara didepan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya. Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata:"Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya diatas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu kedalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk kedalamnya, dia bertanya: "Apakah toples ini sudah penuh?" Semua siswanya serentak menjawab,"Sudah! ? Kemudian dia berkata, Benarkah? Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang- guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu. Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh? Kali ini para siswanya hanya tertegun "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.

"Bagus!" jawabnya. Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.

Sekali lagi dia bertanya, Apakah toples ini sudah penuh? "Belum!" serentak para siswanya menjawab Sekali lagi dia berkata, "Bagus!" Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.

Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?" Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!" "Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa :

JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya. Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".


Wishing you all. "A Very Happy Our Independence Day."
May God bless Indonesia

August, 17-08-45 - August 17-08-'07
For people like us : ,,, Right or Wrong Indonesia is my country . . .


Regards,
Djodi Ismanto
From nice city of Medan

Syed Misbah

Tuesday, August 14, 2007

Siapa Yang Cerdik ?


Ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tidak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak kecil berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.

Tukang cukur berkata, "Itu
Bejo, dia anak paling terbodoh di dunia". Pengusaha itu kemudian bertanya "Apa iya?".


Tukang cukur dengan bersemangat "Mari... saya buktikan!"


Lalu, dia memanggil si Bejo, tukang cukur itu merogoh kantongnya dan
mengeluarkan lembaran uang Rp 1000 dan Rp 500, lalu ia memanggil bejo dan
berkata, "Bejo, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo nih!".


Bejo pun melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada dua lembaran uang Rp 1000
dan Rp 500, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil lembaran uang Rp
500.

Tukang cukur dengan perasaan benar dan menang lalu berbalik kepada sang
pengusaha dan berkata, "Benar kan yang saya katakan tadi, Bejo itu memang
anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya
lakukan tes seperti itu tadi dan ia selalu mengambil uang logam yang
nilainya paling kecil".

Setelah sang pengusaha sudah selesai memotong rambutnya, di tengah
perjalanan pulang dia bertemu dengan Bejo. Karena merasa penasaran dengan
apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Bejo lalu bertanya
"Bejo,
tadi saya sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp 1000 dan Rp
500-an, saya lihat kok yang kamu ambil, uang yang Rp 500, kenapa tidak ambil
yang Rp 1000, nilainya kan lebih besar dan dua kali lipat dari yang Rp 500".

Si Bejo kemudian melihat dan memandang wajah sang pengusaha, ia agak
ragu-ragu untuk mengatakannya.

"Ayo beritahu saya, kenapa kamu ambil yang Rp 500," desak sang pengusaha.

Akhirnya si Bejo pun berkata, "Kalau saya ambil yang Rp 1000, berarti
permainannya akan selesai....."

Dan saya tak kan pernah lagi ditawari untuk memilih mengambil uang . . . . ..

5 Ways by Brad Sugars


Brad Sugars memberikan 5 cara untuk meningkatkan bisnis / pelangan kita.. Hal ini bisa disebut dengan business chasis... yaitu

1. Lead... Lead adalah prospek... calon pelanggan... Bagi toko saya Lead-nya adalah tetangga-tetangga disekitar rumah saya... ditambah dengan orang-orang yang lewat didepan rumah... tetapi mayoritas memang tetangga-tetangga saya...

2. Conversion Rate... Yaitu persentase dari Lead yang kemudian menjadi customer... pelanggan saya... Waah untuk ini saya belum tahu berapa persen dari Lead saya yang menjadi pelanggan... Untuk tetangga satu jalan 100% jalan krakatau 50%... Kerinci 10% ... Merapi 30%...Merbabu 50%...yang lewat 5% Kalau ditotal mungkin sekitar 30%...

3. Number of Transaction... Dari pelanggan tersebut berapa kali rata-rata melakukan transaksi dalam sebulan... Disini perlu dihitung pembelian berulang pelanggan dalam satu bulannya...

4. Rata-rata transaksi (Average Value Sale)... Berapa nilai pembelian rata-rata dalam setiap kedatangan...

5. Profit Margin... Nah ini yang menarik biasanya saya memberi 10% profit margin minimal... tergantung apakah barang tersebut perputarannya cepat atau lambat... tapi tetap dibawah 50%...

Dalam masing-masing 5 area tersebut... ada strategi-strategi untuk meningkatkannya... tetapi terlebih dahulu perlu dilakukan test and measurement terlebih dahulu dimana posisi kita dalam masing-masing area tersebut...