Myspace Backgrounds

Tuesday, July 24, 2007

Sang Hakim dan Orang Kaya


Entah apa sebabnya Nasroon tiba – tiba diminta Kantor Konsultan Hukum milik temannya untuk membela kliennya.
“ Hey mengapa aku yang kau pilih . . . .? Aku khan tak punya pendidikan lawyer ?”
“ Ah , sudahlah kan khan cerdas , soal legal biar nanti kantorku yang urus . . .” ujar temannya.

Nasroon berpikir sebentar , ia tertarik juga melakukannya sebagai pengacara.
“ Memangnya apa istimewanya perkara ini ?’.
“ Yah . . sidang ini dipimpin oleh hakim yang kebal terhadap suap tetapi terkenal pandir. Nah kau khan pintar bersilat lidah Kebetulan oarng yang perlu dibelia ini difitnah “.
“ Di fitnah bagaimana ?
“ Dia baru seminggu bekerja sebagai supir pribadi Namun sang majikan cemburu karena sang istri selalu menuji – muji sang supir”.
“ Lalu . . .”.
“ Karena kesal , akhirnya sang supir diadukan ke polisi dengan tuduhan mencuri mobil Ferrari milik tuannya “.
“ Lho , ia khan bisa mengaku sebagai supirnya ?’.
“ Yah , susah karena tidak ada hitam diatas putihnya “.
“ Lalu pengakuan rekan kerjanya ?”.
“ Yaa , tidak ada yang berani , takut sama big boss nya “.
“ Hmm , ya ya . . “., malannya Nasroon tidak bisa tidur, makanya ia habiskan malamnya untuk ber dzikir dan berdoa.

Besoknya saat sidang , pengunjung dan kolega konsultan hukumnya kaget bukan main. Pasalnya Nasroon bukannya berkelit dan mencari bukti kalau terdakwanya tidak bersalah , ia malah mengakui tuduhan jaksa penuntut.
“ Tuan Hakim yang terhormat , kami tak menolak kalau dikatakan klien kami menginginkan mobil mewah itu .
Tapi mari kita pikirkan baik- baik , itu bukan hal .yang melanggar hukum , yaitu menginginkan sesuatu , bukan ? Nah yang perlu dituntut dalam hal ini adalah pihak yang telah membuat mobil itu.
Orang yang menjual mobil itu . Yang punya showroomnya dong yang dituntut “.

Karena pandir , hakim berpikir dan membenarkan logika itun dan mengabulkan permintaan Nasroon untuk membebaskan sang supir tadi.
Besoknya karyawan pabrik yang merakit mobil tadi dipanggil oleh pengadilan dan didakwa telah memanipulasi emosi publik dimana pasalnya adalah termasuk pembohongan publik.
Tapi kemudian kembali karyawan tersebut kembali meminta Nasroon untuk menjadi pembela.

Berkatalah Nasroon membela karyawan pabrik mobil tersebut.
“ Tuan Hakim yang terhormat , orang ini tidak bersalah .Bukan kemauan dia membuat mobil itu .Kalau keinginan dia sendiri membuat mobil yang harganya murah dan bisa dipakai banyak orang. Tapi dia tidak berdaya karena diperintahkan oleh yang punya pabrik ! “.
Kembali Nasroon memperdaya sang hakim.

“ Oh , tidak , sayapun memproduksi itu atas pesanan delaer atau penjual . saya tidak bisa disalahkan.Kalau ada pesanan untuk membuat mobil lain , saya buat. . Tapi karena yang meminta itu mobil type Ferarri , terpaksa saya buatkan. Jadi yang salah itu para dealer penjual mobil ” Bela sang pemilik mobil.
Sang Hakimpun berpikir lagi . “ Nampaknya benar juga logika pemilik pabrik. Yang memaksa adalah para penjual. Dialah yang perlu dituntut oleh pengadilan”.
Sang Hakim membebaskan pemilik pabrik. Kini giliran dealer yang dipanggil , berkilahlah sang dealer .

“ Tuan
hakim, saya khan pedagang , yang saya lakukan adalah , ada permintaan , ada barang. Buat apa saya jual sesuatu yang bila tak ada yang minta. Yang meminta dibuatkan mobil mewah itu ".
Dan . . . ternyata yang ditunjuk adalah bos dari sang supir pribadi tadi".

Merasa kena batunya , Sang Bos jadi kalap , " Tidaaaak . . . .aku tidak melanggar hukum.Justru hakimlah yang bodoh , pandir dan dungu. Hakim tak pantas memimpin sidang ini". Kata - kata nya lantang, tangan kiri bertolak pinggang , tangan tangan tertuju ke hakim. Ia maju ke persidangan dan kakinya menendang bangku yang dipakai untuk terdakwa.
Kegaduhan terjadi , pengunjung banyak yang berteriak.
Hakim pun mengetuk palu berkali - kali " Tok tok tok ",

" Hadirin mohon tenang, Keamanan tangkap orang kaya ini. Hadapkan dia ke pengadilan dengan tuduhan telah menghina pengadilan dan memicu pencurian di kota ini " Kata sang Hakim dengan tenang.

Moral of story :
Saat berbicara mode , berenanglah mengikuti arus.
Saat bicara prinsip , tegarlah seperti batu karang.
( Thomas Jefferson )




No comments: